NovelToon NovelToon
Pengasuh Yang Dibenci Tuan Muda

Pengasuh Yang Dibenci Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.

Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.

Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.

Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.

Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.

Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.

Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.

Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 : Pembelaan Si Beruang

Ian yang sejak tadi diam memperhatikan akhirnya mengembuskan napas panjang. Sandiwara ini sudah cukup.

Sekarang dia tahu satu hal: Keira diterima dengan tulus oleh orang-orang di rumah ini. Bahkan, melihat gadis itu sempat menatapnya dengan kecewa tadi membuat dada Ian terasa tidak nyaman.

Ia melangkah mendekati Natasha. Tatapan dinginnya membuat perempuan itu refleks mundur selangkah.

"Sudah puas aktingnya, Natasha?" tanya Ian pelan.

Natasha mengernyit. "A-akting apa, Ian? Aku beneran kehilangan jam kamu!"

Ian memasukkan tangan ke saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah benda berkilauan.

Arloji Rolex limited edition.

JEDAG!

Mata Natasha membelalak. Wajahnya langsung pucat.

"I-Ian... kok jamnya... ada di kamu?"

Keira, Bik Yani, Pak Ujang, bahkan Pak Nathaniel ikut terkejut melihat arloji itu.

Ian menatap Natasha tanpa ekspresi.

"Jam ini udah ada di sakuku sejak jam enam pagi tadi."

"Ha... hah?" Natasha tergagap.

"Semalam, jam dua, aku gak sengaja keluar dari kamar kerja. Aku lihat sendiri ada cewek yang menyelinap masuk ke kamar pengasuh, buka lemari, lalu memasukkan sesuatu ke dalamnya."

Keira langsung membelalakkan matanya.

Buset dah! Jadi semalam Mbak Gorden beneran mau menaruh barang bukti di kamar gua?!

"Aku masuk ke kamar Keira setelah kamu pergi," lanjut Ian. "Aku ambil jam tangan ini dari sana."

BARRR!

Bik Yani langsung mengelus dada sambil beristighfar.

"Astagfirullahaladzim! Ternyata Mbak Natasha yang mau menanam barang bukti?!"

Mika ikut menunjuk Natasha dengan wajah puas.

"Tuh kan! Tante Nenek Sihir yang nakal! Papi, usir Tante Nenek Sihir!"

Natasha tampak semakin panik.

"I-Ian... aku... aku cuma mau kamu sadar kalau cewek ini gak pantas ada di sini! Aku ngelakuin ini karena aku cinta sama kamu, Ian!"

"Cinta?" Ian terkekeh sinis. "Cinta gak pernah ngajarin orang jadi penjahat dan memfitnah orang gak bersalah di rumahku."

Kemudian Ian menoleh sedikit ke arah Pak Ujang.

"Pak Ujang."

"Iya, Mas?"

"Tolong angkut semua koper Natasha dari kamar tamu. Antar dia pulang ke rumahnya sekarang juga. Pastikan dia gak pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi."

"Baik, Mas Ian!"

Pak Ujang langsung bergegas menuju lantai dua untuk mengemasi barang-barang Natasha.

"Ian! Kamu gak bisa giniin aku! Papi aku itu rekan bisnis Papi kamu!" Natasha mulai panik. Ia beralih menatap Nathaniel. "Om Nathaniel! Tolongin Natasha, Om!"

Pak Nathaniel membetulkan letak kacamata bacanya sebelum mengembuskan napas.

"Maaf ya, Natasha. Om gak bisa ikut campur. Rumah ini juga wewenang Ian, dan tindakan kamu tadi sudah kelewat batas. Sebaiknya kamu pulang dan minta maaf sama orang tua kamu."

Natasha menghentakkan kaki. Wajahnya merah padam karena malu dan marah. Tanpa bisa membela diri lagi, ia berbalik dan berlari keluar menuju teras sambil menangis histeris.

Akhirnya, ruang tengah kembali tenang.

Bik Yani dan Pak Ujang kembali bekerja dengan wajah puas. Sementara itu, Pak Nathaniel sempat menepuk bahu Ian dan membisikkan sesuatu sebelum naik kembali ke ruang kerjanya.

Kini, hanya tersisa Ian, Keira, dan Mika yang sudah kembali asyik memainkan bola plastik di atas sofa.

Keira masih berdiri di tempatnya. Ia belum sepenuhnya percaya dengan drama yang baru saja terjadi. Matanya mengikuti Ian yang sedang memasukkan arloji ke dalam saku.

Ian kemudian berjalan mendekatinya.

"Keira," panggilnya pelan.

Ada sedikit kecanggungan dalam suaranya.

Keira menatapnya sambil menyilangkan kedua tangan di dada. Wajahnya sengaja ditekuk cemberut.

"Mas Ian sengaja, ya?"

Ian mengusap tengkuknya.

"Sengaja apa?"

"Sengaja ngikutin permainan dia, kan?!" sembur Keira sewot. "Mas Ian sengaja biarin dia nuduh saya maling dulu, biarin saya tegang sampai mau mati, baru Mas Ian keluarin jam itu dari saku?! Mas Ian pikir ini sinetron kejar tayang episode seratus apa?!"

Ian berdeham.

"Ekhem! Ekhem!"

Wajah tampannya mulai memerah karena omelan Keira.

"Aku... aku cuma mau lihat seberapa tebal muka kamu kalau dituduh," jawabnya asal. "Lagian, kan, aku yang menyelamatkan kamu. Kalau aku gak mengambil jam itu semalam dari kamar kamu, kamu udah dibawa ke kantor polisi. Tahu gak?"

Keira mengedipkan mata, lalu melangkah mendekat. Ia mendongak dan menatap Ian lekat-lekat.

"Oh... jadi Mas Ian bela-belain bangun jam dua malam, masuk ke kamar pengasuh, cuma buat mengamankan jam tangan itu? Sekalian biar aku gak kena masalah?" godanya.

DEG!

Jantung Ian seperti meloncat.

Ia langsung kelabakan. Tangannya sibuk merapikan kerah kemeja putih yang sebenarnya sudah rapi. Matanya bahkan bergerak ke sana kemari, menghindari tatapan Keira.

"N-ngasal kamu!" cetusnya gagap. Suaranya naik satu oktaf karena panik. "Aku cuma gak mau ada kerusuhan di rumah ini! Jangan kegeeran, ya! Aku ini Direktur. Gak ada waktu buat mikirin kamu!"

Keira langsung tertawa lepas.

"Pfttt!"

"Iya, iya, Pak Direktur yang terhormat," katanya sambil memberi hormat dengan gerakan konyol. "Makasih ya udah bantu saya. Sebagai gantinya, nanti nasi gorengnya saya tambahin kerupuk dua biji."

Ian mendelik, berusaha menahan senyum yang hampir muncul di bibirnya.

"Kerupuk tiga biji! Sama es teh manis!"

"Siap, Bosku!"

Keira tertawa, lalu berbalik untuk menggendong Mika yang sudah minta diajak bermain ke taman belakang.

Ian tetap berdiri di ruang tengah.

Tatapannya mengikuti punggung Keira yang semakin menjauh sambil tertawa bersama adiknya. Tanpa sadar, tangannya terangkat menyentuh dada sendiri.

Jantungnya masih berdegup lebih cepat dari biasanya.

Dan entah sejak kapan, kehadiran gadis itu mulai memberikan perasaan yang berbeda di rumah ini.

Ada yang aneh sama tubuhku ini.

1
Ael
Ian Ian😄
Ael
udah salting gengsi an lagi
Ael
Ian gampang salting yaa🤣
Ael
😄😄😄
Skyline Scribe
semangat Keira 💪
Fazira
baru aja ketemu Ian, kok kata-katanya kaya gitu 😄
Ael
👍👍
Inaa LA Aeylul Nazha
bagus tapi tidak ada kelanjutanya
Skyline Scribe: Makasih Kak bintang limanya 🤗🤗
novel ini update setiap hari 1 bab yaa, tunggu besok buat kelanjutannya 😄
total 1 replies
Inaa LA Aeylul Nazha
mana untuk kelanjutannya
Ael
semangat kak 💪💪
Ael
uang lima puluh ribu jaman sekarang keliatan dikit yaa
Fazira
Karya baru lagi 😍😍😍
semangat Kak 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!