Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.
Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Satu minggu berlalu sejak insiden malam di kantor polisi yang melelahkan itu. Kehidupan di hotel bintang lima tempat Ji-eun dan Tae-jun bekerja telah kembali berjalan dengan ritme yang teratur dan serba cepat. Tanda-tanda kepura-puraan di depan umum kembali terpasang rapi.
Mengenai Seo-ah, sahabat Ji-eun itu kini sudah kembali fokus pada pekerjaannya sendiri di perusahaan periklanan tempat ia bekerja. Meski bekerja di tempat yang berbeda dan tidak lagi mengganggu pikiran Ji-eun dengan masalah mantannya, Seo-ah masih sesekali menanyakan kabar Ji-eun dan Tae-jun lewat pesan singkat, sepenuhnya mendukung hubungan rahasia mereka.
Pagi ini Hotel mendadak berubah menjadi gempar. Sebuah pengumuman penting bertinta emas tercetak anggun di papan informasi utama area staf dan terkirim otomatis ke surel seluruh karyawan.
Pesan itu berisi kabar yang membuat semua mata membelalak tak percaya. Seluruh pegawai hotel akan mengadakan kegiatan retret bersama ke Pulau Jeju selama 4 hari 3 malam.
Di ruang istirahat karyawan, heboh riuh bersahut-sahutan tak terelakkan.
"Ini benar? Jeju?! Empat hari tiga malam?!" seru salah satu staf operasional dengan mata berbinar-binar. "Selama tiga tahun aku bekerja di sini, baru kali ini ada acara retret seperti ini!"
"Siapa yang mengajukan ide gila tapi luar biasa ini?" sahut staf lainnya seraya mengamati lembaran pengumuman.
Jawabannya tertera jelas di lembar salinan memo manajemen, ide acara tersebut dicetuskan dan disetujui langsung oleh sang Direktur Utama, Seo Tae-jun. Tae-jun sengaja mengusulkan program ini agar para pegawai yang selama ini bekerja tanpa henti di bawah tekanan standar pelayanan tinggi dapat beristirahat sejenak, meregangkan otot, dan menikmati masa jeda dari rutinitas pekerjaan yang monoton.
Tentu saja, keputusan meliburkan seluruh staf hotel bintang lima bukanlah perkara mudah. Namun, Tae-jun telah menyusun strategi matang. Untuk sementara waktu, seluruh operasional hotel akan diambil alih oleh staf pengganti dari jaringan hotel mitra mereka di Seoul. Nantinya, setelah rombongan pertama selesai berlibur, staf pengganti tersebut juga akan mendapat giliran secara bergantian untuk menikmati fasilitas retret serupa. Sebuah sistem yang tidak hanya efisien, tetapi juga menunjukkan kepemimpinan Tae-jun yang begitu mengayomi dan manusiawi.
Ji-eun berdiri di depan jendela kaca besar di ruang kerjanya, menatap papan pengumuman digital di lorong melalui celah tirai yang terbuka sedikit. Senyum tipis mengukir bibirnya. Ia tahu betul berapa banyak energi dan pertimbangan yang dikeluarkan Tae-jun untuk mengeksekusi ide ini tanpa mengganggu pendapatan hotel.
Ponsel di dalam saku jas kerjanya bergetar halus. Sebuah pesan singkat masuk dari kontak bertuliskan 'Direktur Seo':
Bagaimana? Kau suka dengan pengumuman pagi ini?
Ji-eun tertawa pelan, jarinya menari cepat di atas layar.
Seluruh staf sangat gembira, Direktur Seo. Tapi bukankah ini terlalu berlebihan? Mengosongkan satu hotel penuh demi liburan?
Tak butuh waktu lama bagi Tae-jun untuk membalas:
Anggap saja ini bonus untuk kerja keras semua orang. Dan... alasan utamanya sebenarnya adalah aku ingin melepas penat bersamamu di tempat yang jauh dari pengawasan staf hotel.
Pipi Ji-eun mendadak merona hangat membaca pesan jujur itu. Keberangkatan ke Jeju yang tinggal beberapa hari lagi mendadak terasa begitu mendebarkan.
-----
Hari keberangkatan pun tiba. Bandara Internasional Gimpo dipenuhi oleh riuh keceriaan puluhan staf hotel yang mengenakan pakaian kasual santai. Tawa dan obrolan antusias menggema di mana-mana, menciptakan suasana liburan yang begitu kental.
Ji-eun hadir dengan penampilannya yang segar, celana kain santai dipadu dengan sweter rajut berwarna krem dan rambut yang dibiarkan terurai indah. Ia tampak tenang menikmati suasananya, sesekali bertukar senyum dengan rekan manajer lainnya yang sibuk merencanakan destinasi kafe estetis yang ingin dikunjungi selama di Jeju.
Di sudut area boarding, Tae-jun berdiri dikelilingi oleh jajaran manajer senior. Ia tampil sangat memesona dengan kaus polos hitam dilapisi jaket denim longgar dan kacamata hitam yang bertengger manis di hidung mancungnya. Ketampanannya yang di luar setelan jas formal membuat beberapa staf wanita tak henti-hentinya mencuri pandang dan berbisik kagum.
Meski Tae-jun sibuk mendengarkan laporan singkat dari Sekretarisnya, pandangan matanya sesekali menyapu kerumunan hingga berlabuh pada Ji-eun. Saat mata mereka saling bertaut di antara deretan calon penumpang, Tae-jun membetulkan letak kacamatanya seraya memberikan kedipan mata singkat yang sangat cepat, hanya bisa ditangkap oleh Ji-eun seorang.
Ji-eun dengan cepat menundukkan kepala, menggigit bibir bawahnya untuk menahan senyum membuncah yang siap meledak.
Penerbangan singkat menuju Pulau Jeju terasa berjalan begitu cepat. Begitu mendarat di Bandara Internasional Jeju, angin laut yang segar dan hembusan udara hangat khas pulau tropis menyambut rombongan mereka. Bus-bus pariwisata berukuran besar sudah bersiap menjemput untuk mengantar mereka menuju resort mewah bintang lima di tepi pantai yang telah dipesan penuh oleh Tae-jun.
Perjalanan dari bandara menyajikan pemandangan deretan pohon palem, laut biru yang membentang luas, dan tebing batu basalt hitam yang megah. Seluruh staf bersorak gembira tiap kali bus melewati garis pantai yang indah.
Setibanya di resort, acara pembagian kunci kamar dimulai di lobi utama yang megah. Ji-eun ditugaskan untuk mengordinasikan pembagian kamar para staf wanita bersama tim HRD.
Saat pembagian kamar hampir selesai, Tae-jun melangkah ke tengah lobi dengan mikrofon di tangannya. Suara beratnya yang berwibawa seketika membuat lobi yang bising menjadi tenang.
"Selamat datang di Jeju untuk semuanya," puji Tae-jun membuka sambutannya, disambut tepuk tangan riuh dari para staf. "Selama empat hari tiga malam ke depan, lupakan dulu tugas hotel, lupakan keluhan tamu, dan lupakan semua beban kerja. Nikmati makanan terbaik, nikmati pemandangan, dan beristirahatlah dengan maksimal. Seluruh biaya kegiatan dan kuliner selama di sini sepenuhnya ditanggung oleh manajemen."
Sorak-sorai gembira meledak di seluruh ruangan. Para pegawai menyuarakan rasa terima kasih mereka pada sang Direktur Utama yang begitu murah hati.
Tae-jun menyerahkan kembali mikrofon kepada pembawa acara, lalu matanya melirik pelan ke arah Ji-eun yang berdiri di dekat meja pendaftaran.
Dalam pembagian kamar resmi, Ji-eun mendapatkan kamar pribadi di lantai tiga bangunan utama resor. Namun, tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa di lantai paling atas, di area penthouse suite pribadi bernomor teratas yang menghadap langsung ke Samudra Pasifik, Tae-jun telah mempersiapkan ruang rahasianya sendiri.
Saat para staf mulai berbondong-bondong membawa koper mereka menuju kamar masing-masing, Ji-eun merasakan ponsel di tangannya bergetar kembali.
Koper milikmu sudah berada di kamarmu. Tapi malam ini setelah acara makan malam penyambutan selesai... datanglah ke lantai teratas. Ada pemandangan laut malam yang ingin kutunjukkan padamu.
Ji-eun menatap pesan itu dengan jantung yang berdebar kencang. Retret empat hari tiga malam di Pulau Jeju ini baru saja dimulai, dan Ji-eun tahu bahwa perjalanan kali ini bukan sekadar liburan kantor biasa, melainkan lembaran baru dari kisah cinta rahasia mereka yang akan terukir makin indah di bawah langit Pulau Jeju.
...****************...