Yurinika tak mengira akan di labrak oleh selingkuhan suaminya. bukan hanya sekali tapi berkali-kali selingkuhannya itu datang dan melabrak dia. memintanya meninggalkan sang Suami Abimana. pria bingung itu justru tak mau meninggalkan keduanya.
hingga akhirnya Yuri benar-benar kecewa kepada Abimana dan saat tahu Sandra adalah anak dari atasannya di kantor membuat Yuri memiliki ide untuk memanfaatkannya.
apa yang akan di lakukan Yuri atas rasa kecewa yang dia dapat dari suami yang sudah dia bersamai dari titik nol sampai mereka menikah dua tahun? ikuti terus ceritanya.
dan jangan lupa baca karya othor lainnya dengan mencari nama pena Yam_zhie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yurinika 21
"Kamu tidak lupa kan? Kalau besok kamu akan ajak aku bertemu dengn kedua orang tua kamu sebelum kamu datang menemui Papa untuk melamar aku..."
DEGH
Wajah Abimana seketika pucat. Dia lupa belum mengatakan soal Sandra kepada kedua orang tuanya.
"Tentu saja, Sayang... Mana mungkin aku lupa,"
"Kamu tau kan, Mas Abi. Kalau aku sangat mencintai kamu! Dan aku tak mau kalau sampai kamu macam-macam di belakang aku!"
"Iya sayang, mana mungkin Mas berani macam-macam..."
"Bagus. Jangan lupa jemput aku di apartemen dan sama-sama ke rumah orang tua kamu, Mas," ucap Sandra datar, lalu berbalik melangkah keluar dari ruangan Abimana tanpa berpaling sedikit pun.
Setelah Sandra meninggalkan ruang kerjanya, Abimana langsung meraih ponselnya dan segera mengabari ibunya. Dia lupa menceritakan Sandara kepada ibunya dan ayahnya. Yang dia takutkan adalah restu dari ayahnya. Kalau ibu dan adiknya bisa di bungkam dengan uang.
Abimana menyapu keringat dingin di dahinya dengan telapak tangan yang gemetar. Kepergian Sandra baru saja meninggalkan ancaman tersirat yang begitu mengerikan. Pria itu sadar betul, posisinya sebagai Manajer di kantor sama sekali bukan karena prestasi, melainkan karena campur tangan dan koneksi orang tua Sandra. Jika Sandra kecewa, detik itu juga jabatannya melayang, dan ia akan kembali menjadi pegawai biasa atau bahkan dipecat tanpa pesangon.
'Aku nggak boleh sampai kehilangan Sandra! Masa depanku, jabatanku, semuanya ada di tangan dia!' batin Abimana panik.
Bicarakan masalah ini ke Bapak? Sama sekali bukan pilihan. Abimana tahu betul watak ayahnya yang keras, yang menjunjung tinggi harga diri dan sangat menyayangi Yuri. Berbicara langsung pada Bapak sama saja dengan menggali lubang kubur sendiri sebelum perang dimulai.
Satu-satunya jalan pintas yang dimiliki Abimana adalah ibunya.
Dengan napas terengah-engah, Abimana meraih ponselnya di meja kerja dan menekan tombol panggilan ke nomor sang Ibu.
Tut... Tut...
'Halo, Abi! Gimana, Nak? Jadi kan si calon menantu kaya datang besok?' suara ibunya terdengar begitu melengking dan penuh rasa tidak sabar dari seberang telepon.
"Iya, Bu! Jadi! Sandra fix datang besok Minggu sama Abi!" jawab Abimana dengan nada suara panik yang tak bisa disembunyikan.
Ibu Abimana yang peka langsung menyadari getaran ketakutan dalam suara anak kesayangannya.
'Lho, Abi? Kok suara kamu gemetaran begitu? Ada apa, Nak? Si Sandra batal datang atau gimana?! Atau si Yuri membuat ulah?''
"Bukan, Bu! Bukan Sandra!" serobot Abimana cepat, mengusap lehernya yang basah oleh peluh.
"Ini... ini soal Bapak, Bu!"
'Bapakmu? Kenapa sama Bapak?'
"Abi... Abi nggak berani ngomong ke Bapak soal Sandra, Bu," aku Abimana dengan suara merengek ketakutan.
"Ibu kan tahu sendiri watak Bapak gimana! Bapak itu sayang banget sama si Yuri! Kalau Abi yang ngomong langsung ke Bapak sekarang, bisa-bisa Abi diusir atau dihajar sebelum Sandra sempat menginjakkan kaki di rumah!"
Di seberang sana, Ibunya mendesah berat, lalu terdengar decakan kesal. 'Aduh, Bi! Kamu itu laki-laki kok penakut banget sama Bapak sendiri! Ya jelas Bapakmu bakal ngamuk kalau tahu kamu mau ngelepas si Yuri! Tapi kan ini demi masa depan kamu, demi keluarga kita! Lagian juga si Yuri pasti mau lah di madu! Orang dia aja nggak punya keluarga selain kita kan?'
"Makanya itu, Bu! Abi butuh bantuan Ibu!" bujuk Abimana setengah memohon.
"Ibu harus bisa bujuk dan rayu Bapak malam ini! Carikan alasan apa aja, Bu! Bilang kalau Sandra ini investor penting kantor Abi, atau bilang kalau pernikahan ini bakal angkat derajat keluarga kita! Pokoknya besok pas Sandra datang, Bapak nggak boleh bikin ulah atau ngusir Sandra!"
'Aduh, Abi... kamu tahu sendiri Bapakmu itu kalau udah keras kepala kayak batu!' keluh Ibunya ragu-waragu.
"Ibu! Dengarin Abi!" potong Abimana dengan nada menekan yang luar biasa tegang.
"Jabatan Manajer Abi di kantor itu seratus persen ada di tangan Sandra! Kalau besok acara perkenalan ini gagal atau Sandra merasa dipermalukan sama Bapak... Sandra bisa pecah kongsi dan pecat Abi hari Senin besok! Abi bakal pengangguran, Bu! Kita nggak bakal dapat uang sepeser pun!"
Kata 'pengangguran' dan 'tidak dapat uang' rupanya menjadi mantra sihir yang paling ampuh. Di seberang telepon, napas ibunya mendadak tertahan.
'Apa?! Bisa dipecat?!"'pekik Ibunya histeris.
'Ya Allah, Abi! Kenapa kamu nggak bilang dari tadi?! Nggak boleh! Kamu nggak boleh kehilangan jabatan kamu!'
"Makanya, Bu! Taruhannya jabatan dan hidup Abi!" cecar Abimana makin memanasi.
"Cuma Ibu yang bisa lunakkin hati Bapak. Rayu Bapak malam ini, Bu. Kasih dia pengertian. Pokoknya bikin Bapak mau buka pintu rumah dan sambut Sandra dengan ramah besok Minggu!"
Ibu Abimana menghembuskan napas panjang, nada suaranya mendadak berubah gigih dan penuh tekad.
'Ya sudah! Kamu tenang aja, Bi! Serahkan soal Bapakmu sama Ibu! Malam ini bakal Ibu cecar terus Bapakmu, Ibu rayu sampai dia mau ngalah! Demi jabatan kamu dan demi calon menantu kaya, Ibu bakal pastikan besok rumah kita siap nyambut Sandra!'
"Beneran ya, Bu? Ibu janji bisa atasi Bapak?" Abimana memastikan dengan dada yang lega setengah mati.
'Janji! Kamu fokus aja dampingi Sandra besok. Jangan lupa pastikan si Yuri beneran nggak ikut biar nggak mengacau! Lagian ibu juga lagi nggak mau banget ketemu sama dia!'
"Pasti, Bu! Yuri aman, dia polos banget, nurut sama Abi ," balas Abimana puas.
TUT.
Sambungan telepon terputus. Abimana menyandarkan tubuhnya di kursi kerja, menghela napas lega yang teramat panjang. Ia merasa satu masalah besarnya telah teratasi lewat keahlian ibunya merayu sang ayah.
Malam harinya di rumah, suasana ruang tengah tampak begitu tenang. Abimana baru saja selesai mandi dan berpakaian rapi, duduk di tepi sofa seraya berpura-pura sibuk menggeser-geser layar ponselnya untuk menutupi rasa gugup.
Yuri melangkah keluar dari dapur membawakan segelas air putih dingin, lalu meletakkannya di atas meja kopi dengan gerakan yang amat lembut.
"Mas Abi... diminum dulu airnya," sapa Yuri manis, memasang raut wajah istri idaman yang penuh perhatian dan tanpa dosa.
Abimana mendongak, meraih gelas tersebut dan meminumnya sedikit sebelum berdehem pelan untuk merapikan nada suaranya.
"Dek..." panggil Abimana dengan intonasi berat yang sengaja dibuat-buat berwibawa. Pria itu menatap Yuri dengan sorot mata yang dipaksakan penuh rasa bersalah.
"Mas mau ngomong sesuatu soal hari Minggu besok."
Yuri mendudukkan diri di sofa sebelah Abimana, melipat kedua tangannya di atas pangkuan seraya menatap suaminya dengan binar mata polos yang mengagumkan.
"Soal hari Minggu, Mas? Ada apa?" tanya Yuri lembut seolah tak tahu apa-apa.
"Tadi bos besar di kantor menginstruksikan seluruh jajaran manajemen buat menghadiri acara gathering dan koordinasi proyek mendadak dari pagi sampai malam."
"Kok mendadak banget, Mas? Hari Minggu kan biasanya libur kantor..."
"Yah, namanya juga proyek besar bernilai miliaran, Dek. Mas kan calon Manajer Utama, jadi nggak enak kalau sampai absen. Apalagi ini perintah langsung dari anak pemilik perusahaan."
Mendengar frasa anak pemilik perusahaan, sudut bibir Yuri yang tersembunyi ingin sekali mengukir senyum miring yang mengejek.
'Anak atasan yang kemarin malam rambutnya hampir lepas aku jambak', batin Yuri mencibir dingin.
Namun di luar, raut wajah Yuri berubah menjadi penuh rasa kagum dan pengertian.
"Wah... gitu ya, Mas? Ya ampun, Mas Abi hebat banget sampai dipercaya buat acara penting gitu," puji Yuri dengan nada suara terpesona.
"Terus Mas berangkat jam berapa hari Minggu besok?"
Abimana membusungkan dadanya bangga, merasa kebohongannya berhasil menelan Yuri bulat-bulat tanpa rasa curiga sedikit pun.
"Mas berangkat pagi-pagi banget, Dek, sekitar jam delapan. Paling baru pulang larut malam," ujar Abimana manis. Pria itu kemudian merangkul bahu Yuri, berpura-pura mengusap tangannya.
"Kamu nggak apa-apa kan Mas tinggal seharian di rumah sendirian?"
Yuri menatap Abimana tepat di manik matanya, menyunggingkan senyum paling manis namun menyimpan racun pemungkas.
"Nggak apa-apa kok, Mas... Lagian kebetulan banget, hari Minggu aku juga ambil shift lembur seharian di kedai kopi dari jam delapan pagi sampai jam sembilan malam," sahut Yuri polos. "Lumayan kan buat cari uang tambahan?"
Mendengar kata 'lembur di kedai kopi', hati Abimana bersorak kegirangan.
'Sempurna! Rencana gue benar-benar mulus!' batin Abimana puas luar biasa.
"Aduh, Dek... kamu ini rajin banget sih," puji Abimana berpura-pura iba seraya mengusap rambut Yuri.
km udh gx bisa keluar dr cengkraman nenek lampir berkedok malaikat mu😏
knp km nekat ,, gila gilaan bersama nenek lampir ,, gila gilaan ,, gila gilaan ,,
lama2 km jd gila beneran Abimana😏😏😏