Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: YANG TIDAK DIKENALI
#
Moncong pistol itu tidak bergetar. Itu yang paling menakutkan bagi Victor, yang berdiri membeku di balik topeng kainnya: tangan yang dulu ia ajari memegang sendok dengan benar kini mengarah ke pintu kamar sahabatnya, mantap, dingin, tanpa jeda.
"Jangan," katanya. Bukan perintah. Hampir doa.
Pistol itu menyalak.
Peredamnya hanya menyisakan bunyi *pfft* yang pendek, dan Victor sudah menerjang sebelum pikirannya sempat bergerak. Bahunya menghantam siluet putih itu dari samping, membuat tembakan kedua melenceng dan melubangi dinding, lalu keduanya terbanting ke lantai kayu lorong dengan bunyi berdebum yang membangunkan seluruh rumah. Pistol terlepas dari tangan si topeng porselen dan meluncur ke bawah kursi rotan.
"Vic!" Suara Budiawan dari balik pintu, parau, panik. "Vic, kamu di mana?!"
"Kunci pintunya, Pak! Jangan keluar!"
Hanya itu yang sempat ia teriakkan. Sebuah siku menghantam tulang pipinya dari bawah, dan dunia Victor berputar putih. Ia menangkis dengan naluri empat puluh tahun, memutar badan, tapi lututnya yang kiri menekuk di tempat yang salah dan rasa sakit menyambar dari paha sampai pinggang. Si topeng bangkit lebih cepat dari seharusnya. Terlalu cepat, terlalu ringan. Setiap gerakannya hemat dan bersih, tanpa satu pun langkah yang terbuang.
*Cara ini...*
Victor menendang rendah, dan tendangan itu ditangkap dengan lengan kiri, kaki tumpunya disapu, ia jatuh telentang. Lutut menekan dadanya. Kepalan terangkat.
Waktu berhenti sepersekian detik. Kepalan itu tidak turun.
Victor menatap dua lubang mata sempit di balik porselen putih, dan di sana, tepat di sana, ia melihat satu-satunya hal yang ia takutkan: jeda. Bukan keraguan. Hanya tubuh yang tiba-tiba teringat sesuatu yang pikirannya sudah lupa.
Si topeng menggeleng kecil, seperti mengusir lalat, lalu memukul.
---
Pintu kamar itu didobrak dari dalam bukan oleh Budiawan, tapi oleh lelaki tua itu sendiri yang menubruknya dengan bahu, napas tersengal, piyama kusut, dan sebuah vas porselen di tangan sebagai satu-satunya senjata yang ia temukan.
"Jangan sentuh dia!"
Vas itu pecah di bahu si topeng tanpa melukai apa-apa. Siluet itu menoleh perlahan. Budiawan mundur selangkah, tapi tidak lari. Ia berdiri di antara topeng itu dan lelaki yang tergeletak di lantai, dada naik turun, dan Victor dari bawah melihat punggung sahabatnya yang kurus dan gemetar itu tegak seperti pagar kecil di depan banjir.
"Aku tahu kamu siapa," kata Budiawan, dan suaranya pecah di tengah. "Bukan namamu. Aku tahu *apa* kamu. Anderson mengirimmu, kan?"
Tidak ada jawaban. Si topeng hanya memungut pistolnya dari bawah kursi.
"Dengar... dengarkan aku, Nak." Lelaki tua itu mengangkat kedua tangan, telapak terbuka, dan Victor yang melihat gerakan itu merasakan perutnya melilit tanpa tahu kenapa. "Aku punya anak seusiamu. Aku tahu kamu masih punya... kamu masih bisa berhenti. Mereka bayar kamu berapa pun, itu bukan harga yang sebanding dengan..."
"Pak Budi, *lari*!"
Tembakan itu hanya satu. Kering, pendek, terlalu biasa untuk sesuatu yang menghancurkan segalanya.
Budiawan terdorong setengah langkah ke belakang, menunduk melihat kemeja tidurnya yang mulai mekar merah, lalu mengangkat wajah dengan ekspresi heran, bukan sakit, seperti orang yang baru dibisiki sesuatu yang tidak ia duga. Lututnya menekuk perlahan. Ia jatuh duduk bersandar kusen pintu, dan matanya mencari-cari di lorong gelap sampai menemukan lelaki bertopeng kain di lantai.
"Vic..." bisiknya. "Sobatku... maaf... aku... melibatkan kamu..."
"Pak. Pak, jangan bicara. Jangan..." Victor merangkak, tangannya meraih, menekan luka itu dengan telapak yang gemetar. Darah hangat merembes di sela jarinya. "Bertahan. Aku di sini. Aku nggak ke mana-mana."
"Kamu... anak-anakmu... bilang ke mereka..." Napas Budiawan putus-putus, senyumnya kecil dan teduh seperti yang ada di foto bersama anak-anak sekolah itu. "...bilang kamu bangga."
Kepalanya terkulai ke bahu Victor. Tangan yang tadi menggenggam pergelangannya mengendur, jari demi jari.
Hening.
Hanya hujan di genting, dan di dalam lorong itu, suara napas seorang lelaki tua yang akhirnya mengerti bahwa ia sudah terlambat. Lagi.
---
Victor meletakkan kepala sahabatnya pelan di lantai, membetulkan kacamata bundar yang miring, lalu berdiri.
Ia berdiri tanpa tongkat, dengan lutut yang menjerit, dengan wajah tertutup kain hitam yang basah oleh sesuatu yang bukan hujan. Si topeng porselen masih di sana, tiga meter di depannya, memasukkan pistol ke sarung dengan gerakan tenang seperti orang yang baru menyelesaikan pekerjaan kantor.
"Dia orang baik," kata Victor. Suaranya rendah, bergetar, nyaris tak dikenali. "Dia kasih makan orang-orang yang kelaparan. Dia nyekolahin anak-anak yang nggak punya bapak. Dan kamu tembak dia karena sepuluh orang kaya nggak mau tanahnya dijual."
"Aku tidak bertanya alasannya."
"Kamu *tidak pernah* bertanya."
Si topeng diam sedetik. "Itu bukan urusanmu, Pak Tua."
Victor tertawa. Tawa rusak, tanpa suara, yang membuat bahunya terguncang. Lalu ia menjatuhkan pistolnya sendiri ke lantai dan menendangnya jauh-jauh, ke arah tangga, di mana benda itu berputar dan hilang di kegelapan.
"Kalau begitu, kita selesaikan dengan tangan."
Mereka bertarung dalam gelap, di lorong sempit berkarpet tipis, dengan hujan yang makin deras di luar jendela. Victor tahu ia akan kalah. Ia tahu itu sejak siku pertama menghantam pipinya. Tapi ia bertarung dengan sesuatu yang tidak diajarkan siapa pun, yaitu kemarahan orang yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dilindungi. Ia memukul tanpa pertahanan, menerima dua pukulan demi satu, merasakan rusuk kirinya retak, bibir pecah, pandangan mengabur di satu sisi.
Dan di sela itu semua, ia mengenali.
Bukan wajahnya, wajah itu terkunci di balik porselen. Tapi caranya memiringkan bahu sebelum menyapu kaki. Cara tumit kanan bergeser setengah detik sebelum pukulan datang. Cara ia menahan diri tepat di milimeter terakhir setiap serangan, seperti seseorang yang tubuhnya menolak menghabisi sesuatu yang dulu ia sayangi.
*Tidak. Tidak mungkin.*
*Banyak orang diajari cara yang sama,* kata suara kecil di kepalanya. *Banyak orang. Banyak.*
Satu lutut menghantam ulu hatinya, dan Victor terbungkuk, dan dalam tunduk itu ia melihat sepatu si topeng. Sepatu hitam, sol tebal, dan di tumit kiri ada robekan kecil yang pernah ia jahit sendiri dengan benang nilon di dapur kontrakan, malam sebelum Kenzo pergi.
Dunia Victor berhenti.
"Nak," bisiknya.
Pukulan terakhir tidak datang. Si topeng berdiri dua langkah darinya, bahu naik turun, satu tangan terangkat setengah dan tertahan di udara.
"Apa katamu?"
"Nggak..." Victor menggeleng pelan, air matanya mengalir di balik kain hitam, membuat kain itu menempel di kulitnya. Ia ingin bicara. Ia ingin menarik topengnya, berteriak namanya, memeluk anak itu sampai tulang rusuknya yang retak patah semua. Tapi di belakang si topeng, pintu kamar itu terbuka sedikit, dan ia melihat kaki sahabatnya yang terkulai di lantai. Dan ia tahu satu hal: apa pun yang ia katakan sekarang, anak itu akan mengingatnya sebagai suara orang yang ia bunuh.
*Kalau dia tahu... dia akan hancur. Dia akan membunuh dirinya sendiri dengan pelan-pelan, malam demi malam.*
"Tidak apa-apa," kata Victor akhirnya. Ia tersenyum di balik kain itu, senyum yang tidak dilihat siapa pun. "Lanjutkan. Kamu... kamu sudah belajar baik."
Si topeng terdiam. Dari dua lubang mata sempit itu tidak ada ekspresi yang bisa dibaca, tapi pistol di tangannya, yang sudah terangkat, kembali bergetar sedikit. Hanya sedikit. Hanya cukup untuk membuat Victor tahu bahwa di bawah dingin itu masih ada seseorang yang berdiri di dapur, memegang kertas lipat bertuliskan nama kakaknya.
"Aku tidak mengenalmu," kata si topeng pelan.
"Aku tahu."
"Kalau kamu... kalau kamu ada hubungannya dengan target..."
"Dia sahabatku." Victor memaksa dirinya tegak, satu tangan menekan perut. "Sobat lamaku. Dan aku gagal menjaganya. Jadi kalau kamu mau pergi dari sini hidup-hidup, kamu harus melewatiku dulu."
Itu kebohongan yang paling jujur yang pernah ia ucapkan. Ia tidak ingin anak itu pergi hidup-hidup. Ia ingin anak itu pergi tanpa pernah tahu.
Pistol itu naik.
Victor menutup mata. Ia tidak melihat jari yang menekan pelatuk, tapi ia merasakan sesuatu yang aneh: ketenangan, seperti seseorang yang akhirnya sampai di bawah jembatan tua tempat ia pernah berlutut di atas lumpur dan berjanji tidak akan pergi.
*Om nggak ke mana-mana, Kenzo.*
Satu tembakan. Pendek, kering, terlalu biasa.
Peluru itu masuk dari depan, tepat di dada kiri, menembus kaus yang basah, dan Victor terdorong mundur satu langkah, dua langkah, punggungnya membentur dinding lorong. Ia tidak berteriak. Ia hanya menunduk menatap titik merah yang melebar di bajunya, lalu perlahan merosot, bersandar, sampai terduduk di lantai dengan kaki terjulur dan kepala miring ke bahu seperti anak kecil yang kelelahan bermain petak umpet.
Belum mati. Napasnya masih ada, pendek-pendek, basah, setiap tarikannya terdengar seperti kain yang disobek pelan.
Si topeng berdiri di depannya, pistol masih terangkat, dan tidak bergerak untuk waktu yang lama.
---
Hujan mengetuk-ngetuk genting. Di bawah, di halaman, salah satu penjaga tua mulai mengerang siuman. Waktu mereka tinggal beberapa menit. Si topeng tahu itu. Tapi kakinya tidak bergerak.
Ia berjalan mendekat, pelan, dan berjongkok di depan lelaki yang bersandar di dinding itu. Dari dekat, ia melihat uban yang menyembul di pinggir kain hitam. Lengan jaket yang robek di siku, tambalannya jahitan tangan yang kasar dan tidak rapi. Tangan kanan yang terkulai di lantai, besar, retak-retak, dengan kuku-kuku yang dipotong terlalu pendek.
Tangan itu bergerak. Pelan sekali, jari-jarinya mencari, dan menyentuh ujung sepatu si topeng, tepat di robekan tumit yang dijahit nilon.
Si topeng berhenti bernapas.
"Kamu..." Suaranya, yang tadi dalam dan sengaja diasingkan, turun menjadi sesuatu yang lain, lebih tinggi, lebih rapuh, suara yang hampir bukan suara The Shadow. "Kenapa kamu tidak melawan di akhir? Kamu bisa. Kamu bisa menjatuhkanku dua kali sebelum aku sempat..."
Lelaki itu tidak menjawab. Dari balik kain hitam terdengar tawa kecil yang berubah jadi batuk basah, dan setetes darah merembes di sudut kain, menggelap di serat hitam itu.
"Kenapa..." ulang si topeng, lebih pelan. "Siapa kau sebenarnya, Pak Tua?"
Jari-jari lelaki itu melepas ujung sepatu dan jatuh ke lantai. Kepalanya terkulai lebih rendah. Dadanya naik, turun, naik, melambat, seperti jam yang kehabisan pegas.
Tangan kanan si topeng terangkat. Sarung tangan tipisnya gemetar di udara, dua jari menyentuh tepi kain hitam di pelipis lelaki itu, lembap oleh hujan dan sesuatu yang lebih hangat. Ia tidak tahu kenapa ia melakukannya. Tidak ada alasan. Tidak ada perintah. Hanya sesuatu yang dingin dan tua di dasar dadanya, sesuatu yang sudah enam belas bulan ia injak sampai tidak bersuara, yang tiba-tiba menggeliat dan berbisik: *lihat.*
*Lihat wajahnya.*
Di bawah, suara penjaga tua yang bangun berteriak memanggil nama sahabatnya. Langkah kaki naik tangga. Cahaya senter mulai menyapu dinding.
Jari-jari berbalut sarung tangan itu mencengkeram tepi kain, dan menariknya, pelan, pelan sekali...
---
*Bersambung ke Bab 15*