NovelToon NovelToon
Lima Kakak Valerius

Lima Kakak Valerius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: mona28

Di mata masyarakat, keluarga Valerius adalah keluarga pengusaha terpandang dan salah satu keluarga terkaya di kota. Namun di balik kemewahan mansion mereka, keluarga Valerius merupakan salah satu keluarga mafia paling berkuasa dan ditakuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mona28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANGAN SENTUH ADIK VALERIUS

Suasana Akademi Valerius belum juga kembali normal ketika kelompok Black Ravens meninggalkan halaman sekolah.

Beberapa meja terbalik. Pot bunga pecah. Para siswa berkerumun di sepanjang koridor, membicarakan kejadian yang baru saja berlangsung. Guru-guru berusaha menenangkan keadaan, sementara petugas keamanan memeriksa gerbang belakang yang sempat dibobol oleh kelompok siswa dari akademi lain.

Namun, di antara semua kekacauan itu, ada satu hal yang jauh lebih mengkhawatirkan daripada tawuran.

Sebuah foto bayi.

Foto yang diperlihatkan pemimpin Black Ravens kepada Riven sebelum meninggalkan halaman sekolah.

Riven masih berdiri di tempatnya. Tangannya mengepal, sedangkan tatapannya mengikuti kendaraan kelompok tersebut sampai menghilang di balik gerbang.

"Riven!"

Suara Raka terdengar dari belakang.

Riven menoleh. Kakak pertamanya berjalan menghampiri bersama Darren, Leon, Kian, dan Aren.

Begitu melihat kelima saudaranya berkumpul, Riven segera menunjukkan foto yang sempat ia ambil menggunakan ponselnya.

"Orang itu datang bukan untuk tawuran biasa."

Kian langsung mengambil ponsel Riven.

"Apa maksudmu?"

Riven mengembuskan napas.

"Dia menunjukkan foto bayi yang memakai gelang seperti milik Aren. Dia juga mengatakan bahwa kami tidak mengetahui siapa sebenarnya adik kita."

Tatapan Kian berubah serius.

Darren yang berdiri di sampingnya ikut mendekat.

"Foto bayi?"

"Ya."

Kian memperbesar gambar tersebut.

Foto itu memang agak buram, tetapi benda hitam yang melingkar di pergelangan tangan bayi tersebut terlihat jelas.

Sebuah gelang dengan lambang serigala.

Gelang yang sama dengan milik Aren.

Kian menatap adik bungsunya.

"Aren, gelangmu masih ada?"

Aren mengangguk. "Ada di tanganku."

"Jangan dilepas dulu."

Aren mengerutkan kening.

"Kenapa, Kak?"

Kian tidak langsung menjawab.

Ia ingin menjelaskan, tetapi belum memiliki cukup bukti untuk mengatakan apa pun.

Raka mengambil keputusan.

"Kita pulang."

"Tapi pelajaran belum selesai," jawab Aren.

Kelima kakaknya menoleh bersamaan.

Aren langsung merasa ada sesuatu yang salah.

"Apa?"

Darren mengusap wajahnya.

"Aren, sekolahmu baru saja diserang sekelompok siswa dari akademi lain."

"Aku tahu."

"Dan mereka secara khusus menanyakan dirimu."

"Aku juga tahu."

Riven menyilangkan tangan.

"Lalu kau masih ingin melanjutkan pelajaran?"

Aren mengangguk kecil.

"Iya. Aku baru masuk hari ini. Kalau aku langsung pulang, bukankah itu terlihat seperti aku takut?"

Riven terdiam.

Kemudian ia tertawa keras.

"Hahaha! Aku suka cara berpikirmu!"

Raka meliriknya tajam.

"Jangan mendukungnya."

"Aku hanya mengatakan bahwa adik kita punya keberanian."

"Keberanian tanpa pertimbangan bisa membuatnya celaka."

Aren menunduk mendengar perkataan itu.

Ia mengerti bahwa kakak-kakaknya sedang khawatir. Namun, ia juga tidak ingin mereka terus memperlakukannya seperti seseorang yang tidak mampu menjaga dirinya sendiri.

"Kak Raka."

Raka menoleh.

"Aku tahu kalian ingin melindungiku. Aku berterima kasih untuk itu. Tapi aku juga ingin belajar menjalani hidupku sendiri."

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Raka memperhatikan wajah adiknya.

Wajah yang terlalu lembut untuk kehidupan keras yang selama ini dijalani keluarga Valerius.

Namun, ia juga menyadari bahwa Aren bukan anak kecil yang bisa terus disembunyikan di balik punggung mereka.

Akhirnya Raka menghela napas.

"Baik. Kau boleh melanjutkan sekolah."

Aren langsung mengangkat wajah.

"Benarkah?"

"Dengan syarat."

"Apa?"

"Kau tidak boleh pergi ke mana pun sendirian hari ini. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan, segera hubungi salah satu dari kami."

Aren tersenyum.

"Baik, Kak."

Leon segera menambahkan, "Dan kau harus makan siang tepat waktu."

Aren berkedip.

"Kak Leon, kenapa tiba-tiba membahas makanan?"

"Karena kau belum makan siang."

Darren tertawa kecil.

"Benar juga. Sejak tadi kita sibuk membahas tawuran sampai lupa makan."

Riven merangkul bahu Aren.

"Tenang saja, adik kecil. Nanti aku traktir makanan yang enak."

"Jangan terlalu pedas," sela Leon.

"Kenapa?"

"Karena perutnya belum tentu kuat."

"Kau menganggap perut Aren terbuat dari kaca?"

"Riven!"

Aren tertawa kecil melihat mereka berdebat.

Suara tawanya membuat suasana yang sebelumnya tegang sedikit mencair.

Bagi kelima kakaknya, suara itu mulai menjadi sesuatu yang berharga.

Mereka belum lama mengenal Aren, tetapi sejak pemuda itu memasuki rumah mereka, ada perubahan kecil dalam kehidupan keluarga Valerius.

Rumah yang biasanya sunyi ketika mereka berkumpul kini mulai dipenuhi percakapan.

Meja makan yang biasanya hanya digunakan untuk membahas bisnis kini memiliki seseorang yang bisa mereka tanyai tentang sekolah.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kelima putra Adrian memiliki alasan untuk pulang lebih awal.

Adik bungsu mereka.

---

Pelajaran terakhir hari itu berlangsung dengan cukup tenang.

Namun, Aren menyadari bahwa hampir semua siswa memperhatikannya.

Beberapa terlihat penasaran.

Sebagian lain berbisik ketika ia lewat.

Ada pula yang mencoba menyapanya hanya karena mengetahui bahwa ia merupakan adik angkat keluarga Valerius.

Aren tidak terlalu menyukai perhatian itu.

Ia ingin dikenal sebagai Aren, bukan semata-mata sebagai adik Raka, Darren, Leon, Kian, dan Riven.

Ketika bel pulang berbunyi, Aren merapikan buku-bukunya.

Ia baru saja memasukkan buku terakhir ke dalam tas ketika seorang siswi menghampirinya.

"Hei, Aren."

Aren mengangkat kepala.

Siswi itu memiliki rambut sebahu dan mengenakan kacamata tipis.

"Namaku Naya. Aku duduk dua baris di belakangmu."

Aren tersenyum ramah.

"Hai, Naya."

"Aku ingin mengatakan sesuatu."

"Apa?"

Naya melirik ke arah pintu kelas sebelum kembali menatap Aren.

"Hati-hati dengan Dimas."

Aren mengerutkan kening.

"Kenapa?"

"Dia bukan orang yang mudah menerima kekalahan. Apalagi setelah kakak-kakakmu mempermalukannya di lorong tadi."

Aren menghela napas.

"Mereka hanya menyuruhnya berhenti menggangguku."

"Menurutmu itu sederhana?"

Naya menggeleng.

"Dimas punya hubungan dengan kelompok siswa yang sering membuat masalah. Dia mungkin akan mencoba membalas."

Aren terdiam sejenak.

"Terima kasih sudah memberitahuku."

Naya mengangguk.

"Kalau kau membutuhkan teman, kau bisa duduk bersamaku saat makan siang besok."

Senyum Aren semakin lebar.

"Terima kasih, Naya."

Setelah Naya pergi, Aren berjalan keluar kelas.

Di depan gedung, sebuah mobil hitam sudah menunggu.

Raka berdiri di sampingnya.

Begitu melihat Aren, ia membuka pintu mobil.

"Bagaimana sekolahmu?"

Aren masuk ke mobil.

"Baik."

Raka mengangkat alis.

"Baik?"

"Ya."

"Tidak ada masalah?"

Aren terdiam sebentar.

"Ada seseorang yang memperingatkanku tentang Dimas."

Raka langsung menoleh.

"Apa yang dia lakukan?"

"Belum melakukan apa-apa. Temanku hanya bilang agar aku berhati-hati."

Raka mengangguk perlahan.

"Siapa nama temanmu?"

"Naya."

Raka mengingat nama itu.

"Nanti beri tahu Kian. Bukan untuk mengawasinya, tetapi supaya kita mengetahui apakah ada ancaman nyata di sekolah."

Aren memandang kakaknya.

"Kak, Naya hanya memberiku peringatan."

"Aku tahu."

"Jangan sampai dia merasa sedang dicurigai."

Raka terdiam.

Ia baru menyadari bahwa Aren tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga orang-orang yang bersikap baik kepadanya.

"Baik. Kita tidak akan mengganggunya."

Aren tersenyum lega.

Mobil mulai bergerak meninggalkan sekolah.

Namun, beberapa ratus meter dari gerbang, Raka menerima panggilan dari Kian.

"Kak Raka, aku menemukan sesuatu."

"Apa?"

"Aku memeriksa rekaman kamera keamanan sekolah."

Raka menatap jalan di depan.

"Lanjutkan."

"Kelompok Black Ravens tidak masuk melalui gerbang belakang secara kebetulan. Seseorang memberi mereka akses ke jalur servis."

"Siapa?"

"Identitasnya belum jelas. Rekamannya sengaja dihapus sebagian."

Raka menggenggam ponselnya lebih erat.

"Apakah mereka mengincar Aren?"

"Aku belum bisa memastikan. Tetapi sebelum datang, pemimpin mereka mengirimkan sebuah pesan melalui perangkat yang tidak terdaftar."

"Apa isi pesannya?"

Kian berhenti mengetik sejenak.

Kemudian ia menjawab pelan.

"'Temukan anak dengan gelang serigala.'"

Raka terdiam.

Ia menoleh kepada Aren yang sedang melihat keluar jendela.

Pemuda itu tampak begitu tenang.

Sama sekali tidak menyadari bahwa ada orang-orang yang mungkin sudah mencari dirinya jauh sebelum ia masuk ke keluarga Valerius.

Raka menutup telepon.

Ia belum akan memberi tahu Aren tentang pesan itu.

Bukan karena ingin menyembunyikan kebenaran selamanya, melainkan karena ia ingin memiliki bukti sebelum membuat adiknya ketakutan.

Namun, di dalam hati, Raka telah membuat keputusan.

Siapa pun yang mengincar Aren harus melewati mereka terlebih dahulu.

---

Malam itu, mansion Valerius kembali ramai.

Aren baru saja selesai mandi ketika mendengar suara ribut dari ruang keluarga.

Ia mengenakan pakaian rumah sederhana, kemudian turun untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Begitu sampai di ruang keluarga, ia menemukan Riven sedang duduk di sofa sambil memegangi kepalanya.

Leon berdiri di depannya dengan sebuah kotak obat.

"Aku sudah bilang jangan menggunakan tanganmu untuk memukul orang sembarangan!"

Riven mendengus.

"Aku tidak memukul sembarangan."

"Kalau begitu, kenapa tanganmu memar?"

"Karena aku berlatih."

"Berlatih melawan wajah seseorang?"

Darren tertawa sampai hampir menjatuhkan ponselnya.

Kian bahkan mengangkat laptopnya untuk memotret ekspresi Riven.

"Jangan berani-berani mengambil foto itu!" bentak Riven.

Kian tersenyum tipis.

"Terlambat."

Aren tidak bisa menahan tawanya.

Semua orang menoleh kepadanya.

Riven langsung menunjuk Aren.

"Kau! Jangan tertawa!"

Aren menutup mulutnya.

"Maaf, Kak."

Namun matanya masih menyiratkan bahwa ia ingin tertawa lagi.

Raka yang baru masuk dari ruang kerja menggelengkan kepala.

"Kenapa kalian selalu ribut?"

Darren menjawab santai, "Karena keluarga kita tidak pernah membosankan."

Adrian yang sedang membaca dokumen di dekat jendela akhirnya menutup berkasnya.

Ia memperhatikan ketujuh orang di ruangan tersebut.

Kemudian matanya berhenti pada Aren.

"Aren, kemarilah sebentar."

Aren mendekat.

"Ya, Ayah?"

Adrian menunjuk kursi di sampingnya.

"Duduklah."

Aren menurut.

Adrian memperhatikan gelang hitam di tangan Aren.

"Apakah gelang itu selalu kau pakai sejak kecil?"

Aren mengangguk.

"Iya. Gelang itu sudah ada sejak aku ditemukan di rumah sakit."

Ekspresi Adrian berubah sangat tipis.

Namun Raka, yang mengenal ayahnya dengan baik, langsung menyadarinya.

"Ada apa, Ayah?"

Adrian menggeleng.

"Tidak ada."

Ia kembali menatap Aren.

"Jaga gelang itu baik-baik. Jangan berikan kepada siapa pun."

Aren mengerutkan kening.

"Kenapa?"

Adrian terdiam beberapa detik.

"Karena benda itu mungkin lebih penting daripada yang kau kira."

Ruangan menjadi sunyi.

Kian menutup laptopnya.

Darren berhenti tersenyum.

Leon memandang gelang tersebut.

Riven bahkan melupakan tangannya yang sedang diobati.

Aren menatap ayah angkatnya.

"Apakah Ayah tahu sesuatu tentang gelang ini?"

Adrian tidak langsung menjawab.

Ia hanya meletakkan tangannya di bahu Aren.

"Ada beberapa hal yang perlu Ayah pastikan terlebih dahulu."

Aren menunduk.

Ia tidak ingin memaksa.

Namun, untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa keluarganya mengetahui sesuatu yang selama ini tidak pernah diberitahukan kepadanya.

Sesuatu yang berkaitan dengan masa lalunya.

Malam itu, setelah Aren kembali ke kamar, Adrian memanggil kelima putranya ke ruang kerja.

Pintu ditutup.

Adrian berdiri di depan jendela.

"Aku ingin kalian menjaga Aren lebih ketat."

Raka mengerutkan kening.

"Apakah Ayah mengetahui sesuatu?"

Adrian menatap mereka satu per satu.

"Belum cukup untuk memberikan kesimpulan."

Kian menyilangkan tangan.

"Ada orang yang mencari Aren menggunakan gelangnya sebagai petunjuk."

Wajah Adrian mengeras.

"Aku sudah menduganya."

Darren segera bertanya, "Siapa sebenarnya Aren?"

Adrian memejamkan mata sebentar.

Kemudian ia berkata dengan suara berat.

"Untuk saat ini, yang perlu kalian ketahui hanya satu."

Kelima putranya menunggu.

"Ketika Aren berada di rumah ini, dia adalah adik kalian. Apa pun yang kalian temukan tentang masa lalunya, jangan pernah membuatnya merasa bahwa dia tidak pantas menjadi bagian keluarga ini."

Raka mengangguk.

"Tentu."

Leon menyahut, "Kami tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya."

Riven mengepalkan tangannya.

"Kalau orang-orang itu datang lagi, aku akan menghentikan mereka."

Kian menatap layar laptopnya.

"Aku akan mencari tahu siapa yang menghapus data kelahirannya."

Darren mengangguk.

"Aku akan memeriksa apakah ada pihak luar yang mencoba menggunakan perusahaan untuk mendekati keluarga kita."

Adrian memandang kelima putranya.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia terlihat sedikit lega.

Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa perlindungan saja mungkin tidak cukup.

Karena orang-orang yang mencari Aren bukan musuh biasa.

Mereka mengetahui sesuatu yang bahkan sebagian anggota keluarga Valerius belum ketahui.

Dan jika rahasia itu terungkap, kehidupan Aren mungkin tidak akan pernah sama lagi.

Di lantai atas, Aren berdiri di balkon kamarnya.

Ia memandangi langit malam sambil menyentuh gelang hitam di pergelangan tangannya.

"Aku sebenarnya siapa?"

Pertanyaan itu keluar sebagai bisikan.

Angin malam berembus pelan.

Aren belum mendapatkan jawaban.

Namun, satu hal yang ia ketahui dengan pasti adalah bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memiliki lima kakak yang bersedia berdiri di sisinya.

Dan ia tidak ingin kehilangan mereka.

Tanpa Aren sadari, sebuah mobil hitam berhenti jauh di luar gerbang mansion.

Seseorang di dalam mobil mengangkat ponsel dan mengambil gambar mansion Valerius.

Kemudian ia mengirimkan satu pesan.

TARGET TELAH MASUK KE KELUARGA VALERIUS.

Balasan datang beberapa detik kemudian.

JANGAN SENTUH DIA DULU. KITA HARUS MENGETAHUI APA YANG SUDAH DIKETAHUI ADRIAN.

Pria itu menatap jendela kamar Aren.

Kemudian tersenyum tipis.

"Selamat menikmati keluarga barumu, Aren Valerius."

Mobil itu pergi meninggalkan kawasan mansion.

Dan malam yang seharusnya menjadi malam pertama Aren merasa aman justru menjadi awal dari ancaman yang semakin dekat.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!