Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Lahirnya Aliran Jambul Merah
Langit sore di atas Baroni Denwick memancarkan semburat jingga kemerahan, seolah alam semesta sedang menyelaraskan diri dengan warna energi yang bergejolak di tengah lapangan latihan berdebu.
Arya berdiri sendirian di dekat deretan tiang kayu sasaran yang baru saja dipotong dari hutan pinus terdekat. Di pinggir lapangan, kelima prajuritnya sudah terkapar kelelahan setelah seharian dipaksa melakukan latihan fisik. Mereka hanya bisa menonton tuan muda mereka dalam keheningan yang dipenuhi rasa kagum dan ngeri.
Hari ini adalah hari pembuktian. Seluruh teori, geometri pergerakan, dan manipulasi Lion Breathing yang ia eksperimenkan selama sepekan terakhir telah mencapai titik puncaknya. Otot-otot tubuh remajanya, meskipun belum mencapai ukuran ideal, kini telah merekam jejak memori dari setiap sudut putaran, setiap pijakan kaki, dan setiap tarikan napas.
Arya menutup matanya. Ia memanggil gumpalan panas dari ulu hatinya.
Seketika, kabut aura berwarna merah darah—crimson—mengalir menyusuri urat nadinya, merembes keluar dari pori-pori kulit lengannya, dan merambat menutupi bilah pedang bajanya. Udara di sekitarnya mendadak menjadi lebih padat dan bersuhu tinggi.
Ia membuka matanya, dan tarian itu pun dimulai.
Arya melesat maju bukan dengan garis lurus, melainkan melengkung ke sudut buta tiang sasaran pertamanya. Pedangnya berkelebat. Tidak ada jeda di setiap serangannya. Ia telah berhasil menciptakan doktrin tempurnya sendiri, sebuah gaya berpedang orisinal yang ia namakan The Crimson Crest Edge Style—Aliran Bilah Jambul Merah.
Aliran ini dibangun di atas tiga pilar utama yang menghancurkan seluruh pakem bela diri ksatria Aetheria:
Pertama: Tebasan yang Mengalir Tanpa Henti. Begitu Arya mulai menyerang, pedangnya tidak pernah ditarik mundur. Setiap pantulan baja digunakan sebagai momentum untuk meluncurkan tebasan berikutnya dari sudut yang berbeda. Gerakannya menyerupai badai pusaran air; jika musuh berhasil menangkis ayunan pertama, mereka akan langsung diterjang oleh ayunan kedua, ketiga, dan keempat dari arah yang tak terduga dalam hitungan milidetik.
Kedua: Efisiensi Brutal. Tidak ada tebasan lebar yang membuang tenaga, dan tidak ada pamer kekuatan. Setiap ayunan dirancang murni berdasarkan ilmu anatomi. Ujung bilah pedangnya hanya mengincar tiga hal: urat nadi di leher, persendian yang tidak terlindungi zirah, dan celah pelindung mata. Itu adalah seni membedah tubuh lawan secara matematis.
Ketiga: Intimidasi Psikologis. Kombinasi antara gerakan melingkar yang tidak wajar dan aura crimson pekat yang menyelimuti pedangnya menciptakan ilusi optik yang mengerikan. Saat pedang itu diayunkan, aura merahnya meninggalkan jejak cahaya di udara, membuat musuh merasa seolah mereka sedang dikepung oleh jaring darah. Suara bilah yang merobek udara terdengar seperti jeritan logam yang mencekik nyali.
Arya memutar tubuhnya, membiarkan pilar-pilar itu bermanifestasi ke dalam teknik nyata. Ia mengaktifkan jurus turunan pertama dari alirannya.
"Crimson Harvest." (Panen Merah Tua)
Ia merendahkan tubuhnya secara ekstrem, nyaris menyentuh tanah, lalu berputar seperti gasing. Pedangnya menyapu secara horizontal dalam jangkauan luas. Ini adalah teknik pembantaian massal yang dirancang untuk menebas tendon lutut atau perut beberapa musuh sekaligus saat ia dikepung. Tiang kayu pertama terpotong bersih di bagian tengahnya, melayang ke udara bahkan sebelum serbuk kayunya sempat jatuh ke tanah.
Tanpa membiarkan kakinya kehilangan pijakan, Arya langsung memutar pergelangan tangannya, mengubah momentum putaran Crimson Harvest menjadi sebuah kuda-kuda tusukan lurus.
"Bleeding Crest Thrust." (Tusukan Lambang Berdarah)
Seluruh aura crimson yang menyelimuti bilah pedangnya mendadak ditarik, dikompresi, dan dipusatkan sepenuhnya ke ujung mata pedang, menciptakan titik merah sekecil jarum namun dengan kepadatan energi yang luar biasa. Ia melesat ke depan, melontarkan tusukan kilat ke tiang kedua.
BAM!
Tidak ada suara potongan kayu, melainkan suara ledakan teredam. Ujung pedang itu menembus kayu pinus tebal seolah itu hanya selembar perkamen basah. Lubang menganga tercipta di tengah tiang, tepiannya hangus terbakar oleh panasnya kepadatan aura. Teknik ini adalah jawaban Arya untuk menembus zirah pelat tebal militer Luminaria atau kulit tebal monster mutan.
Arya menarik pedangnya dengan gerakan memutar pelan, melangkah mundur setengah langkah untuk mengambil napas, lalu mengubah pijakannya menjadi kuda-kuda tinggi. Pedangnya diangkat lurus di atas kepala. Ini adalah saatnya untuk eksekusi akhir.
"Scarlet Execution." (Eksekusi Merah Darah)
Segala bentuk keraguan, emosi, dan ketakutan dihapus dari pikirannya. Ia memadatkan sisa aura di paru-parunya, lalu mengayunkan pedangnya dalam satu tebasan vertikal murni ke arah tiang ketiga. Gerakan ini terlihat sangat sederhana, namun sangat mematikan karena ia menyatukan gravitasi, tarikan otot bahu, dan ledakan aura dalam satu garis potong absolut.
Bilah pedangnya turun seperti kilat merah.
TRANG—KRAAAAK!
Tiang pinus ketiga itu terbelah dua secara simetris dari atas hingga ke bawah. Potongannya begitu halus sehingga kedua sisinya sempat berdiri tegak selama sedetik penuh sebelum akhirnya tumbang ke sisi kiri dan kanan, menghantam tanah berdebu dengan bunyi berdebum keras.
Di pinggir lapangan, Max dan keempat rekannya menahan napas. Rasa ngeri merayap di tulang belakang mereka. Jika tiang-tiang kayu sekeras itu bisa dihancurkan dengan mudah, mereka tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika teknik-teknik itu diterapkan pada tubuh manusia.
Arya berdiri di tengah reruntuhan kayu tersebut. Ia membuang napas panjang, dan kabut merah di pedangnya perlahan memudar, mengembalikan senjatanya menjadi sebilah besi biasa. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena efek kelelahan akibat ototnya yang harus beradaptasi menyalurkan aura pekat secara simultan.
Namun, seringai tipis perlahan terbentuk di wajahnya.
Bilah Jambul Merah telah lahir. Ia kini memiliki senjata taktis, tubuh yang mulai merespons perintahnya, dan lima prajurit yang telah dipatahkan egonya. Ia telah membangun fondasi senjatanya, dan sekarang... ia butuh medan tempur sungguhan untuk memolesnya, sekaligus mencari dana segar untuk melengkapi persenjataan pasukannya.
Pandangan Arya beralih ke arah barat, melewati batas tembok kastil dan menatap jauh membelah perbatasan. Di sanalah wilayah Kekaisaran Verdentia membentang, menyembunyikan sebuah hutan kuno yang gelap—tempat di mana ancaman monster buas dan janji kekayaan berdarah telah menunggunya.
👍