NovelToon NovelToon
Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.

Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).

Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.

"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."

Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 011 - Petikan Rantai Pertama

Di dalam ceruk berlumpur yang dingin dan berbau busuk, Gu Yuan menahan napasnya serendah mungkin. Detak jantungnya berdenyut kencang di rongga dadanya, dihitung mundur dengan ketukan yang teratur di dalam kepala: ‘Tiga… dua… satu…’

Jarak dua langkah di depannya, punggung Luo Biao tampak begitu terbuka. Peluit tembaga sudah menempel di bibir pria itu, siap ditiup untuk memanggil regu pemanah gerbang luar.

Secara naluriah, menyergap seorang musuh dari belakang saat perhatiannya teralihkan adalah pilihan paling masuk akal bagi siapa pun. Namun Gu Yuan tidak pernah mengandalkan keberuntungan buta saat berhadapan dengan murid senior yang memiliki kultivasi Pemurnian Raga lapis kesembilan—tiga tingkat di atas kultivasi raganya sendiri.

Niat membunuh yang dingin mendadak terpancar dari cermin perunggu di balik saku jubahnya saat Gu Yuan memusatkan niatnya untuk menyerang.

Dunia membeku; garis batas ruang retak menjadi pola perunggu abu-abu.

Suara hembusan napas Luo Biao yang hendak meniup peluit seketika terhenti. Tetesan air lumpur dari langit-langit ceruk menggantung kaku di udara. Seluruh warna batuan lorong memudar menjadi abu-abu logam yang hampa, menarik kesadaran Gu Yuan masuk ke dalam simulasi penyergapan kilat.

...****************...

Di dalam dunia cermin, Gu Yuan melompat keluar dari ceruk lumpur dengan belati kecil di tangan kanan, melancarkan tusukan lurus ke arah tengkuk Luo Biao untuk memutus urat leher pria itu sebelum peluit berbunyi.

Namun, Luo Biao yang telah ditempa oleh kerasnya pertarungan sekte memiliki naluri bertahan hidup yang sangat liar.

Merasakan hembusan angin dari belakang punggungnya, Luo Biao tidak menoleh; tubuhnya secara refleks memutar pinggang ke samping sambil menghentakkan siku tangan kanannya ke belakang. Dari lipatan lengan baju jubah abu-abunya, sebuah pegas jebakan berbunyi klik keras, melontarkan sebilah pisau tersembunyi selebar dua jari sepanjang satu jengkal.

Bilah pisau tersembunyi itu menyambar melingkar dengan kecepatan yang mengerikan. Gu Yuan yang sedang meluncur maju tidak sempat menarik kembali tubuhnya. Mata pisau baja dingin itu menyayat melintang di tenggorokannya, merobek urat darah utama sebelum belatinya sempat menyentuh kulit tengkuk Luo Biao.

Darah menyembur membasahi dinding batu, rasa panas yang menyesakkan membakar saluran napasnya saat tubuhnya terhempas ke lantai lorong yang becek.

Pisau pegas tersembunyi di lengan baju kanan. Pasak jebakan itu bekerja otomatis begitu siku ditarik ke belakang saat serangan mendadak datang dari arah punggung.

Namun dalam simulasi kegagalan itu, Gu Yuan mencatat satu celah vital: tumpuan berat badan Luo Biao saat hendak meniup peluit berada sepenuhnya pada kaki kanan. Jika perhatian dan pandangan pria itu dialihkan ke arah kiri terlebih dahulu, putaran badannya akan terlambat setengah tarikan napas, dan lutut kanannya akan terkunci kaku di lantai tanpa mampu mengaktifkan pasak jebakan pisau lengan.

...****************...

Udara kembali berhembus, tetesan keringat dingin jatuh ke tanah tepat di detik yang sama.

Gu Yuan menahan sentakan di lehernya. Rasa sakit dari robekan pisau tersembunyi di dalam simulasi terasa membakar kulit tenggorokannya di dunia nyata, meninggalkan sensasi panas menyengat yang membuat jakunnya bergerak kaku. Keringat dingin menetes dari ujung dagunya yang berlumur lumpur, jatuh tepat ke atas kerikil di samping kakinya.

Ia tidak melompat menyerang secara membabi buta.

Tangan kanan Gu Yuan meraba lantai ceruk saluran air, memungut sebutir batu kali seukuran ibu jari yang terendam lumpur. Menggunakan kekuatan sentakan pergelangan tangannya yang terbiasa memukul linggis tambang, ia menjentikkan batu tersebut meluncur cepat melintasi lorong.

Tring!

Batu kali itu menghantam jeruji kayu besi bilik nomor tiga di seberang kiri lorong, menimbulkan bunyi dentang logam yang cukup keras di tengah keheningan lorong bawah tanah yang lembap.

Suara benturan itu berhasil memecah konsentrasi Luo Biao seketika. Peluit tembaga di bibirnya urung berbunyi. Pria itu mengira ada tahanan lain yang sedang bergerak di bilik seberang, dan secara refleks memiringkan kepalanya menoleh ke arah kiri sambil menggeser tumpuan berat badannya ke depan.

Itulah celah setengah tarikan napas yang telah diperhitungkan Gu Yuan di dalam cermin.

Gu Yuan melesat keluar dari ceruk lumpur seperti harimau lapar yang menyambar mangsa. Ia tidak berdiri tegak; tubuhnya meluncur sangat rendah menyusuri lantai batu yang basah, menghindari jangkauan ayunan siku tangan kanan Luo Biao.

Di tangan kanannya kini tergenggam sebatang paku besi pengikat rel tambang sepanjang setengah jengkal yang ujungnya berkarat dan bergerigi kasar.

Gu Yuan memusatkan seluruh tenaga Tulang Besi dari Ranah Pemurnian Raga lapis ketiganya ke ujung lengan kanan, lalu menghantamkan batang paku berkarat itu sekuat tenaga tepat ke bagian belakang sendi lutut kanan Luo Biao—tepat di celah urat tendon utama yang menahan tumpuan kakinya.

Krak!

Suara derak robekan urat dan tulang sendi yang retak terdengar begitu mengerikan di lorong sempit tersebut.

“Aaaargh!”

Jeritan tertahan meluncur dari tenggorokan Luo Biao saat rasa sakit yang luar biasa melumpuhkan seluruh kaki kanannya seketika. Sendi lututnya hancur tertekuk ke arah yang salah, membuat tubuh jangkungnya limbung dan jatuh terhempas ke lantai batu kapur yang licin. Peluit tembaga di tangannya terlepas, bergulir masuk ke dalam genangan air parit limbah sebelum sempat mengeluarkan suara kedua.

Namun, sebagai murid senior lapis kesembilan yang terbiasa bertarung kotor, Luo Biao tidak menyerah begitu saja.

Di tengah erangan rasa sakit yang membakar kakinya, tangan kiri pria itu melesat seperti cakar binatang buas, mencengkeram pergelangan kaki kiri Gu Yuan yang melepuh dengan kekuatan cengkeraman kuku yang menembus kain jubah dan menancap ke daging.

1
Shiro Hoshinova
jir jadi kiko
Shiro Hoshinova
Apalagi ini woy
Helios
Hahaha lolos gara-gara botol arak
Ryo Hamada
Misah jalan sendirian mungkin pilihan paling cerdas buat hindarin kejaran sekte
Ryo Hamada
Mo Cheng kuat bgt ya berarti, udh turun ranah tapi masih bisa ancurin lantai
Ryo Hamada
Gas mumpung ada kesempatan
Ryo Hamada
Beneran dingin banget sikap MC kalau udh masalah keselamatannya. Realistis & gak naif, suka aku model MC yg kaya gini
Ryo Hamada
Xiao Wu mungkin ceroboh micu bel alarm, tapi kekacauan sekte justru nutupin langkah Gu Yuan menuju gua air terjun. Momentum pas jir
Ryo Hamada
Mungkin langsung masuk ke aula Mo Cheng itu langkah bunuh diri, tapi jalan mundur udah ketutup total. Harus main peran sampe tuntas.
Helios
Woy tahanan di bilik jangan teriak napa
Shiro Hoshinova: Fix inimah
total 1 replies
Shiro Hoshinova
Hawanya horor kerasa banget, keren thor!
Helios
Hoki seumur hidup kepake tuh pas kuncinya jatuh deket sepatu wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!