NovelToon NovelToon
KEKASIH DARI KEGELAPAN

KEKASIH DARI KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.

Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.

Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Cahaya dan Bayangan Menyatu

Aku terbangun sebelum matahari benar-benar naik. Langit di luar masih berwarna biru kelabu, samar-samar, tepat di antara malam dan pagi. Orion masih duduk di kursi di samping tempat tidur, matanya menatap lurus ke arah jendela, waspada meski ruangan ini terasa begitu damai. Saat aku bergerak sedikit, dia langsung menoleh, dan seketika tatapannya melembut.

"Kau bangun lebih awal dari rencananya," bisiknya pelan, suaranya seakan takut mengganggu kesunyian pagi itu.

"Aku tidak bisa tidur nyenyak. Pikiran ini... rasanya sudah waktunya tahu kebenarannya, apa pun itu." Aku duduk di tepi ranjang, menarik napas panjang. "Kita lakukan sekarang ya? Sebelum mereka datang lagi, sebelum ada yang menghalangi."

Dia berdiri, mendekat, lalu menggenggam kedua tanganku. Jemarinya terasa hangat dan kokoh. "Kita lakukan bersama. Ingat apa yang kubilang kemarin — apa pun yang terjadi, kita hadapi berdua. Tidak ada yang sendirian mulai saat ini."

Kami berjalan perlahan ke meja di sudut ruangan. Kotak kayu itu masih di sana, diam saja, seolah tahu waktunya hampir tiba. Cahaya di sekitarnya redup, tapi aku bisa merasakan ada sesuatu yang berdenyut lembut dari dalamnya, seperti jantung yang menunggu untuk berdetak lebih cepat.

"Bagaimana caranya?" tanyaku, suaraku bergetar pelan. "Kakek bilang hanya tangan yang dipercaya yang bisa membukanya. Dan dia juga bilang... dua cahaya yang tak saling menelan."

Orion menatapku lekat-lekat. "Mungkin bukan satu tangan. Tapi dua."

Dia meletakkan tangannya kiri di sisi kanan kotak itu, lalu menatapku, memberi isyarat agar aku meletakkan tanganku di sisi kirinya. Saat telapak tanganku menyentuh permukaan kayu yang hangat itu, kotak itu seketika berdenyut kuat. Cahaya keemasan dan keperakan memancar dari celah-celahnya, lembut di awal lalu semakin terang, sampai kami harus memejamkan mata sejenak.

Saat cahayanya meredup sedikit, aku mendengar bunyi halus — seperti napas panjang yang lega. Tutup kotak itu terbuka perlahan, seolah ditarik oleh tangan tak terlihat dari dalamnya.

Di dalamnya bukan harta karun. Bukan emas, bukan permata. Hanya ada dua benda: sebuah lionting kecil berbentuk matahari yang terbuat dari kristal keemasan, dan sebuah jubah kecil yang terbuat dari kain yang memantulkan cahaya bintang — persis seperti kain yang sering kulihat Orion pakai. Dan di paling bawah, ada selembar gulungan kain tipis bertuliskan tulisan tangan yang indah dan jelas, tidak memudar sedikit pun.

Dengan tangan gemetar, aku mengambil gulungan itu dan mulai membacanya dengan suara pelan agar Orion bisa ikut mendengar.

"Kepada keturunanku yang akhirnya menemukan jalan ini,

Jika kau membaca ini, berarti ramalan itu benar-benar terjadi. Ada seseorang yang berani menyeberangi batas dunia hanya untuk mencintai, dan ada seseorang yang berani membuka hatinya yang tertutup hanya untuk dipercaya.

Namaku Elion. Aku adalah penjaga gerbang terakhir sebelum dua dunia dipisahkan oleh ketakutan. Aku mencintai seorang wanita dari duniamu. Namanya Sari. Dia adalah nenek moyangmu, Aruna. Dan aku... aku adalah leluhurmu, Orion. Darah kita mengalir di kedua sisinya. Kita bukan dua dunia yang bermusuhan. Kita satu keluarga yang terpisah oleh kebohongan dan ketakutan ribuan tahun silam."*

Tanganku gemetar hebat sampai gulungan itu hampir terlepas. Aku menatap Orion, dan dia menatapku dengan mata terbelalak, wajahnya pucat.

"Kita... kita dari akar yang sama?" suaranya nyaris tak terdengar.

Aku melanjutkan membaca, air mata menetes di pipiku.

*"Mereka yang berkuasa takut persatuan kita akan membuat rakyat tidak lagi takut pada perpisahan. Maka mereka menciptakan cerita bahwa kita musuh. Bahwa cahaya dan kegelapan tak bisa berdampingan. Padahal kita adalah langit dan bumi — tak satu lebih tinggi dari yang lain, tak satu bisa hidup tanpa yang lain.

Lionting itu untukmu, Aruna. Ia akan melindungimu dari siapa pun yang mencoba membaca pikiranmu atau memaksamu melakukan sesuatu yang melawan hatimu. Jubah bintang itu untukmu, Orion. Ia akan membiarkanmu berjalan di bawah sinar matahari tanpa terluka, dan membiarkanmu kembali ke sini kapan pun kau mau. Kutukan itu tidak pernah ada. Itu hanya cerita untuk mengurungmu. Kau bebas, anakku. Selama ini kau sudah bebas, kau hanya tidak diperbolehkan mengetahuinya.

Jangan biarkan siapa pun lagi memisahkan kalian. Kalian adalah bukti terbesar bahwa dua dunia bisa hidup berdampingan. Kalian adalah harapan yang kami tinggalkan di sini, menunggu waktu yang tepat untuk kembali bersinar."*

Gulungan itu perlahan lenyap, berubah menjadi butiran cahaya halus yang terbang ke udara dan menghilang, seolah tugasnya sudah selesai.

Orion terduduk di kursi terdekat, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bahunya bergetar. Ribuan tahun dia hidup dengan rasa bersalah, dengan keyakinan bahwa dia dikutuk, bahwa dia berbeda, bahwa dia tidak pantas berada di antara siapa pun. Dan ternyata... selama ini dia tidak pernah sendirian. Dia punya keluarga yang menunggunya. Dia punya tempat asal yang sama denganku.

Aku duduk di sebelahnya, merangkul bahunya, membiarkannya menangis — bukan tangisan kesedihan, tapi tangisan kebebasan yang akhirnya datang. Dia berbalik, menarikku ke dalam pelukannya yang begitu erat, seolah takut aku akan lenyap kalau dia melepaskan sedikit saja.

"Aku tidak pernah menyangka..." suaranya tercekik di bahuku, "bahwa rumahku bukan sebuah tempat. Tapi seseorang. Dan itu kau, Aruna. Selama ini kau adalah bagian dari keluargaku yang paling lama hilang."

"Dan kau adalah bagianku yang tak pernah aku tahu hilang," bisikku, mencium pelipisnya dengan lembut. "Kita utuh sekarang. Tidak ada lagi terpisah. Tidak ada lagi dua dunia. Hanya satu, milik kita."

Dia melepaskan pelukannya perlahan, lalu mengambil jubah bintang itu dan memakainya. Seketika cahayanya tampak lebih terang, lebih dekat, lebih nyata. Lalu dia mengambil lionting matahari itu, menyimpannya di telapak tangannya, dan menatapku dengan senyum paling indah yang pernah kulihat.

"Boleh aku memakaikannya untukmu?"

"Tentu saja."

Dia berdiri di belakangku, meletakkan lionting itu di leherku, lalu mengikat talinya dengan hati-hati. Saat jemarinya menyentuh kulitku, terasa hangat dan menenangkan. Dia memutar tubuhku perlahan hingga kami saling berhadapan.

"Cantik," katanya lembut, matanya bersinar penuh kebanggaan dan cinta yang tak terlukiskan. "Tapi tidak lebih cantik dari pemiliknya."

Dia mendekat, menatap bibirku sejenak sebelum menatap mataku lagi, seolah ingin mengingat momen ini selamanya. Saat bibirnya menyentuh bibirku kali ini, rasanya berbeda — lebih utuh, lebih dalam, lebih bebas. Tidak ada rahasia di antara kami. Tidak ada jarak. Tidak ada ketakutan. Hanya dua jiwa yang akhirnya menemukan jalan pulang ke rumah satu sama lain.

Saat kami berpisah, napas kami terengah, tapi hati kami tenang. Dia menggenggam tanganku erat, lalu menunjuk ke jendela tempat matahari baru saja mulai terbit, menyinari dunia dengan cahayanya yang keemasan.

"Mari kita pergi ke luar. Ke tempat di mana dulu kita takut melangkah berdampingan. Sekarang tidak ada yang melarang kita lagi."

Kami melangkah keluar, bergandengan tangan, menuju halaman depan rumahku. Sinar matahari pagi menyentuh wajahnya, dan dia tidak menghindar. Dia berdiri tegak di bawah terangnya, tersenyum — bebas, utuh, milikku.

Tapi saat dia menatap ke kejauhan, senyumnya perlahan memudar. Matanya menatap ke arah perbatasan hutan tua di ujung desa, dan aku melihat ada bayangan samar yang berdiri di sana, diam saja, mengawasi kami. Bukan satu. Banyak.

Orion mempererat genggamannya di tanganku.

"Mereka tahu sekarang," bisiknya, tapi suaranya tidak lagi takut. "Mereka tahu kebohongan mereka terbongkar. Dan mereka tidak akan diam saja. Karena kalau kebenaran ini menyebar... kekuasaan mereka akan runtuh."

Aku menatapnya, lalu ke arah bayangan-bayangan itu, dan kembali padanya. Aku menyentuh lionting di leherku yang terasa hangat di bawah sinar matahari.

"Biarkan mereka datang. Karena kali ini kita tidak lagi berdiri di kegelapan menunggu cahaya. Kita yang membawa cahayanya ke mana pun kita pergi. Dan itu... itu kekuatan yang tidak bisa mereka hancurkan, bukan?"

Dia tersenyum, senyum yang penuh keyakinan. Dia merangkul pinggangku, berdiri tegak di sampingku, menghadap dunia yang kini tahu siapa kami sebenarnya.

"Benar. Selama kita bersama, kita tak terkalahkan. Apa pun yang datang, kita hadapi berdua. Selamanya."

Di kejauhan, awan gelap mulai berkumpul perlahan di langit. Tapi di sini, di tempat kami berdiri, matahari terus bersinar terang. Karena cerita kami belum selesai. Justru sebaliknya — bab yang sebenarnya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!