NovelToon NovelToon
PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action
Popularitas:780
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.

Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".

Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah

"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 : Ancaman Papa dan Mamanya Vanesha serta Mobil Mewah di Kampun

Suasana di sudut warung kopi sederhana itu mendadak hening seketika. Hanya suara deru kendaraan yang melintas di jalan raya Alun-Alun Sidoarjo serta desir angin malam yang menjadi latar belakang perbincangan mereka.

Dika Pratama terdiam seribu bahasa. Kalimat yang meluncur dari bibir Vanesha barusan — permintaan maaf yang tulus dan ajakan untuk kembali ke Surabaya — bukanlah sesuatu yang pernah ia bayangkan dalam hidupnya. Seorang CEO Vanesha Group, wanita berdarah dingin yang ditakuti dan disegani banyak orang, kini berdiri di hadapannya di warung pinggir jalan, merendahkan egonya demi seorang pemuda bersarung dan berjaket kumal.

Dika menatap cangkir kopi hitam di hadapannya yang uapnya perlahan mulai menghilang. Ia teringat kembali petuah Bapak Joko Pratama saat ia baru menginjakkan kaki di rumah beberapa hari lalu: "Hati boleh terluka, tapi harga diri jangan pernah dibiarkan diinjak-injak." Ia juga teringat pelukan hangat Emak Sarni Sari yang mengingatkannya bahwa di sinilah akar hidupnya yang sebenarnya — tanpa kepalsuan dunia korporat, tanpa tekanan jabatan, dan tanpa intrik kekuasaan.

Dika mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata Vanesha yang tampak masih berkaca-kaca menanti jawaban.

"Mbak Vanesha..." panggil Dika dengan suara tenang, nyaris berbisik namun terdengar sangat tegas. "Penawaran Mbak luar biasa. Buat kebanyakan orang, dipanggil langsung sama CEO besar untuk balik bekerja di perusahaan bonafide adalah impian besar. Tapi... hidup saya bukan sekadar tentang jabatan atau tempat bekerja."

Vanesha menegang. Napasnya seakan tertahan di tenggorokan. "Kamu... menolakku, Dika?" tanya Vanesha lirih, ada kepedihan yang kentara di balik nada suaranya.

Dika tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya perlahan. "Bukan menolak mentah-mentah. Tapi saya harus mikirin harga diri saya juga. Luka diusir kemarin itu bukan main-main. Di sini, di Sidoarjo, di samping Emak dan Bapak, saya baru bisa bernapas lega lagi. Saya bisa bikin konten mancing, bantu bungkus gorengan subuh-subuh, dan jadi diri saya sendiri tanpa harus takut diinjak-injak orang kaya."

Vanesha menggigit bibir bawahnya, air mata yang sempat ia tahan akhirnya lolos menetes membasahi pipinya. Ia sadar, apa yang ia tabur beberapa hari lalu di lantai sepuluh gedung Vanesha Group kini harus ia tuai dengan pahit. Kepercayaan seseorang tidak bisa dibeli kembali hanya dalam waktu semalam.

"Lalu... apa artinya kedatanganku malam-malam ke sini sia-sia?" ucap Vanesha bergetar lemah, pertahanannya benar-benar runtuh.

Dika menghela napas panjang, lalu meraih bungkus rokok Gajah Barunya, menyalakan sebatang kretek dengan tenang sebelum kembali menatap sang CEO cantik.

"Kedatangan Mbak ke sini tidak sia-sia. Setidaknya, Mbak sudah membuktikan kalau di balik jas mahal dan jabatan tinggi itu, Mbak masih punya hati untuk mengakui kesalahan," jawab Dika lembut. "Tapi kalau soal kembali ke Surabaya... saya butuh waktu, Mbak. Saya tidak bisa langsung meninggalkan kampung halaman saya begitu saja."

Mendengar jawaban itu, secercah harapan kecil kembali menyala di dada Vanesha. Ia tidak langsung ditolak mentah-mentah. Masih ada pintu terbuka.

"Berapa lama?" tanya Vanesha cepat. "Berapa lama kamu butuh waktu di sini, Dika?"

Dika tersenyum misterius sambil mengepulkan asap kreteknya ke udara malam Sidoarjo. "Sampai ikan betik batok di kali dekat rumah saya habis terpancing semua, atau... sampai Mbak bisa membuktikan kalau kantor di lantai sepuluh itu benar-benar tempat yang aman buat seorang prajurit sengklek kayak saya."

Vanesha tertegun sejenak, lalu perlahan sebuah senyuman kecil yang tulus terukir di bibirnya — senyuman terindah yang jarang sekali ditunjukkannya kepada siapa pun.

"Baiklah," ucap Vanesha mantap, menghapus sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan. "Aku akan tunggu. Dan selama kamu di sini... aku yang akan sering-sering berkunjung ke Sidoarjo."

Dika mendadak tersedak asap kreteknya sendiri. "Hah? Sering-sering ke Sidoarjo? Mau ngapain, Mbak? Ikut nyari cacing sawah buat umpan mancing?"

Vanesha tertawa kecil — tawa renyah yang membuat malam di Alun-Alun Sidoarjo terasa jauh lebih hangat dari biasanya.

Tawa renyah Vanesha yang memecah kesunyian warung kopi sederhana di Alun-Alun Sidoarjo itu membuat Dika Pratama mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya. Selama bekerja di bawah komando sang CEO galak di lantai sepuluh Vanesha Group, melihat Vanesha tertawa lepas adalah pemandangan langka yang nilainya setara dengan tiket lotre berhadiah miliaran rupiah.

Namun, di balik senyum dan tawa itu, Dika tiba-tiba teringat satu hal penting yang membuat nyalinya langsung ciut seketika. Ia teringat latar belakang keluarga Vanesha yang terpandang, serta kedua orang tua sang CEO yang dikenal kolot, keras, dan sangat memperhatikan status sosial.

Dika langsung menegakkan duduknya, merapikan lilitan sarung tenunnya, lalu menatap Vanesha dengan ekspresi panik setengah mati.

"Eh, tunggu dulu, Mbak Vanesha! Jangan gampang ketawa-ketawa gitu," cegah Dika dengan nada berbisik setengah panik. "Kalau Mbak bilang mau sering-sering berkunjung ke Sidoarjo... waduh, bukan cuma saya yang pusing, tapi urusannya bisa gawat!"

Vanesha yang tadinya sudah merasa sedikit lega langsung menghentikan tawanya. Alis indahnya kembali bertaut bingung. "Gawat gimana maksudnya? Kamu takut aku bikin repot?" tanya Vanesha penasaran.

"Bukan masalah saya, Mbak! Tapi masalah Papah dan Mamah Mbak Vanesha!" tukas Dika cepat sambil mengibaskan tangannya dengan cemas.

"Papah dan Mamaku?" tanya Vanesha, keningnya berkerut.

"Iya!" jawab Dika cepat. "Coba Mbak bayangin... Mbak ini anak tunggal pemilik Vanesha Group, keluarga konglomerat terpandang di Surabaya. Kalau Papah sama Mamah Mbak tahu putri kesayangannya sering nyasar ke kampung Sidoarjo cuma buat nemenin mantan pegawai rendahan yang kerjanya bungkus gorengan dan mancing pakai joran bambu... bisa-bisa saya disiram air keras sama pengawal pribadi keluarga Mbak!" ucap Dika bergidik ngeri.

Mendengar ucapan itu, Vanesha tertegun sejenak. Ia tahu persis bagaimana watak kedua orang tuanya — Papah dan Mamanya adalah tipe orang tua kolot yang sangat menjunjung tinggi martabat keluarga, harta, dan status sosial.

"Papah dan Mamaku memang keras soal status..." aku Vanesha pelan, bayangan wajah tegas kedua orang tuanya tiba-tiba melintas di kepalanya. "Mereka pasti bakal marah besar kalau tahu aku ke sini menemuimu."

"Nah, itu Mbak sadar!" ucap Dika sambil mendengus pasrah, lalu kembali menghisap kretek Gajah Barunya. "Keluarga kita ini bagaikan bumi dan langit, Mbak. Bumi-nya saya pakai sarung di pinggir kali, langit-nya keluarga Mbak ada di puncak gedung pencakar langit. Kalau sampai Papah dan Mamah Mbak ngamuk karena urusan ini, bukan cuma saya yang bonyok, tapi keluarga saya di kampung juga bisa ikut kena imbasnya."

Mendengar penjelasan itu, Vanesha terdiam sesaat. Namun, alih-alih ciut atau takut, sudut bibir Vanesha justru perlahan terangkat membentuk senyuman penuh keyakinan — aura ketegasan seorang pemimpin besar kini terpancar jelas dari wajah cantiknya.

"Biarkan mereka marah," ucap Vanesha mantap, menatap lurus ke dalam manik mata Dika tanpa ragu sedikit pun. "Selama ini hidupku selalu diatur oleh standar dan kemauan Papah Mamah, termasuk soal urusan perusahaan dan pasangan hidup. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mau menentukan jalanku sendiri, Dika."

"Hah? Maksudnya gimana, Mbak? Jangan bikin saya jantungan malem-malem gini!" sahut Dika melotot lebar, hampir tersedak asap rokoknya sendiri.

Vanesha berdiri dari kursinya, merapikan blazer putihnya yang sempat sedikit kusut, lalu menatap Dika dengan sorot mata yang penuh kelembutan dan tekad bulat.

"Kalau Papah dan Mamaku nanti marah besar, biar aku yang menghadapi mereka," ucap Vanesha tegas.

Ia melangkah pelan meninggalkan meja warung kopi tersebut menuju mobil sedannya yang terparkir tak jauh dari sana. Sebelum membuka pintu mobil, ia menoleh sekali lagi ke arah Dika.

"Aku pulang dulu ke Surabaya, Dika," ucap Vanesha dengan suara lembut namun tegas. "Ingat pesanku: nikmati waktu istirahatmu di Sidoarjo. Tapi jangan terlalu lama, karena aku pasti akan kembali lagi ke sini... menantang badai apa pun, termasuk kemarahan Papah dan Mamaku."

"Hati-hati di jalan, Mbak..." ucap Dika lirih, tak kuasa menahan debar di dadanya saat melihat mobil mewah itu perlahan meninggalkan kawasan Alun-Alun Sidoarjo.

1
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!