NovelToon NovelToon
Tangis Digerbang Pesantren

Tangis Digerbang Pesantren

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: eka sundari

Seorang anak perempuan bernama Aira harus menelan kenyataan pahit saat orang tuanya memutuskan untuk memasukkannya ke pesantren. Di usianya yang masih belia, ia belum siap berpisah dari rumah, dari kenyamanan, dan dari kasih sayang yang selama ini selalu dekat.
Hari pertama di pesantren menjadi awal dari luka yang tak terlihat. Di balik seragam rapi dansenyum yang dipaksakan, Aira menyimpan tangis yang ia pendam setiap malam. Rasa rindu, kesepian, dan ketakutan perlahan menggerogoti hatinya. Ia bahkan sempat berpikir untuk menyerah dan pulang.
Namun, di tengah air mata itu, Aira mulai menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—ketenangan dalam doa, kekuatan dalam ilmu, dan arti dari sebuah perjuangan. Ia belajar bahwa tidak semua perpisahan adalah kehilangan, dan tidak semua tangisan adalah kelemahan.Perjalanan Aira di pesantren bukan hanya tentang menuntut menuntut ilmu, tetapi tentang menemukan jati diri, menguatkan hati,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari pertama dipesantren

Gerbang itu terbuka perlahan…

dan di saat yang sama, dunia Aira terasa runtuh.

Tangannya masih menggenggam erat ujung baju ibunya, seolah jika ia melepaskan sedikit saja, semuanya akan benar-benar berakhir. Matanya memerah, bibirnya bergetar, tapi suaranya tertahan di tenggorokan.

“Ibu… Aira nggak mau di sini…”

Kalimat itu akhirnya pecah juga, lirih, hampir tak terdengar. Namun cukup untuk membuat hati siapa pun yang mendengarnya terasa diremas.

Ibunya tidak langsung menjawab. Wanita itu hanya menunduk, menyembunyikan mata yang mulai berkaca-kaca. Sementara di sampingnya, sang ayah berdiri kaku, menatap lurus ke depan, seolah jika ia ikut menatap Aira… ia akan ikut runtuh.

“Ini demi masa depan kamu, Nak…” suara ibunya akhirnya keluar, pelan, bergetar.

Aira menggeleng cepat. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi.

“Masa depan Aira kan sama Ibu… sama Ayah…” suaranya pecah. “Aira nggak butuh tempat ini… Aira cuma butuh pulang…”

Kalimat itu menghantam, bukan hanya untuk kedua orang tuanya… tapi juga untuk dirinya sendiri.

Di depan mereka, bangunan pesantren berdiri megah. Dindingnya tinggi, gerbangnya kokoh, dan suasananya terasa asing. Anak-anak lain sudah berjalan masuk, beberapa terlihat tegar, beberapa diam, dan beberapa… sama sepertinya..menangis.

Tapi bagi Aira, tempat ini bukan sekadar bangunan.

Tempat ini adalah perpisahan.

Tangannya semakin erat menggenggam ibunya, seolah dunia hanya tersisa di pelukan itu.

“Ibu… jangan tinggalin Aira…” kini suaranya benar-benar runtuh. “Aira janji bakal jadi anak baik… Aira janji nggak nakal lagi… jangan tinggalin Aira di sini…”

Ibunya memejamkan mata. Air mata akhirnya jatuh juga.

Maafkan Ibu… batinnya berteriak. Tapi tak satu kata pun keluar.

Perlahan… satu per satu jari Aira dilepaskan.

Dan di detik itulah, sesuatu di dalam hati Aira benar-benar hancur.

“Ibu…!”

Aira mencoba meraih lagi, tapi tubuhnya sudah ditahan oleh seorang ustazah yang berdiri di dekat gerbang.

“Nak, ayo… kita masuk, ya…” suara lembut itu mencoba menenangkan.

Tapi bagaimana mungkin ia tenang…

kalau dunianya baru saja pergi?

“Ibu! Ayah! Aira mau pulang!” teriaknya kini tak terbendung. Air matanya jatuh deras, langkahnya memberontak, tapi pegangan itu terlalu kuat untuk ia lepaskan.

Ia melihat punggung orang tuanya yang mulai menjauh.

Satu langkah…

dua langkah…

lalu semakin jauh…

“Ibuuu…!!”

Suara itu menggema di pelataran pesantren. Beberapa orang menoleh. Beberapa hanya diam. Karena semua tahu… ini bukan tangisan pertama yang mereka dengar.

Dan bukan juga yang terakhir.

Aira terjatuh berlutut. Tubuh kecilnya gemetar, napasnya tersengal, seolah dadanya terlalu sempit untuk menampung semua rasa sakit itu.

Di saat itu, ia merasa sendirian.

Benar-benar sendirian.

Gerbang pesantren kembali tertutup perlahan.

Dan bersama suara “klik” yang terdengar pelan…

sebuah bab dalam hidup Aira resmi berakhir.

Namun Aira belum tahu…

bahwa di balik tangis hari ini,

ada takdir besar yang sedang menunggunya.

Takdir yang akan mengubah hidupnya…

selamanya.

 

Langkah Aira terasa berat saat tubuh kecilnya dibimbing menjauh dari gerbang yang baru saja menutup rapat itu.

Tangisnya masih belum berhenti. Sesekali ia menyeka pipi dengan punggung tangan, tapi air mata tetap jatuh seperti tidak mau diajak kompromi.

“Dek… sini ya,” suara lembut itu terdengar dari sampingnya.

Seorang kakak kelas berjilbab rapi berjalan di sebelahnya. Wajahnya tenang, senyumnya hangat, berbeda jauh dengan dunia yang baru saja Aira tinggalkan di belakang.

“Aira, ya?” tanyanya pelan.

Aira tidak menjawab. Ia hanya menunduk, memeluk dirinya sendiri, seolah takut disentuh lagi oleh kenyataan.

Kakak itu tidak memaksa. Ia hanya tersenyum kecil, lalu berkata lagi dengan suara yang lebih pelan.

“Aira nggak sendirian di sini. Ada Ukhty Santi. Ada teman baru .ini ukhty antar Aira ke kamar ya.”

Nama itu terdengar asing di telinga Aira. Tapi entah kenapa, nada suaranya tidak mengancam. Tidak seperti rasa takut yang sejak tadi menyesaki dadanya.

Mereka berjalan melewati lorong pesantren. Suara langkah kaki terdengar pelan di lantai keramik. Beberapa santri lain lewat, ada yang tersenyum kecil, ada yang hanya menunduk, ada juga yang sibuk dengan buku di tangan mereka.

Bagi Aira, semuanya terasa seperti dunia lain.

“Ini asrama putri,” kata Ukhty Santi sambil menunjuk sebuah bangunan panjang dengan deretan pintu kamar. “Aira nanti tidur di sini ya. Bareng teman-teman yang lain.”

Aira berhenti melangkah.

Matanya langsung mencari-cari sesuatu di sekitar.

“Sendiri?” suaranya kecil, hampir seperti bisikan.

Ukhty Santi menggeleng pelan.

“Enggak, sayang. Di sini kita nggak pernah sendiri.”

Kalimat itu seharusnya menenangkan. Tapi bagi Aira, kata tidak sendiri justru terasa aneh. Karena beberapa menit lalu, ia sudah benar-benar ditinggalkan orang yang paling ia percaya.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu kamar.

“Ini kamarmu,” kata Ukhty Santi sambil membuka pintu perlahan.

kamar bertulisan " Khadijah "

Aira ragu sebelum masuk.

Di dalam, ada beberapa ranjang susun. Ada yang sudah tertata rapi, ada juga yang masih berantakan. Beberapa anak perempuan menoleh ke arah pintu.

Sesaat… suasana menjadi hening.

“Teman-teman,” suara Ukhty Santi terdengar lagi, “ini Aira. Santri baru. Tolong dibantu ya, dijaga juga.”

Ada Dua didalam kamar yang sedang merapikan baju dilemari , mereka mengangguk. Ada yang tersenyum kecil, ada yang hanya memperhatikan.

Aira berdiri kaku di dekat pintu. Tangannya masih memegang ujung bajunya sendiri.

“Yang ini ranjang Aira ya,” lanjut Ukhty Santi sambil menunjuk salah satu tempat tidur di sudut ruangan.

Kangen rumah…

Matanya kembali memanas.

Saat Ukhty Santi hendak pergi, ia menunduk sedikit ke arah Aira.

“Nanti kalau Aira butuh apa-apa, panggil Kak Santi ya. Atau ustazah. Di sini ada yang jaga kamu. Kamu aman.”

Aira tidak menjawab.

Tapi untuk pertama kalinya sejak tadi… tangisnya sedikit mereda.

Pintu tertutup perlahan.

Seorang santri yang duduk di ranjang seberang akhirnya bangkit. Gadis itu mendekat pelan, membawa sebuah bantal kecil di tangannya.

“Kamu Aira kan?” katanya ramah. “Aku Kak Nisa. Kalau kamu takut malam nanti, bilang aja ya.”

Aira masih diam.

Kak Nisa tersenyum lagi, lalu menunjuk ke arah pintu.

“Di sini ada senior juga kok. Kakak kelas yang jagain kita. Dia galak sih… tapi baik.”

Belum selesai kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara langkah di lorong.

Tok… tok… tok…

Suara itu berhenti di depan pintu.

Dan ketika pintu terbuka…

seorang senior perempuan berdiri di sana.

Tatapannya tenang, tegas… tapi ada sesuatu yang sulit dijelaskan di balik sorot matanya.

“Santri baru?” suaranya datar.

Semua di kamar langsung sedikit tegang.

Kak Nisa berbisik pelan, “iya ty , Itu dia…”

Aira menelan ludah.

Tangannya tanpa sadar kembali menggenggam baju lebih erat.

Dan untuk pertama kalinya di tempat ini…

ia merasa, perjuangan sebenarnya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!