Clara Nagendra, siswi berprestasi dengan senyum tempelan sempurna, hidup dalam rumah dingin yang hanya memuja adiknya, Thea. Di balik nilai 98 dan piala emas, ia menyembunyikan gagal ginjal kronis stadium 4 dalam diary biru lusuhnya. Hanya Nenek Kamila dan tiga sahabatnya yang melihat lukanya. Pertemuannya dengan Kim Seokjin, ketua geng motor yang ditakuti, mengubah segalanya. Dari musuh jadi rumah. Dari taman belakang yang bersih hingga janji rumah kecil bernomor 7 di Lembang, Clara akhirnya menemukan tempat pulang — bukan gedung, melainkan pelukan yang tidak menuntutnya sempurna. Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, cinta yang menjadi tempat istirahat, dan rumah yang tertinggal namun tetap menyala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 REVISI — Untuk Sekali Ini, Pilih Gue
Pintu ruang konsultasi ketutup.
Di dalem cuma ada Clara, Mutiara, sama Mama Vania. Map biru punya Clara udah gak di atas meja lagi. Tadi Dokter Risa udah jelasin semuanya dan sengaja keluar dulu, biar mereka ngobrol bertiga.
Vania duduk di depan Clara. Bukan natap hasil lab. Natap muka anaknya.
"Kamu ngerasa gimana?" tanya Mama pelan.
Pertanyaan simpel itu yang bikin dada Clara sesak. Karena itu pertanyaan yang dia tunggu bertahun-tahun.
"Gue mual. Punggung sakit. Kepala sakit," jawab Clara jujur.
"Kenapa gak bilang dari tadi?"
Clara nunduk. "Mama lagi mikirin Thea."
Vania diem.
Clara narik napas. Semua yang ketahan dari Bab 19 akhirnya keluar.
"Gue tau Thea sakit, Ma. Gue tau Mama takut kehilangan dia. Gue juga takut."
Air matanya netes.
"Tapi sejak semuanya kebongkar, gue ngerasa penyakit gue cuma jadi masalah tambahan."
Mutiara yang di samping Clara nunduk. Dia tau kalimat ini udah lama disimpan Clara.
"Kalau Thea sakit, gue harus ngerti. Kalau Papa marah, gue harus ngerti. Kalau Mama capek, gue juga harus ngerti."
Clara ketawa pahit.
"Tapi waktu gue sakit, siapa yang ngerti?"
Vania nelan ludah.
"Ma, gue gak minta Mama ninggalin Thea. Gue cuma pengen Mama inget kalau gue juga anak Mama. Gue bukan cuma kakaknya Thea. Gue Clara. Dan gue juga takut."
Vania berkaca-kaca.
"Gue udah lama takut, Ma. Tiap kontrol takut. Tiap liat hasil lab takut. Badan makin gampang capek, gue takut. Tapi gue tetep sekolah, tetep pura-pura gapapa."
Vania nangis pelan. "Kenapa kamu gak cerita dari awal?"
"Karena gue takut Mama tetep lebih milih Thea."
Ruangan hening.
Clara ngusap air mata.
"Gue gak mau Mama berhenti sayang sama Thea. Gue cuma pengen sekali aja... untuk sekali ini, pilih gue."
Vania bengong.
"Jangan pilih gue buat jadi donor. Jangan pilih gue karena gue paling pinter. Jangan pilih gue karena gue kakaknya Thea. Tapi pilih gue karena gue juga anak Mama."
Vania bangkit. Jalan ke Clara. Megang kepala Clara.
"Maafin Mama, Ra."
Itu pertama kalinya Clara denger Mama minta maaf beneran, bukan karena buru-buru.
"Maafin Mama karena selama ini terlalu sibuk jagain Thea sampe lupa kamu juga butuh dijaga."
Clara akhirnya jebol. Dipeluk Mama. Bukan pelukan buru-buru karena panik. Pelukan ibu ke anaknya.
"Mama takut kehilangan kalian berdua," bisik Mama.
"Makanya jangan kehilangan gue juga, Ma."
Vania angguk sambil nangis. "Iya."
Belum sempet lega, HP Vania bunyi.
TING! TING! TING!
Papa Faizan.
Vania angkat. "Halo, Faizan?"
Wajahnya langsung berubah. "Apa? Thea kejang lagi?"
Clara langsung nunduk. Dadanya sesak lagi. Baru aja dipeluk, sekarang harus lepas lagi.
Vania natap Clara. Jelas perang di mukanya. Thea butuh dia. Clara juga belum stabil.
Dokter Risa dari luar buka pintu sedikit. "Bu, Clara juga belum stabil."
Vania angguk cepat. Dia pegang bahu Clara.
"Mama balik. Janji."
Clara senyum tipis. Senyum yang sama yang selalu dia pake kalau sebenernya pengen nangis.
"Pergilah, Ma. Gue gak sendirian. Ada Mutiara."
Vania meluk sekali lagi, lama, terus pergi.
Pintu ketutup.
Gak ada lega. Gak ada marah. Cuma kosong.
Mutiara duduk di sebelahnya. "Cla."
"Gapapa. Udah biasa," jawab Clara otomatis.
Baru mau berdiri, pandangannya berkunang-kunang.
"Mut... kepala gue..."
Tubuh Clara goyah. Dokter Risa langsung maju.
"Clara, duduk dulu."
Mutiara panik. "Cla!"
Pintu kebuka lagi. Langkah kaki cepet dari lorong.
Seokjin. Napas ngos-ngosan. Hoodie masih berantakan. Dia emang udah nunggu di luar dari tadi, abis dichat Mutiara.
Dia liat Clara yang lagi dibantu Dokter Risa, wajahnya langsung berubah.
"Clara?"
Clara buka mata sedikit. Nemu mata Seokjin.
Seokjin masuk tanpa mikir. Berdiri di sampingnya, genggam tangan Clara.
"Gue di sini."
Air mata Clara jatuh. Bukan karena sakit. Karena untuk pertama kalinya hari itu, pas Mama harus pergi lagi, ada yang tetep tinggal.
"Jangan bikin gue terbiasa," bisik Clara.
Seokjin nunduk. "Udah telat."
Clara merem. Kali ini pas pandangannya gelap lagi, tangannya masih digenggam.