Kirana Aruni menjadi korban atas rencana busuk ibu tirinya setelah terjebak dalam
sebuah malam kelam bersama Edgar Ganendra, pewaris tunggal Ganendra Group,
yang kehilangan kendali akibat dibius musuhnya.
Dianggap membawa aib, Aruni diusir oleh ayahnya atas hasutan ibu tirinya.
Tujuh tahun kemudian, Aruni membesarkan
putra kembarnya seorang diri. Mengetahui perjuangan sang ibu, kedua bocah jenius
itu diam-diam meretas data untuk mencari ayah kandung mereka. Hasilnya mengarah pada satu nama besar, yakni Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group.
Di sisi lain, Edgar tak pernah berhenti mencari wanita dari malam itu. Ia ingin menebus kesalahannya sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi, bahwa ia bukanlah pria impoten.
Saat si kembar mulai menyusun rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka, masa lalu yang penuh fitnah dan luka
kembali terbuka.
Mampukah mereka menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Malam yang sejuk melingkupi lereng Gunung Sumbing. Di teras depan rumah Bik Sumi, Rama, Rena, dan Aruni sedang mengobrol santai menikmati udara malam. Rayyan, yang sejak tadi duduk di dekat Rama, mendadak menggelayut manja di lengan perwira polisi tersebut.
"Paman, boleh tidak nanti aku menginap di vilanya Paman?" pinta Rayyan memohon dengan mata berbinar.
Rama tersenyum hangat, lalu mengusap lembut kepala Rayyan. "Boleh lah! Kau dan Zayyan menginaplah di vilanya Paman!"
"Horeeee!" bersorak gembira Rayyan dan Zayyan secara bersamaan.
Aruni hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku kedua putranya. Memang setiap kali Rama dan Rena datang berkunjung dari Jakarta, si kembar selalu antusias dan senang sekali bisa menginap di vila milik Rama.
Rayyan kemudian menarik-narik tangan ibunya. "Bunda ayo ikut! Sekali-kali nginep di vilanya Paman Rama!"
Aruni terkekeh pelan melihat desakan sang putra. "Ya sudah, kalau begitu Bunda ikut kalian... Kebetulan besok hari Sabtu, jadi Bunda tidak begitu banyak kegiatan."
Tiba-tiba Larasati muncul dari balik pintu teras. "Boleh tidak Laras ikut?" pintanya memasang wajah berharap.
Rama langsung mengangguk ramah. "Tentu boleh, Laras. Kalau bisa Bik Sumi juga ikut!"
Bik Sumi yang mendengar namanya dipanggil dari arah dalam rumah segera menyela sambil tersenyum menolak. "Kalian saja yang pergi menginap. Saya mending di rumah saja jagain rumah!"
Akhirnya mereka berombongan berangkat menuju vila milik Rama yang lokasinya tidak jauh dari rumah Bik Sumi. Setibanya di bangunan vila yang megah dan berarsitektur modern tersebut, Rayyan dan Zayyan langsung melesat berlari menuju area taman luas yang ditumbuhi rumput hijau. Walaupun vila ini jarang ditempati oleh Rama, kebersihannya selalu terjaga rapi karena Rama rutin menyewa jasa perawatan setempat.
Namun, di balik kegembiraan si kembar, ada misi rahasia yang tersimpan di benak mereka. Vila inilah yang menjadi pintu masuk bagi Rayyan dan Zayyan untuk mencari tahu teka-teki sosok ayah kandung mereka.
Kejadiannya bermula sekitar dua minggu yang lalu saat mereka menginap di vila ini. Kala itu, secara tidak sengaja si kembar mendengar Paman Rama menelepon seseorang dan menyebutkan bahwa ‘pria bernama Edgar masih mencari keberadaan Aruni’. Meskipun selama ini mereka mengenal ibu mereka bernama Seruni, sang paman kerap kali keceplosan memanggil ibunya dengan nama Aruni. Sejak saat itulah kecurigaan si kembar mencuat hebat.
Mereka tahu di salah satu ruangan vila ini terdapat ruangan kerja khusus berisi satu set komputer canggih milik Rama yang biasa digunakan untuk menyusun laporan berbagai kasus kepolisian.
Rayyan mendekati Rama yang sedang berdiri di ruang tengah. "Paman, boleh tidak aku dan Zayyan main komputer?"
Rama tersenyum hendak mengizinkan, namun Aruni langsung melotot menatap kedua putra kembarnya tersebut.
"Ini sudah malam, sebaiknya kalian tidur dan istirahat!" tegur Aruni tegas.
"Yaelah, Bun... Besok kan weekend, sekolah juga libur! Iya kan, Zay?" sahut Rayyan mencari dukungan dari adiknya.
Rama terkekeh melihat perdebatan ibu dan anak itu. "Gak apa-apa, Seruni... Mumpung mereka ada di sini. Gih, kalian ke sana! Kalian sudah tahu kan password komputernya Paman?"
"Tahu dong, Paman!" jawab Rayyan antusias. Tanpa membuang waktu, si kembar langsung melesat berlari menuju ruang kerjanya Rama.
Aruni menghela napas panjang melihat anak-anaknya menghilang di balik pintu koridor, sementara Larasati dan Rena sedang sibuk mempersiapkan camilan dan minuman di dapur.
"Kak Rama ini terlalu memanjakan mereka!" gerutu Aruni pelan.
"Gak apa-apa, Aruni. Lagian mereka kan gak setiap hari main komputer," tutur Rama lembut seraya menatap Aruni. "Sudah saatnya mereka itu diajarkan soal dunia luar. Meskipun kalian tinggal di desa, aku justru bangga sekali dengan si kembar. Mereka itu anak yang sangat jenius. Sekali dijelaskan saja langsung mengerti. Apalagi saat aku ajarkan soal perangkat komputer, tidak butuh waktu lama mereka bisa langsung menguasai. Dan kebetulan, aku juga ingin memberikan sesuatu untuk si kembar."
"Kakak terlalu baik sama si kembar..." gumam Aruni merasa sungkan.
"Gak apa-apa, Seruni. Saya justru senang bisa membuat mereka tersenyum bahagia," jawab Rama dengan suara parau pelan, menatap dalam-dalam ke arah bola matanya Aruni.
Ditatap dengan pandangan yang begitu intens dan penuh kehangatan seperti itu, rona merah tipis hinggap di pipi Aruni. Wanita itu buru-buru membuang muka ke arah lain untuk menutupi kecanggungannya.
Kecanggungan di antara Rama dan Aruni mendadak berakhir saat Rena dan Larasati muncul dari arah dapur. Keduanya melangkah membawa nampan berisi camilan hangat serta cangkir-cangkir kopi dan teh yang mengepulkan aroma harum.
"Loh, si kembar mana?" tanya Laras memiringkan kepalanya, mencari-cari keberadaan Rayyan dan Zayyan yang tidak kelihatan di ruang tengah.
Rena meletakkan cangkir ke atas meja sambil terkekeh pelan. "Pasti mereka ada di ruangan kerjanya Kak Rama. Mereka kan suka sekali main di sana kalau lagi menginap di vila!"
Sementara itu, di dalam ruang kerjanya Rama yang tenang, Rayyan dan Zayyan sudah duduk manis di depan layar monitor komputer yang menyala terang. Jari-jemari mereka bergerak lincah menavigasi sistem.
"Kak, kamu yakin mau mencari nama Edgar di dalam komputernya Paman? Nama Edgar itu kan banyak banget!" ujar Zayyan menatap sang kakak dengan raut ragu.
"Tenang saja, Zayyan. Aku yakin kita bisa menemukan pria yang bernama Edgar itu," sahut Rayyan mantap tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Selama ini Bunda selalu menyembunyikan soal Ayah. Setiap kali aku menanyakan soal Ayah, Bunda tidak mau menjelaskan. Dan kenapa setelah Paman Rama berbicara dengan temannya di telepon waktu itu, aku semakin yakin kalau sosok Edgar itu adalah Ayah kita yang sedang mencari keberadaan Bunda!"
Zayyan mengerutkan alisnya yang tebal. "Tapi... kenapa Paman Rama ikut menyembunyikan semua ini dari kita?"
"Itu sebabnya kita harus cari tahu sendiri, Zayyan. Paman Rama dan Bunda pasti tidak akan mungkin mau menjelaskan soal Ayah kita!" jawab Rayyan tegas.
Zayyan akhirnya mengangguk paham. Kedua bocah jenius itu pun bertindak cepat. Jemari kecil mereka menari di atas papan keyboard, melakukan pencarian mendalam terhadap nama 'Edgar' di berbagai basis data dan pencarian terbuka.
Ketika deretan nama Edgar beserta foto-foto profil mereka bermunculan di layar, si kembar mulai mengamati satu per satu gambar tersebut dengan cermat.
"Aku yakin kita pasti punya kemiripan wajah dengan Ayah kandung kita, Zayyan!" cetus Rayyan.
"Iya, Kak. Ayo kita cari lagi... Aku juga penasaran sekali sama sosok Ayah kita," balas Zayyan menatap layar tanpa berkedip.
Pencarian ketat mereka akhirnya terhenti pada sebuah profil pria yang berada di barisan paling atas: Edgar Ganendra, Presiden Direktur sebuah perusahaan raksasa Ganendra Group.
"Zayyan, kau lihat foto wajah pria ini?" bisik Rayyan terperanjat, menunjuk gambar sosok pria berjas rapi di layar. "Sepertinya ada kemiripan dengan kita! Bentuk hidung dan alisnya mirip sekali, kan? Cuma bola mata kita saja yang bulat seperti Bunda, sedangkan pria ini matanya agak sipit!"
Zayyan mendekatkan wajahnya ke layar. "Eh, iya Kak, betul! Pria ini mirip sekali sama kita! Coba kita baca artikel dan postingan pria itu... Namanya Edgar Ganendra, kan?"
Rayyan mengangguk cepat. Ia mengklik tautan yang mengarah ke jejak media sosial lama milik sang presiden direktur. Jemari kecilnya terus melakukan scrolling ke bawah, menelusuri unggahan-unggahan bertahun-tahun lalu.
Tiba-tiba pergerakan mouse Rayyan terhenti pada satu titik unggahan tulisan singkat yang dibuat sekitar lima tahun yang lalu:
‘Aruni... di mana kamu? Aku ingin sekali bertemu denganmu!’
Deg!
Jantung Rayyan dan Zayyan berdetak kencang secara bersamaan. Tulisan singkat di akun pribadi pria itu seolah menjadi kunci jawaban dari teka-teki besar hidup mereka selama ini. Si kembar semakin yakin seratus persen bahwa Edgar Ganendra tak lain adalah ayah kandung mereka yang terpisah.
Mereka mencoba mengusap dan meng-scroll lebih jauh ke bawah beranda akun tersebut, namun tidak menemukan postingan pribadi lainnya. Akun media sosial lama itu tampaknya sudah dibiarkan terbengkalai dan tidak lagi digunakan oleh pemiliknya.
Klek!
Suara kenop pintu ruang kerja diputar dari luar. Suara langkah kaki Rama dan Aruni terdengar semakin mendekat secara bersamaan.
Dengan refleks luar biasa, Rayyan bergerak kilat memindahkan tab browser dari akun Edgar ke situs edukasi anak.
Pintu terbuka persis saat layar komputer berganti tampilan.
"Hampir saja ketahuan!" bisik Rayyan penuh lega seraya mengusap dadanya.
Zayyan di sampingnya ikut menghembuskan napas panjang, pura-pura fokus menatap layar komputer seolah tak terjadi apa-apa.
Bersambung...
sebenarnya aruni jugaa udah tumbuh cinta tp dia masih takut n trauma..
semangat Edgar kamu harus extra meluluhkan hatinya n jangan lupa waspada n hati-hati sm paman mu..