Sejak bayi, Lin Yuxin ditukar demi kemewahan anak keluarga Chen... Chen Ruoxi. Bertahun-tahun disiksa di rumah orang asing, dia akhirnya kembali ke keluarga kandungnya, hanya untuk difitnah habis-habisan oleh Chen Ruoxi yang iri pada kecantikan Lin Yuxin, apalagi saat Kaisar menjodohkannya dengan Putra Mahkota Li Chen... Sifat iri nya semkin menjadi. Lin Yuxin dituduh wanita murahan sekaligus dalang percobaan racun, Lin Yuxin yang tak mampu membela diri pun dijatuhi hukuman mati... sementara pelayan setianya, Xiao Yan, dibungkam selamanya oleh Chen Ruoxi.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Lin Yuxin bangkit kembali tepat di hari dia pertama menginjak rumah keluarga aslinya, membawa ingatan penuh tentang kehidupannya yang lalu. Kali ini, dia bersumpah, setiap fitnah akan dibalas, dan Xiao Yan tak akan mati lagi untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Runtuhnya sang putri palsu
Berkas pengakuan Chen Muyang sampai ke kediaman Lin sore itu juga, dibawa langsung oleh utusan dari kantor pengadilan kota, disertai salinan resmi yang sudah dicap dan ditandatangani.
Lin Boqing membaca dokumen itu di ruang keluarga, wajahnya berubah pucat pasi seiring setiap baris yang dia baca. Nyonya Su berdiri di sampingnya, menutup mulut dengan tangan begitu memahami isi pengakuan itu.
"Panggil Ruoxi," ucap Lin Boqing akhirnya, suaranya bergetar menahan amarah yang baru pertama kali setajam ini sepanjang hidupnya.
Tidak sampai sepuluh menit, Ruoxi melangkah masuk ke ruang keluarga, masih belum menyadari apa yang menantinya. Begitu melihat wajah ayahnya yang mengeras dan dokumen yang tergeletak di meja, langkahnya melambat.
"Ayah... ada apa?" tanyanya, mencoba mempertahankan ketenangan meski firasat buruk mulai menjalar.
Lin Boqing mengangkat dokumen itu, suaranya dingin dan berat. "Jelaskan ini, Ruoxi. Pengakuan resmi dari Chen Muyang, yang menyatakan kau membayarnya untuk mencelakai Yuxin di jalan menuju istana."
Darah Ruoxi serasa membeku. "Itu... itu fitnah, Ayah! Chen Muyang pasti berbohong untuk menyelamatkan dirinya sendiri!"
"Berbohong?" Yuxin melangkah masuk dari pintu samping, suaranya tenang namun tajam. "Pengakuan itu lengkap dengan cap jari dan saksi dari kepala pengadilan kota, Ruoxi. Kau pikir semudah itu menyangkalnya?"
Ruoxi menatap Yuxin dengan mata memerah, antara amarah dan ketakutan yang mulai tidak bisa dia sembunyikan lagi. "Kau... kau sudah merencanakan semua ini sejak awal, bukan? Menjebakku!"
"Aku tidak perlu menjebakmu," Yuxin membalas dingin. "Kau sendiri yang memilih mendatangi Chen Muyang di kedai arak, membayarnya untuk menciptakan skandal. Aku hanya memastikan kebenarannya terungkap."
Nyonya Su, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara, suaranya pecah oleh kekecewaan yang mendalam. "Ruoxi, kenapa? Kenapa kau tega melakukan ini pada saudaramu sendiri?"
"Dia bukan apa-apa bagiku!" Ruoxi akhirnya meledak, topengnya yang selama ini terjaga rapi kini runtuh sepenuhnya. "Dia merebut semuanya dariku... posisiku, perhatian Ayah dan Ibu, bahkan kesempatan menjadi Putri Mahkota yang seharusnya aku dapatkan setelah bertahun-tahun dibesarkan di sini!"
"Kau dibesarkan di sini," potong Lin Boqing tajam, "karena sebuah kesalahan yang bahkan bukan salah Yuxin. Tapi itu tidak memberimu hak untuk mencelakai putri kandungku sendiri, apalagi sampai mencelakainya."
"Ayah..."
"Cukup!" Suara Lin Boqing menggelegar, membungkam seluruh ruangan. Dia berdiri, matanya menatap Ruoxi dengan kekecewaan yang tidak pernah ditunjukkannya sebelumnya. "Selama bertahun-tahun, aku dan istriku memperlakukanmu seperti anak kandung sendiri, meski kau bukan darah daging kami. Kami memberimu segalanya, bahkan setelah tahu kebenaran soal identitasmu, kami tetap mempertahankanmu di keluarga ini."
Dia mengambil napas dalam, suaranya kembali tegas. "Tapi hari ini, kau sudah membuktikan bahwa kebaikan itu sia-sia. Kau mencoba mencelakai putri kandungku, hanya karena kecemburuan yang kau pelihara sendiri."
Ruoxi jatuh berlutut, air matanya mulai mengalir, kali ini tidak ada yang bisa memastikan apakah itu air mata tulus atau sekadar usaha terakhir untuk melunakkan hati orang-orang di sekitarnya. "Ayah, kumohon, beri aku kesempatan..."
"Mulai hari ini," Lin Boqing memotong, suaranya final, tidak menyisakan ruang untuk negosiasi, "namamu dicoret dari catatan keluarga Lin. Gelar bangsawan yang selama ini kau sandang sebagai putri keluarga Lin, dicabut sepenuhnya. Kau diusir dari kediaman ini, dan tidak diperkenankan kembali."
"Ayah, tidak! aku mohon... jangan lakukan itu!" Ruoxi merangkak mendekat, mencoba meraih kaki Lin Boqing, tapi pria itu mundur selangkah, menolak sentuhan itu.
"Jangan panggil aku Ayah lagi," ucapnya dingin. "Kau bukan lagi bagian dari keluarga ini."
Nyonya Su berdiri diam, air mata mengalir di pipinya, tapi dia tidak membantah keputusan suaminya, tidak lagi membela putri yang selama ini dia sayangi sepenuh hati.
Para penjaga melangkah masuk atas isyarat Lin Boqing, menarik Ruoxi berdiri meski dia meronta, terisak histeris.
"Yuxin!" teriaknya, menatap Yuxin dengan mata penuh kebencian yang tidak lagi disembunyikan. "Kau pikir ini akan berakhir semudah ini? Kau pikir aku akan diam saja?"
Yuxin menatapnya tanpa gentar, tanpa rasa kasihan yang biasa ditunjukkan orang lain pada seseorang yang baru saja kehilangan segalanya.
"Aku tidak peduli apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Ruoxi. Tapi ingat ini... kali ini, aku tidak akan membiarkan diriku jadi korban lagi."
Ruoxi diseret keluar dari kediaman Lin, teriakannya masih bergema di sepanjang lorong sampai suara pintu gerbang besar tertutup rapat di belakangnya, mengakhiri bertahun-tahun kehidupannya sebagai putri keluarga Lin yang palsu.
Yuxin berdiri diam di tengah ruangan yang kini sunyi, menatap pintu yang baru saja tertutup. Tidak ada rasa puas besar yang dia rasakan, hanya ketenangan dingin dari seseorang yang baru saja menyelesaikan satu babak penting dalam perjalanan panjangnya untuk tidak lagi menjadi korban.