Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Sore harinya, setelah bel pulang berbunyi, Tommy langsung kembali ke rumah kontrakannya.
Ia menyapa ibunya sebentar yang sedang sibuk menjahit pesanan tetangga.
"Ibu, Tommy masuk kamar dulu ya, mau belajar buat seleksi kompetisi besok," ucap Tommy beralasan.
"Iya, Nak, belajar yang rajin ya biar pintar," jawab ibunya dengan senyum bangga.
Ceklek.
Tommy mengunci pintu kamarnya dan langsung duduk di depan komputer rakitannya.
Wunggg.
Kipas CPU menyala halus saat layar monitor dua puluh empat inci itu menampilkan antarmuka sistem operasinya.
"Sistem, aktifkan Pengetahuan Kriptografi Dasar," batin Tommy memberi perintah.
Ting!
Skill aktif itu langsung terpasang di otaknya, membuat pikirannya kembali tajam seperti pisau bedah.
Tommy segera masuk ke dalam jaringan forum gelap anonim yang biasa ia kunjungi.
"Mari kita lihat apakah ada ladang uang yang bisa dipanen malam ini," gumam Tommy pelan.
Jari-jarinya mulai menari di atas papan tik dengan kecepatan luar biasa.
Tak! Tak! Tak! Tak!
Matanya memindai ratusan utas pekerjaan peretasan bayaran dari berbagai belahan dunia.
Perhatian Tommy tiba-tiba terhenti pada sebuah penawaran yang baru saja diunggah tiga puluh menit lalu.
"Dicari peretas untuk mengambil salinan buku besar keuangan ganda dari pangkalan data PT Bangun Persada."
Tommy membaca judul tawaran itu dengan dahi sedikit berkerut.
"Bayarannya lima puluh juta rupiah dalam bentuk kripto, dibayarkan melalui perantara otomatis forum," baca Tommy.
"PT Bangun Persada," gumamnya sambil mengusap dagu. "Nama ini sepertinya tidak asing."
Tommy membuka tab peramban baru dan mencari informasi publik tentang perusahaan tersebut.
Hanya butuh waktu kurang dari dua menit baginya untuk menembus portal informasi bisnis kota.
Layar komputernya kini menampilkan profil lengkap dari PT Bangun Persada.
Itu adalah sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang konstruksi dan logistik.
Sebuah foto pria paruh baya berjas rapi dan berwajah angkuh terpampang di layar.
"Direktur Utama, Haris Wijaya," ucap Tommy membaca nama di bawah foto itu.
Seketika itu juga, senyum sinis yang sangat lebar mengembang di wajah Tommy.
"Haris Wijaya," gumam Tommy sambil tertawa pelan. "Ayahnya Bagas."
Dunia ternyata memang sempit, dan kebetulan ini terasa sangat manis bagi Tommy.
Pantas saja Bagas selalu bersikap arogan dan semena-mena di sekolah.
Ternyata ayahnya adalah seorang direktur perusahaan konstruksi raksasa di kota ini.
Tetapi melihat adanya permintaan peretasan untuk mencari buku besar keuangan ganda, Tommy langsung tahu satu hal.
"Perusahaan ini bermain kotor," batin Tommy sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.
Buku besar ganda adalah bukti mutlak adanya penggelapan pajak, penipuan investor, atau bahkan pencucian uang.
Ada pihak saingan bisnis atau internal perusahaan yang ingin menghancurkan Haris Wijaya melalui data tersebut.
"Jika aku mengambil data ini, aku bukan hanya akan mendapatkan lima puluh juta rupiah," gumam Tommy.
Ia menatap tajam ke arah foto Haris Wijaya di layar monitornya.
"Aku juga akan memegang kendali atas nasib dan masa depan keluarga Bagas."
Klik!
Tanpa ragu sedikit pun, Tommy menekan tombol terima pada penawaran peretasan tersebut.
Ia mulai membuka jendela terminal hitam dan menganalisis sistem keamanan PT Bangun Persada.
"Mari kita lihat sekuat apa pertahanan perusahaan konstruksi ini," ucap Tommy.
Baris-baris kode mulai mengalir deras di layar monitornya saat ia memindai celah pangkalan data target.
"Dinding api lapis kedua standar korporat lokal," ejek Tommy sambil menggelengkan kepala.
"Mereka menghabiskan miliaran rupiah untuk gedung mewah, tapi memakai sistem keamanan murahan."
Tangan Tommy mulai bergerak memasukkan skrip injeksi paksa yang ia rangkai sendiri.
Ia tidak menyerang pintu depan, melainkan menyusup melalui celah jaringan peladen kamera pengawas gudang mereka.
Hanya dalam waktu dua puluh lima menit, layar hitam Tommy berubah warna menjadi hijau.
[AKSES ROOT DITERIMA.]
Tommy telah berhasil masuk ke jantung pangkalan data perusahaan tersebut.
Ia mengetikkan beberapa perintah pencarian khusus untuk mencari berkas dengan format akuntansi tersembunyi.
Srak!
Puluhan folder rahasia langsung bermunculan di layarnya.
"Dapat," bisik Tommy dengan mata berbinar.
Ia segera mengunduh seluruh isi folder buku besar ganda itu ke dalam peladen virtual amannya.
Tommy membuka salah satu berkas dan memindai angka-angkanya sekilas.
Pikirannya yang cerdas langsung bisa menangkap kejanggalan dari aliran dana yang tercatat di sana.
"Ada selisih miliaran rupiah antara laporan pajak resmi dengan catatan asli pengeluaran operasional ini," analisis Tommy.
"Ini adalah bukti kuat korupsi dan suap proyek pemerintah daerah."
Tommy segera menyalin data tersebut ke dalam sebuah flashdisk hitam miliknya sebelum merapikan jejaknya di server target.
Ia lalu mengirimkan salinan data tersebut kepada klien anonim di forum gelap sesuai perjanjian.
Ting!
Notifikasi pembayaran dari forum gelap langsung masuk, menambah pundi-pundi kriptonya setara lima puluh juta rupiah.
Ting!
Tepat setelah pembayaran itu masuk, layar biru sistem muncul melayang di depan wajah Tommy.
[MISI TERSEMBUNYI SELESAI.]
[Evaluasi: Pengguna berhasil menemukan kelemahan fatal dan senjata pemusnah dari musuh utama di dunia nyata.]
[Mengirimkan hadiah...]
[IQ pengguna meningkat +2 poin.]
[Poin Sistem bertambah +30 PS.]
[IQ Saat Ini: 110 Kategori: Cerdas]
[Poin Sistem Saat Ini: 110 PS]
Sensasi dingin yang luar biasa tajam mengalir dari ubun-ubun menyebar ke seluruh jaringan otak Tommy.
Ia memejamkan matanya dan menarik napas panjang menikmati perubahan tersebut.
Angka seratus sepuluh.
Batas ambang rata-rata manusia biasa baru saja ia lewati malam ini.
Kini ia resmi berada di kategori individu cerdas dengan kecepatan berpikir yang jauh melampaui usianya.
Segala hal yang ia lihat di layar komputer kini terasa berjalan sedikit lebih lambat dari sebelumnya.
Polanya menjadi lebih jelas, dan logikanya bekerja tanpa hambatan sama sekali.
Tommy membuka matanya dan menatap flashdisk hitam di tangannya.
"Bagas," panggil Tommy pelan di dalam kamarnya yang sunyi.
"Kau ingin aku menjadi bahan tertawaan satu sekolah di kompetisi besok?"
Tommy tersenyum sangat dingin hingga membuat suhu kamarnya seakan ikut turun.
"Bermainlah sesukamu di sekolah, karena saat kau melewati batas, aku akan membuat ayahmu memohon belas kasihan di jalanan."
Tommy menyimpan flashdisk itu ke dalam laci tersembunyi di bawah mejanya.
Ia lalu mematikan komputernya dan merebahkan diri di atas kasur dengan perasaan sangat tenang.
Uang tabungannya kini sudah sangat cukup untuk hidup nyaman selama berbulan-bulan.
Tetapi ia tidak akan berhenti di sini.
"Sistem," batin Tommy sebelum memejamkan mata.
"Tampilkan batas limit maksimal IQ yang bisa aku capai."
Layar biru kecil muncul di atas langit-langit kamarnya memberikan jawaban singkat.
[Batas IQ saat ini tidak diketahui. Peningkatan bergantung pada tingkat kesulitan misi yang diselesaikan pengguna.]
Tommy tersenyum puas membaca jawaban tak terbatas tersebut.
Besok adalah hari seleksi kompetisi akademik sekolah.
Ia sudah merencanakan sebuah skenario brilian yang akan membuat Nadin bingung setengah mati.
Ia akan bermain persis di batas antara kebodohan yang mutlak dan kejeniusan yang tak disengaja.
"Mari kita lihat wajah terkejut mereka besok," gumam Tommy sebelum akhirnya jatuh tertidur pulas.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇