Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Langkah kaki Keira terasa begitu berat sewaktu ia menyeberangi Jalan Sudirman di bawah naungan payung lipat kecil berwarna biru tua yang sudah agak karatan di bagian rangkanya. Air hujan yang tumpah dari langit sore Kota Bimantara menderu-deru, menghantam aspal jalan dan menciptakan genangan-genangan air keruh yang memantulkan kerlip lampu kendaraan bermotor. Di dalam genggamannya, map plastik tipis berisi salinan lembar perbandingan data rekapitulasi anggaran dari Nadia terselip rapat di dalam tas selempangnya, terasa begitu dingin dan kaku seolah membawa beban yang jauh melebihi ukuran fisiknya.
Pertemuan di kedai kopi tadi masih berputar-putar di dalam kepalanya bagaikan kaset rusak yang diputar berulang-ulang tanpa henti. Suara Nadia yang tenang, tatapan matanya yang sarat akan kelelahan profesional, serta lembaran angka-angka janggal yang ditunjukkan di atas meja—semuanya berkecamuk hebat, meruntuhkan rasa aman semu yang selama ini dipelihara Keira di dalam kamar kosnya.
Selama berbulan-bulan, Keira membatasi dunianya hanya pada ukuran tiga kali tiga meter. Ia meyakinkan diri bahwa selama ia menjadi perempuan penurut, merapikan kamar, dan menyambut kepulangan Davin dengan semangkuk air hangat serta senyuman, maka dunia luar tidak akan pernah bisa menyentuh mereka.
Namun sore ini, kenyataan menamparnya telak, dunia luar yang keras itu tidak bisa dikunci di luar pintu kayu Jalan Melati.
Dunia itu merangsek masuk lewat sebuah nama bernama Nadia, lewat dokumen selisih anggaran, dan lewat keraguan yang kini berakar kuat di dalam dada.
Ketika akhirnya ia tiba di halaman kos dan membuka pintu kayunya, keheningan kamar menyambutnya dengan aroma khas kertas dan lembap udara luar. Keira langsung mengunci pintu rapat-rapat dari dalam, melepaskan payungnya yang basah di dekat sudut ruangan, lalu menjatuhkan diri di tepi kasur.
Tangannya gemetar saat merogoh isi tas selempang, mengeluarkan map plastik transparan tersebut, dan meletakkannya di atas meja plastik. Ia menatap lembaran-lembaran kertas itu di bawah temaram lampu meja.
Tidak ada tanda-tanda korupsi besar atau skandal kejahatan yang terpampang jelas di sana hanya ada coretan-coretan tangan, catatan revisi, dan kolom selisih angka yang mencurigakan pada proyek cabang Bandung. Namun, justru kesamaran itulah yang membuatnya terasa mengerikan.
Davin, lelaki yang setiap malam memeluknya dengan penuh kehangatan dan mengeluh kelelahan karena pekerjaan, ternyata menyembunyikan sisi lain yang sama sekali tidak pernah diceritakannya.
Apakah Davin benar-benar sengaja memanipulasi data itu? Atau apakah Nadia hanya salah paham karena tekanan pekerjaan yang terlalu tinggi? batin Keira gamang, mencengkeram ujung jilbabnya erat-erat.
Pikiran itu saling berbenturan di kepalanya, menciptakan pusing yang berdenyut di pelipis. Di satu sisi, ia ingin menolak mentah-mentah kecurigaan ini karena ia tahu betapa besarnya dedikasi Davin selama ini.
Di sisi lain, ingatan tentang memo lembar pengeluaran hotel yang ia temukan di tumpukan buku Davin beberapa minggu lalu kembali berkelebat tajam, seolah mengonfirmasi bahwa ada rahasia-rahasia kecil yang selama ini sengaja disembunyikan darinya.
Keira menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan debar jantungnya yang tidak beraturan. Ia tahu persis, jika ia terus membiarkan dokumen ini tergeletak di atas meja, kecurigaan ini akan menggerogotinya dari dalam.
Dengan gerakan hati-hati, ia membuka lembaran paling dasar dari tumpukan diktat kuliah di sudut meja, lalu menyelipkan map plastik tersebut ke tempat paling tersembunyi di bawah buku-buku tebal yang tidak akan pernah disentuh oleh siapa pun, termasuk oleh Davin.
Ia belum tahu apa yang harus ia lakukan dengan informasi ini. Yang ia tahu pasti, malam ini ia harus bersiap menghadapi kepulangan Davin dengan topeng yang sama seperti biasanya, menjadi perempuan yang tenang, sabar, dan tidak tahu apa-apa.
Waktu berjalan terasa merayap lambat. Jarum jam di dinding kos menunjuk pukul enam lebih sepuluh menit ketika suara deru motor matic Davin terdengar memasuki halaman kos, menerobos genangan air hujan yang belum surut sepenuhnya.
Jantung Keira sempat berdegup kencang karena refleks terkejut, namun ia segera memaksa tubuhnya berdiri, merapikan letak kerudungnya di depan cermin kecil, lalu melangkah tenang ke arah pintu.
Ketukan tiga kali yang familier terdengar di daun pintu kayu. Keira menarik napas panjang satu kali lagi untuk memastikan suaranya tidak bergetar, lalu membuka selot besi dan menarik pintu ke samping.
Davin berdiri di sana dengan jas hujan plastik transparan yang sudah dilepas, menenteng tas kerja di tangan kiri dan sebungkus martabak manis di tangan kanannya.
Wajah lelaki itu tampak sangat lelah, tetapi ada binar kelegaan yang luar biasa terang di matanya binar seseorang yang baru saja berhasil menyelesaikan sebuah beban mahaberat dalam hidupnya.
"Sore, Sayang!" sapa Davin dengan suara riang yang tidak biasa, langsung melangkah masuk dan mencium kening Keira penuh kasih sayang. "Wah, gila... Akhirnya selesai juga! Laporan akhir audit Bandung udah resmi diserahkan ke direksi siang tadi, dan semuanya beres!"
Keira menatap wajah kekasihnya itu dari jarak dekat. Di balik senyuman lebar dan kelegaan yang dipamerkan Davin, Keira untuk pertama kalinya melihat bayangan lain sebuah topeng profesional yang barangkali juga digunakan lelaki itu untuk menutupi hal-hal yang tidak boleh diketahui siapa pun.
"Alhamdulillah kalau udah selesai, Vin," ucap Keira pelan, berusaha menjaga nada suaranya agar tetap stabil dan natural.
"Masuk, mandi air hangat gih, bajunya agak lembap tuh kena sisa hujan."
Davin meletakkan tas kerjanya di sudut ruangan dan menaruh martabak di atas meja plastik, tepat di sebelah tumpukan buku diktat yang di bawahnya tersimpan map plastik dari Nadia. Lelaki itu merebahkan tubuhnya sejenak di tepi kasur sambil mengulurkan kedua tangannya ke atas untuk meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku.
"Aku lega banget, Kei," kata Davin dengan napas panjang, memejamkan mata sejenak menikmati kehangatan kamar kos. "Minggu-minggu ini benar-benar bikin stres. Bukan cuma karena datanya yang ribet, tapi juga karena banyak drama di internal tim keuangan."
Mendengar kata drama keluar dari mulut Davin, dada Keira berdesir aneh. Ia mengambil handuk kecil dan segelas air hangat, lalu membawanya mendekat ke arah Davin.
"Drama gimana maksudnya, Vin?" tanya Keira hati-hati, mencoba memancing percakapan tanpa terlihat mencurigakan.
Davin membuka matanya, meneguk air pemberian Keira sampai tandas, lalu mendengkus pelan sambil tersenyum sinis.
"Siapa lagi kalau bukan Nadia. Orang itu benar-benar bikin darah tinggi sampai hari terakhir. Dia sempat mau bikin ulah di jam-jam terakhir penyerahan laporan dengan mempersoalkan beberapa angka rekapitulasi yang sebenarnya sudah disetujui sama manajemen pusat."
Keira duduk bersila di lantai tepat di hadapan Davin, menatap lurus ke dalam mata kekasihnya. "Emangnya kenapa dipermasalahin sama dia?"
"Ya karena dia sok idealis, padahal enggak paham sistem operasional di lapangan," jawab Davin dengan nada suara yang mulai meninggi, tersulut emosi lamanya. "Dia ngotot minta data itu dihitung ulang dari nol, padahal kalau itu kita lakuin, jadwal penyerahan ke direksi bakal hancur lebur dan seluruh divisi kita bisa kena penalti dari bos besar. Untung saja atasan langsung turun tangan dan mengabaikan protes tidak berdasarnya itu."
Mendengar penjelasan tersebut, Keira terdiam kaku. Penjelasan Davin terdengar masuk akal dan rasional dari sudut pandang seorang manajer yang ingin menyelamatkan tenggat waktu proyek. Namun, setelah mendengar versi cerita dari Nadia sore tadi, setiap kalimat pembelaan diri yang diucapkan Davin kini terdengar memiliki lapis makna yang jauh lebih gelap sebuah upaya sistematis untuk membungkam pihak-pihak yang mencoba mempertanyakan keabsahan data tersebut.
"Tapi... kalau memang ada data yang tidak sesuai prosedur, bukannya lebih baik diselesaikan sampai tuntas, Vin?" tanya Keira pelan, suaranya nyaris seperti bisikan yang sangat berhati-hati.
Davin langsung menoleh tajam ke arah Keira, alisnya berkerut heran mendengar pertanyaan itu keluar dari bibir kekasihnya yang biasanya tidak pernah peduli urusan kantor.
"Kok kamu ngomong begitu, Kei?" tanya Davin dengan nada suara yang sedikit menyelidik, senyumannya memudar. "Kamu kesambut apa tiba-tiba nanya soal prosedur audit?"
Keira segera menyadari bahwa ia hampir melampaui batas perannya. Ia langsung menunduk, menarik napas kecil, lalu menampilkan ekspresi polos dan sedikit kikuk untuk mencairkan kecurigaan Davin.
"Eh... bukan gitu, Vin," kilah Keira cepat, mencoba mencari alasan yang masuk akal. "Kan kemarin-kemarin kamu sendiri yang sering bilang kalau salah hitung angka bisa bikin kamu dimarahin bos besar. Aku cuma mikir, kalau si Nadia itu ngotot minta hitung ulang, bukannya itu artinya dia cuma pengen mastiin laporan kalian bersih dari kesalahan?"
Mendengar penjelasan itu, kerutan di dahi Davin perlahan melunak. Lelaki itu menghela napas panjang, lalu tersenyum kecil sambil mengelus puncak kepala Keira.
"Kamu ini ya... terlalu baik, makanya gampang kasihan sama orang," kata Davin lembut, kembali merengkuh tangan Keira.
"Kamu enggak tahu isi dapur kantor, Sayang. Di dunia kerja itu enggak semuanya hitam dan putih. Kadang ada hal-hal administratif yang harus disesuaikan demi kelancaran bersama. Kalau aku menuruti semua rewelnya Nadia, perusahaan malah rugi besar."
Keira mengangguk-angguk kecil menanggapi ucapan Davin. Ia membalas senyuman itu dengan bibirnya, tetapi di dalam dadanya, rasa dingin semakin menjalar ke seluruh tubuh. Penjelasan Davin tentang "hal-hal administratif yang harus disesuaikan" terdengar sangat mirip dengan apa yang dikhawatirkan oleh Nadia sebuah euphemisme halus untuk menutupi manipulasi dan rekayasa angka.
"Iya, Vin... Aku ngerti," jawab Keira lirih. "Yang penting sekarang semuanya sudah selesai kan? Kamu udah enggak perlu pusing lagi mikirin proyek Bandung."
"Betul banget," ujar Davin riang kembali, merangkul bahu Keira erat-erat. "Mulai minggu depan, proyek itu resmi ditutup, dan aku berencana ambil cuti beberapa hari buat nemenin kamu jalan-jalan. Mau ke mana akhir minggu ini? Kita makan enak ya?"
Keira tersenyum tipis, menyambut pelukan hangat kekasihnya seperti malam-malam sebelumnya. Di permukaan, ia tetaplah perempuan penurut yang duduk di sisi Davin, menikmati kebersamaan mereka di dalam kamar kos berukuran tiga kali tiga meter.
Namun, di dalam dasar tumpukan diktat kuliah di sudut meja sana, map plastik tipis berisi lembaran angka-angka janggal itu menjadi saksi bisu bahwa dinding-dinding pelindung kamar kos ini telah retak dan rahasia besar yang selama ini disembunyikan oleh dunia luar kini telah menemukan jalan masuk ke dalam hidup Keira.