Selama tiga tahun, Lin Fan hidup sebagai menantu yang dianggap benalu di keluarga Su. Dihina oleh ibu mertuanya, diremehkan oleh kerabat, dan diabaikan oleh istrinya sendiri, Su Yuhan—seorang CEO muda yang dingin namun jelita. Tidak ada yang tahu bahwa Lin Fan sebenarnya adalah pewaris tunggal dari Keluarga Lin di ibu kota, keluarga konglomerat paling berkuasa. Masa ujian tiga tahun yang diwajibkan oleh keluarganya akhirnya berakhir hari ini, dan roda nasib bersiap untuk berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Kado Pagi Hari
Langit fajar di ibu kota Jingcheng masih diselimuti kabut tipis ketika cahaya matahari pertama mulai memantul di kaca-kaca gedung pencakar langit. Di lantai seratus markas besar Lin Corporation, suasana terasa begitu damai dan elegan. Alunan sonata piano Beethoven mengalun lembut dari speaker tanpa kabel seharga ratusan juta.
Lin Ye berdiri di depan jendela kaca panorama dari lantai hingga langit-langit, mengenakan kemeja sutra putih yang disetrika sempurna. Di tangannya terdapat secangkir kopi Geisha yang baru saja diseduh. Ia menyesapnya perlahan, menikmati aroma kemewahan dan rasa kekuasaan mutlak.
Ia melirik jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangannya. Pukul 06:00 pagi.
"Sudah waktunya," gumam Lin Ye sambil tersenyum puas.
Berdasarkan kalkulasinya, konvoi seratus tentara bayaran elit milik Long Ao seharusnya sudah meratakan Menara Su menjadi puing-puing berdarah beberapa jam yang lalu. Su Yuhan pasti sudah tertangkap, dan Lin Fan... sepupunya yang menyedihkan itu kemungkinan besar sedang berlutut menangis meratapi nasibnya di tengah guyuran hujan Jiangzhou.
Lin Ye berjalan menuju meja kerjanya, menanti telepon satelitnya berdering untuk mendengar laporan kemenangan dari Long Ao. Namun, yang memecah keheningan bukanlah dering telepon, melainkan suara pintu baja ruangannya yang didorong paksa dari luar.
Kepala intelijen bayangan Lin Ye, Feng, menerobos masuk dengan langkah terhuyung-huyung. Wajah pria paruh baya yang biasanya kejam dan tanpa ekspresi itu kini seputih kertas. Napasnya memburu, dan seragam jasnya berantakan, seolah ia baru saja melihat hantu di siang bolong.
"Tuan Muda Ye!" panggil Feng dengan suara bergetar, mengabaikan segala bentuk sopan santun. "Sebuah pesawat kargo swasta dari wilayah selatan baru saja mendarat di bandara logistik kita satu jam yang lalu. Mereka... mereka membawa sebuah kiriman untuk Anda."
Lin Ye mengerutkan keningnya, tidak suka dengan kepanikan bawahannya. "Kiriman? Apakah Long Ao mengirimkan mayat Lin Fan padaku sebagai tanda bukti? Baguslah. Bawa mayat itu ke ruang kremasi rahasia."
"B-bukan, Tuan Muda," Feng menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin menetes dari pelipisnya. "Kiriman itu... Anda harus melihatnya sendiri. Paket itu sudah kami amankan di bungker keamanan lantai dasar."
Merasakan ada sesuatu yang sangat tidak beres, Lin Ye meletakkan cangkir kopinya dengan kasar. Ia segera mengikuti Feng menuju lift eksekutif rahasia yang turun langsung ke bungker bawah tanah tingkat militer di dasar gedung Lin Corporation.
Begitu pintu lift terbuka, udara dingin dan bau kayu pinus mentah bercampur aroma antiseptik langsung menusuk hidung Lin Ye.
Di tengah ruangan berlapis beton dan baja tersebut, di bawah sorotan lampu neon yang terang benderang, tergeletak sebuah peti mati kayu murah yang sangat kasar. Peti itu bahkan tidak dipelitur, dengan bekas paku yang dipukul sembarangan. Sungguh sebuah penghinaan visual yang luar biasa di dalam gedung termewah di ibu kota.
"Buka peti sampah itu," perintah Lin Ye dingin. Dua penjaga segera maju membawa linggis dan mencongkel penutup kayu tersebut hingga terbuka.
Ketika penutup peti itu digeser jatuh ke lantai beton, mata Lin Ye menyipit. Sedetik kemudian, jantungnya seolah berhenti berdetak. Kopi mahal yang tadi ia minum terasa naik kembali ke tenggorokannya, meninggalkan rasa pahit yang luar biasa.
Di dalam peti mati murahan itu, terbaring sosok manusia yang kondisinya sangat menyedihkan hingga nyaris tidak bisa dikenali.
Bukan mayat Lin Fan yang terbaring di sana. Itu adalah Long Ao, Tuan Muda dari wilayah selatan yang semalam berkoar akan membantai Jiangzhou.
Tubuh Long Ao diikat dengan sabuk kulit medis. Rahangnya bengkak dan miring secara tidak wajar. Namun, yang paling mengerikan adalah posisi keempat anggota geraknya. Tangan dan kakinya bengkok di sudut yang mustahil bagi anatomi manusia normal. Seluruh persendian utamanya telah dihancurkan dengan presisi bedah yang kejam, memastikannya lumpuh total seumur hidup.
Mendengar suara peti dibuka, mata Long Ao yang sayu seketika terbelalak lebar. Ketika pandangannya menangkap wajah Lin Ye, tatapan Long Ao dipenuhi oleh kebencian yang menyala-nyala sekaligus teror yang tak berujung.
Long Ao membuka mulutnya lebar-lebar, urat lehernya menonjol saat ia berusaha berteriak dan mengutuk Lin Ye yang telah menjebaknya.
Namun, tidak ada satu pun suara yang keluar dari mulutnya selain suara napas berdesis yang menyedihkan. Udara kosong keluar dari kerongkongannya. Pita suaranya telah dihancurkan sepenuhnya. Tuan Muda yang arogan itu kini hanyalah seonggok daging yang bisa bernapas dan merasakan sakit, namun tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
"I-ini mustahil..." Lin Ye mundur selangkah, kakinya gemetar. Matanya terbelalak menatap kehancuran sekutunya. "Dia membawa seratus tentara bayaran elit... dia memiliki dukungan Komando Selatan! Bagaimana dia bisa berakhir seperti ini dalam semalam?!"
Feng melangkah maju dengan tangan bergetar hebat. Ia mengambil sebuah kartu putih kecil yang disematkan menggunakan pin tepat di atas dada Long Ao. Kartu itu bersih, tanpa noda darah sedikit pun, sangat kontras dengan pemandangan di sekitarnya.
"T-Tuan Muda Ye," Feng menyodorkan kartu itu. "Ada pesan tertulis di sini."
Lin Ye merebut kartu itu dengan kasar. Di atas kertas putih eksklusif tersebut, tertulis sebuah kalimat pendek dengan kaligrafi tinta hitam yang sangat elegan, namun memancarkan aura membunuh yang menembus hingga ke jiwa.
"Pionmu sudah kumakan. Bersiaplah untuk menyerahkan takhtamu, Lin Ye."
Kata-kata itu bagaikan palu godam tak kasatmata yang menghantam dada Lin Ye. Kartu putih itu terlepas dari genggamannya dan melayang jatuh ke lantai beton.
Ilusi bahwa Lin Fan hanyalah seekor anjing peliharaan yang kebetulan memiliki sedikit pasukan, hancur lebur tanpa sisa. Untuk bisa menghancurkan Long Ao beserta pasukannya, lalu mengirimkan paket ini melewati seluruh sistem keamanan bandara ibu kota dalam satu malam... itu berarti Lin Fan memiliki kendali penuh atas jaringan intelijen dan logistik Pasukan Bayangan di seluruh negeri.
Bahkan, Lin Ye kini menyadari kemungkinan terburuknya: Komando Militer Selatan yang dipimpin kakek Long Ao pasti sudah dilumpuhkan, karena tidak ada respons militer apa pun yang terdengar dari sana.
"Dia tidak bersembunyi..." gumam Lin Ye dengan napas tersengal, wajah aristokratnya kini berubah menjadi topeng ketakutan dan keputusasaan. "Dia tidak berlindung di balik Su Yuhan. Dia... dia sedang bersiap berperang melawanku, dan dia ingin aku tahu bahwa dia akan datang menjemput nyawaku!"
Lin Ye tiba-tiba berbalik, mencengkeram kerah jas Feng dengan panik. Ketenangan dan keanggunannya telah lenyap.
"Kumpulkan seluruh Pasukan Elit Pembunuh di ibu kota! Lipat gandakan penjagaan gedung ini! Panggil ketiga Tetua Pelindung Faksi kita dari masa pertapaan mereka sekarang juga!" teriak Lin Ye histeris, suaranya menggema memantul di dinding beton bungker.
"Tapi Tuan Muda," jawab Feng tergagap, "jika kita memanggil Ketiga Tetua, itu berarti kita mendeklarasikan Perang Saudara tingkat tinggi di dalam internal Keluarga Lin!"
"Lakukan saja, dasar bodoh!" raung Lin Ye, melempar Feng ke arah dinding. Ia menunjuk ke arah peti mati Long Ao yang masih menggelepar bisu. "Jika kita tidak membunuhnya sebelum dia menginjakkan kaki di ibu kota, kita semua akan berakhir persis seperti daging busuk ini!"