Malam kelam empat tahun lalu selalu datang menyapa benak Adrian setiap kali hening mulai menguasai sudut-sudut markas mewahnya. Sebagai seorang pemimpin jaringan bawah tanah yang disegani sekaligus ditakuti di kota ini, tak ada satu pun hal yang luput dari genggamannya—kecuali ingatan tentang malam itu. Sebuah penyesalan samar yang tak pernah terus terang ia akui, tetapi secara perlahan mengikis ketenangannya. Sampai detik ini, deretan anak buah terbaiknya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah belum juga berhasil menemukan keberadaan wanita yang pernah hadir sejenak di hidupnya. Pria itu bahkan hanya mengingat sepenggal nama yang dibisikkan dalam kepasrahan malam: Alea.
Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang dipenuhi kemewahan dan intrik kekuasaan, Alea menjalani hidup sederhana di sebuah pemukiman pinggiran. Di sana, ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam tanpa pernah mengeluh. Semua keringat dan rasa lelahnya menguap setiap kali melihat senyum manis putra kecilnya,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangisan Di Ujung Kasur
Gerimis tipis yang mengguyur pinggiran kota perlahan mereda ketika Alea melangkahkan kakinya menyusuri gang sempit menuju kediamannya. Kontrakan kecilnya tak jauh dari toko bunga tempatnya bekerja—hanya berjarak sepuluh menit berjalan kaki melewati deretan rumah warga yang sederhana. Keputusan mendaftarkan Azka ke Taman Kanak-Kanak sejak usianya menginjak tiga setengah tahun sebenarnya cukup menyita tabungannya. Namun, Alea tidak punya pilihan lain. Ia tidak ingin putra kecilnya itu kesepian atau terlantar di rumah sendirian saat ia harus membanting tulang seharian merangkai bunga bersama Zia.
Alea membuka pintu kayu kontrakan yang sedikit berdecit. Bau harum minyak telon dan kehangatan ruangan menyambut kedatangannya. Namun, tidak ada suara langkah kaki mungil yang biasanya berlari menyambutnya di ambang pintu setelah pulang dari TK. Sunyi memeluk ruangan berukuran empat kali empat meter tersebut.
Pandangan Alea langsung tertuju pada sudut ruangan. Ia melihat putranya meringkuk di ujung kasur dengan selimut tipis yang menutupi separuh tubuh kecilnya. Bahu bocah berusia 3,5 tahun itu berguncang pelan, dan saat Alea melangkah mendekat, terlihat jelas pipinya basah dengan air mata yang masih mengalir deras. Baju seragam TK yang masih melekat di tubuh mungilnya tampak kusut.
Hati Alea seketika mencelos. Rasa cemas luar biasa langsung menyergap dadanya. Ia meletakkan tasnya secara sembarangan di atas meja, lalu berlutut di tepi kasur. Dengan lembut, jemarinya yang dingin mengusap rambut halus Azka dan menyapu bulir-bulir air mata di pipi cabi putranya.
"Kenapa, sayang?" tanya Alea dengan nada suara bergetar menahan bisikan ketakutan. "Anak Pintar Ibu kenapa menangis? Ada yang nakal di sekolah tadi?"
Azka mendongak pelan, menatap Alea dengan mata bulatnya yang sembap dan memerah. Napasnya tersengal-sengal karena terlalu lama menahan isakan. Bocah kecil itu langsung memburu ke dalam pelukan Alea, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang ibu sembari meremas kuat-kuat kain baju Alea.
"Aku malu, Buuu..." adu Azka di selang isak tangisnya yang pecah kembali.
Alea mengelus punggung kecil itu dengan ritme konstan, mencoba memberikan ketenangan meski hatinya sendiri bergetar hebat. "Malu kenapa, Nak? Coba cerita sama Ibu."
"Tadi... tadi pas pulang sekolah di TK, teman-temanku sering dijemput Ayahnya," bisik Azka pelan, suaranya terdengar begitu patah dan penuh rasa sakit yang terlalu berat untuk bocah seusianya. "Bahkan teman-temanku mengatakan aku anak haram karena tidak punya Ayah... K-kata mereka, Azka nggak boleh main bareng karena Azka beda..."
Kalimat jujur dari bibir kecil itu bagaikan sembilu yang menghujam tepat di ulu hati Alea. Rasanya begitu sesak, sampai-sampai Alea harus menahan napasnya agar tidak ikut meluapkan tangisan di hadapan sang anak. Rasa bersalah yang selama empat tahun ini berusaha ia kubur rapat-rapat, mendadak mencuat kembali dengan rasa sakit yang berlipat ganda. Kenangan malam kelam di klab malam itu, pengusiran kejam oleh orang tuanya, hingga label aib yang melekat padanya—kini justru berimbas dan melukai jiwa kecil yang tidak berdosa ini.
Alea makin mempererat pelukannya, mengecup puncak kepala Azka berkali-kali. Air matanya sendiri akhirnya menetes, jatuh tanpa bersuara menembus rambut sang putra.
"Dengar Ibu ya, Sayang..." bisik Alea, menarik pelan bahu Azka agar mata jernih bocah itu menatap tepat ke dalam matanya. Alea memegang kedua pipi mungil Azka, menyapu sisa-sisa air mata yang masih menggenang. "Azka bukan anak haram. Azka adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan kasih buat Ibu. Azka punya Ibu yang sangat, sangat sayang sama Azka."
"Tapi... Ayah di mana, Bu? Kenapa Ayah nggak pernah jemput Azka di sekolah kaya ayah teman-teman?" tanya Azka polos, tatapannya menuntut sebuah jawaban yang selama ini selalu Alea hindari.
Alea terdiam kaku. Lidahnya terasa kelu untuk merangkai kebohongan baru, namun menyampaikan kebenaran tentang Adrian—seorang pria asing yang bahkan tidak pernah tahu keberadaan Azka—terasa jauh lebih mustahil. Alea hanya bisa mengulas senyum getir, mencoba menguatkan dirinya sendiri demi putranya.
"Ayah... Ayah sedang bekerja di tempat yang sangat jauh, Nak," ucap Alea lirih, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Tapi percayalah, Azka nggak kekurangan kasih sayang. Ibu ada di sini, dan Ibu bakal selalu ada buat Azka."
Azka menyandarkan kepalanya di dada Alea, mendengarkan detak jantung sang ibu yang berpacu kencang. Dalam keheningan malam yang mulai merambat di pinggiran kota, Alea mendekap erat putra tunggalnya. Di dalam hatinya yang hancur, sebuah tekad membara: ia akan melindungi Azka dari kekejaman dunia, tidak peduli seberapa keras ia harus berjuang sendirian.