Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran
Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.
Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 — Tiga Hari
Zhou Chen tidak membuang waktu. Begitu kembali ke kediamannya, ia mengumpulkan seluruh lingkaran dalamnya—termasuk Zhou Ming yang datang secara terbuka kali ini, mengabaikan kehati-hatian lama yang tidak lagi relevan setelah tuduhan terbuka di Aula Utama.
"Tiga hari bukan waktu untuk membuktikan diri tidak bersalah," kata Zhou Ming langsung. "Itu waktu untuk membuktikan siapa yang sebenarnya bersalah, sebelum dewan menteri memutuskan berdasarkan dokumen palsu Zhou Han."
"Jalur komunikasi ke 'Ibu Suri'," kata Zhou Chen. "Itu satu-satunya cara kita membalikkan keadaan dalam waktu sesingkat ini. Kalau kita bisa menemukan siapa dia, dan membuktikan Zhou Han hanya alatnya, seluruh tuduhan terhadapku runtuh dengan sendirinya."
Zhao Kai, lengannya kini hampir pulih sepenuhnya, mengangkat peta yang telah ia susun berdasarkan seluruh informasi terkumpul. "Kunjungan rahasia dua hari sebelum perjamuan itu—kalau kita bisa melacak siapa yang datang dan ke mana ia pergi setelahnya, kita punya jejak nyata."
Zhou Ming mengangguk. "Aku sudah mengerahkan seluruh orangku untuk melacak pergerakan siapa pun yang masuk-keluar kediaman Zhou Han dalam sepuluh hari terakhir. Hasil pertama akan masuk malam ini."
Sementara itu, Zhou Feng—yang mendengar kabar tuduhan terbuka itu dan segera datang dari wilayah utara meski proyek irigasinya belum sepenuhnya selesai—menawarkan sesuatu yang tidak diduga siapa pun.
"Rakyat di wilayahku menyaksikan sendiri bagaimana Kakak membantu memperbaiki sistem irigasi tanpa pamrih," katanya. "Kalau dewan menteri butuh bukti karakter, bukan hanya dokumen, aku bisa membawa saksi-saksi yang akan bicara jujur tentang apa yang sebenarnya Kakak lakukan selama ini."
Zhou Chen menatap adiknya itu dengan rasa terima kasih yang dalam. "Itu akan sangat membantu. Tapi hati-hati—Zhou Han sudah menunjukkan dia tidak segan menyerang siapa pun yang berdiri di pihakku."
"Aku tahu risikonya," jawab Zhou Feng tegas. "Dan aku tetap memilih untuk berdiri di sini."
Malam pertama dari tiga hari itu membawa hasil yang mengejutkan. Salah satu orang Zhou Ming berhasil mengikuti seorang kurir misterius yang keluar dari kediaman Zhou Han larut malam, menuju sebuah rumah tua tak berpenghuni di distrik pedagang lama—tempat yang menurut catatan kerajaan sudah kosong selama bertahun-tahun.
"Rumah itu bukan kosong," lapor mata-mata itu keesokan paginya. "Ada cahaya lilin di jendela belakang, dan kurir itu tidak keluar lagi sampai fajar."
Zhou Chen dan Zhou Ming saling berpandangan. Untuk pertama kalinya sejak nama "Ibu Suri" disebutkan, mereka punya lokasi nyata untuk diselidiki.
"Kita tidak bisa menyerbu langsung," kata Zhao Kai cepat, mengantisipasi dorongan yang mungkin muncul di benak Zhou Chen. "Kalau ini memang sarang sosok yang sudah bersembunyi puluhan tahun, pasti ada pertahanan yang jauh lebih rumit dari yang terlihat."
"Kita tidak punya waktu untuk berhati-hati penuh," balas Zhou Chen, matanya berkilat dengan tekad yang dingin. "Dua hari lagi, dewan menteri akan memutuskan nasibku berdasarkan dokumen palsu. Kalau kita tidak bergerak malam ini, kita mungkin tidak akan pernah punya kesempatan lagi."
Zhou Ming menghela napas panjang, akhirnya mengangguk. "Baiklah. Tapi kali ini, kita bergerak dengan rencana yang benar-benar matang—tidak ada lagi ruang untuk kesalahan seperti dua misi sebelumnya."
Malam itu, Zhou Chen menatap ke arah rumah tua yang tergambar di peta kasar di hadapannya, merasakan firasat bahwa jawaban dari seluruh misteri yang menyeretnya sejak kematian Zhou Li yang asli, akhirnya berada dalam jangkauan.