I AM The Miracle Itself
Di dunia Aethelgard, kekuatan adalah segalanya.
Sihir, iblis, pendekar, dan makhluk yang mampu melampaui hukum alam telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kekuatan tersebut, lahirlah seseorang yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bukan pahlawan.
Bukan dewa.
Bukan iblis.
Bahkan bukan bagian dari tatanan dunia.
Keberadaannya adalah sebuah anomali—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum realitas, takdir, maupun batas kekuatan.
Ketika dunia mulai menghadapi kekacauan yang bahkan mengancam fondasi keberadaannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul:
Jika segala sesuatu memiliki batas... lalu apa yang terjadi pada sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam perhitungan?
Dan ketika keajaiban tidak lagi cukup untuk menjelaskan keberadaannya, dunia akan menyadari satu hal—
Dia bukan orang yang memiliki keajaiban.
Dialah keajaiban itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Ruang itu tidak mengenal arah mata angin, batas horizon, ataupun detak waktu yang berembus. Hanya ada hamparan benang-benang cahaya emas yang saling bersilangan secara tak terbatas, membentuk jaring-jaring geometri raksasa yang tak lain adalah struktur logika mentah dari hukum fisika penopang tatanan Aethel-Prima. Di tempat inilah, fondasi dasar dari gravitasi, kerapatan materi, elemen elemental, hingga alur masa depan ditenun dan dipelihara.
Di tengah lautan cetak biru kosmik tersebut, melayang sesosok wujud yang amat megah. Tubuhnya yang tersusun dari pilar-pilar kristal elemen murni membumbung tinggi layaknya pegunungan tak bertepi. Kedelapan tangannya terbentang luas, memancarkan aura Ilahi yang begitu pekat hingga mampu menghancurkan jiwa ribuan ksatria mortal hanya dari getaran napasnya. Dialah Aethel-Genesis, Dewa Arsitek Ke-1 yang memahat dan menguasai seluruh keberadaan di dunia Aethel-Prima.
Namun, tepat di hadapan sang Pencipta yang begitu agung, melayang jiwa seorang pemuda.
Ren Vaelen berdiri dengan gestur yang sangat santai. Kedua tangannya terbenam nyaman di dalam saku celananya. Matanya menatap wujud kristal Aethel-Genesis tanpa ada sedikit pun gestur ketakutan, ketundukan, atau getaran dalam jiwanya—sikap yang sangat janggal dan hampir tidak masuk akal bagi jiwa mana pun yang berhadapan langsung dengan Sang Arsitek.
"Jiwa yang benar-benar tidak dapat dipahami..."
Suara Aethel-Genesis menggelegar dingin, menggerakkan benang-benang kausalitas di sekeliling mereka hingga memicu dentuman resonansi kosmik. Kedelapan mata kristalnya berpijar tajam, terus menerus mencoba menganalisis komposisi spiritual di hadapannya.
"Kematian wadah fana milikmu di Benteng Val-Rune telah melepaskan riak kesalahan logika yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah Aethel-Prima. Struktur hukum di wilayah itu mendadak tidak terdefinisi. Bagaimana mungkin jiwa sekelas mortal menyimpan ketidaksesuaian yang begitu masif hingga mampu mengancam stabilitas Mesin Logika milikku?"
Ren terkekeh pelan. Suara tawa ringannya terdengar begitu kontras dengan atmosfir suci Aether-Sanctum.
Di balik kelopak mata wadah mortal itu, kesadaran murni The Absolute Anomaly sedang tertawa dalam diam. Betapa mengocok perut melihat sesosok Dewa Arsitek yang dipuja-puja oleh seluruh benua kini mengerutkan dahinya, bersusah payah menganalisis sesuatu yang sebenarnya hanyalah efek samping dari "tombol jeda" permainan yang tidak sengaja tertekan. Bagi sang Anomali, kepanikan sang dewa ibarat melihat karakter NPC dalam sebuah permainan fiksi yang kebingungan saat menyadari layar permainan di sekitarnya mengalami glitch mendadak.
"Yah, pertempuran kemarin sedikit melenceng dari skenario yang kukira," sahut Ren santai, sambil memiringkan kepalanya sedikit. "Jadi, Dewa Arsitek... Kenapa kau sampai harus menarik jiwaku yang melayang ini ke tempat acak seperti ini? Mau menghukumku karena membuat 'tata ruang' duniamu sedikit berantakan?"
Aethel-Genesis menghentakkan salah satu tangan kristalnya. Gelombang cahaya emas berkilat, meredam getaran anomali yang sempat merayap di sekitar jiwa Ren.
"Menghukummu? Tidak." Pilar-pilar elemen di tubuh Aethel-Genesis berpendar kian terang, memancarkan kalkulasi matematis yang tak terhitung jumlahnya. "Duniamu membutuhkan variabel yang tidak terprediksi sepertimu untuk terus berevolusi. Jika sebuah dunia berjalan terlalu patuh pada algoritma, dunia itu hanya akan menuju kebusukan stagnan. Aku tidak akan membiarkan eksistensi unik yang diciptakan oleh ketidaksengajaan ini padam begitu saja."
Sang Dewa merentangkan kedelapan tangannya lebih lebar. Seketika, lautan benang emas yang melayang di sekeliling mereka berputar deras, mengalir bagaikan badai cahaya yang langsung menggulung jiwa Ren ke dalam sebuah kepompong Ilahi.
"Aku melimpahkan kepadamu Berkah Kebangkitan Kembali—Reconstitution of the Prime Element," seru Aethel-Genesis dengan nada penuh keagungan. "Tubuh fanamu akan dirangkai ulang menggunakan struktur elemen paling murni yang langsung diambil dari inti Mesin Logika. Wadah barumu tidak akan lagi terikat oleh batasan biologis biasa, dan kausalitas kematian tidak akan dengan mudah menyentuhmu kembali."
Ren memperhatikan jemarinya sendiri. Daging, pembuluh darah, dan sel-sel baru terbentuk kembali dalam pola yang sangat presisi, terbungkus oleh lapisan energi baru yang sangat lentur namun terasa begitu padat. Bagi penyihir terhebat atau ksatria kasta tertinggi di Aethel-Prima, anugerah ini adalah mukjizat tak ternilai yang sanggup memicu perang antar-kerajaan hanya demi merebutnya.
Namun bagi Ren, kebangkitan ini terasa persis seperti mendapatkan skin karakter baru yang dilengkapi pemulihan kondisi penuh secara cuma-cuma dari pengembang permainan.
"Boleh juga," gumam Ren sambil mengepalkan jemarinya yang baru memadat. Ia meretakkan pergelangan tangannya, merasakan aliran energi yang mengalir mulus di dalam pembuluh darah barunya. "Terima kasih atas 'hadiah' pemulihan gratisnya, Arsitek."
Aethel-Genesis mengangguk agung, merasa sangat puas karena telah berhasil mengamankan dan merekonstruksi salah satu karya eksperimental terhebat di dunianya dari ancaman keruntuhan.
"Bangkitlah kembali ke bumi, Ren Vaelen. Tunjukkan padaku bagaimana variabel tak terduga sepertimu akan mengukir takdir baru di atas benua Aethel-Prima."
SSSHHH...
Sensasi dingin angin malam langsung menyengat kulit pipinya. Udara segar yang membawa aroma tanah basah, puing-puing batu yang terbakar, dan embun malam merasuk masuk memenuhi paru-paru barunya.
Ren membuka mata. Cahaya rembulan yang keakrabannya terasa menenangkan merembes masuk melalui celah-celah reruntuhan batu Benteng Val-Rune—tempat di mana jasad utamanya sebelumnya hancur tak berbekas. Pemuda itu perlahan berdiri, menepuk-nepuk debu halus yang menempel di permukaan kemeja barunya, lalu memutar lehernya ke kiri dan ke kanan hingga terdengar bunyi gemertak yang begitu memuaskan.
Kekaisaran Aethelgard yang dulu berdiri megah di sekelilingnya kini telah berubah total menjadi kota hantu yang hening dan mati. Sisa-sisa penduduk dan ksatria yang selamat telah melarikan diri jauh ke wilayah pinggiran, meninggalkan benteng utama ini karena ketakutan yang mendalam akan zona glitch yang sempat tercipta.
"Nah, wadahnya sudah segar kembali," senyum santai Ren terkembang lebar saat ia melangkah melintasi reruntuhan batu. Matanya menatap jauh ke arah ufuk timur, di mana lanskap benua tengah Aethel-Prima terbentang luas di bawah cengkraman malam.
"Tidak perlu terburu-buru mengurus entitas-entitas di Aether-Sanctum atau memikirkan rahasia di luar sana. Dunia bawah ini masih sangat luas. Mari kita jalan-jalan dan melihat hiburan apa saja yang bisa ditawarkan oleh kerajaan-kerajaan lain."
Tujuan Ren berikutnya telah ditetapkan: Kerajaan Sol-Vane. Sebuah kerajaan militer raksasa yang dijuluki Kota Fajar Abadi dan Baja Kosmik. Kerajaan tersebut berdiri di atas wilayah strategis Benua Tengah, terkenal dengan benteng pertahanan lapis emasnya yang diklaim tak sanggup ditembus oleh sihir kasta apa pun, serta akademi sihir tingkat tinggi tempat para pakar pembengkok dimensi berkumpul.
Namun, perjalanan melintasi batas Aethelgard menuju gerbang luar Kerajaan Sol-Vane bukanlah perjalanan santai di atas jalan setapak yang rata. Jalur tercepat mengharuskannya menembus Dataran Tinggi Crimson-Void—sebuah wilayah liar tanpa hukum yang tercipta dari bekas reruntuhan perang kuno, di mana batas-batas dimensi terdistorsi dan monster-monster anomali berkeliaran bebas.
Memasuki hari kedua perjalanannya menembus Dataran Tinggi Crimson-Void, lanskap di sekeliling Ren berubah semakin ganas. Tanah yang dipijak tidak lagi berwarna cokelat, melainkan merah pekat layaknya resapan darah kering. Udara di sekitarnya begitu tebal oleh kabut racun void yang mampu mengikis ketahanan fisik manusia biasa hanya dalam hitungan menit.
CRACK!
Tanpa ada peringatan angin atau petunjuk sihir, langit malam di atas ngarai terbelah hebat. Retakan dimensi berwarna ungu pekat merobek atmosfer, menciptakan celah hampa sepanjang ratusan meter.
Dari dalam celah hampa tersebut, merayap keluar sesosok entitas purba raksasa yang mengerikan: Aethel-Abyss Leviathan.
Makhluk tersebut adalah monster bencana kasta Sovereign. Tubuhnya yang memiliki panjang lebih dari lima ratus meter dilapisi oleh sisik void padat yang secara konstan memancarkan gelombang anti-materi. Setiap kali sisiknya bergesekan, hukum sihir di sekitarnya musnah, dan materi fisik seperti tanah serta batu-batu gunung di bawahnya langsung terhapus menjadi ketiadaan tanpa meninggalkan bekas.
ROAAAR!
Rungan Leviathan itu mengguncang seluruh Dataran Tinggi Crimson-Void. Dari mulutnya yang dipenuhi deretan gigi dimensi, menyembur badai lahar void ungu pekat yang meluncur deras, menghantam deretan pegunungan batu di depan Ren hingga bukit-bukit tersebut menguap seketika dari peta realitas. Bagi pasukan Ksatria Kerajaan Sol-Vane, kemunculan satu ekor makhluk ini adalah sinyal kiamat wilayah yang membutuhkan setidaknya gabungan belasan Grand Sovereign untuk menahannya.
Ren berdiri di atas puncak tebing batu yang tersisa, angin kencang berembus mengibaskan ujung kemeja dan rambut hitamnya. Di mata kesadaran The Absolute Anomaly, monster bencana yang ditakuti seluruh benua ini sama sekali tidak terlihat menakutkan. Makhluk itu hanyalah mini-boss acak yang kebetulan melintas di tengah jalan dan berisiko merusak pemandangan perjalanannya.
"Lumayan juga untuk mengetes kelenturan dan fleksibilitas wadah baru ini," senyum santai Ren terkembang.
BOOM!
Ren menghentakkan kakinya. Kecepatan lompatannya begitu ekstrem hingga membelah udara secara mendadak, memicu ledakan gelombang kejutan sonik yang meremukkan seluruh puncak tebing batu di belakangnya hingga menjadi debu halus.
Di udara, sang Leviathan menyadarkan keberadaan Ren. Makhluk itu meraung murka, memutar tubuh raksasanya dan menembakkan ribuan duri void berkecepatan cahaya yang sanggup menembus pelindung sihir tingkat paling tinggi.
Ren melayang dan bergerak meliuk-liuk di antara hujan duri void tersebut dengan akrobatik yang luar biasa presisi, elegan, dan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun mantra. Ketika sebuah duri void raksasa sepanjang puluhan meter meluncur tepat menghantam bagian dadanya, Ren sama sekali tidak berniat untuk menghindar.
Ia hanya mengangkat tangan kanannya secara santai, lalu mengibaskan jemarinya di udara.
SLASH!
Dengan memanfaatkan sedikit celah dari aturan logika murni yang dimiliki oleh sang Anomali, kibasan tangan telanjang Ren memotong serangan hukum void tersebut. Duri raksasa yang sanggup menghancurkan satu kota itu terbelah dua dengan sangat rapi, terurai menjadi partikel udara biasa seolah-olah duri itu hanyalah selembar kertas basah yang disobek.
CRASH!
Sebelum sang Leviathan sempat bereaksi, Ren sudah mendarat dengan mulus tepat di atas dahi raksasa monster tersebut. Pijakan kakinya amat ringan, hampir tidak berbobot.
Monster bencana itu meraung gelisah, mengibaskan kepalanya dengan gila-gilaan berusaha menjatuhkan Ren dari tubuhnya. Namun, Ren tetap berdiri tegak dengan tenang. Ia perlahan merendahkan tubuhnya sedikit, memposisikan jari tengah dan ibu jarinya di atas permukaan sisik dahi sang Leviathan.
"Lain kali, kalau mau lewat, lihat-lihat jalan dulu," bisik Ren pelan.
Ia lalu menyentil dahi monster raksasa itu. Sentilan sederhana tanpa dorongan sihir elemental yang megah, namun disisipi oleh setitik Kepadatan Ontologis—bobot eksistensi murni dari sang Anomali.
BZZZZT—BANG!
Dampak dari sentilan satu jari itu begitu luar biasa mengerikan. Gelombang tekanan ontologis yang amat padat menjalar instan dari dahi sang Leviathan, merambat menembus tulang, organ, hingga ke ujung ekor sepanjang lima ratus meter tersebut.
Dalam kurun waktu kurang dari seperseratus detik, seluruh struktur fisik dan hukum void yang menopang tubuh monster kasta Sovereign itu runtuh total. Tubuh raksasa Aethel-Abyss Leviathan meledak hebat, terurai menjadi miliaran kilatan partikel cahaya ungu yang langsung lenyap disapu angin malam. Seluruh Dataran Tinggi Crimson-Void yang tadinya tegang oleh hawa kematian mendadak kembali hening seketika.
Ren mendarat dengan perlahan di atas tanah, menepuk-nepuk tangannya untuk membersihkan sisa pendaran energi ungu. "Terlalu lembek untuk ukuran monster bencana," gumamnya santai.
Perjalanan berlanjut hingga Ren mencapai Lembah Jurang Aether—sebuah celah ngarai sempit yang menjadi pintu masuk alami menuju wilayah kekuasaan terluar Kerajaan Sol-Vane.
Namun, tepat saat Ren melangkah masuk ke dalam himpitan tebing ngarai yang tinggi, atmosfer di sekitarnya mendadak berubah menjadi sangat berat. Fluktuasi bayangan di atas dinding batu bergetar hebat, dan dalam fraksi detik, tujuh sosok berzirah hitam kelam melompat keluar dari dalam lipatan ruang, mengurung posisi Ren dari delapan sudut mata angin.
Mereka adalah Satuan Pemburu Bayangan (Covenant of Shadow)—sebuah unit elit rahasia kasta Sovereign yang selamat dari keruntuhan Aethelgard. Dipimpin langsung oleh Grand Sovereign Vael-Kaelen, sang jenderal bayangan yang matanya kini memancarkan kilatan dendam dan ketakutan mendalam.
"Ren Vaelen... Kau benar-benar masih hidup!" gertak Vael-Kaelen dengan suara parau. Pedang panjang berujung ganda di tangannya bergetar hebat, memancarkan aura bayangan yang sangat pekat. "Kami tidak peduli sihir terlarang atau iblis jenis apa yang telah membangkitkan jasadmu kembali! Tapi keberadaan anomali sepertimu terlalu berbahaya untuk dibiarkan berkeliaran bebas di benua ini!"
Vael-Kaelen mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke udara, memberi komando mutlak kepada keenam komandan elit di sekelilingnya.
"Aktifkan Domain Kausalitas Terlarang: Sovereign Cage!"
CLANG! CLANG! CLANG!
Keenam komandan Shadow Guard menancapkan bilah senjata mereka secara bersamaan ke dalam tanah. Seketika itu juga, tanah dan udara di sekitar Ren terkunci rapat oleh jaring-jaring sihir berwarna merah darah. Hukum gravitasi di dalam zona tersebut melipat ganda hingga sepuluh ribu kali lipat, membumi-hanguskan seluruh materi organik di sekitarnya.
Tidak hanya itu, ribuan benang bayangan pemotong dimensi meluncur dari segala arah, mengunci setiap koordinat pergerakan Ren. Ini adalah formasi penjerat kasta tertinggi yang sengaja dirancang oleh Kerajaan Aethelgard zaman dahulu untuk mengepung dan membunuh entitas berkelas dewa lokal.
Badai tebasan pedang bayangan dan tekanan kausalitas menderu hebat, menghantam titik vital tubuh Ren dari setiap sudut yang mustahil untuk dihindari.
Di tengah badai sihir pembunuhan yang sanggup meratakan satu provinsi tersebut, Ren hanya berdiri tenang. Ia tidak mengangkat pelindung sihir, tidak juga menarik senjata dari pinggangnya. Pemuda itu hanya merenggangkan jemarinya, menikmati pemandangan dan kepanikan para musuhnya yang bertarung dengan segenap tenaga seolah-olah ini adalah pertempuran penentu takdir hidup dan mati mereka.
"Kombinasi formasi yang cukup rapi," puji Ren dengan nada bicara yang teramat santai di tengah raungan badai sihir. "Sayangnya, hukum pembatas ruang yang kalian susun punya terlalu banyak kesalahan ortografi."
Ren mengambil satu langkah kecil ke depan. Pijakan kakinya secara sangat presisi menginjak titik persimpangan paling rawan dari benang-benang sihir Sovereign Cage.
Langkah sederhana itu bekerja ibarat memasukkan simbol error ke dalam sebuah baris kode perintah yang sedang berjalan cepat. Seluruh Domain pembunuh yang dibangun dengan susah payah oleh ketujuh elit kasta Sovereign itu mendadak mengalami glitch hebat. Hukum kausalitas terikat yang seharusnya memotong tubuh Ren justru membalikkan arah serangannya sendiri secara mendadak tanpa alasan logika sihir yang masuk akal.
SLASH! SLASH! SLASH!
Darah segar memercak deras ke udara malam. Dalam hitungan detik yang amat singkat, keenam komandan pemburu bayangan elit itu tumbang bersamaan. Tubuh mereka roboh bersimbah darah, ditebas dan diremukkan oleh hukum sihir pembunuhan milik mereka sendiri yang membalik secara brutal.
Vael-Kaelen terbelalak horor. Tubuhnya bergetar hebat hingga pedangnya terlepas dan jatuh berdenting ke atas tanah. Ia berlutut lemas, menatap rekan-rekannya yang tergeletak tanpa nyawa di sekelilingnya.
"A-apa yang sebenarnya telah kau lakukan?! Hukum kausalitas kami... bagaimana bisa membalik tanpa ada benturan sihir?!" bisik Vael-Kaelen dengan suara gemetar hebat, matanya menatap Ren seolah sedang melihat iblis dari ketiadaan murni.
Ren melangkah perlahan mendekati sang jenderal bayangan yang sudah tak berdaya. Ia merendahkan pandangannya, menatap Vael-Kaelen dari atas dengan tatapan mata yang amat dingin, namun tetap menyiratkan kesantaian yang luar biasa.
"Kalian bertarung setengah mati karena mengira ini adalah pertarungan untuk mempertahankan hidup atau membalas dendam," bisik Ren pelan, tepat di samping telinga Vael-Kaelen. "Padahal bagi saya, kalian cuma sekumpulan serangga yang kebetulan berisik dan mengganggu perjalanan saya menikmati pemandangan."
Dengan satu sentilan ringan di dahi Vael-Kaelen, sisa aliran sihir bayangan di dalam inti tubuh sang jenderal lumpuh total. Ren tidak menghabisi nyawanya. Ia sengaja membiarkan pimpinan pemburu itu tetap bernapas di atas tanah yang dingin, agar cerita dan teror misterius mengenai "Kembalinya Ren Vaelen" menyebar cepat ke telinga para penguasa kerajaan lain.
Setelah melewati dua pertempuran epik yang meratakan lanskap perbatasan tanpa membuat pakaiannya kotor sedikit pun, Ren akhirnya melangkah keluar dari tebing ngarai Lembah Jurang Aether. Ia kini berdiri tegak di puncak bukit terakhir yang menghadap langsung ke arah dataran luas Benua Tengah.
Di hadapannya, terbentang pemandangan megah yang amat memanjakan mata.
Tembok benteng emas setinggi ratusan meter berdiri kokoh membentang sepanjang puluhan kilometer, melindungi Kerajaan Sol-Vane. Menara-menara sihir raksasa melayang anggun di atas langit kota, memancarkan kubah cahaya berkilauan yang menolak kegelapan malam. Di atas awan, kapal-kapal perang baja bertenagakan inti bintang tampak melintas dengan megah, membawa panji-panji kebesaran sang kerajaan militer.
Angin malam yang lembut berembus menyapu wajahnya. Ren merapikan posisi kerah kemejanya, lalu sebuah senyuman tipis dan santai terkembang di bibirnya saat ia menatap kemewahan kota fajar tersebut dari kejauhan.
"Kerajaan Sol-Vane..." gumam Ren pelan sambil melangkah turun dari bukit. "Mari kita lihat, hiburan dan permainan menarik seperti apa yang sudah disiapkan oleh tempat ini."