Sinopsis:
Ethan Vance—Panglima Tertinggi Pasukan Gabungan Bumi dan jenius biomekanika—tewas mengenaskan akibat sabotase reaktor fusi. Namun, bukannya masuk neraka, jiwanya justru terlempar ke dunia Murim dan lahir kembali sebagai Cheon Ryeon, bayi dari klan paling bawah di Kultus Iblis.
Keluarga Cheon yang dulunya berjaya kini hanya dianggap sampah dan terus ditindas oleh klan-klan utama lainnya. Tidak punya pil energi mahal atau kitab pusaka? Tidak masalah. Bagi seorang mantan jenderal, Dantian manusia tidak ada bedanya dengan reaktor mikro, dan jurus pedang tak lebih dari kalkulasi arah dan sudut jatuh!
Bersama sahabat-sahabat senasib yang tak kalah aneh—mulai dari anak buangan ahli racun yang matre, gadis perkasa bertulang tebal, sampai pembunuh jalanan yang sinis—Ryeon mulai membangun kekuatannya dari nol.
"Dunia ini bertarung pakai takdir dan mistis? Lucu sekali. Mari kuajarkan cara bertarung menggunakan logika dan sains!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Mikyail Ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Gemuruh Turnamen dan Tatapan Rahasia
Keberhasilan Ordo Roda Bintang menuntaskan misi Lembah Barat dalam waktu kurang dari tiga hari mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh penjuru Akademi Kultus Iblis. Nama Cheon Ryeon tidak lagi sekadar menjadi bisik-bisik teka-teki di Asrama Bawah, melainkan ancaman nyata bagi klan-klan elit yang selama bertahun-tahun nyaman memonopoli kekuasaan.
Di Puncak Bukit, suasana di kediaman utama Klan Ma dan Klan Baek memanas. Para tetua klan merangsek menuntut penjelasan dari para instruktur Akademi. Bagaimana bisa klan urutan ke-10 yang hampir punah itu melahirkan sosok yang sanggup meruntuhkan dominasi murid-murid elit mereka?
Namun, aturan Akademi tetaplah aturan. Keuntungan besar dari hasil penjualan material bijih besi dan Poin Kontribusi Misi Lembah Barat membuat Ordo Roda Bintang kini memiliki cadangan dana yang sangat melimpah.
"Bos! Lihat ini!" seru Tang Jin-Bao girang di dalam markas rahasia mereka. Dia menggebrak meja kayu dengan kantong-kantong kain tebal bersinar keemasan. "Poin Kontribusi kita cukup buat menyewa laboratorium pemurnian tingkat dua di fasilitas tengah selama tiga bulan penuh! Kita juga bisa beli bahan kimia langka dari pasar perbatasan!"
Gong Son-mi, yang sedang mengasah palu komposit barunya, tersenyum bangga. "Anak-anak di Asrama Bawah sekarang sudah dapat jatah Makanan Energi penuh setiap hari, Ryeon. Tidak ada lagi yang menderita gizi buruk atau kelaparan."
Ryeon, yang sedang mengamati peta perbatasan wilayah Kultus Iblis dan Aliansi Ortodoks, mengangguk pelan.
"Ini baru fondasi awal," kata Ryeon datar. "Ujian sebenarnya bukan misi pengawalan atau bentrokan skala kecil di barak. Dua minggu lagi, Turnamen Antar-Klan Akademi (Tian Mo Bi-Wu) bakal dibuka."
Mendengar nama turnamen itu, wajah Jin-Bao dan Son-mi mendadak berubah serius.
Turnamen Antar-Klan adalah ajang pertarungan terbuka paling bergengsi sekaligus paling berdarah di Akademi. Di sinilah peringkat 10 Keluarga Utama ditentukan ulang di hadapan para Tetua Tinggi dan Utusan Istana Utama Kultus Iblis. Klan yang menang bakal mendapat kucuran dana, tambang, dan hak istimewa melimpah. Sebaliknya, klan yang kalah bakal makin tersingkir ke dasar lembah.
"Klan Ma dan Klan Baek pasti bakal mengerahkan seluruh murid puncak Ranah Pembentukan mereka buat menjatuhkan kita di atas panggung," peringat Son-mi, matanya mengeras. "Apalagi Ma Cheon-Wo dan Baek Mu-Jin pasti ingin membalas dendam."
"Biarkan mereka mencoba," sahut Ryeon tenang. "Pertarungan di atas panggung panggung panggung justru panggung terbaik buat kita mengumumkan kebangkitan resmi Keluarga Cheon."
Beberapa hari menjelang pembukaan Turnamen, suasana di area luar Akademi mendadak makin ramai.
Kereta-kereta kuda mewah milik klan-klan besar dari seluruh penjuru Pegunungan Shiwan mulai berdatangan. Tak hanya itu, sebagai ajang besar yang menentukan peta kekuatan politik wilayah Barat Daya, beberapa perwakilan netral dan pedagang besar dari faksi luar juga diizinkan hadir di tribun penonton khusus.
Sore itu, Ryeon bersama Jin-Bao dan Son-mi berjalan melintasi Pasar Perbatasan Lembah Tengah untuk membeli persediaan minyak pelumas zirah dan beberapa herba penetral racun.
Suasana pasar sangat padat. Derap langkah kaki, tawar-menawar pedagang, dan benturan senjata terdengar dari berbagai arah.
Di dekat sebuah kedai teh bertingkat yang menghadap langsung ke arah arena utama turnamen, pandangan analitis Ryeon mendadak tertangkap oleh sebuah kejanggalan di antara kerumunan penonton.
Seorang pemuda—atau lebih tepatnya seorang gadis yang menyamar mengenakan pakaian pemuda klan pedagang kaya—sedang berdiri di balkon lantai dua kedai teh. Gadis itu mengenakan jubah sutra perak yang sangat halus, tangannya memegang sebuah kipas lipat berkain ketat.
Bukan orang Kultus Iblis, batin Ryeon menilai dalam hitungan mikrodetik.
Anak-anak Kultus Iblis memiliki aura Ki yang cenderung tebal, liar, dan berbau darah atau unsur elemen keras. Tapi sosok di balkon lantai dua itu memancarkan aura Ki yang sangat bersih, tenang, dan berstruktur teratur—sangat khas sirkulasi internal milik Sekte Ortodoks.
Bukan cuma itu. Cara gadis itu mengamati pergerakan murid-murid Akademi di bawah sama sekali tidak seperti penonton biasa. Matanya tajam, dingin, dan jarinya di balik kipas sutra mengetuk-ngetuk kayu dengan irama matematis yang sangat teratur.
Dia sedang menghitung jumlah pengawal, sudut pandang arena, dan formasi patroli penjaga Akademi, analisis otak jenderal Ryeon bekerja kilat. Gadis itu seorang strategist.
Di atas balkon lantai dua, gadis yang tak lain adalah Jaegal So-yeon—Putri Utama Keluarga Jaegal dari Aliansi Ortodoks yang menyamar masuk ke wilayah Kultus—juga mendadak menghentikan ketukan jarinya di atas kipas.
Mata tajam So-yeon beradu pandang secara langsung dengan mata hitam jernih milik Cheon Ryeon di tengah kerumunan pasar.
So-yeon terbelalak pelan di balik kipasnya.
Sebagai jenius taktik yang dijuluki Bintang Catur Perak, So-yeon terbiasa membaca aura dan ekspresi orang lain. Tapi saat menatap anak berusia sepuluh tahun berpakaian jubah hitam polos itu, So-yeon tidak melihat emosi atau kesombongan anak-anak Kultus pada umumnya.
Anak di bawah sana menatapnya bukan dengan rasa takut atau bernafsu... melainkan dengan tatapan datar seorang jenderal perang yang dalam sekali lirik sudah berhasil membongkar penyamarannya!
Siapa bocah itu? batin So-yeon heran, dadanya berdebar halus. Irama napasnya sangat stabil, tumpuan badannya tidak memiliki celah sedikit pun. Dia bukan murid biasa.
Sebelum So-yeon sempat mengamati lebih jauh, Jin-Bao menepuk bahu Ryeon dari samping.
"Bos! Toko obatnya sudah buka! Ayo masuk sebelum kehabisan stok bubuk belerang murni!" seru Jin-Bao heboh.
Ryeon memutuskan kontak matanya dengan So-yeon, lalu berbalik melangkah masuk ke dalam toko obat tanpa ekspresi, meninggalkan So-yeon di atas balkon yang masih terpaku menatap punggung hitam Ryeon dengan rasa penasaran yang amat sangat.
So-yeon menutup kipas lipatnya dengan bunyi TAK yang jernih.
"Menarik..." bisik So-yeon pelan dengan senyum tipis di bibirnya. "Rupanya kunjungan rahasia ke Kultus Iblis kali ini tidak bakal sebosan yang kubayangkan."
Dua hari kemudian. Arena Agung Pegunungan Shiwan.
Suara dentuman puluh guruh dan sorak-sorai puluhan ribu penonton mengguncang seluruh lembah!
Hari pembukaan Turnamen Antar-Klan Akademi resmi dimulai. Panggung pertarungan batu raksasa seluas lapangan sepak bola berdiri megah di tengah arena, dikelilingi oleh tribun bertingkat yang dipenuhi bendera-bendera kebesaran dari 10 Keluarga Utama.
Di tribun kehormatan paling atas, para Tetua Tinggi Kultus Iblis duduk anggun di atas kursi ukiran naga hitam. Di antara mereka, Instruktur Dokgo dan Tetua Utama Akademi mengawasi dengan tatapan tajam.
"Perhatian seluruh peserta!" suara Instruktur Dokgo bergema menggelegar menembus riuh penonton. "Turnamen kali ini akan dibuka dengan Babak Eleminasi Panggung Terbuka! Sepuluh klan akan menurunkan tim perwakilan mereka secara bersamaan di atas arena!"
Di bawah panggung, sepuluh tim perwakilan klan berbaris.
Murid-murid elit dari Klan Ma, Klan Baek, dan Klan Lu mengenakan zirah mewah dan membawa senjata berkilauan. Mereka memandangi tim perwakilan Klan Cheon dengan tatapan penuh dendam dan niat membunuh yang pekat.
Cheon Ryeon berdiri paling depan di tim Klan Cheon, didampingi oleh Gong Son-mi dan Tang Jin-Bao. Di dada jubah hitam mereka, lambang Roda Bintang bersinar tegas disiram cahaya matahari pagi.
Di tribun penonton khusus faksi luar, Jaegal So-yeon yang menyamar duduk dengan anggun, matanya tak lepas menatap sosok Ryeon di tengah arena.
"Mari kita lihat," bisik Ryeon dingin saat gong tanda dimulainya pertempuran bergema nyaring di udara. "Sejauh mana klan-klan elit ini bisa bertahan di bawah pijakan Roda Bintang."
DANGGG!
Suara gong raksasa membakar semangat pertempuran. Babak pertumpahan darah paling megah dalam sejarah Akademi Kultus Iblis... resmi dimulai!