"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"
Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.
"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?
Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...
Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Otak yang Korslet
Korsleting tunggal sebelah Satria, memajukan wajahnya sembari menyipitkan mata penuh selidik. "Kalau enggak cemburu, kenapa Kakak sensi banget lihat Rendra? Terus kenapa waktu di telepon dua hari lalu Kakak nanya-nanya soal Rendra? Pak Mayor yang terhormat, kalau cemburu itu bilang aja, enggak usah pakai kedok menegakkan aturan rumah!"
Satria meletakkan cangkirnya dengan bunyi ketukan yang cukup keras di atas meja. Ia menoleh, menatar langsung ke dalam manik mata Keisha dengan jarak yang cukup dekat. Tatapan mata hitam pekatnya begitu intens, mengunci seluruh pertahanan Keisha dalam hitungan detik.
"Kalau iya, bagaimana?" tanya Satria serius. Suaranya yang berat merayap pelan di antara keheningan ruangan.
Deg.
Jantung Keisha mendadak memberikan hantaman keras di dinding dadanya. Wajahnya yang semula penuh dengan ekspresi mengejek langsung membeku seketika. Rona merah samar mulai merayap naik ke kedua belah pipinya. Ia benar-benar tidak menduga pria kaku ini akan membalas pertanyaannya dengan kalimat seberani itu.
"K-Kak ... Kakak beneran konslet ya?" cicit Keisha gagap, kehilangan mode barbarnya dalam sekejap.
"Kakak tidak sedang bercanda, Keisha," ucap Satria lagi. Ia memajukan sedikit tubuhnya, membuat Keisha refleks bersandar erat pada sofa. "Dua hari lalu di telepon, Kakak bilang ada perempuan yang ingin Kakak ajak nikah langsung karena Kakak harus segera tugas ke pedalaman. Kamu ingat?"
Keisha menelan ludah dengan susah payah, matanya berkedip gelisah menghindari kontak mata langsung. "I-ya ... ingat. Terus kenapa? Kakak udah datangi perempuannya?"
Satria menatap lekat-lekat wajah gugup adik iparnya yang kini tampak begitu menggemaskan dengan pipi merona. Sudut bibir kaku sang Mayor terangkat seulas—sangat tipis, hampir tak terlihat, namun memancarkan kehangatan tersembunyi yang mendalam.
"Sudah. Kakak sedang menatapnya sekarang," jawab Satria teramat pelan namun terdengar begitu mutlak di telinga Keisha.
Dunia Keisha rasanya seperti runtuh dan berputar balik seketika. Otaknya mendadak blank total. Sebelum ia sempat mengeluarkan rentetan kalimat absurd atau jeritan paniknya, suara langkah kaki kecil yang riang terdengar berlari dari arah koridor belakang.
"Papaaa! Rafka sudah mandi! Sudah wangi bedak!" seru bocah lima tahun itu sembari berlari kencang dan langsung melompat ke pelukan Satria.
Ketegangan emosional yang sempat membeku di antara kedua orang dewasa itu langsung pecah berantakan. Satria dengan sigap menangkap tubuh anaknya, mengusap rambut cepak Rafka dengan gerakan lembut yang kaku, sementara matanya sempat melirik sekali lagi ke arah Keisha yang kini sudah berdiri dari sofa dengan gerakan kikuk setengah mati.
"E-eh ... Rafka udah mandi ya? Bagus, bagus! Tante Kei mau ke kamar dulu ya, mau mandi juga! Udah bau matahari!" cerocos Keisha dengan suara yang melengking panik, lalu tanpa menunggu jawaban, ia langsung mengambil langkah seribu melesat naik ke lantai atas dengan jantung yang berdegup ugal-ugalan.
Satria hanya menatap punggung adik iparnya yang kabur terburu-buru itu dengan saksama. Di dalam pelukannya, Rafka mendongak menatap wajah papanya yang kembali datar.
"Papa, Tante Kei kenapa kok larinya kayak dikejar monster rawa?" tanya Rafka polos.
Satria mengusap pipi anaknya yang tebal oleh bedak, lalu memberikan seulas senyuman tipis yang sangat langka. "Tante Kei hanya sedang belajar memahami kode komando, Rafka."
Sementara di dalam kamar atas, Keisha sudah membanting tubuhnya ke atas kasur, menutup seluruh wajahnya menggunakan bantal sembari menjerit tertahan sekuat tenaga.
***
Malam harinya, suasana di meja makan kediaman keluarga Farrel terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya. Hanya ada bunyi denting sendok yang beradu dengan piring porselen. Ibu Dania sibuk menyendokkan sayur lodeh untuk suaminya, sementara Rafka asyik mengunyah tempe goreng dengan lahap.
Di sudut meja, Keisha duduk dengan posisi sekaku patung lilin. Ia menunduk dalam-dalam, pura-pura sangat fokus memisahkan duri dari ikan bandeng di piringnya. Sejak pernyataan bom atom dari Satria sore tadi di ruang tengah, fungsi otak Keisha rasanya belum pulih seratus persen.
Tepat di hadapannya, Satria duduk dengan posisi tegap sempurna. Pria 33 tahun itu menyuap nasinya dengan sangat tenang, rapi, dan tanpa ekspresi, seolah-olah ia tidak baru saja membuat dunia adik iparnya jungkir balik beberapa jam yang lalu.
"Kei, kamu kok cuma diaduk-aduk aja itu ikannya? Biasanya paling heboh kalau ada bandeng presto," tegur Ibu Dania, memecah keheningan meja makan.
Keisha tersentak, hampir saja menjatuhkan garpunya. "Eh? Enggak kok, Bu. Ini ... lagi menikmati tekstur durinya aja. Biar estetik."
Ayah Farrel menggeleng-gelengkan kepala melihat jawaban absurd anak bungsunya. "Ada-ada saja kamu ini. Makan yang benar."
Satria meletakkan sendok dan garpunya dengan pelan di atas piring yang sudah bersih. Ia meminum air putihnya seteguk, lalu menatap Ibu Dania dengan takzim. "Ibu, beberapa hari nanti saya ada waktu luang sebelum persiapan dinas ke luar Jawa. Kalau Ibu dan Ayah tidak keberatan, saya ingin mengajak Keisha keluar sebentar untuk menemani saya mencari beberapa perlengkapan dinas."
Uhuk!
Keisha langsung tersedak nasi. Ia buru-buru menyambar gelas es teh manisnya dan meminumnya sampai tandas dengan wajah memerah akibat terkejut. "Hah? Keluar ke mana, Kak? Aku lusa sibuk banget! Ada bimbingan, terus mau ke perpus, terus banyak tugas kelompok juga!"
"Bimbingan kamu lusa kan jam sepuluh pagi sudah selesai, Keisha. Kakak sudah tidak sengaja melihat catatan jadwal kuliahmu yang tergeletak di meja ruang tengah tadi," sahut Satria datar, tanpa riak emosi sedikit pun di wajah kakunya.
Keisha melotot, menatar kakak iparnya dengan pandangan tidak percaya. "Pura-pura tidak sengaja lihat katanya? Dasar Mayor modus!" batin Keisha geregetan.
Ayah Farrel yang tidak menangkap ketegangan tak kasat mata itu hanya terkekeh sembari mengangguk. "Ya sudah, Satria, bawa saja Keisha keluar lusa. Biar ia tidak stres di kamar terus memikirkan skripsi dan tugas kuliah."
"Baik, Ayah. Terima kasih," jawab Satria formal.
Keisha hanya bisa menggigit bibir bawahnya gemas. Sifat tenang namun mutlak dari Satria benar-benar membuatnya mati kutu, bahkan di depan orang tuanya sendiri.
***
Setelah makan malam selesai dan piring-piring telah dirapikan, Ibu Dania membawa Rafka ke kamar bawah untuk bersiap tidur. Ayah Farrel pun sudah melangkah ke halaman belakang untuk memeriksa pintu pagar. Kini, tinggal Keisha dan Satria yang tersisa di area dapur. Keisha sedang berdiri di depan dispenser, berniat mengisi botol minumnya untuk dibawa ke kamar atas.
Satria berjalan mendekat, melangkah dengan tegap hingga berhenti tepat dua langkah di samping Keisha. Kehadiran pria bertubuh besar itu seketika membuat Keisha merasa ruang dapur yang luas ini mendadak menyempit.
"Kak," panggil Keisha akhirnya, tidak tahan dengan suasana yang terasa pekat dan membingungkan ini.
"Apa?" sahut Satria, menatar Keisha dengan pandangan lurus yang teduh namun kaku.
Bersambung...