NovelToon NovelToon
Ogah Jadi Madu, Pilih Jadi Mantu

Ogah Jadi Madu, Pilih Jadi Mantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: gadis bucin

Ogah jadi istri kedua aki-aki tapi tak mau rugi, Elara (22) memutar otak saat hendak dijadikan istri muda oleh Pak Broto (65). Di tengah acara lamaran yang tegang, dengan nekat dia menunjuk pria berjas hitam di seberang meja.

"Maaf Pak, saya nolak jadi istri kedua Bapak. Tapi kalau nikah sama anak Bapak yang itu... saya mau."

​Arka (30), CEO sekaligus anak tunggal Pak Broto, mendadak tersedak dan langsung mengiyakan tawaran gila itu, demi menyelamatkan perasaan ibunya. Namun, niat Arka menyelamatkan rumah tangga orang tuanya justru menjadi awal dari bencana di rumah mewahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mendadak Jadi Suami Istri Romantis

Ponsel di atas meja makan kini sudah hening, tetapi gaung suara Pak Broto masih tertinggal di udara dapur. Keheningan yang menyergap dan terasa begitu mencekam.

"Sepuluh menit," desis Arka tiba-tiba, memecah kepanikan. Matanya melirik jam tangan mewahnya lalu mendongak menatap Elara yang masih memegang sendok nasi uduk di udara. "Jarak rumah Papa ke sini kalau tidak macet cuma sepuluh menit. Kamu lihat kondisi rumah dan dapur ini sekarang!"

Elara mengerjap-ngerjap. "Ya, ya kenapa, Mas? Dapur cuma agak berantakan dikit, aroma terasi wangi gini, kok."

"Papa saya itu detektif amatir kalau soal nyari kesalahan orang!" Arka berdiri cepat dari kursinya hingga kakinya menggeser lantai granit dengan bunyi nyaring. "Kalau Papa lihat kita tidur pisah kamar, dapur kayak kapal pecah, dan kamu masih piyamaan bau minyak begini, dia bakal tahu ini pernikahan kontrak. Dan tahu apa konsekuensinya? Dia bakal maksa batalin perjanjian kita dan ngejar kamu lagi!"

Kata "ngejar kamu lagi" sukses memicu alarm bahaya di kepala Elara. Bayangan dipajang jadi istri kedua Pak Broto langsung membuat bulu kuduknya berdiri.

"Oke, oke! Jangan panik, Mas CEO!" pangkas Elara, lantas menyambar piring-piring ikan asin dan menumpuknya asal-asalan. "Kita bagi tugas! Mas Arka beresin baju-baju Mas di kamar atas biar kelihatan ada barang Ara yang nyampur, Ara beresin dapur ini."

"Tidak!" potong Arka tegas sambil menahan pergelangan tangan Elara. "Kamu mandi dan ganti baju sekarang. Pakai baju yang kelihatan kayak istri yang manis, bukan daster merah atau piyama gambar kartun. Soal dapur, biar saya yang amankan."

"Lho, Mas Arka bisa bersihin wajan?" tanya Elara heran.

"Saya punya vacuum cleaner industri dan semprotan pembersih serbaguna di gudang. Cepat naik!" perintah Arka dengan nada komando yang tak terbantahkan.

Tanpa membuang waktu, Elara melesat menaiki tangga lantai dua seperti atlet lari gawang. Sementara itu, Sang CEO Valora Group melonggarkan dasi, menggulung lengan kemeja biru tuanya hingga siku, lalu menyambar semprotan disinfektan dan kain mikrofiber. Demi mengamankan rahasia pernikahan ini, Arka rela berubah profesi menjadi petugas kebersihan kilat.

Tujuh menit berlalu dalam kekacauan yang tak kasat mata.

Suara deru mesin mobil mewah terdengar berhenti tepat di depan pagar rumah Arka. Tak lama kemudian, bel pintu depan berbunyi nyaring dua kali.

Arka menarik napas panjang, menepuk-nepuk kemejanya yang sudah kembali rapi, lalu melangkah ke pintu depan dengan ketenangan penuh manipulasi. Begitu pintu dibuka, sosok Pak Broto berdiri dengan wajah penuh kecurigaan, berdampingan dengan Ibu Arka yang tersenyum lembut memegang rantang makanan.

"Papa, Ibu," sapa Arka, menyalami ibunya dengan hormat. "Ada apa pagi-pagi begini ke sini?"

"Kamu tanya ada apa?" dengus Pak Broto menatap tajam ke dalam rumah.

Pria paruh baya itu melangkah masuk tanpa dipersilakan. Matanya mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruang tamu bak petugas bea cukai. "Papa mau mastiin kamu nggak main-main! Papa tahu betul kamu itu kaku dan gak pernah tertarik sama wanita. Tiba-tiba nikahin anak teman Papa dalam hitungan hari. Jujur sama Papa, kalian cuma akting, kan?"

"Papa ini apa-apaan, sih?" tegur Ibu Arka sambil mengelus lengan suaminya. "Mereka, kan, sudah sah kemarin. Niat kita ke sini kan mau kasih syukuran kecil-kecilan dan nengok menantu kita."

"Gak bisa, Bu! Papa butuh bukti!" Pak Broto mulai melangkah menuju area dapur.

Namun sebelum Pak Broto sempat melangkah lebih jauh, suara nyaring dan ceria terdengar dari arah tangga lantai dua.

"Eh, Papa! Ibu! Sudah sampai?"

Semua mata tertuju ke atas. Elara turun dengan anggun, atau setidaknya berusaha tampil anggun, mengenakan dress terusan warna krem yang simpel dan rambut terurai rapi. Bau minyak terasi yang tadi melekat sudah menguap, berganti dengan aroma sabun mandi rasa vanila yang manis.

"Selamat pagi, Ibu, Papa," sapa Elara manis, seraya mendekati Ibu Arka dan mencium tangannya sopan.

Pak Broto menyipitkan mata, menatap Elara dari atas ke bawah. "Kamu, kok, baru turun? Dari mana?"

"Habis beberes kamar tidur kami di atas, Pa," jawab Elara tanpa berkedip, memamerkan senyum tanpa dosa. "Mas Arka tidurnya acak-acakan, jadi Ara rapiin dulu kasurnya."

Arka yang berdiri di samping Pak Broto hampir saja tersedak air liurnya sendiri mendengar kebohongan polos Elara. "Tidur acak-acakan? Kasur saya bahkan tidak pernah berkerut sedikit pun," batin Arka menahan gatal di lidah.

"Oh ya?" Pak Broto masih tidak percaya. "Terus bau apa ini? Kok kayak ada bau gurih-gurih pedas di ruang tengah?"

"Oh, itu," Elara melirik Arka sekilas, menyenggol lengan Arka dengan sikunya. "Ara baru aja masakin sarapan buat Mas Arka, Pa! Nasi uduk lengkap sama ikan asin balado dan sambal terasi."

Pak Broto melotot, beralih menatap anak laki-lakinya. "Nasi uduk? Sambal terasi? Arka! Kamu kan alergi makanan berminyak pagi-pagi. Kamu mana pernah mau makan sambal terasi!"

Situasi mendadak tegang. Elara sempat menahan napas, menyadari kalau dia mungkin baru saja membocorkan ketidakcocokan mereka.

Namun, Arka justru melangkah maju. Dengan gerakan yang sangat alami, tetapi sukses membuat jantung Elara melompat keluar. Dia merangkul pinggang Elara dengan erat, menarik tubuh gadis itu makin rapat ke sisinya.

"Dulu memang tidak pernah, Pa," ujar Arka dengan suara berat, seraya menatap ayahnya tanpa ragu. "Tapi sekarang beda. Apa pun yang dimasak sama istri, pasti saya makan sampai habis. Selera saya sudah berubah sejak ada Elara."

Elara membeku. Sentuhan tangan hangat Arka di pinggangnya dan aroma parfum woody mahal milik sang CEO yang mendadak menguar begitu dekat membuat otaknya korslet seketika. "Ini Mas CEO aktingnya kelewat mendalami peran apa gimana," batinnya.

Ibu Arka yang melihat pemandangan itu langsung tersenyum lebar hingga matanya menyipit bahagia. "Tuh, kan, Pa! Ibu bilang juga apa. Arka itu sudah dewasa, dia tahu cara meratukan istrinya. Masakan Elara pasti enak banget sampai Arka mau makan sambal."

Pak Broto masih terlihat tidak puas. "Coba Papa mau lihat kamarnya. Papa mau cek apa beneran barang-barang kalian menyatu di satu kamar!"

Tanpa rasa takut, Elara menepuk dada Arka pelan lalu tersenyum manis pada mertuanya. "Boleh banget, Pa! Mari, Ara antar ke lantai atas. Tapi maaf ya kalau agak berantakan, soalnya tadi Mas Arka meluknya kencang banget pas baru bangun, jadi Ara agak terlambat beberesnya."

Kali ini Pak Broto sendiri yang tersedak air liurnya. Wajah pria tua itu memerah menahan canggung. Ibu Arka memukul pelan lengan suaminya. "Papa ini gila, ya! Mau ngintip urusan pengantin baru? Sudah, jangan bikin malu!"

Arka menunduk sedikit, berbisik tepat di samping telinga Elara yang kini memerah. "Kalimat kamu barusan terlalu jauh, Elara," desisnya sangat pelan hingga hanya Elara yang bisa mendengar.

"Biar makin meyakinkan, Mas CEO," balas Elara, sambil memamerkan cengiran jahil.

Ibu Arka mengibaskan tangannya, menghampiri Elara dan melepaskan rangkulan Arka untuk mengajak Elara duduk di sofa. "Sudah-sudah. Papa kamu ini cuma gengsi aja. Nah, Elara, Ibu bawain kue-kue tradisional buat kalian. Beneran, ya, kalian harus akur-akur. Ibu senang banget lihat Arka ada yang ngurusin sekarang."

"Pasti, Bu. Ara bakal urus Mas Arka sampai kaku-kakunya hilang," sahut Elara percaya diri.

Pak Broto yang akhirnya merasa kalah gertak, hanya bisa menghela napas kasar dan duduk di kursi arm-chair dengan wajah kesal. Inspeksi mendadak pagi itu berhasil digagalkan secara total oleh kerja sama gila antara kebohongan spontan Elara dan akting manipulatif Arka.

Namun, saat Arka menatap Elara yang sedang tertawa bersama ibunya di sofa, pria itu sadar akan satu hal. Lengannya yang tadi melingkar di pinggang Elara, terasa pas. Dan, itu adalah bahaya terbesar untuk perjanjian pra-nikah mereka.

1
Adinda
🤣🤣🤣🤣🤣
gadis bucin: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Rian Moontero
lanjooott👍😍
gadis bucin: pantengin terus updatenya, ya, kak. 🤗❤️
total 1 replies
Putry Chan
untung dia masih waras ya walaupun kaya raya tapi dia udh tua punya bini lagi , ogah lah 🤣
gadis bucin: iyaa bener 🤣🤣🤣
total 1 replies
Putry Chan
buset pria kaya tua bangka pengen nikah
gadis bucin: nikah lagi tepatnya, kak 🤭
total 1 replies
gadis bucin
Kalau suka jangan lupa like dan komen, ya. Terima kasih untuk dukungannya. 🤗❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!