NovelToon NovelToon
Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:309k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7 - Pria di Apartemen Nadira

Fadli datang ke apartemen Nadira dengan dua kantong belanja dan wajah kusut.

"Kak, kamu ini manusia atau robot? Maya bilang kamu cuma makan roti sejak kemarin."

Nadira baru keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih basah, piyama longgarnya membuat wajahnya terlihat lebih muda dari biasanya.

"Maya terlalu banyak bicara."

"Dia sahabat Kakak. Tugasnya memang begitu." Fadli mengangkat kantong. "Aku beli nasi uduk, bubur ayam, buah, sama vitamin."

Nadira duduk di sofa. "Aku bukan pasien."

"Justru dokter biasanya pasien paling keras kepala."

Fadli membuka makanan di meja kecil. Apartemen itu milik Papa Surya, tapi Nadira belum sempat menata apa pun. Dua koper masih terbuka di sudut. Buku medis bertumpuk di dekat jendela. Rantang soto dari Mama Renata sudah kosong, dicuci bersih, diletakkan di rak.

Fadli melihat sekeliling dan mendesah.

"Kakak benar-benar pergi dari rumah Wijaya."

"Iya."

"Om Surya dan Tante Renata gimana?"

"Mereka sedih."

"Terus Kakak?"

Nadira mengambil sendok. "Lapar."

Fadli menatapnya tidak percaya.

"Kak."

"Apa?"

"Jangan jawab seperti itu."

Nadira diam.

Fadli duduk di lantai, persis seperti kebiasaannya sejak kecil. Ia bukan adik kandung Nadira. Mereka sama-sama diadopsi keluarga Prameswari dari panti berbeda. Nadira lebih dulu datang, lalu Fadli beberapa tahun setelahnya. Karena itu Fadli selalu merasa Nadira bukan hanya kakak, tapi juga setengah ibu.

"Aku tahu Kakak sakit hati," katanya pelan.

Nadira menatap bubur di mangkuk.

"Aku baik-baik saja."

"Kakak selalu bilang begitu."

"Karena memang harus begitu."

"Tidak harus di depanku."

Kalimat itu membuat tangan Nadira berhenti.

Fadli melanjutkan, "Waktu aku kecil dan takut dikembalikan ke panti, Kakak yang bilang rumah itu rumahku. Waktu aku gagal ujian, Kakak yang dimarahi Mama karena belain aku. Waktu Siska dan keluarganya mulai banyak tuntutan, Kakak lagi yang maju. Sekarang giliran aku dengar Kakak bilang sakit."

Nadira menunduk lebih dalam.

"Aku malu, Fad."

"Malu kenapa?"

"Empat tahun aku bertahan. Semua orang bilang aku bodoh. Aku marah pada mereka, tapi ternyata mungkin mereka benar."

Fadli langsung menggeleng. "Mereka tidak benar. Setia itu bukan bodoh. Yang bodoh laki-laki yang tidak tahu cara menghargainya."

Nadira tertawa kecil.

"Kamu makin pintar ngomong."

"Aku belajar dari Maya."

"Pantas kasar."

Fadli ikut tertawa, tapi matanya tetap sedih.

Bel pintu berbunyi.

Nadira mengerutkan kening. "Maya?"

"Dia bilang baru datang malam."

Fadli berdiri dan melihat layar interkom. Wajahnya langsung berubah.

"Kak."

"Siapa?"

"Mayor Arga."

Ruangan hening.

Nadira meletakkan mangkuk.

"Jangan buka."

Fadli menatap layar lagi. Arga berdiri di depan pintu apartemen dengan jaket hitam, wajah pucat, dan tubuh yang jelas belum pulih. Bima berdiri di belakangnya seperti orang yang kalah debat.

"Kak, dia kelihatan mau pingsan."

"Biarkan Bima yang urus."

"Kakak dokter."

Nadira memejamkan mata. "Itu kalimat curang."

Bel berbunyi lagi.

Nadira berdiri, berjalan ke pintu, lalu membukanya sedikit.

Arga menatapnya.

Untuk beberapa detik tidak ada yang bicara.

Nadira melihat wajah pucatnya, napas yang ditahan, dan tangan kiri yang menekan sisi dada.

"Anda kabur dari rumah sakit?"

Bima langsung mengangkat tangan. "Saya sudah melarang."

Arga berkata, "Aku sudah izin pulang sementara."

Bima batuk kecil.

Nadira menatap Bima.

Bima menyerah. "Izin dokter belum keluar. Tapi Komandan memaksa. Saya memilih ikut daripada beliau menyetir sendiri."

Nadira membuka pintu lebih lebar. "Masuk. Bukan karena saya ingin menerima tamu, tapi karena kalau Anda pingsan di lorong, satpam akan repot."

Arga masuk.

Begitu melihat Fadli, matanya berhenti.

Fadli menatap balik, tidak ramah. "Saya Fadli. Adiknya Kak Nadira. Bukan laki-laki simpanannya, kalau itu yang ada di kepala Mas."

Bima menunduk menahan napas.

Nadira menoleh ke Fadli. "Fad."

"Apa? Aku cuma mempercepat klarifikasi."

Arga tidak membantah. Ia justru menunduk sedikit.

"Saya tahu. Saya datang untuk minta maaf."

Fadli tampak tidak menyangka.

Nadira juga.

Arga menatap Nadira. "Aku salah mengira kamu membawa laki-laki ke rumah kita. Aku salah mengira Fadli orang lain. Aku salah karena langsung percaya apa yang kulihat tanpa bertanya."

Fadli menyilangkan tangan. "Rumah kita? Bukannya sudah Kakak tinggalkan karena Mas usir?"

"Fadli," Nadira memperingatkan.

"Biarin, Kak. Orang seperti dia harus dengar."

Arga menerima. "Dia benar."

Nadira memandang Arga lama. Pria itu tidak tampak seperti Mayor yang memberi perintah. Ia tampak seperti pasien keras kepala yang baru belajar menelan harga diri.

"Duduk," kata Nadira akhirnya. "Saya periksa luka Anda."

Arga duduk di sofa. Fadli tetap berdiri seperti pengawal.

Nadira mengambil kotak P3K dari koper. "Buka jaket."

Arga menurut.

Bima berkedip. Ia jarang melihat komandannya patuh secepat itu.

Nadira membuka kancing kemeja Arga secukupnya untuk melihat perban. Ada bercak merah muda di tepi perban.

"Jahitannya tertarik."

"Tidak parah."

"Saya dokternya."

Arga diam.

Nadira mengganti perban dengan gerakan cepat. Jarak mereka dekat. Arga bisa mencium aroma sabun dari rambut Nadira. Ia menahan diri untuk tidak memandang terlalu lama.

"Kenapa datang?" tanya Nadira.

"Minta maaf."

"Sudah."

"Dan bicara."

"Saya tidak punya waktu."

Fadli menunjuk makanan. "Kakak belum makan."

Arga menatap meja. "Kamu belum makan?"

Nadira menekan perban sedikit lebih keras.

Arga menahan napas.

"Itu bukan urusan Anda."

"Aku..."

"Jangan mulai."

Arga menutup mulut.

Fadli terlihat puas.

Setelah perban selesai, Nadira melepas sarung tangan sekali pakai.

"Kembali ke rumah sakit. Kalau demam atau perdarahan, hubungi dokter Rendra."

"Aku ingin kamu yang menangani."

"Saya bukan dokter pribadi Anda."

"Kamu istriku."

Ruangan langsung dingin.

Nadira menatapnya. "Jangan gunakan kata itu sesuka hati."

Arga menyesal begitu kalimat itu keluar. "Maaf."

"Saat saya tinggal di rumah Anda empat tahun, kata itu tidak pernah terasa nyata. Saat saya minta cerai, Anda baru menggunakannya."

"Aku tahu."

"Tidak. Anda belum tahu."

Nadira berdiri. "Mas Arga, saya sudah lelah. Saya tidak mau membahas rumah tangga di depan adik saya. Saya tidak mau menjelaskan sakit saya berkali-kali hanya supaya Anda merasa punya kesempatan."

Arga ikut berdiri perlahan.

"Apa aku masih punya kesempatan?"

Fadli langsung menatap kakaknya. Bima pura-pura melihat dinding.

Nadira diam.

Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya tidak.

Ia ingin berkata tidak. Itu jawaban paling aman. Satu kata, pintu tertutup, luka bisa dibiarkan sembuh sendiri.

Tapi ia tahu dirinya tidak sebersih itu dari perasaan. Melihat Arga pucat di depan pintu tadi, ia marah sekaligus cemas. Saat mengganti perbannya, tangannya profesional, tapi dadanya tidak sepenuhnya tenang.

Ia membenci itu.

"Kesempatan bukan sesuatu yang bisa Anda minta hari ini," katanya akhirnya. "Kalau suatu hari saya melihat Anda layak mendapatkannya, itu keputusan saya. Bukan permintaan Anda."

Arga menatapnya, lalu mengangguk.

"Baik."

Jawaban itu membuat Nadira sedikit terkejut. Ia mengira Arga akan memaksa.

Arga mengambil jaketnya.

"Aku akan kembali ke rumah sakit."

Bima hampir bersujud syukur.

Sebelum keluar, Arga menoleh pada Fadli.

"Maaf karena pernah menganggapmu buruk tanpa mengenalmu."

Fadli tampak kikuk. "Saya belum memaafkan."

"Tidak apa-apa."

Arga lalu menatap Nadira.

"Makan dulu. Bukan karena aku menyuruh. Karena kamu butuh tenaga."

Nadira tidak menjawab.

Pintu tertutup setelah mereka pergi.

Fadli mengembuskan napas panjang.

"Kak, aku benci harus bilang ini."

"Kalau begitu jangan bilang."

"Dia kelihatan menyesal."

Nadira mengambil mangkuk bubur yang sudah dingin.

"Penyesalan tidak otomatis memperbaiki luka."

"Aku tahu."

Nadira menyuap bubur, lalu berhenti karena tenggorokannya tiba-tiba terasa sempit.

Fadli duduk di sampingnya.

"Tapi Kakak juga kelihatan masih peduli."

Nadira menatap adiknya.

Fadli buru-buru mengangkat tangan. "Aku tidak bilang Kakak harus balikan. Aku cuma bilang, jangan bohong ke diri sendiri. Kakak boleh marah dan masih peduli. Dua-duanya bisa ada."

Nadira menunduk.

Di luar apartemen, Arga masuk lift dengan wajah makin pucat.

Bima menekan tombol lantai dasar.

"Komandan puas?"

"Tidak."

"Bagus. Kalau puas berarti aneh."

Arga bersandar ke dinding lift.

"Dia masih peduli."

Bima melirik. "Dari mana Komandan tahu?"

"Dia memeriksa lukaku sebelum memarahiku."

"Itu karena beliau dokter."

"Dan karena dia Nadira."

Bima tidak membantah.

Lift turun pelan.

Arga memejamkan mata, menahan nyeri di dada.

Untuk pertama kalinya, rasa sakit itu tidak membuatnya ingin marah.

Ia justru merasa pantas menerimanya.

1
Katherina Ajawaila
vania pasti teropsesi dgn kevin 🤑
Katherina Ajawaila
itu dramanya laras sm vania kgn percaya kalian kan aparat jgn terkecok. sm alasan pepesan , 😡
Katherina Ajawaila
dasar janda gatel maksa in kehendak nya ngk mikir, ada istrinya kemana aja rasa malunya 🤑
Katherina Ajawaila
Vania bodok sibuk urusin Rmh tangga org bikin soe jeblosin in aja kn rodeo rencana cekokolin org dgn alkohol 😡
Katherina Ajawaila
unutung ada Arga mh orsinil cuiiiii, dasar laras penjaht kelamin🤑
Katherina Ajawaila
yg fi tolong lupa daratan, di ksh hati minta empela, dasar pelskor main. cak rata aja 😡
Katherina Ajawaila
gampang benar Agra mentang" aparat anggap gampang perempuan. sombong😡
Katherina Ajawaila
laki" edan sana sini. tebar pesona, SMP anak. org bisa panggil PP, keren bae, perempuan yg bukan, istri bisa mau menguasai 🤑
Katherina Ajawaila
awal cerita yg. sangat menarik, yg buat greget yg baca 🤭
Riski Afriansyah
judulnya bab 41 tapi kok isinya bab 51
Jetva
Setuju..
Jetva
MENOLONG BUKAN BERARTI MEMILIKI APALAGI MENIKAHI.....DITOLONG MALAH NGELUNJAK...
Eka
semoga secepatnya kebongkar kalao memang vania dalang semua kejahatan nya,arga semoga zecepatnya bisa bongkar kalau nadira memang cucunya pak aditya👍👍👍
Eka
reza salah lawan kamu akan menyesal ssh mengusik nadira lihat saja vania paati benyar lagi hancur
Eka
lanjut tjor makin seru
Eka
nadira buktikan kamu kuat bikin arga menyesal dan menangis darah,kamu masih panjang masa depan mu semangat nadira
𝒯𝒽𝒾𝒶𝒶
bagus nadira pergi aja , ditinggal 4 tahun itu lama
Hadi Mulyono
kata bahasa terlalu kaku formal banyak argumen ..bukan dgn bahasa sehari hari yg mudah di fahami
Hadi Mulyono
untungnya Arga gak yg cowok main celap celup atau playboy
Hadi Mulyono
nyebelin banget arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!