NovelToon NovelToon
PENGANTIN SANG JENDERAL

PENGANTIN SANG JENDERAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: Dede Queen

Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.

Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".

Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.

Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.

Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Kabar dari Ujung Dunia

Cahaya keemasan perlahan memudar, menyisakan kehangatan yang menempel di kulit dan ketenangan yang meresap hingga ke tulang. Di tepi pulau batu itu, keheningan kembali menyelimuti—bukan keheningan yang dingin atau menakutkan, melainkan damai, seolah seluruh lembah akhirnya bisa bernapas lega setelah menahan napas selama ratusan tahun.

Li An berdiri diam, menatap tempat di mana sosok ayahnya lenyap. Tangannya masih terulur sedikit ke depan, seolah berharap jika ia meraih cukup jauh, jari-jarinya akan menyentuh lengan pria itu sekali lagi. Ia tidak menangis, namun dadanya terasa penuh—percampuran rindu, kehilangan, dan pengakuan yang datang terlambat, namun datang.

Ling Yue melangkah mendekat, meletakkan tangan di lengan pria itu. Ia tidak berkata apa-apa, hanya berdiri di sana, menyatu dalam kesunyian yang sama. Kehadirannya saja sudah cukup.

"Aku tidak sempat mengucapkan terima kasih," bisik Li An akhirnya, suaranya pelan namun jernih. "Atas semuanya."

"Dia tahu," jawab Ling Yue lembut. "Dia melihat hatimu. Itu sudah cukup."

Bai Su mendekat dari arah jembatan, wajahnya masih tampak lelah namun matanya bersinar lembut. "Keseimbangan telah pulih. Lembah ini aman. Tapi..." Ia berhenti sejenak, menatap ke arah permukaan danau yang kini tenang seperti cermin. "...dunia di luar sana belum tentu sama."

 

Mereka kembali ke permukaan melalui lorong rahasia yang kini terang benderang—dinding-dinding batu yang tadi suram kini dipenuhi cahaya lembut yang seolah menyambut kedatangan mereka. Saat melangkah keluar ke halaman depan aula, pemandangan yang menyapa mereka berbeda dari yang ditinggalkan. Kabut tebal yang menyelimuti lembah selama berbulan-bulan telah menipis, membiarkan sinar matahari pagi menyinari rumah-rumah batu, ladang, dan wajah-wajah yang menatap mereka dengan mata berbinar penuh harap.

Namun kedamaian itu terganggu saat penjaga di menara pengawas memberi isyarat mendesak. Seseorang datang—bukan pasukan musuh, melainkan seorang utusan yang tampak kelelahan, berpakaian lusuh, wajahnya pucat karena perjalanan panjang.

"Kau..." Utusan itu terhuyung mendekat, menatap Ling Yue dengan takjub. "Kau benar-benar ada."

Ling Yue melangkah maju. "Siapa kau? Dan dari mana kau mengetahui tempat ini?"

"Aku datang dari desa di kaki pegunungan," jawabnya terengah-engah. "Sebelum pasukan musuh mundur sepenuhnya, ada pesan yang ditinggalkan... bukan untuk kami, tapi untukmu." Ia mengeluarkan selembar kain halus yang dilipat rapi, terbungkus pelindung agar tidak rusak. "Dikatakan... jika ada seseorang yang membawa cahaya bunga kabut, serahkan ini padanya."

Ling Yue meraih kain itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Saat membukanya, napasnya tertahan. Tulisan itu—miring, tegas, sedikit terburu-buru—sama persis dengan yang ia kenal.

"Ling Yue, Li An,

Jangan khawatirkan aku. Aku tidak pergi ke tempat yang jauh, hanya ke tempat yang tak bisa dijangkau oleh mata biasa. Kekuatan ini tidak memisahkan kita, seperti yang kukatakan dulu—ia menghubungkan kita.

Aku melihat apa yang terjadi di lembah. Aku melihat pengorbanan yang dilakukan. Dan aku tahu kalian akan baik-baik saja.

Tapi ketahuilah: apa yang terjadi di sini hanyalah awal. Di ibu kota, bayangan lain mulai bergerak. Bukan satu orang, bukan dua—seluruh istana sedang dipimpin oleh keinginan yang gelap. Jika kalian kembali, hati-hatilah.

Jaga klan ini. Jaga satu sama lain. Dan jika suatu hari kalian benar-benar membutuhkanku... panggil namaku. Aku akan mendengarnya.

Rouran"

Di bagian bawah, tergambar tanda kecil—kelopak bunga yang mekar setengah jalan, belum selesai, seolah perjalanan ini pun belum berakhir.

"Dia masih hidup..." bisik Ling Yue, air mata menetes di pipinya, kali ini bukan karena kesedihan, melainkan kelegaan yang begitu besar hingga terasa menyakitkan.

Li An meletakkan tangannya di bahu gadis itu, menatap tulisan itu dengan tatapan yang dalam. "Pesan ini ditinggalkan sebelum pertempuran di gua. Dia sudah memprediksi semuanya."

"Dan dia memperingatkan tentang ibu kota," tambah Bai Su, wajahnya kembali serius. "Jika apa yang dikatakannya benar, maka ancaman belum sepenuhnya hilang. Ia hanya berubah wujud."

Ling Yue melipat kain itu kembali, menyimpannya dengan hati-hati di dekat kelopak bunga yang masih bersinar samar di dadanya. Ia menatap ke arah gerbang lembah yang kini terbuka lebar, lalu ke arah cakrawala tempat kabut perlahan lenyap.

"Kita punya dua pilihan," ucapnya lantang, menatap semua orang yang berkumpul di halaman. "Tetap di sini, menjaga kedamaian yang baru saja kita pulihkan... atau kembali ke luar, menghadapi bahaya yang mengancam seluruh negeri."

Keheningan menyelimuti mereka. Beberapa orang saling pandang, beberapa menunduk, takut akan dunia yang selama ini mereka hindari. Namun perlahan, satu per satu kepala terangkat.

"Kita tidak bisa bersembunyi selamanya," kata seorang pemuda yang berdiri di barisan depan. "Jika bahaya datang ke sini, kita bisa bertahan. Tapi jika kita pergi... kita bisa mencegahnya sampai ke tempat ini."

"Benar," tambah seorang wanita tua. "Nenek moyang kita pergi bukan untuk bersembunyi, tapi untuk melindungi. Sekarang giliran kita."

Bai Su menatap mereka, matanya berkaca-kaca, lalu mengangguk. "Maka kita tidak pergi sendirian. Sebagian dari kita tetap di sini, menjaga tempat ini. Sebagian lain... pergi bersama mereka." Ia menatap Ling Yue dan Li An. "Kalian membawa harapan ini ke tempat yang lebih luas."

 

Sore itu, persiapan dilakukan dengan tenang namun penuh semangat. Tidak ada kepanikan, tidak ada keraguan. Mereka yang akan pergi mengemas perlengkapan sederhana, mereka yang tetap menyiapkan bekal dan peta jalur aman. Ling Yue berdiri di tepi lembah, menatap ke arah jalan yang akan ditempuh, saat Bai Su mendekat berdiri di sampingnya.

"Ibumu akan bangga padamu," ucapnya pelan. "Dia selalu berharap kau tidak terjebak di antara dinding, melainkan terbang bebas."

Ling Yue tersenyum tipis. "Aku takut. Bukan untuk diriku, tapi untuk mereka yang mempercayaiku."

"Itulah tanda bahwa kau siap," jawab Bai Su lembut. "Orang yang tidak pernah takut tidak bisa disebut berani. Keberanian adalah tetap melangkah meski lutut gemetar." Ia meraih tangan keponakannya, menekannya erat. "Dan ingat—kekuatan terbesarmu bukanlah cahaya yang kau bawa, melainkan hatimu yang tulus. Itu yang tidak bisa dirampas siapa pun."

Li An mendekat, perlahan meletakkan jubah perjalanan di bahu Ling Yue. "Semua sudah siap. Rombongan akan berangkat saat fajar menyingsing."

Ling Yue mengangguk, lalu menatapnya. "Kau yakin ikut? Kau bisa tetap di sini, aman."

Li An tersenyum, senyum yang begitu hangat dan tulus. "Kita berjanji, ingat? Ke mana pun kau pergi, aku ikut. Bahkan jika jalannya menuju jurang." Ia meraih tangan gadis itu, meremasnya pelan. "Dan sekarang... aku juga pergi untuknya. Untuk ayahku. Agar pengorbanannya tidak sia-sia."

Matahari terbenam, mewarnai langit dengan ungu dan emas. Di atas bukit yang menghadap ke seluruh lembah, Ling Yue berhenti sejenak, mengangkat wajahnya ke arah langit yang mulai bertabur bintang.

"Rouran..." bisiknya pelan, hanya untuk angin. "Kami pergi. Tunggulah kami."

Dari kejauhan, di antara bintang yang berkelap-kelip, satu bintang bersinar sedikit lebih terang dari yang lain, berkedip pelan seolah menjawab panggilan itu.

 

Keesokan paginya, saat cahaya pertama menyentuh puncak pegunungan, gerbang batu terbuka. Rombongan kecil namun teguh berjalan keluar—puluhan orang yang siap menghadapi dunia yang berubah, dipimpin oleh dua orang yang nasibnya telah menyatu begitu dalam hingga tak bisa dipisahkan lagi.

Di belakang mereka, lembah tersembunyi itu perlahan tertutup kabut tipis, menyembunyikan kedamaiannya. Namun di dada masing-masing yang pergi, ada cahaya yang tak akan padam—pengingat, penghubung, dan janji.

Perjalanan belum berakhir. Sebenarnya, perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!