6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26.SELPI MENJADI PENUNGGU
Sosok perempuan itu berdiri di halaman rumah Mbok Darmi.
Jauh, sekitar 20 meter dari sumur yang baru saja kami tutup. Bulan purnama merah masih menggantung di atasnya, jadi siluetnya terlihat jelas. Rambutnya panjang sekali, sampai menyentuh tanah. Kebaya hitamnya bukan kebaya biasa, tapi kebaya pengantin jaman dulu yang sudah sobek-sobek di bagian bawahnya. Dan di tangannya, dia memegang kain kafan putih yang masih baru, masih bersih, belum ada tulisan apapun.
Bukan Selvi. Selvi sudah tenang di dalam sumur. Batu penutup sumur sudah terkunci dengan keris tumbal yang masih menancap dan berkilau keemasan.
Lalu siapa perempuan itu?
Pak Lurah yang melihat sosok itu langsung terduduk lemas, wajahnya sepucat kertas, obor di tangannya jatuh dan padam.
"Bukan... bukan dia lagi... kenapa dia ikut bangun..." bisik Pak Lurah dengan suara gemetar seperti orang kesurupan.
"Siapa dia, Pak?" Bima bertanya sambil mencoba menyalakan kembali obornya, tapi angin dingin yang tiba-tiba datang membuat api tidak mau menyala.
Pak Lurah tidak menjawab. Dia hanya menatap kain kafan kosong di tangan perempuan itu dengan mata melotot ketakutan.
Perempuan itu perlahan-lahan berjalan mendekat. Langkahnya tidak menimbulkan suara. Tanah becek yang tadi penuh lumpur hitam, tidak meninggalkan jejak saat dia injak. Dia melayang beberapa senti di atas tanah.
Semakin dekat, semakin jelas wajahnya.
Wajahnya cantik, sangat cantik. Kulitnya putih pucat seperti porselen, bibirnya merah darah, matanya besar dan hitam pekat tanpa putih mata. Cantik yang tidak wajar, cantik yang membuat merinding.
Dan wajah itu... wajah itu mirip denganku.
Bukan mirip sedikit. Tapi sangat mirip. Seperti aku sedang bercermin, tapi versi yang lebih tua, lebih pucat, dan lebih menyedihkan.
Aku mundur selangkah. "Siapa... siapa kamu?"
Perempuan itu berhenti tepat 3 meter di depan kami. Dia mengangkat kain kafan kosong itu dan membentangkannya di depan kami. Kain itu lebar sekali, berkibar-kibar tertiup angin yang tidak terasa.
Lalu dia bicara. Suaranya lembut, sangat lembut, seperti suara ibu yang membangunkan anaknya. Tapi suaranya menggema dari segala arah, dari hutan, dari sumur, dari dalam tanah.
"Selpi... akhirnya kamu datang... ibu sudah menunggu lama sekali..."
Ibu? Aku tidak punya ibu di desa ini. Ibuku ada di kota, di Jambi.
"Kamu salah orang," kataku dengan suara bergetar. "Saya bukan anakmu."
Perempuan itu tersenyum. Senyumnya membuat darahku beku. Dari matanya yang hitam pekat itu, mengalir air mata darah yang menetes ke kain kafan kosong di tangannya. Setiap tetes darahnya yang jatuh ke kain, langsung membentuk tulisan.
Tulisan pertama yang muncul adalah: SELPI
Namaku lagi. Lagi-lagi namaku ditulis di kain kafan.
"Lihat, nak. Namamu sudah ada di sini sejak kamu lahir. Sejak kamu masih di dalam perut ibu 20 tahun yang lalu," kata perempuan itu sambil mengelus kain kafan itu seperti mengelus bayi.
Pak Lurah tiba-tiba berteriak histeris, "JANGAN PERCAYA DIA, SELPI! DIA BUKAN MANUSIA! DIA WENDE! DIA INDUK SUMUR!"
Wende? Induk sumur?
Perempuan itu menatap Pak Lurah dengan tatapan marah. Hanya dengan tatapan itu saja, Pak Lurah langsung terjatuh dan memegangi kepalanya, berteriak kesakitan seperti kepalanya dipukul palu.
"Berisik," kata perempuan itu pelan.
Lalu dia kembali menatapku. Tatapannya berubah lembut lagi.
"Selpi, kamu tahu kenapa sumur itu terus mengikutimu? Kenapa hanya kamu yang bisa melihat Selvi? Kenapa darahmu bisa menutup sumur itu?"
Aku menggeleng. Kepalaku pusing, napasku sesak. Tulisan SELPI di telapak tanganku yang tadi sudah hilang setelah ritual, sekarang muncul kembali. Tapi kali ini bukan urat darah. Tapi ukiran, seperti tato yang terukir di dalam kulit, berwarna hitam.
"Karena kamu bukan KKN, Selpi. Kamu pulang."
Pulang? Apa maksudnya pulang?
Perempuan itu melanjutkan, "20 tahun yang lalu, Mbok Darmi tidak hanya punya satu anak bernama Selvi. Dia punya dua anak kembar. Selvi dan Selpi. Selvi lahir sehat, menangis kencang. Tapi kamu, Selpi, lahir tidak bernapas. Biru. Mati."
Dunia seakan berhenti berputar. Kakiku lemas.
"Mbok Darmi tidak terima kamu mati. Dia membawa jasadmu yang masih bayi itu ke sumur ini, sumur keramat desa ini, dan meminta kepada Wende, induk sumur, untuk menghidupkanmu kembali. Wende mengabulkan, tapi dengan syarat. Satu nyawa harus dibayar dengan satu nyawa di masa depan. Kamu hidup, tapi kamu harus kembali ke sumur ini saat umurmu 20 tahun untuk menjadi penunggu baru menggantikan Wende."
Aku menatap Pak Lurah yang masih tergeletak di tanah. Pak Lurah mengangguk pelan dengan air mata mengalir.
"Benar... Mbok Darmi pernah cerita... anak kembarnya meninggal satu... tapi Bapak kira sudah dikubur... ternyata..."
Sinta yang mendengar itu langsung memelukku erat, menangis. "Gak mungkin! Selpi kan dari Jambi! Dia anak orang kota! Bukan anak Mbok Darmi!"
Perempuan yang mengaku Wende itu tertawa pelan. "Jambi? Ibu kandungmu yang di Jambi itu hanya ibu angkatmu, Selpi. Mbok Darmi menitipkanmu ke bidan desa yang kemudian merantau ke Jambi karena takut warga tahu dia punya anak hasil dari ritual dengan Wende. Kamu dibesarkan di Jambi, tapi jiwamu tetap milik sumur ini. Makanya kamu merasa tidak betah di kota, makanya kamu memilih KKN di desa terpencil ini, karena sumur ini memanggilmu pulang."
Semua kepingan puzzle itu akhirnya tersambung. Kenapa aku selalu mimpi tentang sumur sejak kecil. Kenapa aku merasa deja vu saat pertama kali masuk Desa Mati ini. Kenapa Mbok Darmi selalu menatapku dengan tatapan sedih dan sayang, seperti menatap anaknya sendiri. Kenapa Mbok Darmi mengigau menyebut namaku dan Selvi bergantian.
Aku adalah anak kembar Selvi. Aku adalah adiknya.
Dan aku adalah tumbal yang dijanjikan 20 tahun lalu.
Wende, induk sumur itu, mengulurkan tangannya yang pucat dan kurus ke arahku. Kukunya panjang, hitam, tapi gerakannya lembut.
"Sini, nak. Waktunya kamu gantikan ibu jaga sumur ini. Selvi sudah tenang, Mbok Darmi sudah tenang di dalam sumur bersama kakakmu. Sekarang giliranmu jaga pintu. Biar desa ini aman. Biar tidak ada lagi Selvi-Selvi lain yang mati."
Aku melihat ke arah sumur yang sudah tertutup batu. Dari sela-sela batu penutup itu, keluar cahaya keemasan yang hangat. Aku bisa melihat bayangan Mbok Darmi dan Selvi di dalam cahaya itu, mereka tersenyum ke arahku, melambaikan tangan, terlihat damai dan bahagia untuk pertama kalinya.
Mereka sudah bebas.
Tapi jika aku menolak, Wende akan marah. Sumur itu akan kembali meminta tumbal. Mungkin Sinta, mungkin Bima, mungkin seluruh desa ini akan tenggelam dalam lumpur hitam lagi.
Jika aku menerima, aku akan menjadi penunggu. Abadi. Menjaga sumur ini selamanya.
Aku menatap Sinta dan Bima. Sinta menangis, menggeleng-geleng, memohon agar aku tidak pergi. Bima memegang tanganku erat, tidak ingin melepaskan.
Aku tersenyum ke mereka. Senyum yang paling tulus yang bisa aku berikan.
"Jaga skripsi kita ya, Sin, Bim. Bilang ke dosen, KKN kita selesai. Desa ini sudah aman."
Aku melepaskan genggaman mereka.
Aku melangkah maju, mendekati Wende.
Setiap langkahku, kakiku terasa semakin ringan, tubuhku terasa semakin dingin, tapi hatiku terasa semakin tenang. Tulisan SELPI di telapak tanganku bersinar terang.
Wende memelukku. Pelukannya dingin seperti air sumur, tapi juga hangat seperti pelukan ibu yang sudah lama tidak aku rasakan.
"Kamu anak pintar, Selpi," bisik Wende di telingaku.
Saat pelukan itu terjadi, kain kafan kosong yang dipegang Wende melayang dan membungkus tubuhku perlahan-lahan. Kain itu tidak bau anyir. Baunya seperti bedak bayi. Lembut.
Tubuhku perlahan-lahan menghilang, menjadi cahaya, menjadi kabut tipis yang masuk ke dalam sela-sela batu penutup sumur.
Aku bisa melihat tubuhku sendiri dari atas. Aku melihat Sinta dan Bima menangis memanggil namaku. Aku melihat Pak Lurah bersujud meminta ampun di depan sumur.
Dan aku melihat diriku yang baru.
Aku sekarang berdiri di dalam sumur. Sumur itu tidak lagi gelap dan berdasar tak terhingga. Sumur itu sekarang adalah sebuah taman yang indah, penuh bunga kamboja putih, dengan air jernih yang mengalir. Di tengah taman itu, Mbok Darmi dan Selvi duduk menunggu, tersenyum ke arahku.
Aku sudah menjadi penunggu.
Bukan penunggu yang menakutkan. Tapi penunggu yang menjaga.
Di dunia atas, di batu penutup sumur, tulisan keemasan yang tadi hanya ada satu nama, sekarang bertambah satu nama lagi di bawahnya.
Tulisan itu berbunyi:
SELVI BINTI DARMI - PENJAGA SUMUR
SELPI BINTI DARMI - PENUNGGU SUMUR
Dua anak kembar, akhirnya pulang dan menjaga rumah mereka bersama, selamanya.
Sinta dan Bima hanya bisa menangis di depan sumur yang sudah tertutup rapat itu, memegang keris tumbal yang sudah tidak bercahaya lagi.
Mereka tahu, teman mereka, Selpi, tidak akan pernah kembali ke Jambi. Selpi sudah menjadi bagian dari Desa Mati. Menjadi penunggu yang akan memastikan tidak ada lagi KKN yang hilang di desa itu.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam 27 tahun, Desa Mati benar-benar mati. Sunyi. Tidak ada lagi suara gamelan, tidak ada lagi sumur yang pindah, tidak ada lagi tangisan bayi dari dalam sumur.
Hanya ada suara angin yang membawa bisikan lembut dari dalam sumur.
"Terima kasih..."
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐