Hidup tenang Bayu sebagai karyawan sekaligus selebgram hancur seketika saat ia harus mengasuh enam keponakan perempuannya yang super aktif. Namun, kemunculan "Sistem Om Level Dewa" mengubah segalanya dengan menjanjikan kekayaan tak terbatas asalkan ia berhasil membuat para keponakannya bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Dia berdiri dari kursinya dan berjalan santai menghampiri kerumunan karyawannya itu.
"Kalian tidak perlu panik berlebihan seperti itu, Naya hanya kepanasan biasa saja."
"Dimas, tolong ambilkan satu ember air es beserta es batunya dari kotak pendingin kita di mobil sana."
Dimas menatap Bayu dengan pandangan bingung dan ragu-ragu.
"Air es untuk apa Bos? Apakah kita akan mengompres dahinya agar suhu tubuhnya turun?"
"Bukan untuk dikompres Dimas, siram saja wajahnya pakai air es itu, aku jamin dia akan langsung bangun," perintah Bayu dengan nada dingin.
Vanya yang sedang menutup mata mendengarkan percakapan itu langsung merasa panik setengah mati.
"Pria gila ini mau menyiram wajahku pakai air es batu? Riasanku bisa luntur semua nanti!" jerit Vanya dalam hati.
Vanya ingin membuka matanya sekarang, tapi dia ragu karena itu akan membuat aktingnya ketahuan bohong.
Dimas datang membawa sebuah ember kecil berisi air dingin yang masih dipenuhi bongkahan es batu.
"Dimas, siram sekarang juga tepat di wajahnya," ucap Bayu tanpa belas kasihan sedikit pun.
Byur.
Satu ember air es super dingin itu mengguyur wajah dan tubuh bagian atas Vanya dengan sangat telak.
"Hahhh dingin sekali! Apa-apaan ini?!" teriak Vanya refleks melompat duduk sambil memegangi wajahnya.
Suara seraknya yang selama ini dibuat-buat mendadak hilang tergantikan oleh suara lengkingan aslinya karena kaget.
Maya dan Reza sampai melangkah mundur saking kagetnya melihat Naya tiba-tiba bangun dengan tenaga penuh.
"Syukurlah kamu sudah sadar Naya, kupikir aku harus memotong gajimu bulan ini untuk biaya memanggil ambulans tadi," ucap Bayu mengejek.
Vanya menatap Bayu dengan mata melotot penuh amarah sambil menggigil kedinginan.
Baju putihnya basah kuyup dan kacamata tebalnya berembun hingga dia kesulitan melihat dengan jelas.
"Kenapa Bos Bayu menyiram saya pakai air es? Saya kan sedang sakit!" protes Vanya dengan nafas memburu.
"Itu adalah pertolongan pertama paling cepat untuk orang pingsan di perusahaanku Naya, terbukti sangat ampuh kan?"
Bayu berjongkok di depan Vanya dan menatap mata wanita licik itu dengan tatapan tajam yang menusuk.
"Lain kali, kalau kau merasa tidak sanggup bekerja di bawah terik matahari, lebih baik kau mengundurkan diri saja dari awal."
"Karena aku tidak butuh karyawan manja yang suka bermain drama murahan di saat jam kerja sedang berlangsung."
Kata-kata pedas dari Bayu itu sukses membungkam mulut Vanya rapat-rapat.
Vanya hanya bisa menundukkan kepalanya menahan rasa malu yang luar biasa karena rencananya gagal total dan malah menjadi bahan tertawaan.
"Sialan, kenapa Bayu berubah menjadi sangat kejam dan tidak punya hati nurani seperti ini," batin Vanya menangis kesal.
"Naya, pergi ganti bajumu yang basah itu di toilet umum taman, setelah itu segera kembali bekerja merapikan properti."
Vanya mengangguk kaku dan segera berdiri berlari menuju arah toilet umum taman dengan langkah tertatih.
Saat situasi mulai kembali kondusif, suara klakson mobil berbunyi dari arah pintu masuk taman bunga tersebut.
Tin tin.
Sebuah mobil city car berwarna merah yang sangat familiar di mata Bayu berhenti di area parkir.
Pintu mobil terbuka dan Alya Nadhira melangkah keluar dengan penampilan kasual namun tetap mempesona.
Alya mengenakan topi anyaman pantai yang lebar dan kacamata hitam, serta membawa beberapa kantong plastik di tangannya.
"Halo semuanya, maaf aku datang mendadak dan mengganggu waktu pemotretan kalian siang ini," sapa Alya sambil tersenyum manis.
Melihat kedatangan Alya, raut wajah Bayu yang tadinya dingin seketika berubah menjadi sangat hangat dan cerah.
"Alya? Ya ampun kenapa kamu repot-repot menyusul jauh-jauh ke lokasi pemotretan luar ruangan begini?"
Bayu segera berlari menghampiri Alya dan mengambil alih kantong plastik berat dari tangan wanita itu.
"Aku kebetulan sedang libur kerja hari ini Bayu, jadi aku belikan minuman dingin dan camilan untuk kru agensimu."
Maya dan Reza langsung bersorak gembira menyambut kedatangan makanan dari bidadari cantik tersebut.
"Wah Tante Alya baik sekali, terima kasih banyak ya makanannya, kebetulan kami sudah sangat kehausan!" seru Maya bersemangat.
"Sama-sama Maya, kalian istirahatlah dulu makan camilan ini, pemotretannya pasti sangat melelahkan ya," balas Alya ramah.
Dari kejauhan, Vanya yang baru saja selesai mengganti bajunya dengan kaos cadangan berjalan mendekat.
Langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat Bayu sedang tertawa lepas berdua dengan seorang wanita cantik di bawah pohon.
Mata Vanya memicing tajam mencoba mengenali wajah wanita yang sedang diperlakukan sangat spesial oleh Bayu tersebut.
"Siapa wanita sialan itu? Kenapa Bayu menatapnya dengan tatapan lembut yang seharusnya hanya milikku?"
Rasa cemburu dan iri hati seketika membakar seluruh kewarasan Vanya saat itu juga.
Vanya menyadari bahwa wanita bertopi pantai itu adalah saingan terberatnya untuk mendapatkan kembali hati dan harta Bayu.
Bayu menoleh ke arah Naya yang sedang berdiri mematung menatap ke arah mereka.
"Naya, kebetulan kau sudah kembali, tolong bawakan semua minuman dingin ini dan bagikan kepada Dimas dan Reza di sana."
Perintah santai dari Bayu itu terasa seperti tamparan keras di wajah Vanya yang masih menyimpan harga diri tinggi.
"Dia menyuruhku melayani wanita sialan ini seperti seorang pembantu murahan?" batin Vanya nyaris meledak karena marah.
Namun Vanya tidak punya pilihan lain selain menurut jika dia tidak ingin dipecat hari ini juga.
"B-baik Bos Bayu, saya akan membagikannya sekarang," jawab Vanya sambil berjalan menunduk mengambil plastik minuman tersebut.
Alya menatap Naya dengan sedikit rasa kasihan melihat karyawan Bayu itu terlihat sangat pucat dan kelelahan.
"Bayu, karyawanmu itu terlihat tidak sehat, apakah kamu tidak terlalu keras mempekerjakannya hari ini?" tegur Alya dengan suara pelan.
Bayu tersenyum tipis dan mengelus lengan Alya dengan lembut menenangkan kekhawatiran wanita baik hati itu.
"Kamu tidak perlu khawatir Alya, dia hanya sedikit manja dan sedang beradaptasi dengan pekerjaan lapangan."
"Duduklah di sini bersamaku, kita bisa mengobrol santai sambil menunggu Reza menyelesaikan beberapa foto terakhir."
Alya mengangguk dan duduk di kursi lipat sebelah Bayu, menikmati semilir angin taman bunga yang wangi.
Sementara Vanya harus kembali bekerja merapikan kabel dan kotak kayu dengan perasaan hancur lebur melihat kemesraan mereka berdua.
Proses pemotretan siang itu akhirnya selesai dengan hasil yang sangat memuaskan bagi semua pihak, kecuali Vanya.
Reza berhasil menangkap puluhan foto Maya yang terlihat sangat elegan dan siap diserahkan kepada klien Beauty Glow.
"Kerja bagus semuanya, hari ini kalian boleh pulang lebih awal untuk beristirahat," umumkan Bayu kepada timnya.
"Alya, apakah kamu mau ikut aku kembali ke kantor sebentar atau mau langsung pulang ke rumah?" tanya Bayu.
"Aku mau mampir ke kantormu sebentar Bayu, aku ingin melihat ruang kerjamu yang baru itu," jawab Alya tersenyum.
Bayu mengangguk senang dan segera membukakan pintu penumpang Lamborghini hitamnya untuk Alya.
Vanya menatap mobil sport mewah itu melaju pergi membawa Bayu dan saingannya dengan dada sesak menahan tangis.
"Nikmatilah kesenanganmu hari ini Alya, karena aku pasti akan merebut posisi itu darimu dengan caraku sendiri," sumpah Vanya dalam kegelapan hatinya.