NovelToon NovelToon
IBU TIRI PENYELAMATKU

IBU TIRI PENYELAMATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.

Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.

Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Hitam di Sangkar Emas

Derit ban mobil mewah berdecit halus saat berhenti di pelataran pualam kediaman Adhitama. Pintu berukir emas yang menjulang tinggi itu terbuka lebar, menampakkan deretan pelayan yang menunduk hormat. Namun, bagi Dea, rumah ini tetap memancarkan hawa dingin yang mencekik. Gadis remaja itu mengeratkan genggamannya pada tangan seorang wanita di sebelahnya—sebuah jangkar yang menahannya dari badai kepanikan.

Wanita itu melangkah turun dari mobil dengan keanggunan yang membungkam siapa saja. Gaun sutra sederhana berwarna zamrud membalut tubuh rampingnya, kontras dengan kulit putih dan rambut hitam yang disanggul modern. Ia adalah Tania. Bukan lagi sekadar guru tari atau penghuni kamar indekos sempit, melainkan Nyonya Tania Adhitama.

Baskoro, ayah Dea, merangkul pinggang Tania dengan lembut, lalu menatap putri tunggalnya. Tiga minggu yang lalu, dunia sang CEO miliarder itu nyaris runtuh saat menerima kabar dari kepala pelayannya bahwa Dea menghilang. Baskoro membatalkan semua kontrak triliunan rupiahnya di Eropa, terbang kembali ke Jakarta dengan jet pribadi, dan mengerahkan ratusan orang untuk membalik setiap batu di ibu kota demi menemukan putrinya.

Ketika Baskoro akhirnya menemukan Dea di sebuah kamar indekos kecil bersisian dengan sanggar tari pinggiran kota, putrinya itu menolak pulang. Dea menangis histeris, menolak kembali ke rumah yang dijajah oleh paman dan bibinya. Syarat mutlak yang diajukan gadis remaja itu hanya satu: ia hanya akan pulang jika Tania ikut bersamanya, tak peduli sebagai apa pun.

Bagi Baskoro, yang telah lama tenggelam dalam penyesalan karena mengabaikan Dea demi ambisi bisnis, itu adalah syarat mutlak. Namun, menjadikan seorang wanita muda asing sekadar sebagai pengasuh di rumah yang penuh ular berbisa seperti adiknya, Hendra, tidaklah cukup aman. Baskoro membutuhkan seseorang dengan otoritas absolut untuk melindungi putrinya dari intrik keluarga. Maka, dengan kesepakatan rahasia yang saling menguntungkan, pernikahan itu terjadi. Baskoro memberikan status, perlindungan hukum mutlak, dan janji untuk mengerahkan seluruh jaringan intelijen perusahaannya demi mencari keluarga asli Tania. Sebagai imbalannya, Tania bersedia mengorbankan masa mudanya untuk menjadi perisai tak tertembus bagi Dea.

"Selamat datang kembali, Kak Baskoro... dan... Nyonya," sapa Hendra dari ambang pintu utama. Suaranya serak, diiringi senyum kaku yang terlihat seperti seringai serigala yang gagal menerkam mangsanya.

Di sebelah Hendra, Rika berdiri dengan wajah yang dipoles tebal, berusaha keras menyembunyikan kilatan kebencian di matanya yang memerah. Sepupu Dea, Siska, bahkan tidak repot-repot tersenyum. Ia menatap gaun zamrud Tania dengan pandangan meremehkan, seolah wanita itu hanyalah gembel yang didandani.

"Senang melihatmu menyambut kami, Hendra," balas Baskoro dingin, matanya menatap tajam ke arah sang adik. "Aku harap, selama kepergianku, kalian menjaga Dea dengan baik. Meskipun kenyataannya, putriku sampai harus mempertaruhkan nyawa di jalanan karena merasa tidak aman di rumahnya sendiri."

Rika tertawa gugup, wajahnya pucat pasi. "Itu... itu hanya salah paham, Kak. Dea sedang di fase pemberontakan remaja, labil. Kami sangat menyayanginya seperti darah daging kami sendiri."

Tania hanya diam. Sorot matanya yang tenang namun tajam bak elang memindai ketiga orang di depannya. Berbekal insting bertahan hidup yang ditempa di jalanan dan kebijaksanaan dari orang tua asuhnya, Tania bisa mencium busuknya niat jahat dari balik parfum mahal yang menguar dari pori-pori mereka. Dengan lembut, Tania mengusap punggung Dea yang mulai bergetar mengingat siksaan yang pernah dialaminya. Sentuhan itu seketika menenangkan sang gadis.

"Aku harus segera ke kantor. Ada penumpukan kontainer di pelabuhan utama yang harus kutangani segera akibat insiden ini," ucap Baskoro setelah mereka duduk sejenak di ruang keluarga. Ia mengecup dahi Dea, lalu menatap Tania penuh harap. "Aku percayakan rumah ini—dan nyawa putriku—di tanganmu, Tania. Kau adalah nyonya di rumah ini sekarang. Posisimu tidak berada di bawah siapa pun."

"Tentu, Mas. Selesaikan pekerjaanmu dengan tenang. Dea aman bersamaku," jawab Tania lembut, memainkan perannya dengan memukau.

Pintu utama berdebam tertutup seiring melesatnya mobil sang ayah. Dan dalam hitungan detik, suhu ruangan terasa anjlok. Topeng-topeng manis itu robek, digantikan oleh wajah asli yang memancarkan keserakahan yang buas.

Rika melipat tangannya di dada, melangkah mendekati Tania dengan dagu terangkat. Ia sengaja mengusir para pelayan keluar dengan isyarat matanya. "Dengar baik-baik, wanita udik. Kau mungkin berhasil mengelabui kakak iparku dengan wajah polos dan tubuh murahmu itu demi memeras hartanya. Tapi jangan harap kau bisa berkuasa di sini. Akulah nyonya yang sesungguhnya di rumah ini!"

Siska ikut menyela, berjalan memutari Tania dengan angkuh. "Guru tari dari kampung kumuh? Cih. Pelet murahan dari dukun mana yang kau pakai untuk membuat pamanku bertekuk lutut? Pakaian mahal ini tidak bisa menutupi bau kemiskinanmu."

Alih-alih terintimidasi, Tania tersenyum tipis. Ia menatap Rika dan Siska bergantian, lalu beralih pada Hendra yang sedang sibuk menuang wiski mahal di mini bar sudut ruangan, mencoba mengabaikan konfrontasi istrinya.

"Dea, sayang," ucap Tania tanpa mengalihkan pandangannya dari Rika. Suaranya jernih dan berwibawa. "Tolong naik ke atas dan periksa apakah kamarmu masih rapi. Ibu ingin mengobrol santai dengan keluarga baru kita." Panggilan 'Ibu' meluncur alami, menguatkan tembok perlindungan di antara mereka.

Dea mengangguk patuh dan setengah berlari menaiki tangga. Setelah sosok gadis itu menghilang di lantai dua, Rika yang merasa dilecehkan kemarahannya meledak. Ia tiba-tiba meraih sebuah vas kristal Baccarat yang berat di atas meja konsol. Dengan gerakan cepat yang disengaja, ia melempar vas itu lurus ke wajah Tania, berniat menghancurkan wajah cantik yang telah merebut posisi puncak di rumah itu.

"Ups, tanganku licin!" jerit Rika dengan nada mengejek.

Namun, yang terjadi selanjutnya membuat napas seisi ruangan tercekat. Waktu seolah melambat. Insting bela diri yang telah mendarah daging, diturunkan dari guru silat misterius di desanya, mengambil alih tubuh Tania. Bukannya menjerit menghindar, Tania melangkah setengah langkah ke depan, mengubah kuda-kudanya, dan dengan satu gerakan tangan kanan yang mengalir sehalus air, ia menangkap leher vas kristal itu tepat dua inci sebelum menghantam hidungnya. Gaya dorong vas itu diserap sempurna tanpa membuat Tania goyah sedikit pun.

Keheningan mutlak menyelimuti ruangan. Tidak ada jeritan. Tidak ada pecahan kaca.

Hendra menghentikan tegukan wiskinya. Mulut Siska ternganga lebar.

Tania memutar vas itu di tangannya, menimbangnya sejenak dengan ekspresi datar, lalu meletakkannya kembali ke atas meja dengan bunyi dentang keras yang membuat Rika melompat mundur. Tania melangkah maju memangkas jarak, menatap tepat ke manik mata Rika.

"Refleks yang sangat buruk untuk seorang nyonya sosialita," ucap Tania, nadanya tak lagi lembut, melainkan sedingin baja yang diasah. "Sangat berbahaya. Bagaimana jika lain kali barang yang jatuh menimpamu adalah sesuatu yang lebih... mematikan?"

Sebelum Rika bisa memproses ancaman mematikan yang tersirat itu, Siska yang darahnya mendidih melihat ibunya diintimidasi, menerjang maju. Tangannya terangkat tinggi, berniat melayangkan tamparan keras ke pipi Tania. "Beraninya kau mengancam ibuku, dasar jalang!"

Tania bahkan tidak menoleh penuh. Saat telapak tangan Siska nyaris mendarat, tangan kiri Tania melesat menangkis, sementara tangan kanannya mengunci pergelangan tangan Siska dan memelintirnya dengan kuncian presisi yang melumpuhkan syaraf. Siska menjerit melengking kesakitan, tubuhnya terpaksa merosot ke lantai marmer demi mengurangi tekanan yang merobek engsel lengannya.

"Lepaskan anakku, baji—!" Hendra menggeram brutal, melempar gelasnya ke karpet dan berniat menerjang maju dengan kepalan tangan.

"Langkahkan kakimu satu inci lagi, Mas Hendra, dan aku jamin tangan putrimu ini tidak akan pernah bisa memegang sendok lagi seumur hidup," potong Tania. Suaranya tidak berteriak, melainkan berupa desisan rendah yang mendominasi seluruh ruangan. Langkah pria itu terhenti seketika, matanya membelalak tak percaya melihat kekuatan tenaga dalam yang dipancarkan wanita bertubuh ramping di depannya.

Tania tersenyum manis, senyum yang mengirimkan rasa dingin ke tulang belakang Hendra. "Oh ya, sebelum amarahmu meledak... waktu Mas Baskoro sedang sibuk mempersiapkan pernikahan kilat kami, aku iseng merapikan ruang kerjanya. Sangat menarik menemukan salinan cetak aliran dana anomali bernilai puluhan miliar dari sub-rekening perusahaan logistik ke sebuah kasino gelap bawah tanah di Makau. Rutin, setiap bulan selama setengah tahun terakhir."

Wajah Hendra yang memerah karena marah seketika berubah seputih kapur. Otot rahangnya menegang kaku.

"Kalau tidak salah, identitas VIP di kasino itu menggunakan nama samaran yang sangat ceroboh. H. Adhitama," lanjut Tania santai, perlahan melonggarkan kunciannya pada tangan Siska yang kini menangis tersedu-sedu di lantai. "Aku belum menyerahkan salinan dokumen itu ke meja kerja Mas Baskoro. Akan sangat memalukan—dan mungkin fatal bagi nyawamu—jika kakakmu tahu adiknya berkomplot untuk merampas harta, bahkan menyingkirkan keponakannya sendiri, demi melunasi hutang mafia judi."

Tania melepaskan Siska sepenuhnya. Gadis manja itu merangkak mundur, berlindung di balik rok ibunya yang kini ikut gemetar ketakutan. Tania merapikan lipatan gaun zamrudnya yang tetap rapi tanpa celah, lalu menatap ketiga manusia licik itu layaknya seorang ratu menatap pemberontak yang kalah perang.

"Mulai detik ini, dinamika di rumah ini berjalan sesuai aturanku," deklarasi Tania tegas. "Aku tidak peduli seberapa busuk ambisi kalian dalam mengejar harta. Tapi camkan ini: jika ada satu saja dari kalian yang berani menyakiti Dea, mengganggunya, atau bahkan menatapnya dengan niat jahat... aku tidak akan sekadar melaporkannya. Aku sendiri yang akan mematahkan tulang kalian satu per satu. Mengerti?"

Ruang keluarga itu senyap. Tidak ada satu pun dari ular-ular itu yang berani mendesis membalas. Mereka baru saja menyadari kenyataan pahit; wanita yang mereka anggap mangsa ini ternyata adalah predator puncak yang jauh lebih berbahaya dari yang bisa mereka bayangkan.

Setelah memastikan pesannya tersampaikan dengan sempurna, Tania berbalik dan melangkah anggun menaiki tangga melingkar, meninggalkan musuh-musuhnya membeku dalam kekalahan telak pertama mereka.

Tiba di lantai dua, Tania memastikan kamar Dea terkunci aman, lalu masuk ke dalam kamar utama yang megah. Ia menghela napas panjang, merilekskan otot-ototnya yang menegang. Menyandang status Nyonya Adhitama ternyata jauh lebih melelahkan daripada berlatih silat seharian. Ia berjalan menuju koper sederhananya yang diletakkan pelayan di sudut ruangan, lalu mengeluarkan sebuah kotak kayu usang—harta karun satu-satunya yang menghubungkannya dengan masa lalu.

Tania duduk di tepi ranjang berkanopi, perlahan membuka kotak itu. Di dalamnya terlipat rapi sebuah selimut bayi berbahan beledu merah marun yang sudah pudar. Di sudut selimut itu terdapat sulaman benang emas yang rumit: sebuah perisai dengan motif bunga mawar hitam yang disilang oleh dua bilah pedang. Selama lebih dari dua puluh tahun, lambang itu adalah satu-satunya petunjuk tentang dari rahim siapa ia dilahirkan dan mengapa ia dibuang di pinggir hutan desa yang sunyi.

Ia bangkit menuju lemari antik dari kayu jati berukir di sudut kamar untuk menyimpan barang-barangnya. Saat ia menarik laci terdalam yang agak macet, matanya tak sengaja terpaku pada sebuah kotak perhiasan beludru tua dan sebuah buku harian bersampul kulit yang tersimpan rapi di baliknya. Berdasarkan inisial yang terukir di sana, itu adalah barang-barang milik mendiang istri pertama Baskoro, ibu kandung Dea, yang belum sempat disingkirkan.

Tania menyentuh buku harian berdebu itu karena penasaran. Namun, saat debunya tersapu, jantung Tania serasa berhenti berdetak. Napasnya tercekat di tenggorokan, dan tubuhnya mendingin.

Di bagian tengah sampul kulit buku harian itu, terdapat pelat kuningan kecil yang menjadi gemboknya. Dan di atas pelat kuningan itu, terukir jelas sebuah lambang. Sebuah perisai. Bunga mawar hitam. Dan pedang yang bersilang.

Lambang yang sama persis tanpa cela dengan yang ada di selimut bayinya.

Tania mencengkeram tepi lemari dengan kuat, pikirannya meledak dalam jutaan asumsi liar. Kebenaran yang dicarinya selama ini ternyata tidak tersebar luas di jalanan ibukota. Rahasia kelahirannya justru tertanam dalam, mengakar di balik dinding-dinding pualam sangkar emas ini. Entah takdir apa yang mempertemukannya dengan Dea, tapi satu hal yang pasti: musuh yang mengincar nyawa anak tirinya itu, mungkin saja memiliki kaitan erat dengan iblis yang telah merenggut kehidupan aslinya puluhan tahun yang lalu. Dan kali ini, Tania tidak akan lari. Ia akan memburu mereka.

1
sunaryati jarum
Mantaaap technologynya
sunaryati jarum
Bermimpilah setinggi langit Baskoro,bilang jatuh nanti langsung remek
sunaryati jarum
Makin penasaran
sunaryati jarum
Perang antara klan
sunaryati jarum
Wonder woman kamu Tania
sunaryati jarum
baru mampir
Icita: Tks KK, semoga betah y.. sehat selalu
total 1 replies
ceuceu
ga kebaca alur ceritanya,ternyata beda dari prediksi pembaca,keren sih
ceuceu
Baru mulai baca.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor
Icita: mkasih kk, sehat selalu..💪💪
total 1 replies
Nica
sangat suka dan luar biasa...lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!