Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.
Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.
Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 5
Keheningan menyergap setiap sudut rumah sederhana berarsitektur lama milik keluarga Adhijaya. Suasana yang biasanya diwarnai tawa lembut Alana saat menyiram tanaman atau dentang sendok dari dapur kini berganti menjadi ruang duka tanpa batas. Kertas-kertas dokumen bekas kebangkrutan masih berserakan di atas meja kerja kayu yang kusam, sementara aroma minyak kayu putih dan obat-obatan medis mendominasi udara di ruang tamu.
Pak Surya Adhijaya duduk lemas di atas kursi rodanya. Tubuhnya yang dulu tegap dan disegani di dunia bisnis kini tampak kurus dan layu. Pandangan matanya yang sayu tertuju lurus pada sebuah bingkai foto berukuran sedang yang terpajang di dinding. Di dalam foto itu, Alana tersenyum manis mengenakan kebaya kelulusan sarjananya—sebuah senyuman tulus yang mungkin tak akan pernah lagi terukir di wajah putri sulungnya itu.
"Uhuk! Uhuk... uhuk!"
Dada Pak Surya naik turun secara tidak teratur. Batuknya yang parah memecah keheningan rumah. Jemari tangannya yang gemetar meremas kuat pinggiran roda kursi, menahan perih di dadanya sekaligus kepedihan mendalam di jiwanya.
Ibu Alana, Nyonya Rahma, bergegas keluar dari arah dapur membawa segelas air hangat dan selembar tisu. Wajah wanita paruh baya itu tampak sembap, mengisyaratkan bahwa ia baru saja menghabiskan waktu menangis di balik pintu dapur.
"Minum dulu, Mas... pelan-pelan," bisik Nyonya Rahma lembut seraya menyodorkan gelas porselen ke bibir suaminya.
Pak Surya meminum air itu sedikit, lalu mengibaskan tangannya pelan, menolak melanjutkan. Matanya kembali menatap foto Alana, lalu beralih menatap telapak tangannya sendiri yang kaku.
"Rahma..." suara Pak Surya terdengar parau dan berat, bergetar menahan tangis yang membendung di tenggorokan. "Aku ini ayah seperti apa? Aku ini kepala keluarga macam apa?"
Nyonya Rahma mengusap air mata yang menetes di pipi suaminya dengan tisu. "Jangan bicara seperti itu, Mas. Ini semua demi menyelamatkan keluarga kita..."
"Persetan dengan kebangkrutan itu, Rahma!" potong Pak Surya dengan nada menyesak, air matanya akhirnya luruh membasahi pipi yang keriput. "Aku menjual putriku sendiri! Aku mengorbankan masa depan Alana, menyerahkan tubuh dan kehormatannya pada pria dingin seperti Kenzo Elard hanya demi melunasi utang-utang perusahaan sialan ini!"
Pak Surya memukul paha kakinya yang lumpuh dengan kepalan tangan, meratapi ketidakpemberdayaannya. "Harusnya perusahaan itu bangkrut saja! Harusnya aku yang masuk penjara! Kenapa harus Alana yang menanggung semua dosaku? Anak gadis kita sekarang hidup bagaikan tawanan di mansion mewah itu... menjadi alat pencetak anak demi dinasti orang kaya!"
Nyonya Rahma memeluk kepala suaminya erat-erat, menyembunyikan tangis histerisnya sendiri di bahu Pak Surya. "Cukup, Mas... cukup. Hati saya juga hancur melihat Alana pergi semalam. Tapi Alana melakukan ini demi kamu, demi kita... Dia anak yang berbakti."
"Juara kelas, lulusan terbaik, bercita-cita tinggi... tapi sekarang impiannya mati di tangan suaminya sendiri," bisik Pak Surya pilu. Rumah yang dulu hangat ini kini terasa begitu hampa dan dingin tanpa kehadiran putri tercintanya.
Brak!
Suara pintu depan yang didorong dengan kasar memecah suasana duka di ruang tamu.
Mutiara, adik perempuan Alana yang masih duduk di bangku kelas 3 SMA, melangkah masuk ke dalam rumah. Seragam sekolahnya sedikit berantakan, dan tas punggungnya dilempar begitu saja ke atas sofa kain di dekat pintu. Wajah gadis remaja itu tertekuk masam, menyisakan kekesalan yang tampak membakar matanya.
Mutiara menatap kedua orang tuanya yang sedang berpelukan sambil menangis di depan foto kakaknya. Bukannya merasa iba, Mutiara justru mendengus sinis.
"Menangis lagi? Meratapi Mbak Alana lagi?" ujar Mutiara dengan nada suara tajam dan jengah.
Nyonya Helena buru-buru menyapu air matanya dan melepaskan pelukannya pada sang suami. Ia menatap putri bungsunya dengan dahi berkerut. "Mutiara... kamu baru pulang sekolah bukannya memberi salam, malah bicara seperti itu."
Mutiara melipat kedua tangannya di dada, melangkah mendekati meja makan dengan raut wajah penuh kekecewaan. "Capek tahu tak, Bu! Dari kemarin malam waktu Mbak Alana pergi, sampai hari ini, isi rumah ini cuma tangisan dan ratapan buat Mbak Alana! Seolah-olah anak Ibu dan Ayah di rumah ini cuma Mbak Alana aja!"
"Mutiara! Jaga bicaramu!" tegur Pak Surya dari kursi rodanya, suaranya terdengar serak namun penuh penekanan. "Kakakmu itu mengorbankan masa depannya demi kamu bisa tetap sekolah, demi rumah ini tidak disita!"
Mutiara terkekeh sinis, menyunggingkan senyum pahit. "Mengorbankan apa, Yah? Mbak Alana itu sekarang tinggal di mansion mewah! Nikah sama Kenzo Elard, CEO kaya raya yang uangnya nggak habis tujuh turunan! Hidupnya sekarang sudah enak, bergelimang harta, naik mobil mewah, gaun pengantinnya aja harganya ratusan juta!"
"Mutiara, kamu tidak mengerti apa-apa!" potong Nyonya Rahma dengan mata memerah. "Mbak Alana di sana berjuang sendirian di antara keluarga kaya yang dingin! Dia mengorbankan perasaannya!"
"Lalu bagaimana dengan Mutiara?" teriak Mutiara, akhirnya menumpahkan kekesalan yang ia pendam seharian di sekolah. Air mata frustrasi mulai menetes di pipinya. "Seharian ini di sekolah, teman-teman Mutiara mengejek Mutiara! Mereka bilang keluarga kita ini penjual anak! Bilang Mbak Alana sengaja dijodohkan demi melunasi utang Ayah yang bangkrut!"
Mutiara menunjuk foto Alana di dinding dengan jari bergetar. "Semua orang di luar sana membicarakan keluarga kita! Tapi sewaktu Mutiara pulang ke rumah butuh penghiburan, butuh ditanya bagaimana hari Mutiara di sekolah... Ayah dan Ibu cuma duduk di sini sambil nangisin Mbak Alana! Ayah dan Ibu pernah nggak sih mikirin perasaan Mutiara sekali saja?"
Suasana ruang tamu seketika mendadak henang dan tegang. Pak Surya dan Nyonya Rahma terpaku mendengar jeritan hati putri bungsu mereka.
"Mutiara..." bisik Nyonya Rahma penuh rasa bersalah, mencoba melangkah mendekati putrinya. "Maafkan Ibu..."
"Nggak usah mendekat, Bu!" Mutiara mundur selangkah, menyapu air matanya dengan kasar. "Mutiara tahu kok, dari dulu Mbak Alana selalu jadi anak kebanggaan. Mbak Alana yang pintar, Mbak Alana yang penurut, Mbak Alana yang selalu dipuji. Sekarang Mbak Alana jadi pahlawan keluarga karena nikah sama orang kaya. Mutiara ini cuma anak bungsu yang selalu dianggap nggak ada!"
"Mutiara, Ayah dan Ibu menyayangi kalian berdua sama besarnya!" tegas Pak Surya dengan dada menegang.
"Bohong!" seru Mutiara lantang. "Kalau Ayah dan Ibu sayang sama Mutiara, Ayah dan Ibu nggak akan membiarkan rumah ini kayak kuburan tiap hari! Mutiara muak hidup di rumah yang isinya cuma penyesalan dan bayang-bayang Mbak Alana!"
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut dari kedua orang tuanya, Mutiara menyambar tas sekolahnya dari sofa, lalu berlari menuju kamarnya di bagian belakang rumah.
PANG!
Pintu kamar Mutiara dibanting keras hingga menggetarkan dinding kayu rumah tersebut. Suara kunci diputar dari dalam terdengar nyaring, disusul keheningan yang kian terasa menyiksa.
Nyonya Rahma terduduk lemas di atas kursi makan, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan menangis sejadi-jadinya. Sementara itu, Pak Surya hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat di atas kursi rodanya. Air matanya mengalir makin deras membasahi pangkuannya.
Kebangkrutan perusahaan dan transaksi pernikahan itu tidak hanya mengambil kebahagiaan putri sulung mereka, tetapi juga mulai meretakkan kehangatan keluarga kecil yang kini tersisa di rumah sederhana tersebut. Di dua tempat yang berbeda—Alana yang terkurung di sangkar emas Mansion Elard, dan keluarganya yang terpuruk dalam kehancuran emosional—kepedihan menyelimuti mereka tanpa ada jalan keluar.
Bersambung....