NovelToon NovelToon
Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikahmuda
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.

​Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34.Aku tidak cemburu

Matahari mulai bergerak condong ke barat, memancarkan sinar keemasan yang hangat menembus kaca-kaca tinggi kediaman Adikara. Suasana rumah yang tenang mendadak riuh oleh deru mesin mobil sport hitam yang berdecit halus di halaman depan. Tak lama kemudian, langkah kaki tegap penuh kepastian bergaung di sepanjang lantai marmer ruang utama.

Kaivan Adikara melangkah masuk dengan setelan jas hitamnya yang masih melekat sempurna. Garis wajahnya tampak lelah setelah seharian memimpin rapat direksi yang menyita energi di kantor. Namun, begitu matanya menangkap sosok Aruna yang sedang duduk tenang di sofa ruang santai lantai dua sambil membaca sebuah buku tua, keletihan di wajah pria tegap itu menguap begitu saja.

Aruna yang mendengar suara langkah kaki refleks menoleh. Matanya berbinar tipis ketika melihat sang presdir sudah kembali ke rumah sebelum hari gelap.

"Pak Kaivan... sudah pulang?" sapa Aruna pelan seraya menutup bukunya.

Kaivan berdehem kencang—kembali memasang raut wajah datar dan gengsi tingginya. Ehem. Pria itu melangkah mendekati meja kaca di depan sofa, lalu meletakkan sebuah kantong kertas (paper bag) eksklusif berwarna hitam dengan logo brand teknologi papan atas yang berkilau emas.

"Iya," sahut Kaivan singkat. Tangannya terulur mengeluarkan sebuah kotak persegi dari dalam kantong kertas tersebut dan mendorongnya pelan ke hadapan Aruna. "Ini untukmu."

Aruna menatap kotak elegan di atas meja dengan dahi berkerut halus. "Ini... apa, Pak?"

"Buka saja," cetus Kaivan seraya melonggarkan ikatan dasinya dan mendudukkan diri di sofa tunggal sebelah Aruna, menyilangkan kakinya yang panjang secara anggun.

Aruna meraih kotak tersebut dengan hati-hati. Jemari tangannya yang masih terbebat perban tipis membuka tutup kotak berbahan matte premium itu. Di dalamnya, terbaring sebuah ponsel pintar keluaran terbaru dengan desain sangat elegan berwarna rose gold. Permukaan kaca dan bodinya begitu berkilau, memantulkan bayangan wajah Aruna yang tercengang.

"P-Ponsel baru...?" cicit Aruna kaget. Gadis itu buru-buru mendorong kotak itu kembali ke tengah meja. "Pak Kaivan, ini terlalu mahal. Saya tidak bisa menerimanya. Ponsel lama saya masih bisa dipakai..."

"Ponsel lamamu itu sudah retak layarnya dan baterainya sering drop," potong Kaivan cepat dengan nada membantah yang tak bisa diganggu gugat. Pria itu menyipitkan matanya. "Lagipula, aku tidak membuang ponsel lamamu. Ponsel lamamu tetap simpan saja kalau kau punya dokumen atau foto penting di sana. Ponsel baru ini khusus untuk komunikasi sehari-hari—terutama agar kau bisa dihubungi kapan saja kalau ada apa-apa di rumah ini."

Aruna menggigit bibir bawahnya ragu. "Tapi, Pak—"

"Tidak ada tapi-tapi, Aruna," sela Kaivan tegas, namun tatapan matanya melunak ketika melihat kecanggungan Aruna. "Kemarikan ponsel lamamu. Biar aku bantu pindahkan Kartu SIM-nya ke ponsel baru ini. Tanganmu kan masih terbebat perban, nanti makin sakit kalau memegang pembuka tempat SIM (SIM ejector) yang kecil itu."

Mendengar perhatian terselubung di balik kalimat ketus Kaivan, Aruna menelan kembali penolakannya. Gadis itu merogoh saku rok panjangnya dan mengeluarkan sebuah ponsel lama yang layarnya memang sudah penuh dengan guratan retak halus.

"Ini, Pak..." Aruna menyerahkan ponsel lamanya dengan patuh.

Kaivan menerima ponsel lama Aruna. Saat jemari mereka berpapasan secara tidak sengaja, rasa hangat tersetrum halus kembali menyengat dada mereka masing-masing, membuat Kaivan sempat tertegun sejenak sebelum berdehem kaku.

Ehem!

Kaivan mengambil alat SIM ejector kecil dari kotak ponsel baru. Pria bernilai triliunan rupiah itu kini duduk agak membungkuk, dengan sangat teliti dan hati-hati menusuk lubang kecil di samping ponsel lama Aruna untuk mengeluarkan tempat kartu SIM. Gerakannya begitu serius, seolah-olah ia sedang membedah dokumen penting perusahaan.

Aruna memperhatikan setiap inci garis rahang tegap Kaivan dari samping. Ada rasa hangat yang membuncah di dalam dadanya melihat bagaimana pria sesempurna dan seangkuh Kaivan rela duduk di sampingnya, sibuk berkutat memindahkan kartu SIM untuk seorang gadis biasa sepertinya.

Klek.

Wadah kartu SIM berhasil terbuka. Kaivan mengambil kartu mikro tersebut dengan jemari besarnya yang panjang dan rapi, lalu memasukkannya ke dalam wadah ponsel baru rose gold milik Aruna.

Namun, tepat pada detik saat kartu SIM tersebut terpasang kencang dan tersambung ke jaringan seluler di ponsel baru...

Bzzzz... Bzzzz... Bzzzz...

Ponsel baru yang masih dipegang oleh Kaivan mendadak bergetar hebat. Layar indahnya menyala terang, menampilkan sebuah nama kontak yang tersimpan dengan sangat jelas di layarnya:

[Mas Bagas]

Suara nada dering lembut bergema mendobrak keheningan ruang santai itu.

Seketika itu juga, pergerakan jemari Kaivan membeku total.

Manik mata hitam Kaivan mengunci nama [Mas Bagas] yang berkedip-kedip di layar ponsel baru Aruna. Dalam sekejap mata, kehangatan yang baru saja menyelimuti wajah Kaivan menguap tanpa sisa, berganti dengan hawa dingin yang mencekik dan aura kegelapan yang mendadak pekat.

Panggilan dari Bagas—lelaki barista yang kemarin sempat berseteru sengit dengannya di kafe. Pria yang dengan berani menentangnya demi membela Aruna. Dan yang paling menyengat ulu hati Kaivan adalah sebutan panggilan di layar itu: MAS.

Aruna yang melihat nama di layar ponselnya seketika ikut menahan napas. Rasa canggung dan cemas mendadak menyergapnya ketika teringat perselisihan memanas antara Kaivan dan Bagas kemarin.

"P-Pak Kaivan... itu telepon untuk saya," bisik Aruna pelan, mengulurkan tangannya ragu untuk mengambil ponsel tersebut.

Namun Kaivan tidak langsung menyerahkannya. Pria itu menatap Aruna dengan pandangan tajam yang menghunus, rahangnya mengetat keras hingga otot-otot di sekitar lehernya menegang. Tatapan matanya sarat akan rasa cemburu dan amarah yang membara, meski gengsi tingginya berusaha mati-matian menahannya untuk tidak meledak.

"Siapa ini?" tanya Kaivan dengan suara bariton yang mendadak sangat dingin dan berbobot berat.

"I-itu... Mas Bagas, Pak," sahut Aruna jujur, suaranya agak gemetar.

"Mas Bagas?" ulak Kaivan, menekankan kata 'Mas' dengan nada sangat tidak bersahabat dan penuh rasa sarkasme. "Kenapa kau memanggil lelaki barista itu dengan sebutan 'Mas'?"

"K-karena dia senior saya di kafe, Pak... Usianya juga lebih tua dari saya," jawab Aruna berusaha menjelaskan.

Kaivan menatap Aruna beberapa detik lagi sebelum akhirnya menggeser tombol hijau di layar ponsel baru itu dan menyerahkannya pada Aruna dengan gerakan agak kaku dan keras.

"Angkat," perintah Kaivan dingin, lalu menyandarkan tubuhnya di sofa. Bukannya memberikan ruang privasi untuk Aruna menerima telepon, Kaivan justru tetap duduk kaku di samping Aruna, melipat kedua tangannya di dada dan menatap Aruna tanpa kedip—siap mendengarkan setiap patah kata yang meluncur dari mulut gadis itu.

Aruna mendekatkan ponsel baru yang harum aroma toko itu ke telinganya dengan canggung. "A-halo... Mas Bagas?"

Di ujung telepon, suara bariton Bagas terdengar penuh cemas dan panik. "Halo, Aruna?! Ya Tuhan, akhirnya nomor kamu aktif! Kamu tidak apa-apa kan, Na? Mas khawatir setengah mati dari kemarin!"

Mendengar nada suara Bagas yang begitu panik, napas Kaivan di sebelah Aruna mendadak memburu kencang. Pria angkuh itu menyipitkan matanya tajam.

"Jawab Mas, Na! Lelaki sombong itu tidak menyakitimu lagi kan?" cecar Bagas di ujung telepon, mengingat perselisihan sengit mereka kemarin saat Kaivan memaksakan kehendaknya. "Mas tahu kamu tidak bebas di sana dan ditahan oleh dia! Kalau kamu butuh bantuan atau mau keluar dari rumah itu, bilang ke Mas sekarang. Mas bakal jemput kamu!"

Mendengar ketakutan Bagas bahwa Aruna ditahan di rumah ini, Aruna refleks melirik Kaivan yang tatapannya makin menyalang tajam. Niat Aruna hanya ingin menenangkan Bagas agar tidak nekat membuat keributan lagi dengan Kaivan.

"Mas Bagas, tenang dulu..." jawab Aruna lembut, mencoba menjelaskan dengan santai agar suasana tidak makin keruh. "Aruna baik-baik saja kok. Aruna tidak ditahan atau diapakan di sini. Tolong jangan cemas, ya... Tangan Aruna juga sudah diobati."

"Mana bisa Mas tenang, Na?!" sergah Bagas emosi. "Kemarin kamu lihat sendiri kan bagaimana dia bersikap arogan pada kamu dan Mas? Mas tahu kamu cuma kepaksa berada di sana karena ditahan sama dia!"

Aruna menghela napas halus, terkekeh pelan untuk mencairkan suasana gelisah rekan kerjanya itu. "Beneran, Mas Bagas... Pak Kaivan tidak sejahat itu kok. Aruna di sini aman. Salam buat teman-teman di kafe ya..."

TAK!

Suara pegangan sofa kayu yang dicengkeram kencang oleh Kaivan berbunyi nyaring.

Kaivan sudah berada di puncaknya. Mendengar lelaki barista itu menuduhnya menahan Aruna, ditambah lagi Aruna berkali-kali menyebut kata 'Mas Bagas' dengan nada lembut dan terkekeh santai di depan matanya sendiri, membuat akal sehat sang presdir runtuh seketika.

Rasa cemburu membakar seluruh gengsi Kaivan. Pria yang dulu secara tegas menolak dipanggil 'Mas' dan memaksanya memanggil 'Pak', kini justru terbakar cemburu hanya karena Aruna menyapa lelaki lain dengan sebutan yang pernah ia tolak mentah-mentah itu.

Tanpa peringatan, Kaivan meraih ponsel baru dari genggaman Aruna dengan gerakan kilat!

"Eh! Pak Kaivan!" Aruna tersentak kaget.

Kaivan langsung mendekatkan ponsel itu ke telinganya sendiri. Wajahnya sangat dingin, mata hitamnya berkilat penuh intimidasi seolah Bagas berdiri di hadapannya saat ini.

"Dengar, Lelaki Barista," cetus Kaivan dengan suara bariton yang sangat berat, dingin, dan menekan. "Aruna berada di rumahku atas keinginanku dan dia sama sekali tidak butuh pahlawan kesiangan sepertimu. Jangan pernah berani memanggil atau mengganggu waktunya lagi dengan tuduhan konyolmu ini."

Di ujung telepon, Bagas kaget luar biasa sekaligus emosi. "Kau! Kau Kaivan kan?! Jangan macam-macam pada Aruna—"

TUT.

Tanpa menunggu balasan, Kaivan mematikan panggilan secara sepihak! Pria itu lalu dengan cepat mematikan suara (mute) ponsel baru milik Aruna dan melemparkannya agak keras ke atas busa sofa di sampingnya.

Keheningan yang amat tegang dan mencekik seketika melanda ruang santai lantai dua tersebut.

Aruna membelalakkan matanya tidak percaya, memandangi Kaivan yang napasnya tampak naik-turun menahan amarah dan cemburu yang luar biasa.

"Pak Kaivan... kenapa Bapak mematikan teleponnya?" tanya Aruna dengan nada bingung. "Mas Bagas itu cuma cemas karena kejadian kemarin—"

"Aku tidak peduli!" potong Kaivan dengan suara agak tinggi. Pria tegap itu berdiri kencang dari sofanya, menatap Aruna dengan mata yang agak memerah karena menahan gejolak emosi di dadanya. "Dia itu cuma lelaki barista di kafemu! Untuk apa dia mencampuri urusan rumah tanggaku dan menuduhku menahanmu di sini, hm?"

Aruna tertegun. "Mas Bagas cuma teman kerja yang cemas, Pak..."

"Tetap saja dia pria lain yang lancang!" bentak Kaivan kaku, tangannya terkepal di samping tubuh. Pria angkuh itu melangkah satu langkah maju mendekati Aruna, menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan wajah Aruna. "Kau... kenapa kau memanggil lelaki barista itu 'Mas', sedangkan padaku kau memanggil 'Pak'?"

Aruna mengedipkan matanya polos, teringat masa lalu di antara mereka. "Kan... Pak Kaivan sendiri yang dulu minta dipanggil 'Pak' dan menolak dipanggil 'Mas'..."

Kalimat polos Aruna bagai anak panah yang menancap tepat di ulu hati Kaivan.

Kaivan membeku seketika. Mengingat kenyataan bahwa dirinya sendiri yang dulu mematok tembok batas itu dengan keangkuhannya, membuat pria tegap itu mendadak kehilangan kata-kata. Lidahnya kelu, dan wajahnya mulai menyerap rona hangat.

Aruna tidak lagi mendebat. Gadis itu hanya menatap Kaivan diam-diam dengan sudut bibir yang perlahan terangkat tipis—sebuah senyuman kecil, lembut, dan penuh pemahaman yang tak terucapkan.

Namun bagi Kaivan, senyuman tipis Aruna itu seolah-olah sedang menghakimi dan menuduhnya terang-terangan.

Melihat gurat senyum di bibir Aruna, Kaivan tersentak mundur satu langkah. Pria itu menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan jemari yang gemetar kaku, memasang pertahanan diri dengan mengklarifikasi keadaannya secara menggebu-gebu.

"Jangan tersenyum seperti itu! Aku tidak cemburu!" cetus Kaivan mendadak melayangkan klarifikasi kaku, suaranya meninggi terbata-bata seolah berusaha membela diri dari tuduhan yang bahkan tidak diucapkan Aruna. "Kau jangan kepercayaandiri dulu! Aku... aku sama sekali tidak cemburu pada lelaki barista itu! Aku cuma tidak suka ada orang luar yang menuduhku sembarangan di rumahku sendiri! Mana mungkin seorang Kaivan Adikara cemburu?! Absurd!"

Aruna tetap tidak membalas. Ia menyembunyikan senyumannya lebih dalam, menundukkan kepala kaku.

"Sudahlah! Pokoknya ponsel itu sudah kuatur!" cetus Kaivan panik, berbalik membelakangi Aruna untuk menyembunyikan wajahnya yang kini sudah merah padam sempurna hingga ke leher dan daun telinga.

Kaivan melangkah cepat dan kaku menuju arah kamarnya di ujung lorong. Namun, karena rasa malu dan pikiran yang kalut akibat klarifikasi konyolnya sendiri, langkah kaki sang presdir kembali tidak fokus.

BRAK!

Bahu tegap Kaivan menghantam pinggiran kusen pintu kamarnya sendiri cukup keras.

"Aww..." Kaivan meringis pelan, mengusap bahunya seraya memejamkan mata kencang-kencang.

Tanpa berani menoleh lagi ke belakang karena gengsinya sudah hancur berkeping-keping malam ini, Kaivan dengan panik memutar gagang pintu, masuk ke dalam kamarnya, dan menutup pintu itu rapat-rapat.

Di luar lorong, Aruna memandangi pintu kamar Kaivan yang tertutup. Gadis itu meraih ponsel baru berwarna rose gold di atas sofa, lalu memeluk ponsel tersebut di dada. Sebuah senyuman paling hangat dan rasa manis yang luar biasa mekar sempurna di dalam hatinya—menyadari bahwa di balik topeng dingin dan angkuh sang Presdir Adikara, ada sosok pria yang sedang jatuh cinta setengah mati padanya.

_Bersambung

1
Diki Nd
👍👍👍👍
Diki Nd
💪💪💪
dinda aja
sukaaa lanjutkan yahhh
dinda aja
🤭🤭🤭🤭
Pendi Gudung
lanjuttt min
Fadillah Langsa
lanjut napa kak
Ijal Messi
ngakak 🤭🤭
Ijal Messi
lanjuttt
Ijal Messi
🤣🤣🤣
li za
mana kelanjutan nya min
Lenovo A
lanjuttt
Bambang Suanto
duhhh ngakak keciduk
Bambang Suanto
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bambang Suanto
sedihh
Industri Kreatif
asli seruuu
sosa
Seruu parah
sosa
Sukaa
Rian Moontero
lanjooott👍👍
Isannn
😍😍😍
Alle Salsa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!