Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUKIT YANG MEMISAHKAN - KELAS TIGA YANG DIJANJIKAN
Ruang Kepala Sekolah SMP Negeri Pande Sikek pada pagi itu tidak lagi seperti ruang ujian yang tegang seminggu yang lalu. Bau minyak tanah dari lampu petromaks sudah hilang, diganti dengan bau kapur tulis dan bau kayu surian tua yang lembab. Di luar jendela kayu yang catnya mengelupas, hujan rintik-rintik turun membasahi lapangan tanah yang becek, membuat suara berisik di atas atap seng.
Di dalam ruangan itu hanya ada dua orang. Bapak Drs. Syafrianto, Kepala Sekolah yang peci beludrunya sudah sedikit miring karena terlalu lama berpikir, duduk di kursi besarnya. Di depannya, di kursi kayu kecil yang kakinya berderit, duduk Arya Arsyad Sikumbang. Anak 10 tahun itu masih dengan tas karung goni yang berat berisi buku-buku SMA Kelas 12 pinjaman, sepatu Bata barunya yang mengkilap masih basah karena hujan.
Seminggu yang lalu, di ruangan ini juga, Arya telah menolak tawaran emas untuk masuk Kelas VII Unggulan. Ia hanya minta buku. Permintaannya dikabulkan. Semua guru mengira cerita itu selesai. Arya akan tetap duduk di Kelas VII biasa bersama kakak kandungnya Arlan Rasyad Sikumbang dan sepupunya Darlin Aminuddin Chaniago, sambil belajar buku SMA pelan-pelan di bawah lampu petromaks.
Tapi Kepala Sekolah tidak bisa tidur nyenyak seminggu ini.
Setiap malam, ia melihat lembar jawaban Arya yang nilainya 78 untuk soal Kelas 10 dan 11 SMA itu tergeletak di atas meja kerjanya. Ia berpikir, anak dengan otak seperti ini, kalau dibiarkan duduk dua tahun di Kelas VII dan VIII dengan materi yang sudah ia kuasai bahkan sampai tingkat SMA, itu bukan rendah hati lagi, itu menyia-nyiakan anugerah Allah. Itu seperti menyuruh kerbau yang sudah bisa membajak sawah luas disuruh hanya menginjak-injak lumpur di pematang kecil.
Maka pagi itu, ia memanggil Arya lagi. Bukan untuk menguji, tapi untuk membujuk.
"Arya," kata Bapak Syafrianto dengan suara yang jauh lebih pelan dan kebapakan daripada seminggu yang lalu, tidak lagi tegas seperti guru Fisika. "Bapak sudah kabulkan permintaanmu minggu lalu. Kamu tetap di Kelas VII biasa, perpustakaan terbuka untukmu. Bapak tepati janji. Sekarang, Bapak mau minta sesuatu juga dari kamu. Boleh?"
Arya mengangguk pelan, tangannya meremas ujung tas karung goninya.
"Anakku," lanjut Kepala Sekolah, sambil membuka sebuah map berisi daftar nilai. "Minggu lalu kamu menolak Kelas VII Unggulan karena kamu tidak mau berpisah dengan kakakmu Arlan dan sepupumu Darlin. Bapak sangat hormat dengan alasanmu itu. Itu alasan seorang anak Minang sejati, dunsanak dijaga. Tapi Arya, Bapak harus jujur. Materi Kelas VII dan VIII itu, jujur saja, sudah tidak ada lagi yang bisa Bapak ajarkan kepadamu yang belum kamu tahu. Kamu sudah belajar Stoikiometri dengan kakakmu Andi Rajo Alam pakai butir cengkeh di atas tikar pandan, kamu sudah belajar Hukum Kekekalan Energi pakai gerobak ayahmu."
"Bapak tidak akan memindahkanmu sekarang. Bapak janji. Tahun ini, tahun ajaran 1975 ini, kamu tetap di Kelas VII bersama Arlan dan Darlin. Tapi untuk tahun ajaran depan, tahun 1976, Bapak mohon... Bapak bujuk kamu dengan sangat... untuk naik langsung ke Kelas Tiga, Kelas IX. Enam bulan lagi."
Seketika, wajah Arya yang tadinya tenang berubah tegang. Matanya yang biasanya berbinar saat melihat rumus, kini berkaca-kaca.
Awalnya, Arya Arsyad Sikumbang yang tidak mau berpisah dengan kakak laki-laki keduanya Arlan Rasyad Sikumbang dan sepupunya Darlin Aminuddin Chaniago itu langsung menggelengkan kepala dengan keras.
"Jangan, Pak... jangan, Pak," bisik Arya dengan suara hampir menangis, suaranya kecil seperti anak 10 tahun yang sebenarnya. "Ambo indak bisa pisah jo Kak Arlan jo Darlin, Pak. Kami satu rumah, satu ayah, satu ibu, satu sawah, satu lampu petromaks. Kami dari SD Inpres Pande Sikek sama-sama ranking satu dan dua sekecamatan Desember kemarin. Kami janji mau sama-sama naik Kelas Dua enam bulan lagi. Kalau ambo ka Kelas Tiga, berarti ambo maninggakan mereka di Kelas Dua. Ambo indak sanggup, Pak."
Ia teringat setiap malam di bawah petromaks. Arlan yang tekun selalu menuliskan kembali rumus dengan tulisan rapi di kertas karbon bekas agar ia tidak lupa. Darlin Aminuddin Chaniago, sepupunya yang 10 tahun SD Kelas 4 yang juga sering ikut belajar di tikar pandan itu, yang selalu membawakannya air minum dari tempayan saat ia kehausan setelah latihan guci besi berminyak. Bagaimana mungkin ia meninggalkan mereka?
Kepala Sekolah Drs. Syafrianto sudah menduga jawaban ini. Ia tersenyum tipis, bukan senyum mengejek, tapi senyum seorang ayah yang sudah menyiapkan jawaban.
"Bapak tahu, Nak. Bapak tahu kamu tidak mau pisah dengan Arlan dan Darlin. Karena itu, Bapak tidak akan membiarkan kamu sendirian di Kelas Tiga nanti," kata Kepala Sekolah sambil berdiri dan berjalan ke pintu ruangan.
Ia membuka pintu kayu yang berderit itu. Di luar, di selasar yang dingin dan basah karena hujan, sudah berdiri dua orang anak laki-laki yang lebih besar.
Yang pertama adalah Ibrahim Sulaiman Chaniago, anak kandung Mamak Usman Bin Rauf Sikumbang dan Rismawati Chaniago, sepupu Arya yang berusia 13 tahun, SMP Kelas 1. Badannya tegap, hasil dari latihan terompah kayu di lereng bawah Pos Satu setiap sore. Yang kedua adalah Faizal Tanjuang, teman dekat Ibrahim, anak dari tetangga sebelah kebun cengkeh, yang juga dikenal pandai dan pemberani, usianya 14 tahun, SMP Kelas 2.
"Ibrahim, Faizal, masuklah," panggil Kepala Sekolah.
Kedua anak itu masuk dengan langkah agak canggung karena dipanggil ke ruang Kepala Sekolah yang terkenal angker itu. Mereka duduk di sebelah Arya.
Kepala Sekolah pun menjelaskan rencana rahasianya. Rencana yang sudah ia pikirkan seminggu penuh sambil menatap lembar jawaban Arya.
"Arya, Bapak tahu kamu sayang pada Arlan dan Darlin. Mereka akan naik ke Kelas Dua enam bulan lagi, Kelas VIII. Itu jalan mereka, pelan dan tekun seperti ayahmu Abdullah Bin Rais Payobadar mencangkul sawah. Tapi jalanmu berbeda, Nak. Kamu harus lebih cepat, bukan karena kamu sombong, tapi karena otakmu memang sudah di depan."
"Supaya kamu tidak merasa sendirian dan tidak takut di Kelas Tiga nanti yang isinya kakak-kakak besar berumur 14-15 tahun, Bapak sudah minta tolong kepada dua kakak sepupumu yang lain ini."
Ia menatap Ibrahim dan Faizal.
"Ibrahim Sulaiman Chaniago, kamu kan tahun ini Kelas VII juga, tapi umurmu sudah 13 tahun dan kamu paling kuat di antara anak-anak Pos Satu. Faizal Tanjuang, kamu Kelas VIII, kamu paling disegani karena jujur dan pandai. Bapak minta kalian berdua, untuk tahun ajaran depan 1976, mendampingi Arya Arsyad Sikumbang duduk di Kelas Tiga, Kelas IX."
Ibrahim dan Faizal saling pandang, lalu mengangguk mantap.
"Siap, Pak," kata Ibrahim dengan logat Minang yang tegas. "Arya itu adik sepupu ambo, darah Sikumbang juo. Kalau dia ka Kelas IX, ambo akan ikut jo dia. Ambo akan jaga dia di kelas, jangan sampai ada yang mengganggu atau mengejek karena umurnya masih 11 tahun nanti. Ambo akan duduk sebangku dengan dia."
Faizal Tanjuang yang lebih tua menambahkan, "Betul, Pak. Saya di Kelas VIII sekarang, enam bulan lagi memang seharusnya naik ke Kelas IX juga. Jadi sekalian saja, Pak. Saya akan jadi abang di Kelas IX untuk Arya. Kalau ada pelajaran yang Arya belum paham karena loncat, saya yang akan ajarkan lagi pelan-pelan di perpustakaan, seperti Andi Rajo Alam mengajari dia pakai lidi dan cengkeh di rumah."
Mendengar itu, tangis Arya yang hampir pecah tadi tertahan.
Ia menatap Ibrahim, sepupunya yang setiap sore berlari bersamanya di pematang sawah pusako yang licin, yang juga pernah jatuh ke lumpur bersama. Ia menatap Faizal, abang yang sering memberinya pisang rebus dari kebunnya saat ia kelelahan setelah latihan guci besi berminyak.
Kepala Sekolah melanjutkan bujukannya dengan pelan.
"Lihat, Ya. Kamu tidak sendirian. Kalau kamu tetap di Kelas VII terus, Arlan dan Darlin akan senang, tapi kamu akan bosan dan ilmumu tidak berkembang. Kalau kamu ke Kelas IX tahun depan, kamu memang harus berpisah dengan Arlan dan Darlin yang akan naik ke Kelas Dua. Itu berat, Bapak tahu. Perpisahan itu memang seperti memisahkan padi yang sudah ditanam bersama. Tapi kamu tidak pisah sendiri. Ada Ibrahim dan Faizal yang akan jadi kakakmu di Kelas Tiga. Mereka yang akan mendampingi kamu, menjaga kamu, belajar bersama kamu di bangku Kelas IX nanti. Mereka adalah jembatanmu."
Arya terdiam lama. Hujan di luar masih rintik-rintik. Suara tetesan air dari atap seng jatuh ke ember di selasar terdengar jelas, tik... tik... tik... seperti ketukan pahat ayahnya.
Di kepalanya, ia memutar semua kejadian. Ia ingat perintah Mamak Usman Bin Rauf Sikumbang di balik kebun cengkeh: lari 5x putaran pematang, angkat guci besi berminyak, manjalo kaki sampai lutut cium tanah. Semua itu diajarkan agar ia kuat sendirian. Ia ingat malam-malam di bawah lampu petromaks yang mendesis, di atas tikar pandan, di mana Andi Rajo Alam yang 17 tahun mengajarinya rumus SMA pakai lidi dan butir cengkeh, dan Arlan yang 12 tahun menuliskan ulang dengan rapi. Ia ingat pelukan ayahnya Abdullah yang berlumpur saat ia ranking satu sekecamatan.
Ia sadar, selama ini ia memang tidak pernah sendirian. Selalu ada yang mendampingi. Sore ditempa Mamak Usman sendirian, malam ditemani Andi dan Arlan bersama-sama.
Dan kini, untuk langkah besar berikutnya, ia juga tidak akan sendirian.
Akhirnya, karena ada Ibrahim Sulaiman Chaniago dan Faizal Tanjuang yang berjanji akan mendampingi dan menjaga, Arya Arsyad Sikumbang pun mau. Hatinya yang tadinya keras menolak karena tidak mau berpisah dengan kakak laki-laki kandung keduanya Arlan Rasyad Sikumbang dan kakak laki-laki sepupunya yang lain Darlin Aminuddin Chaniago, yang akan naik ke Kelas Dua enam bulan lagi, kini luluh.
Dengan suara pelan namun mantap, sambil mengusap air mata di ujung matanya dengan punggung tangan yang masih kapalan karena guci besi, Arya berkata.
"Kalau begitu... kalau ada Kak Ibrahim dan Kak Faizal yang mau duduk dengan ambo di Kelas Tiga, ambo mau, Pak. Ambo mau berpisah dengan Kak Arlan dan Darlin untuk tahun depan. Tapi janji, Pak, enam bulan ini biarkan ambo tetap di Kelas VII bersama mereka dulu. Biarkan kami merasakan naik ke Kelas Dua bersama-sama dulu di rapot nanti, baru tahun ajaran depan ambo pindah ke Kelas Tiga. Boleh, Pak?"
Bapak Drs. Syafrianto yang matanya juga sudah berkaca-kaca karena haru, langsung berdiri dan memeluk ketiga anak itu sekaligus, Arya yang 10 tahun, Ibrahim yang 13 tahun, dan Faizal yang 14 tahun.
"Boleh, Nak. Boleh. Bapak janji. Enam bulan lagi, kamu, Ibrahim dan Faizal akan duduk di Kelas IX bersama-sama. Dan Arlan dan Darlin akan naik ke Kelas VIII dengan bangga, karena adik dan sepupu mereka sudah di depan mereka, membuka jalan."
Hari itu, hujan masih rintik-rintik ketika Arya keluar dari ruang Kepala Sekolah. Tapi di hatinya, matahari sudah terbit. Ia tidak lagi takut berpisah dengan Arlan dan Darlin, karena ia tahu perpisahan itu bukan akhir, melainkan hanya naik satu pematang sawah yang lebih tinggi. Dan di pematang yang lebih tinggi itu, sudah ada Ibrahim dan Faizal yang menunggu dan mengulurkan tangan untuk menariknya naik.
Di bawah, di sawah pusako yang menguning, ayahnya Abdullah Bin Rais Payobadar yang baru pulang dari kebun cengkeh dengan caping di kepala, melihat ketiga anak itu berjalan beriringan di jalan setapak yang becek, dan ia tersenyum. Ia tahu, padi yang ditanam bersama tidak harus dipanen bersamaan. Ada yang harus dipanen lebih dulu untuk menjadi benih bagi yang lain.