"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Perjalanan kembali menuju Mojokerto ditempuh dalam keheningan yang pekat. Mobil sedan hitam itu membelah kawasan pegunungan Pacet yang kian menusuk. Pohon-pohon pinus berdiri jangkung di kanan kiri jalan, diselimuti kabut tebal yang tak kunjung terangkat meski waktu sudah menunjuk pukul sebelas siang.
Begitu kendaraan berhenti di pelataran ndalem utama Pesantren Al-Anwar, suasana terasa amat mencengkeram. Tidak ada senyum santri yang biasanya menyapa ketibaan mobil Reyhan. Beberapa ustadzah yang melintas di koridor madrasah hanya menunduk singkat tanpa menghentikan langkah.
Reyhan turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Rani, lalu membawakan koper kain lusuh milik perempuan itu.
"Langsung ke ndalem barat saja, Gus?" bisik Rani, tubuhnya agak menggigil terkena terpaan angin dingin pegunungan.
"Tidak. Kita sowan ke Abi dan Umi dulu di ndalem utama," jawab Reyhan mantap, walau di dalam dadanya jantungnya berdegup tak beraturan.
Mereka melangkah menaiki tangga teras ndalem utama. Di ruang tamu berukiran Jepara yang megah, Kyai Ahmad sedang duduk membaca kitab gundul, sementara Bu Nyai Khadijah merajut taplak meja di sudut sofa. Kehadiran Reyhan dan Rani membuat gerakan tangan kedua orang tua itu terhenti seketika.
Bu Nyai Khadijah meletakkan rajutannya. Pandangannya yang biasa hangat kini berubah begitu dingin dan asing saat tertuju pada Rani. Sementara Kyai Ahmad melepas kacamata bacanya dengan gerakan sangat pelan.
"Assalamu’alaikum, Abi, Umi..." Reyhan mengucap salam seraya menundukkan kepala dalam-dalam. Rani di belakangnya ikut menunduk rapat, tak berani menatap lantai yang di pijaknya.
"Wa’alaikumsalam," sahut Kyai Ahmad. Suaranya berat dan bergema di ruangan yang luas itu. "Sudah kamu jemput, Reyhan?"
"Injih, Abi. Rani pun kulo ajak wangsul," jawab Reyhan dengan bahasa krama halus.
Kyai Ahmad menatap putranya, lalu beralih pada Rani. "Bagus kalau kamu sudah sadar akan tanggung jawabmu. Karena kamu yang memilih jalan ini, maka kamu harus menanggung konsekuensinya sampai tuntas."
Rani mengangguk cepat. "Injih, Kyai... nyuwun pangapunten atas sedaya kalepatan kulo..."
"Tidak perlu meminta maaf padaku," potong Bu Nyai Khadijah tiba-tiba. Suaranya halus, namun kandungan rasa kecewa di dalamnya begitu pekat hingga sanggup mengiris hati siapa saja yang mendengarnya. "Minta maaflah pada dirimu sendiri dan pada Gusti Allah. Karena akibat perbuatan kalian berdua, kita semua kehilangan permata terbaik yang pernah dimiliki pesantren ini."
Kata-kata Bu Nyai membuat suasana ruangan mendadak membeku. Naya—nama yang tidak diucapkan secara eksplisit itu—kembali hadir bagai bayangan tak kasat mata yang menghimpit dada Reyhan. Pria itu meremas jemarinya sendiri, tak sanggup membalas tatapan ibunya.
"Segera urus berkas pernikahan kalian ke KUA kecamatan," pangkas Kyai Ahmad tegas, tidak ingin memperpanjang ketegangan. "Abi tidak mau ada status siri yang menggantung di lembaga ini. Minggu depan, pernikahan kalian harus tercatat secara sah oleh negara. Sekarang, bawa Rani ke ndalem barat."
"Injih, Abi. Maturnuwun," bisik Reyhan seraya memohon pamit.
**
Pintu kayu jati berukir di ndalem barat berderit halus saat terdorong. Reyhan melangkah masuk lebih dulu. Tangan kanannya menjinjing koper kusam milik Rani, sementara jemari kirinya memegang erat gagang pintu. Di belakangnya, Rani mengekor dengan langkah pelan.
"Kemasi barang-barangmu, Rani. Kamu tidur di kamar utama," ujar Reyhan, suaranya terdengar begitu datar, tanpa intonasi gembira dari seorang suami yang baru kembali membawa istrinya pulang.
Rani menghentikan langkah tepat di ambang pintu kamar. Wajah polosnya terangkat, menatap punggung Reyhan yang membelakanginya.
"Kamar utama, Gus?"
"Iya," sahut Reyhan singkat. Ia menghembuskan napas panjang, merapikan lipatan koko biru laut yang dikenakannya. "Kamu beristirahatlah dulu, bersihkan badan. Saya masih ada keperluan yang harus diselesaikan."
"Mau ke mana, Gus?" tanya Rani halus, nada suaranya mengatup rapuh dengan tatapan mengiba yang biasa ia tunjukkan.
"Ke ndalem utama. Ada hal penting yang perlu saya bicarakan dengan Abi," jawab Reyhan tanpa berbalik.
Rani menunduk pelan, meremas jemarinya sendiri di depan gamis abu-abunya. "Inggih, Gus..."
Reyhan melangkah keluar dari ndalem barat tanpa membuang waktu. Langkah kakinya membawa pria dua puluh tujuh tahun itu menyeberangi pelataran berbatu kembali menuju ndalem utama—rumah besar tempat kedua orang tuanya tinggal.
Namun, begitu ujung teras kayu ndalem utama terpijak dan jarinya baru hendak mendorong daun pintu yang sedikit terbuka, gerakan Reyhan terhenti seketika. Suara percakapan dari ruang tamu dalam terdengar mengalun lembut, memecah kesunyian rumah besar tersebut.
"Naya tadi suara teleponnya terdengar tenang sekali, Bi... Tapi justru itu yang bikin dada Ummi rasanya makin sesak," tutur Bu Nyai Khadijah. Suaranya bergetar menahan keharuan yang mendalam.
"Sabar, Ummi..." Kyai Ahmad menyahut pelan. Ada helaan napas berat dari pengasuh pesantren tersebut. "Naya anak yang cerdas dan dewasa. Dia tahu persis mana jalan terbaik untuk masa depannya."
"Tapi rasanya Ummi bersalah sekali," tangis Bu Nyai Khadijah pecah pelan. "Kepergian Naya jauh-jauh ke luar negeri ini pasti karena luka yang dibuat Reyhan. Naya sampai harus meninggalkan tanah airnya sendiri demi menata hatinya kembali..."
Dada Reyhan bagai dihantam batu besar. Berita itu merayap bagai sengatan dingin yang membekukan aliran darahnya. Luar negeri? Naya pergi ke luar negeri?
"Ummi tidak boleh berpikir begitu terus-terusan," Kyai Ahmad berusaha menenangkan istrinya, suaranya terdengar bijaksana namun tegas. "Biarkan Naya menjalani kehidupannya yang baru. Dia sekarang bukan lagi bagian dari keluarga kita, kasihan kalau pikiran kita terus menahannya di masa lalu."
"Sampai kapan pun, selamanya Naya itu tetap putri Ummi, Bi!" pangkas Bu Nyai Khadijah dengan nada membela yang pekat. "Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Naya. Buktinya apa? Walaupun hatinya hancur dan statusnya sudah bukan menantu lagi, dia mau berangkat saja masih menyempatkan telepon, pamit baik-baik sama kita."
Keheningan sejenak melingkupi ruangan itu sebelum Kyai Ahmad kembali berucap. "Iya, Abi paham. Tapi jangan sampai rasa sayang kita justru membebankan status itu pada Naya. Naya berhak bahagia dengan jalannya sendiri. Dia pamit pada kita karena dia punya akhlak dan rasa hormat yang luar biasa. Hampir separuh masa remajanya sampai dewasa dihabiskan untuk mengabdi di pondok ini, menimba ilmu dan mengajar. Dia ingin pamit dengan terhormat, sebagaimana dulu dia datang dengan terhormat."
Di balik selasar pintu, Reyhan mematung. Jemarinya yang menempel pada daun pintu kayu bergetar hebat. Kakinya terasa menancap di lantai, tak sanggup dibawanya melangkah masuk.
Ketuk palu perceraian mereka baru saja diketuk beberapa waktu lalu di Pengadilan Agama. Reyhan mengira Naya hanya akan kembali ke rumah orang tuanya di Jombang, menenangkan diri di sana seperti yang biasa dilakukan perempuan pada umumnya. Sama sekali tidak pernah terlintas dalam benak Reyhan bahwa wanita yang selama satu tahun ini ia ingkari kehadirannya... benar-benar melangkah pergi menyeberangi samudra.
Ke mana kamu pergi, Naya? Di bagian bumi mana kamu akan tinggal? Kenapa harus sejauh itu? Apa yang sebenarnya mau kamu kejar?
Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk hebat di dalam kepala Reyhan, membakar dada dan egonya yang selama ini tegak berdirinya. Ada dorongan liar yang mendadak membuncah dari dasar jiwanya—sebuah gairah mendesak untuk berlari, mengejar Naya ke bandara, menahannya di balik pintu pemeriksaan, dan memohon agar wanita itu tidak melangkah pergi.
Namun, kenyataan pahit menghantam badannya kembali. Ia tidak lagi punya hak. Jangankan untuk menahan langkah Naya, menyapa namanya pun kini terasa bagai sebuah pelanggaran. Naya telah memutus seluruh ikatan dengan keanggunan yang sempurna, meninggalkan Reyhan dalam jerat keputusan yang ia buat sendiri.
***
sepolos"nya perempuan (klo bener), didekatin pa lagi diajak nikah sama pria beristri, pasti akan nolak.
tuh Gus katanya kamu lulusan Mesir, pinter dong harusnya
dia yg hrs bertanggungjwb, mulailah dr awal
tak perlu ada yg disesali, nasi sdh jd bubur jd buatlah bubur yg enak
apalah arti perasaan anak dara liat cowok ganteng pasti ada suka..tggl cowoknya aja ngeladeni atau cuekin..🤔
dibikin ruwett nyesal akhirnya 🤭😄