NovelToon NovelToon
Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Dokter / Tamat
Popularitas:407.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.

Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29

Fitnah itu naik pukul enam pagi.

Naira baru tidur dua jam ketika Bagas mengetuk pintu ruang kerjanya. Ia tidak masuk sebelum Naira menjawab. Setelah dipersilakan, ia membawa tablet dengan wajah yang membuat Naira langsung bangun sepenuhnya.

"Apa?"

Bagas meletakkan tablet di meja.

Di layar, sebuah akun gosip kesehatan mengunggah foto Naira keluar dari hotel bersama Raka. Foto itu diambil dari sudut jauh, dipotong agar jarak mereka terlihat lebih dekat. Di unggahan kedua, ada foto Surya Atmadja yang turun dari mobil di rumah Menteng. Wajahnya tidak terlalu jelas, tetapi cukup untuk menunjukkan pria tua, mobil mahal, dan pengawal.

Judulnya panjang.

Setelah gugat cerai, Dr. N diduga dekat dengan dua pria berkuasa. Siapa sponsor sebenarnya di balik riset keluarga Anggraini?

Komentar sudah ribuan.

Pantas berani lawan suami.

Katanya mandiri, ternyata ada om-om.

Dokter juga manusia, tapi jangan sok suci.

Raka Wiratama satu, bapak-bapak satu. Hebat.

Naira menatap layar tanpa ekspresi.

Bagas berkata, "Tim digital sudah melacak sumber awal. Distribusi pertama dari jaringan akun yang sering dipakai Cakradinata. Tapi ada amplifikasi dari grup keluarga Mahendra."

"Bu Ratna?"

"Kemungkinan."

Naira mengusap wajah. "Papa sudah lihat?"

Pintu terbuka sebelum Bagas menjawab.

Surya berdiri di ambang pintu, memakai kemeja putih dan wajah yang terlalu tenang.

"Papa sudah lihat."

Naira menatap ayahnya. "Jangan marah."

"Terlambat."

"Pa."

Surya masuk dan mengambil tablet. Ia membaca komentar beberapa detik, lalu meletakkannya kembali dengan gerakan hati-hati.

Gerakan itu lebih menakutkan daripada bantingan.

"Selama lima tahun, mereka menyebutmu menumpang hidup pada suami. Sekarang setelah tahu kamu tidak menumpang, mereka bilang kamu menumpang pada pria lain."

"Ini bisa ditangani Maya."

"Bisa."

"Jadi biarkan Maya."

Surya menatap putrinya. "Kali ini tidak."

Naira diam.

"Aku menunggu karena kamu meminta. Aku tidak datang ke rumah Mahendra dengan rombongan besar. Aku tidak menghancurkan Dimas saat dia membiarkan ibunya menghinamu. Aku tidak muncul di pengadilan. Aku bahkan duduk diam saat orang-orang bertanya siapa sponsor risetmu."

Suara Surya tetap rendah.

"Tapi hari ini mereka menyebut ayahmu pria yang memelihara anaknya sendiri."

Bagas menunduk.

Naira menutup mata sebentar.

Ia bisa menahan fitnah untuk dirinya. Ia sudah terlatih. Tapi melihat tangan ayahnya sedikit gemetar karena menahan amarah membuat dadanya sakit.

"Apa yang Papa mau lakukan?"

"Konferensi pers."

"Tidak."

"Naira."

"Kalau Papa muncul sebagai keluarga Atmadja, semua orang akan bilang aku menang karena Papa."

"Mereka sudah bilang kamu menang karena laki-laki."

Kalimat itu membuat ruangan hening.

Surya melanjutkan, "Kamu tidak perlu membuktikan diri sendirian untuk membuat kekuatanmu sah. Anak yang punya ayah tidak perlu menjadi yatim demi terlihat kuat."

Naira tidak langsung menjawab.

Kalimat itu masuk ke tempat yang selama ini ia kunci. Lima tahun di rumah Mahendra, ia terbiasa mengecilkan asal-usulnya agar Dimas tidak merasa kalah. Ia menahan nama Atmadja agar keluarga Mahendra tidak canggung. Ia menyembunyikan ayahnya yang berkuasa agar suaminya tetap merasa menjadi pelindung.

Sekarang orang-orang memakai ketiadaan yang ia ciptakan sebagai senjata.

"Baik," katanya.

Surya menatapnya.

"Tapi bukan konferensi pers marah-marah. Kita buat pernyataan resmi lewat Yayasan Anggraini. Fokus pada fitnah, keluarga, dan legal action."

Surya tersenyum tipis. "Kamu benar-benar anak Sari."

"Papa setuju?"

"Papa boleh memakai jas hitam?"

"Boleh."

"Bagus. Itu jas paling sopan untuk menghancurkan orang."

Naira hampir tertawa, tetapi ponselnya bergetar.

Dimas.

Ia mengangkat dengan speaker karena Surya masih di ruangan.

"Naira, aku baru lihat unggahan itu."

"Lalu?"

"Aku sudah minta Mama berhenti menyebarkan."

Surya menatap ponsel dengan wajah dingin.

Dimas melanjutkan, "Aku akan membuat klarifikasi kalau perlu. Aku tahu pria di foto itu ayahmu."

Naira belum menjawab ketika Surya berkata, "Kamu tahu sekarang?"

Di ujung sana, Dimas membeku.

"Pak Surya."

"Selama menikah dengan anak saya, kamu tidak tahu. Setelah dia difitnah, kamu baru ingin mengaku tahu."

"Saya salah."

"Iya."

Satu kata dari Surya lebih berat daripada ceramah panjang.

Dimas menarik napas. "Saya akan bertanggung jawab untuk keluarga saya."

"Mulailah dengan membuat ibumu diam."

Telepon ditutup oleh Surya.

Naira menatap ayahnya. "Papa."

"Apa? Papa sopan."

"Itu versi sopan?"

"Sangat."

Pernyataan resmi keluar pukul sepuluh.

Yayasan Anggraini mengumumkan bahwa Dr. Naira Salsabila Atmadja adalah putri kandung Surya Atmadja dan almarhumah yang belum dinyatakan wafat secara hukum, Dr. Sari Anggraini. Foto yang beredar bersama pria "tidak dikenal" adalah foto ayah kandungnya. Yayasan juga menyatakan akan mengambil langkah hukum terhadap akun yang menyebarkan tuduhan asusila dan narasi pembiayaan palsu.

Lima belas menit kemudian, Surya muncul sendiri di depan gedung Yayasan Anggraini.

Ia tidak membaca teks panjang.

Kamera media menyorot wajahnya.

"Saya Surya Atmadja. Pria yang kalian sebut memelihara Naira adalah saya, ayahnya."

Suara kamera meningkat.

"Selama lima tahun, putri saya memilih hidup sederhana dalam pernikahannya. Kami menghormati pilihannya. Jika ada pihak yang mengira diamnya keluarga kami berarti dia tidak punya siapa-siapa, hari ini saya luruskan."

Surya menatap kamera.

"Naira tidak pernah sendirian. Dia hanya terlalu lama menghormati orang yang tidak pantas dihormati."

Video itu menyebar lebih cepat daripada fitnah.

Di rumah Mahendra, Bu Ratna menonton dengan wajah pucat.

"Ayahnya?" bisik Vina.

Dimas berdiri di belakang sofa. Ia tidak berkata apa-apa.

Bu Ratna mencoba membela diri. "Siapa sangka? Dia tidak pernah bilang."

Dimas menatap ibunya.

"Dia pernah bilang. Kita yang menertawakan."

Bu Ratna terdiam.

Clara melihat video itu dari mobilnya.

Tangannya dingin.

Pria yang ia kira bisa dipakai sebagai fitnah ternyata ayah Naira. Bukan sembarang ayah, tetapi Surya Atmadja, nama yang bahkan Cakradinata harus hitung sebelum disentuh.

Pesan dari pria Cakradinata masuk.

Jangan panik. Fitnah pertama gagal. Kita pakai foto Sari.

Clara menatap layar.

Untuk pertama kali, ia sadar perang ini mungkin bukan tentang merebut Dimas lagi.

Ini tentang bertahan setelah memilih pihak yang salah.

Sore itu, Naira berdiri di balkon Yayasan Anggraini. Di bawah, wartawan masih menunggu.

Surya berdiri di sampingnya.

"Menyesal membiarkan Papa muncul?"

"Sedikit."

"Kenapa?"

"Papa terlalu dramatis."

Surya tertawa pelan. "Ayah yang anaknya difitnah boleh dramatis."

Naira menatap langit Jakarta yang mendung.

Untuk pertama kali setelah lama, nama Atmadja tidak terasa seperti rahasia yang harus disembunyikan.

Ia terasa seperti rumah.

Di rumah Mahendra, Dimas berdiri di depan kamar ibunya.

Bu Ratna tidak membuka pintu. Dari dalam, suaranya terdengar serak. "Mama tidak tahu dia anak orang seperti itu."

Dimas menyandarkan bahu ke dinding.

"Kalau dia bukan anak Surya Atmadja, apa hinaan Mama jadi benar?"

Tidak ada jawaban.

"Kalau ayahnya benar miskin, apa Mama boleh menyebutnya perempuan simpanan?"

"Dimas..."

"Aku juga salah, Ma. Tapi hari ini aku ingin kita berhenti mencari alasan."

Di dalam kamar, Bu Ratna menangis pelan. Dimas tidak tahu tangis itu karena malu, marah, atau mulai sadar. Ia tidak memaksa.

Ia hanya berdiri di luar pintu, terlambat menjaga perempuan yang sudah pergi.

Di balkon yayasan, Naira menerima pesan dari Raka.

Ayahmu mengerikan.

Naira membalas.

Kamu takut?

Raka:

Aku punya naluri bertahan hidup.

Naira hampir tersenyum.

Pesan berikutnya datang.

Tapi dia benar. Kamu tidak pernah sendirian.

Naira menatap kalimat itu lebih lama daripada seharusnya.

Lalu ia membalas singkat.

Aku tahu sekarang.

Di ruang kerjanya, Raka membaca balasan itu dan meletakkan ponsel perlahan. Untuk orang lain, itu hanya tiga kata.

Untuk Naira, itu mungkin pintu kecil yang baru berani ia buka.

Ia tidak akan memaksa pintu itu lebih lebar.

Belum.

Kali ini, ia ingin belajar menunggu tanpa mengubah tunggu menjadi perang.

Di luar, hujan mulai turun.

Raka berdiri di depan jendela kantornya, membiarkan Jakarta buram oleh air. Di layar ponselnya, balasan Naira masih terbuka.

Aku tahu sekarang.

Ia berharap perempuan itu benar-benar tahu, dan tidak pernah melupakannya lagi, terutama saat orang-orang datang membawa rasa takut.

1
say't
busyet nih clara sdh tdr sm siapa ja y 🤪 kok berani skl
Sumiyatun Martoyo
iya. ini sudah dilewati
say't
kalo aq jd naira aq racun ni 3 org menjijikkn 🤪
Tuti irfan
seru cerita nya , ak suka ceritanya TDK melulu tentang romansa Ceo penuh intrik dan misteri 😍😍👍👍👍
Katherina Ajawaila
mending pakai topeng langsung aja Dimas, cabut 5 hurup
Katherina Ajawaila
makin seru aja thour, cara dan ibunya sama ja penjahat berkedok mana ada ibu mau membunuh anak nya sendiri. dasar pelakor ngk mutu
Debbie Teguh
seru banget!
Katherina Ajawaila
Clara kamu itu ibarat anak ayam yg BB aru netes jgn sombong di pites juga modar. Dimas mau di andalan, Domas aja parasit yg ngumpet di kaki rok Naira 🫣
Katherina Ajawaila
maka nya jd Suami harus bisa adil kalau sdh brani melangkah kedepan, dasar nya aja kere, mau sombong kacang lupa kulit nya, kalau smua di tarik sm Naira, jadi apa parasit
Katherina Ajawaila
kere tapi belagu, biasa parasit
Ken L
kenapa cerita diulang2 ya...supaya kelihatan isi bab ceritanya penuh?
Abie Mas
raka love naira
Heni Setiyaningsih
heran ya,pemili perusahaan kok gk mau beli rumah sendiri,gk malu apa numpang dirumah calon mantan istri 🤭
Wahyu Kasep
jalan ceritanya bagus menarik tegang tapi sepi pembaca gak ada yang komentar
Nengs
bagus cerita wlpun harus benar2 paham
yuqana
bagus banget novelnya 😍😍😍🥰🥰🥰
Dewa Nara
astagaaaaa... pengulangan lagiiiii
Dewa Nara
kok ada pengulangan lagi 🤭
Dewa Nara
ada pengulangan alinea Thor
Dewa Nara
wah ceritanya bukan hanya masalah rumah tangga nih 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!