Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA Puluh SEMBILAN
Isak tangis Wulan semakin menjadi, tubuhnya bergetar hebat, hingga akhirnya, dengan suara yang nyaris tidak terdengar, ia mulai membuka kebenaran yang selama ini ia kubur dalam-dalam, bahkan dari dirinya sendiri.
"Raka... Raka bukan anak Bayu, Bang," ucapnya akhirnya, kalimat yang keluar bersamaan dengan tangisan yang pecah tanpa bisa ia tahan lagi.
Bayu terdiam mematung, tidak mampu berkata apa-apa untuk beberapa saat, mencoba mencerna kalimat yang baru saja mengubah seluruh fondasi hubungan yang telah ia bangun—atau lebih tepatnya, yang telah ia korbankan begitu banyak untuk mempertahankannya—selama dua tahun terakhir.
"Apa maksud kamu, Lan?" tanya Bayu akhirnya, suaranya bergetar antara kemarahan dan kebingungan yang teramat dalam.
"Waktu itu... waktu aku ketemu kamu, aku sebenernya udah hamil duluan, Bang. Dari mantan aku yang ninggalin aku begitu aja pas tau aku hamil," Wulan mengaku, air matanya terus mengalir deras. "Aku takut, Bang. Aku sendirian, nggak ada yang mau tanggung jawab. Terus kamu dateng, baik banget sama aku, aku pikir... aku pikir kalau aku bilang itu anak kamu, kamu bakal mau tanggung jawab, aku sama anakku bisa punya masa depan yang lebih pasti."
---
Kalimat itu membuat Bayu merasa seperti dunia yang selama ini ia percaya, meski sudah retak akibat kebohongannya sendiri, kini benar-benar hancur berkeping-keping dari arah yang sama sekali tidak pernah ia duga. "Jadi... semua ini, dua tahun aku ninggalin sebagian tanggung jawab aku ke Ayu, aku ngerusak rumah tangga aku sendiri, itu semua buat anak yang bahkan bukan anak aku?"
"Aku minta maaf, Bang. Aku beneran minta maaf," Wulan terisak semakin keras, menyadari bahwa kebohongan yang selama ini ia jaga demi kelangsungan hidupnya dan Raka, kini benar-benar terbongkar di saat yang paling tidak tepat, di tengah kepanikan atas keselamatan anak yang, ternyata, sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan laki-laki yang selama ini ia manfaatkan untuk menafkahi kehidupan mereka berdua.
Ayu duduk terdiam, menyaksikan seluruh pengakuan itu dengan perasaan yang campur aduk—antara kemarahan yang seharusnya wajar muncul, namun juga semacam kelegaan pahit yang sulit ia jelaskan, mengetahui bahwa setidaknya, ikatan darah yang selama ini menjadi salah satu alasan kuat Bayu untuk terus terikat dengan Wulan, ternyata tidak pernah benar-benar ada sejak awal.
"Kamu tau nggak, Wulan, apa yang paling menyakitkan dari semua ini?" Ayu akhirnya bersuara, nadanya tenang namun penuh ketegasan yang dingin. "Bukan cuma soal kamu bohongin Bayu soal anak ini. Tapi selama dua tahun ini, kamu juga ikut ngerusak rumah tanggaku, pake alasan seorang anak yang bahkan bukan darah daging suamiku sendiri."
---
Wulan tidak mampu menjawab, hanya terus menangis, menyadari betapa besar kerusakan yang telah ia timbulkan, bukan hanya bagi rumah tangga Ayu dan Bayu, namun juga bagi dirinya sendiri, yang kini kehilangan seluruh pijakan yang selama ini ia gunakan untuk mempertahankan hubungannya dengan Bayu.
Tidak lama kemudian, dokter keluar dari ruang tindakan, mengabarkan bahwa Raka sudah berhasil mendapatkan donor darah dari bank darah rumah sakit, kondisinya sudah mulai stabil meski masih perlu observasi lebih lanjut selama beberapa hari untuk memastikan tidak ada komplikasi serius dari benturan di kepalanya.
Kabar itu sedikit meredakan ketegangan yang memenuhi ruang tunggu, meski suasana di antara ketiga orang dewasa itu masih dipenuhi keheningan yang berat, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri atas kebenaran besar yang baru saja terungkap.
"Bayu," Ayu akhirnya memecah keheningan, menatap suaminya yang masih terlihat syok berat oleh pengakuan yang baru saja ia dengar. "Aku rasa, ini saatnya kamu benar-benar mikir, apa yang sebenarnya udah kamu korbankan selama ini, dan buat apa."
Bayu menatap Ayu, matanya berkaca-kaca, dipenuhi rasa penyesalan yang kini terasa jauh lebih kompleks dari sebelumnya—bukan hanya penyesalan karena telah mengkhianati istrinya, namun juga kesadaran pahit bahwa pengkhianatan itu, ternyata, dilakukan atas dasar kebohongan yang bahkan lebih besar dari yang pernah ia duga selama ini.
"Aku... aku nggak tau harus ngomong apa lagi, Yu," ucap Bayu lirih, suaranya nyaris tidak terdengar, tenggelam dalam keruntuhan total atas segala hal yang selama ini ia percaya sebagai kebenaran dalam hidupnya.
Ayu tidak menjawab, hanya menatap kedua orang di hadapannya—suaminya yang kini benar-benar kehilangan seluruh alasan untuk mempertahankan hubungan dengan Wulan, dan Wulan sendiri yang kini terpuruk dalam kehancuran akibat kebohongannya sendiri yang telah terbongkar dengan cara yang paling menyakitkan bagi semua pihak yang terlibat.
---