NovelToon NovelToon
Dewa Alkemis Sembilan Benua

Dewa Alkemis Sembilan Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Dulu ia Kaisar Pil Jiwa Bintang. Penguasa Sembilan Benua.

Tetapi, satu tusukan dari murid kesayangannya, membuat ia mati. Sekarang, Murid itu naik tahta menjadi Dewa Alkemis yang disembah seluruh benua.

500 tahun kemudian, Lin Xuan terbangun.

Bukan di singgasana. Tapi di tubuh seorang sampah. Tubuh dari Tuan Muda Keluarga Lin yang meridiannya hancur, menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Tunangannya menghina, pamannya meracuni dan semua orang menunggu ia mati.

Mereka salah besar.

Karena di dalam jiwanya, Kuali Naga Hitam yang berkarat ikut bangkit. Di kepalanya, ingatan 500 tahun teknik alkimia bertarung yang bisa membakar langit tidak hilang.

Lin Xuan tidak mau sekadar bangkit. Ia mau berburu 18 Api Surgawi. Mengubah tubuh cacatnya menjadi kuali hidup.

Mengubah bahan sampah menjadi pil dewa. Dan naik lagi ke Benua Ke-9 untuk satu hal:

Menagih darah dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Penantang dari Benua Tengah

Sinar pagi menembus jendela paviliun Lin Xuan. Di atas meja kayu terhampar tumpukan harta yang memancarkan cahaya spiritual.

Master Yan berdiri di hadapan Lin Xuan dengan wajah penuh kegembiraan.

"Tuan Muda Lin, pasukan Rumah Lelang telah menggeledah kediaman Keluarga Ouyang semalam. Keluarga itu benar-benar kaya. Sesuai kesepakatan, kami mengambil tiga puluh persen sebagai imbalan. Sisanya sudah kami bawa kemari."

Ia menunjuk lima Cincin Penyimpanan berwarna perak.

"Di dalamnya ada dua juta Batu Roh, ribuan tanaman herbal tingkat satu hingga tiga, serta ratusan senjata spiritual."

Lin Xuan mengambil sebuah cincin dan memeriksanya dengan Kekuatan Jiwa. Benar saja. Isinya penuh dengan harta.

"Kerja bagus, Master Yan. Jika masih ada anggota Keluarga Ouyang yang ingin membalas dendam, jangan biarkan mereka menggangguku."

"Tenang saja, Tuan Muda. Setelah kematian Ouyang Lie, keluarga itu sudah kehilangan taringnya."

Master Yan membungkuk lalu pergi.

Setelah ruangan kembali sunyi, Xiao Ya memandangi tumpukan harta dengan mata berbinar. Di Kota Awan Merah, ia bahkan belum pernah melihat Batu Roh sebanyak ini. Kini di hadapannya terdapat jutaan batu.

"Xiao Ya, kemarilah."

Xiao Ya segera mendekat. "Ada apa, Tuan Muda?"

Lin Xuan mengambil sepasang belati dari salah satu Cincin Penyimpanan. Bilah pertama memancarkan hawa dingin. Bilah kedua terasa hangat. Keduanya merupakan senjata spiritual tingkat Fana Atas.

"Belati Ganda Bulan-Matahari. Lumayan untuk barang dari gudang sampah Ouyang."

Lin Xuan menyerahkannya kepada Xiao Ya.

"Kau sudah mencapai Kondensasi Qi Tingkat 1. Mulai sekarang, kau tidak hanya perlu menyeduh teh. Kau juga harus mampu menjaga dirimu sendiri."

Ia menunjuk tumpukan Batu Roh di atas meja.

"Gunakan semuanya untuk berkultivasi. Dalam sebulan, aku ingin melihatmu mencapai Tingkat 4."

Xiao Ya menggenggam kedua belati itu erat. Matanya dipenuhi tekad.

"Baik, Tuan Muda!"

Xiao Ya menerima kedua belati itu dengan tangan gemetar. Matanya berkaca-kaca.

"X-Xiao Ya tidak akan mengecewakan Tuan Muda. Aku akan berlatih siang dan malam!"

Lin Xuan mengangguk puas.

Loyalitas yang lahir dari ketakutan mudah goyah. Namun, kesetiaan yang dibalas dengan kebaikan akan jauh lebih sulit dikhianati.

Tuk. Tuk.

Ketukan terdengar dari luar.

Lin Xuan sudah mengenali aura di balik pintu. "Masuklah, Paman Qin."

Pintu terbuka. Paman Qin melangkah masuk dengan sikap jauh lebih hormat dari sebelumnya. Ia memberi salam kepalan tangan sebelum mengeluarkan sebuah plakat emas bergambar kuali naga.

"Tuan Muda Lin, saya membawa titipan Nona Su. Ini Plakat Kuota Emas Keluarga Su. Dengan plakat ini, Anda bisa melewati babak penyisihan dan langsung masuk ke babak utama Turnamen Alkemis lusa."

Lin Xuan menarik plakat itu dengan Kekuatan Jiwa. Gerakan sederhana tersebut membuat Paman Qin kembali terkejut.

"Sampaikan terima kasihku kepada nona kalian. Suruh dia menyiapkan bak mandi berisi darah ular berbisa tingkat dua. Tubuhnya harus dipersiapkan sebelum menerima Pil Yang Sejati."

"Baik, akan saya sampaikan."

Paman Qin terdiam sejenak sebelum melanjutkan.

"Namun, ada satu hal lagi. Nona Su memintaku memperingatkanmu. Turnamen tahun ini berbeda dari biasanya. Asosiasi Alkemis Benua Tengah mengirim seorang pengawas ke cabang Benua Bawah."

Alis Lin Xuan sedikit terangkat.

Paman Qin melanjutkan dengan wajah serius.

"Pengawas itu membawa murid utamanya. Namanya Hua Chen. Usianya baru sembilan belas tahun. Namun, dia sudah mencapai Alkemis Tingkat 3 Puncak dan kultivasi Setengah Langkah Pembentukan Fondasi."

Ia berhenti sejenak.

"Yang lebih berbahaya adalah Api Serigala Biru miliknya. Itu adalah Api Binatang Buas Tingkat 4."

Di Sembilan Benua, Api Binatang Buas menjadi pilihan para alkemis yang tidak memiliki Api Surgawi. Api Tingkat 4 berasal dari binatang buas setara Tahap Jiwa Baru Lahir. Dalam pemurnian pil, kekuatan seperti itu merupakan keunggulan besar.

"Hua Chen terang-terangan meremehkan para alkemis di Ibukota. Dia datang hanya untuk mengalahkan para jenius lokal lalu mengambil harta dari Perbendaharaan Terlarang. Targetnya sama dengan Anda. Dan dia sangat sombong," jelas Paman Qin.

"Sombong?"

Lin Xuan tertawa pelan. Tatapannya menjadi dingin.

"Katak di dasar sumur yang menemukan bara api merasa dirinya mampu membakar langit. Biarkan dia mengandalkan Api Serigala itu. Nanti kita lihat apakah serigalanya berani melolong di hadapan naga."

Paman Qin hanya bisa menghela napas. Ia memberi salam lalu kembali ke Kediaman Su.

"Xiao Ya, tunggu di sini. Aku akan membawa plakat ini ke Menara Kuali Raksasa."

Lin Xuan mengenakan jubah alkemis hitam lalu meninggalkan penginapan menuju pusat Ibukota.

Siang itu, lobi Menara Kuali Raksasa dipenuhi lautan manusia. Ribuan alkemis muda dan kultivator memenuhi tempat pendaftaran. Aroma obat dan asap tungku memenuhi udara.

Lin Xuan melewati kerumunan menuju jalur khusus yang dijaga formasi.

Namun, sebelum sampai di meja pendaftaran, suara angkuh tiba-tiba menggema.

"Sampah! Kalian semua hanya sampah!"

Seluruh lobi seketika terdiam.

Di depan meja pendaftaran berdiri seorang pemuda berjubah putih bersulam emas. Wajahnya tampan namun penuh kesombongan. Di dadanya terpasang lencana kuali perak dengan tiga garis emas.

Alkemis Tingkat 3.

Lin Xuan menyipitkan mata. Jadi ini Hua Chen?

Itulah Hua Chen. Jenius dari Benua Tengah.

Di hadapannya, seorang alkemis Tingkat 2 berlutut sambil memegangi pipinya yang memerah. Pecahan pil berserakan di lantai.

"Kalian dari Benua Bawah benar-benar mempermalukan gelar Alkemis," cibir Hua Chen. "Kau menyebut ini Pil Pemulihan Qi? Api yang tak stabil dan ekstraksi yang buruk membuat ampas racunnya mencapai empat puluh persen. Bahkan binatang biasa bisa mati memakannya. Kau masih berani membawa pil seperti ini ke turnamen?"

Para tetua Asosiasi Alkemis hanya bisa menahan amarah. Mereka tidak berani ikut campur. Di belakang Hua Chen berdiri kekuatan Asosiasi Pusat.

Hua Chen tertawa sinis. "Apa tidak ada satu pun alkemis berbakat di Ibukota? Kalau lawanku lusa hanya seperti ini, lebih baik aku tidur."

"Pemurnian herbal tidak diukur dari seberapa keras kau menggonggong. Tapi dari seberapa jernih pikiranmu."

Suara tenang itu membuat seluruh lobi terdiam.

Kerumunan terbelah. Lin Xuan berjalan santai menuju meja pendaftaran dengan tangan di belakang punggung.

Hua Chen menyipitkan mata saat melihat lencana Tingkat 2 di dada Lin Xuan.

"Tikus Tingkat 2 juga berani mengajariku? Kau bosan hidup?"

Ia mengangkat tangan.

Wusss!

Api biru menyala di telapak tangannya. Suhu di sekitarnya melonjak hingga udara bergetar.

Api Serigala Biru!

Api Binatang Buas Tingkat 4.

"Akan kubakar mulut sombongmu!"

Hua Chen menjentikkan jarinya. Bola api biru melesat menuju wajah Lin Xuan.

Para tetua Asosiasi tersentak. Namun, semuanya sudah terlambat.

Lin Xuan bahkan tidak berkedip. Saat bola Api Serigala Biru tinggal sejengkal dari wajahnya, ia hanya menghembuskan napas.

Fuh.

Setitik aura Api Teratai Bumi Terdalam keluar dari tubuhnya.

Api Serigala Biru yang semula mengamuk mendadak berhenti. Api itu bergetar hebat seperti anjing yang berhadapan dengan harimau. Sesaat kemudian, nyalanya padam dan berubah menjadi asap tipis.

Mata Hua Chen membelalak.

"A-apa?! Bagaimana kau memadamkan Api Serigalaku? Artefak unsur air apa yang kau gunakan?!"

Ia tidak percaya apinya padam karena ketakutan. Dalam pikirannya, Lin Xuan pasti menggunakan harta pelindung.

Lin Xuan sama sekali tidak memedulikannya. Ia berjalan melewati Hua Chen lalu meletakkan Plakat Emas Keluarga Su di meja pendaftaran.

"Daftarkan aku untuk babak utama."

Pelayanan segera menerima plakat itu dengan tangan gemetar.

Hua Chen mengepalkan tinjunya. Wajahnya memerah karena dipermalukan di depan semua orang.

"Berani mengabaikanku?! Aku akan membunuhmu!"

Qi Setengah Langkah Pembentukan Fondasi meledak dari tubuhnya.

Namun sebelum sempat menyerang, suara Lin Xuan menggema langsung di dalam benaknya.

"Menyentuh aku, akan kulebur Dantianmu bersama api anjing kecilmu. Simpan tenagamu untuk menangis di turnamen lusa."

Hua Chen membeku.

Untuk pertama kalinya, kesombongan di matanya berubah menjadi ketakutan.

Tubuh Hua Chen menegang. Keringat dingin membasahi dahinya. Tekanan jiwa tadi begitu kuat dan mengerikan hingga membuatnya merasa seperti semut di hadapan jurang maut.

Bahkan kultivasi Setengah Langkah Pembentukan Fondasi miliknya seolah lumpuh sesaat.

Lin Xuan mengambil kembali plakatnya lalu meninggalkan lobi.

Ribuan pasang mata mengikutinya. Ada kekaguman. Ada pula ketakutan.

Begitu keluar dari Menara Kuali Raksasa, Kuali Naga Hitam di Lautan Jiwanya tiba-tiba berdenyut.

Langkah Lin Xuan terhenti.

Ia mengerahkan Kekuatan Jiwa untuk menembus lapisan batu di bawah menara.

Hmm? Ada api bumi yang sangat pekat di bawah sana.

Matanya menyipit.

Bukan Api Surgawi. Ini Inti Api Bumi yang telah tertidur selama ribuan tahun.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Asosiasi pasti menggunakan api itu untuk menopang tungku-tungku mereka. Menarik. Saat babak final nanti, mungkin aku bisa meminjam sedikit.

Lin Xuan kembali melangkah.

Pertarungan alkimia yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Arinto Ario Triharyanto
mantap Thor
Aman Wijaya
gaaas pooolll njeduk Thor lanjut terus 💪💪💪💪
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos pooolll Thor 💪💪💪
Aman Wijaya
ini baru mantab Lin Xuan lanjutkan aksimu terus bikin dunia berguncang
Aman Wijaya
top top markotop lanjut terus Thor
Aman Wijaya
jooooz pooolll Lin Xuan lanjutkan aksimu
Arinto Ario Triharyanto
mantap nih👍
Rinaldi Sigar
lnjut
Aman Wijaya
mantab pooolll Lin Xuan lanjutkan aksimu
Aman Wijaya
babat semuanya Lin Xuan biar keluarga Zhao lenyap semua
Aman Wijaya
mantab Lin Xuan habisi aja tuh Lin Hao biar ayahnya stres
Aman Wijaya
api teratai bumi udah ada di tangan Lin Xuan
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos lanjut terus Thor
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor 💪💪💪 terus
Aman Wijaya
lanjut terus
Aman Wijaya
mantull Thor lanjut terus semangat semangat semangat
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Saifuloh Oting
Thor,,yg membuat cerita ini begitu epic,.... mantap Thor...
Celestial Quill: Terimakasih, gas terus💪💪
total 1 replies
Aman Wijaya
semangat Lin Xuan
Green Boy
Jos ceritanya
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai keluarga ouyang sampai ke akar akarnya panjang tubuh mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!