Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.
Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.
Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.
Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LEMBAH PEDANG YANG TIDAK MEMILIKI BAYANGAN
Jauh di seberang rawa hitam, tanah perlahan berubah. Lumpur digantikan batu tajam yang menancap ke langit seperti ribuan pedang yang ditancapkan ke bumi. Angin di sini tidak berhembus ia berdesir, menciptakan nada rendah yang seakan berasal dari getaran bilah pedang itu sendiri.
Ini Lembah Pedang. Wilayah Klan Jian. Di sini, setiap batu pernah menjadi pedang. Dan setiap pedang pernah menelan darah.
Xuanyuan berhenti di tepi jurang. Di bawahnya, lembah itu sunyi. Tidak ada burung. Tidak ada serangga. Hanya deretan ribu makam batu yang menjulang masing-masing bertuliskan satu nama dan satu gaya pedang.
"Klan Jian tidak mengubur orang mati," katanya pelan. "Mereka menanam pedang mereka bersama mayatnya. Agar saat musuh datang, tanah sendiri yang akan menyerang."
Lian Yue memegang Cermin Jiwa Terbelah di dadanya. Cermin itu bergetar halus, seakan takut.
"Di sini, kekuatan bukan diukur dari seberapa tinggi kau terbang. Tapi dari seberapa dalam pedangmu menancap ke tanah. Semakin dalam... semakin setia kau pada klanmu."
"Klan Jian adalah pedang yang dipegang Langit Abadi. Tapi pedang lama ini sudah berkarat di gagangnya. Mereka tidak lagi tahu siapa yang memegangnya. Mereka hanya tahu satu hal: perintah adalah perintah. Hati-hati, Xuanyuan. Orang yang hidup hanya untuk menebas... tidak akan ragu menebas dirinya sendiri jika diperintahkan." Lang Wuyan terdengar berat, seakan mengenal tempat ini dari masa lalu yang kelam.
Mereka berjalan masuk. Jalan setapak di antara makam-makam batu itu sempit. Setiap langkah terasa seperti menginjak punggung ribu pendekar yang menahan amarah sejak ratusan tahun lalu.
Di tengah lembah, di atas panggung batu berbentuk bilah pedang terbalik, berdiri seorang pemuda. Pakaiannya sederhana kain putih yang sudah lusuh, tanpa hiasan emas atau perak. Di punggungnya tergantung sebuah pedang sarung kayu polos yang tidak berukir satu huruf pun. Ia tidak menoleh saat mereka mendekat. Matanya tertutup kain merah tipis.
Kau terlambat, Liu Xuanyuan. Aku sudah menebas bayanganmu tiga kali sejak kau menyeberangi perbatasan. Jika aku ingin membunuhmu... kau sudah mati tiga kali.
Xuanyuan berhenti sepuluh langkah jauhnya. Ia tidak mencabut pedangnya.
"Kau tidak menebas. Kau hanya mengancam. Dan ancaman yang tidak ditepati... adalah permohonan agar tidak ada yang terluka."
Pemuda itu tertawa pelan, lalu berbalik perlahan. Wajahnya tenang terlalu tenang untuk seseorang yang ditugaskan membunuh tamunya.
Namaku Jian Qing. Putra tertua Klan Jian. Dan aku adalah pedang yang dikirim untuk memotong kepalamu. Tapi... pedang ini sudah tumpul. Karena aku bosan menebas orang yang tidak bersalah.
Ia melepas kain merah dari matanya. Matanya jernih, namun ada kelelahan yang dalam di sana kelelahan yang tidak bisa disembuhkan dengan tidur.
Tian Jue memerintahkan kami membunuh siapa pun yang mendekati Relik Ketiga. Tapi dia tidak pernah bertanya... apakah kami setuju. Dia hanya berkata: tebas. Dan kami menebas. Selama ribuan tahun, kami menebas siapa pun yang dia tunjuk. Musuh. Orang tak berdosa. Anak-anak. Bahkan kadang... kami sendiri.
Jian Qing melangkah turun dari panggung batu. Sarung pedangnya menabrak batu dengan bunyi berdentang yang dalam.
Relik Ketiga ada di dasar jurang ini. Namanya Pedang Jiwa Terakhir. Itu adalah pedang pertama yang ditempa pendiri klanku. Dan juga pedang terakhir yang akan kami gunakan. Karena siapa pun yang menariknya dari batu... akan memutus ikatan ketaatan seluruh pendekar Klan Jian.
Ia berhenti tepat di depan Xuanyuan.
Tapi ada satu syarat. Pedang itu tidak akan menanggalkan dirinya untuk orang yang datang memohon. Ia hanya akan turun untuk orang yang rela mati memegang gagangnya. Jika kau tidak siap mati di sini... berbaliklah sekarang. Dan biarkan aku melaporkan bahwa kau berhasil kabur. Itu yang bisa kulakukan untukmu.
Xuanyuan menatap matanya. Tidak ada kebohongan di sana. Hanya kesedihan yang dalam.
"Dan jika aku gagal? Jika aku mati di bawah pedang itu? Apa yang akan terjadi pada klanmu?"
Maka kami akan tetap menjadi anjing penurut Langit Abadi. Dan suatu hari nanti... Tian Jue akan memerintahkan kami menebas satu sama lain. Dan kami akan melakukannya. Tanpa bertanya.
Xuanyuan mengangguk perlahan. Ia melepaskan ikat kepalanya, membiarkan rambut hitamnya jatuh bebas ke bahu. Ia tidak mencabut Pedang Tulang Hitam di punggungnya. Ia tidak memegang senjata apa pun.
"Aku tidak datang untuk mengambil pedangmu. Aku datang untuk meminjamnya. Dan jika ia memilih tinggal di batu... maka aku akan pergi. Tanpa pertumpahan darah."
Ia berjalan melewati Jian Qing, menuju jurang terdalam di tengah lembah. Di bawah sana, di dasar yang gelap gulita, satu cahaya biru tua berdenyut pelan seperti jantung yang masih berdetak di dalam mayat.
Saat Xuanyuan mulai menuruni tangga batu yang curam, suara Jian Qing terdengar di belakangnya, bergetar penuh emosi yang tertahan.
Semoga pedang itu lebih bijaksana daripada tuanku. Semoga ia melihat apa yang sudah lama kami butakan mata kami untuk melihat.
Di dasar jurang, angin berhenti sama sekali. Di hadapan Xuanyuan, sebatang pedang besar tertanam di dalam satu bongkahan batu hitam legam yang memancarkan dingin hingga ke tulang. Bilahnya tidak berkilau ia menyerap cahaya. Di gagangnya terukir satu kalimat kuno:
Aku tidak melayani raja. Aku tidak melayani dewa. Aku melayani mereka yang tidak punya pedang.
Xuanyuan berdiri di depan pedang itu. Ia tidak langsung meraihnya. Ia berlutut. Ia menundukkan kepalanya.
"Aku bukan pahlawan. Aku bukan raja. Aku bahkan bukan orang yang baik. Aku hanya anak yang ditinggalkan, yang mencari tahu mengapa orang tuanya harus mati. Aku tidak memintamu bertarung untukku. Aku hanya memintamu... tunjukkan padaku bagaimana bertarung tanpa berubah menjadi monster."
Ia mengulurkan tangan dan menggenggam gagang pedang itu.
Dingin yang tak terbayangkan meledak dari gagangnya, merambat naik ke lengannya, membekukan darah di pembuluhnya. Nyeri yang tajam menyergap setiap inci tubuhnya seakan ribuan pendekar yang gugur di lembah ini sedang menusuknya dari dalam.
"Kau membawa dua cermin di matamu, anak. Satu cermin melihat ke dalam. Satu cermin melihat ke luar. Itu sebabnya pedang ini tidak akan membunuhmu. Karena kau tidak takut melihat kebenaran."
Pedang itu bergetar. Bukan karena ditarik tapi karena ia sendiri yang ingin keluar.
Perlahan, dengan bunyi yang dalam dan panjang, Pedang Jiwa Terakhir terangkat dari batu. Cahaya biru tua meluap, menerangi seluruh dasar jurang. Xuanyuan tidak mengangkatnya tinggi-tinggi. Ia memegangnya di samping, ujung bilahnya menyentuh tanah.
Saat ia berjalan naik kembali ke permukaan, ribuan makam batu di sepanjang jalan bergetar. Satu per satu, pedang-pedang yang tertanam di makam itu bergetar pelan memberi hormat.
Jian Qing masih berdiri di tempatnya. Tapi saat ia melihat pedang di tangan Xuanyuan, lututnya melemas. Ia berlutut, air mata jatuh membasahi batu di bawahnya.
Selama ribuan tahun... tidak ada yang pernah berhasil. Tidak ada yang pernah pedang itu pilih.
Ia menengadah, matanya bersinar dengan harapan yang rapuh namun nyata.
Klan Jian tidak lagi melayani Langit Abadi. Mulai hari ini... kami melayani pedang yang memilih sendiri tuannya. Katakan padaku, Liu Xuanyuan. Ke mana pedang ini harus menebas duluan?
Xuanyuan memegang gagang pedang itu dengan kedua tangan, lalu menunjuk ke arah langit yang kelabu di atas mereka.
"Kita tidak menebas langit. Kita menebas rantai yang mengikatnya. Dan rantai itu berada di tempat di mana hukum alam tidak lagi berlaku. Kita pergi ke Domain Ruang Kuno. Wilayah Klan Gu tempat di mana kenyataan hanyalah ilusi yang ditenun dari benang-benang ruang."
Ia membalikkan badan, pedang biru tua di tangannya bersinar mantap, menerangi jalan di antara ribuan makam yang kini berdiri tegak seakan ikut berjalan bersama mereka.
Dan di kejauhan, di puncak menara kabut yang tak terlihat dari lembah, sebuah cermin retak memantulkan bayangan mereka berjalan bertiga dan di belakang mereka, bayangan ribuan pendekar yang sudah mati namun kini berjalan lagi.
"Tiga relik telah bersatu. Tiga keluarga telah berbalik. Tian Jue, tuanku... muridmu yang paling setia kini berdiri di seberangmu. Dan aku takut... bukan untuk diriku. Tapi untukmu." bisik suara yang tenggelam dalam kabut kuno.