Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Pagi-pagi benar Aira sudah terbangun. Usai mencuci muka, tanpa sempat bernapas lega, ia langsung berhadapan dengan tumpukan baju kotor milik seisi rumah. Padahal Mbak Siska itu sudah berumah tangga sendiri. Tapi entah kenapa, urusan cuci baju suaminya pun masih saja dilimpahkan ke tangan Aira.
Aira sebenarnya sudah pernah protes. Namun, seperti biasa, Bu Ismi selalu pasang badan membela anak kesayangannya itu. Alasannya selalu sama, *“Mumpung sama-sama nyuci, sekalian aja! Dibanding nyuci sendiri-sendiri, cuma buang-buang listrik!”*
Saat Aira mandi keringat membereskan rumah, Bu Ismi sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Karin dan Mbak Siska? Begitu bangun, tempat tinggal sudah rapi, makanan pun tinggal santap.
"Aira, kopiku mana?" celetuk Beni tanpa beban, tepat saat Aira dan Devan baru saja menarik kursi meja makan untuk ikut sarapan.
Urusan kopi saja harus Aira yang sediakan. Padahal istrinya duduk manis di sana tanpa berniat bergeming sedikit pun.
"Seharusnya Mas Beni tanyanya ke Mbak Siska. Mbak Siska kan istrinya Mas, bukan aku. Nggak etis aja rasanya kalau urusan baju sampai perut Mas Beni harus aku yang layani. Aku ini cuma adik ipar, pamali. Harusnya istri Mas sendiri yang ngurus." balas Aira, menahan emosi yang makin menggelegak.
"Alah! Biang keroknya cuma karena kamu malas aja, kan? Kamu juga lagi bikinkan kopi buat suamimu, apa susahnya sekalian bikin dua gelas?" semprot Mbak Siska tak mau kalah.
"Cuma urusan bikin kopi aja kamu hitung-hitungan banget sama kakakmu! Lihat tuh, kakakmu lagi hamil dan masih harus kerja. Sana buatkan!" perintah Bu Ismi tegas, sama sekali tak mau tahu.
Aira yang menghela nafas panjang hendak berdiri terpaksa tertahan. Tangan dingin Devan mendadak mencekal pergelangan tangannya. Pria itu menggeleng pelan, memberi isyarat tegas agar Aira tetap duduk.
Sejak subuh istrinya sudah diperas tenaganya sendirian mengurus rumah, sementara dua saudaranya tinggal lepeh dan makan. Sekarang, urusan kopi kakak ipar pun masih mau dibebankan ke istrinya? Mana ada!
"Istri saya benar. Urusan suami itu tanggung jawab istrinya sendiri. Lagipula Aira sudah cape mengurus pekerjaan rumah seharian sendirian." potong Devan tajam, membela hak istrinya.
"Kamu nggak usah sok-sokan pahlawan ya, Devan! Jadi suami jangan mengajari istri buat membangkang! Harusnya kamu itu sadar diri, udah untung bisa numpang tinggal gratis di sini. Disuruh bikin kopi doang pakai drama!" bentak Bu Ismi dengan nada menusuk.
Aira mendadak tertekan. Kalimat ibunya menyentil logika dan ketakutannya. Jika mereka nekat keluar dari rumah ini, tidak mungkin sanggup menyewa kontrakan. Ia hanya penjual kue rumahan, sementara Devan cuma kuli bangunan. Penghasilan mereka berdua paling-paling habis hanya untuk makan sehari-hari.
"Sudah, Mas... Nggak apa-apa, biar aku buatkan saja daripada makin ribut." bisik Aira mengalah. Devan mengatupkan rahangnya erat. Tak ingin memperkeruh suasana antara Aira dan keluarganya, ia akhirnya terpaksa melepas genggamannya.
"Nah, gitu dong dari tadi! Kamu tuh harusnya bersyukur masih disuruh tinggal di sini, makan terjamin, tempat tinggal gak mikir bayar. Kakak dan adikmu itu sudah capek kerja cari uang di luar, jadi wajar kalau kamu yang urus rumah!" seloroh Bu Ismi puas.
"Gitu aja harus dipaksa dulu." sindir Karin sinis dari sudut meja.
Begitu sarapan usai, mereka ngeluyur pergi begitu saja tanpa memindahkan satu pun piring kotor. Lagi-lagi, Aira yang harus membereskannya.
"Biar aku saja yang bereskan ini semua. Kamu istirahat saja, kakimu kan baru sembuh." Devan menahan tangan Aira yang hendak mengangkat piring.
"Tapi, Mas..."
"Nggak apa-apa, biar Mas yang urus."
Tubuh Aira memang terasa amat lelah. Ia akhirnya membiarkan Devan mengambil alih meja makan. Selesai beres-beres, Devan menghampirinya untuk berpamitan kerja.
"Mas berangkat dulu, ya. Kamu baik-baik di rumah," ujar Devan lembut. Aira meraih jemari suaminya dan menciumnya penuh takzim.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan."
Aira memperhatikan penampilan Devan saat melangkah keluar. Pakaian yang dikenakan suaminya terlampau sederhana, bahkan cenderung kucel dan pudar karena terlalu sering dipakai.
*Pria ini sebenarnya punya keluarga tidak, ya? Apa dia sudah memberi tahu keluarganya soal pernikahan ini? Atau jangan-jangan... dia malah sudah punya istri lain di luar sana?* gumam Aira dalam hati.
Pikirannya melayang liar. Pernikahan serba mendadak karena paksaan situasi ini membuat Aira mendadak panik. Ia bahkan sampai lupa menanyakan asal-usul keluarga suaminya sendiri.
*Aku harus tanya nanti malam. Bodo amat dianggap kepo, masa iya aku sebagai istri sama sekali nggak tahu latar belakang suami sendiri?* batinnya mantap.
...****************...
Hari berjalan seperti biasa. Aira sibuk membuat kue lalu menitipkannya ke toko-toko berlangganan, tidak lupa mampir menyisihkan uang untuk membeli obat Pak Bambang. Uang satu juta pemberian Devan kemarin masih tersimpan rapi di dompetnya ia tabung untuk keperluan darurat kelak.
Malam harinya, Bagas bertandang ke rumah. Pria itu datang untuk mengajak Karin jalan-jalan sekaligus membahas rencana pernikahan mereka.
"Eh, Nak Bagas! Ayo, masuk-masuk..." Bu Ismi menyambut calon menantu kayanya itu dengan senyum merekah, amat ramah.
"Karinnya ada, Tante?"
"Ada, sedang siap-siap di kamar. Tunggu sebentar ya," sahut Bu Ismi manis, lalu buru-buru memanggil Aira.
"Aira! Di depan ada tamu, cepat buatkan minum!" perintahnya tak sabaran.
Aira patuh. Ia menyeduh minuman dan membawanya ke ruang tamu. Devan sendiri belum pulang bekerja malam itu, bahkan sejak siang tak ada kabarnya.
Namun, langkah Aira mendadak terhenti begitu melihat siapa yang duduk di sofa. Bagas. Aira berusaha bersikap senormal mungkin, meski dadanya berdesir panas.
"Silakan diminum." ucap Aira datar. *Kalau tahu tamunya si brengsek ini, mending tak buatkan sekalian!* gerutunya dalam hati.
Entah kenapa, ada rasa nyeri yang mendadak mencubit hatinya saat mengingat pengkhianatan Bagas. Kenapa harus Karin? Kenapa harus adiknya sendiri dari sekian banyak wanita di luar sana?
"Hai, Aira. Apa kabar?" sapa Bagas dengan pandangan menelisik.
"Baik." jawab Aira singkat dan ketus.
"Aku dengar kamu sudah nikah, ya? Beneran gara-gara digrebek warga? Ya ampun... miris banget. Untung aja dulu aku nggak jadi pilih kamu. Berarti keputusanku milih Karin dibanding kamu sudah sangat tepat." ucap Bagas, terkekeh meremehkan.
"Itu bukan urusanmu. Urus saja hidupmu sendiri!" balas Aira penuh ketegasan.
"Aku cuma penasaran sama suamimu. Kata Karin dia cuma kuli bangunan, ya? Wah... benar-benar nggak selevel sama aku."
Aira mengepalkan tangannya kuat-kuat. Darahnya mendidih mendengar suaminya dihina begitu saja. Pada saat yang sama, Karin keluar dari kamar dan langsung membakar cemburu melihat calon suaminya berdua saja dengan sang kakak.
"Eh, Mas Bagas udah sampai! Heh, Aira! Ngapain kamu malah ngajak ngobrol calon suamiku? Kamu nggak usah ngarep Mas Bagas bakal mau balikan sama kamu ya! Dia itu cintanya cuma sama aku, jadi percuma kamu godain!" gertak Karin dengan tatapan sengit.
Aira terkeh dingin. "Kamu nggak usah salah paham. Aku bukan kamu. Dia sendiri yang sok kepo nanya kabarku duluan. Lagipula, barang bekas kayak dia udah aku ikhlasin penuh buat kamu."
"Kamu—!"
Muka Karin memerah padam, emosinya melonjak mendengar jawaban telak Aira. Namun sebelum Karin sempat membalas, suara deru mesin motor tua terdengar di halaman. Devan baru saja pulang dengan motor bututnya.
"Assalamualaikum." sapa Devan melangkah masuk.
"Wa'alaikumussalam." Aira segera menyongsong suaminya tanpa ragu, lalu mencium tangannya mesra di hadapan Bagas dan Karin.
"Kok baru pulang, Mas?" tanya Aira lembut.
"Iya, Dek. Tadi ada pekerjaan yang harus diselesaikan dulu." jawab Devan. Sebenarnya Devan ingin memberi kabar dari tadi, tapi ia baru sadar kalau belum sempat meminta nomor ponsel istrinya sendiri.
"Oh... jadi ini suamimu?" Bagas mengamati Devan dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan pandangan merendahkan. Ia harus mengakui jika wajah Devan cukup tampan dan tegas, tapi penampilannya benar-benar kusam. Baju kerja Devan kotor dan kumal terkena debu proyek.
"Iya, ini suaminya Aira. Gimana? Pasangan yang pas banget kan? Sama-sama kucel dan kumuh!" ejek Karin seraya tertawa renyah.
"Maklum kalau kucel, namanya juga orang baru pulang cari nafkah. Sangat wajar." potong Aira cepat, pasang badan membela suaminya.
"Kamu tahu kan, Sayang? Dia itu cuma kuli bangunan. Jauh banget kalau dibandingin sama kamu. Bagaikan langit dan bumi, nggak level!" cerocos Karin lagi seraya menggelayut manja di lengan Bagas.
"Sana urus suami kucelmu itu! Jangan pernah godain calon suamiku lagi. Ayo, Sayang kita jalan!" Karin menarik kasar lengan Bagas keluar.
Aira mengelus dadanya pelan, mencoba mengelus emosi seraya beristighfar. Siapa juga yang mau mengagumi mantan pengkhianat seperti Bagas?
"Jadi... dia mantanmu yang malah melamar adikmu?" tanya Devan tenang, mengamati kepergian mereka. Aira hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
Aira lalu mengajak suaminya masuk ke kamar. "Wajar sih kalau Bagas lebih memilih Karin. Karin kan cantik, modis... beda jauh sama aku." gumam Aira pelan, mendadak merasa minder dengan penampilannya sendiri.
Devan menatap Aira dalam-dalam. "Kamu juga cantik. Dia cuma pria tidak bersyukur yang tidak bisa melihat keindahanmu."
*Deg.*
Jantung Aira mendadak berdegup kencang. Wajahnya merona hebat. Baru kali ini ada pria yang memujinya cantik secara tulus selain bapaknya. Jangankan dipuji, oleh ibunya sendiri saja Aira selalu dianggap serba kekurangan.
"Mas tak perlu terpaksa memujiku cuma buat bikin aku senang. Aku tahu diri kok, aku nggak ada apa-apanya dibanding Karin atau Mbak Siska."
"Jangan rendah diri begitu. Kamu itu cuma kurang perawatan dan belum pakai baju yang bagus saja. Coba kalau kamu dandan dan pakai baju bagus seperti mereka, aku jamin adik dan kakakmu bakal lewat." ujar Devan polos, menyuarakan isi kepalanya secara blak-blakan.
Bagi Devan, Aira itu manis alami. Kulitnya bersih, perilakunya santun. Hanya saja garis wajahnya tampak lelah dan sedikit kusam karena kurang terawat.
"Sudah... Mas nggak usah berlebihan begitu." bisik Aira salah tingkah, menyembunyikan rona merah di pipinya. "Aku sudah siapin air hangat di kamar mandi. Mending Mas mandi sekarang biar badannya segar."
Devan tersenyum tipis melihat tingkah malu-malu istrinya, lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.