Farhan adalah seorang pebisnis sukses, setelah menikah Farhan memenuhi segala kebutuhannya istrinya, ATM baru pun Farhan siapkan untuk mempermudah istrinya untuk beli apapun yang diinginkannya.
Sifat Farhan yang cuek dan keluhan istrinya dianggap sebagai hal biasa dan dianggap istrinya belum terbiasa dengan kebiasaannya yang sangat males keluar rumah jika sudah pulang kerja lebih memilih tidur setelah seharian bekerja.
Rasa kesal dan hambar selama pernikahan akhirnya Mila istri Farhan memilih untuk pergi tanpa memberikan kabar sama suaminya, setelah kepergian Mila membuat Farhan baru sadar akan kehadiran istrinya yang selama ini diabaikan dan protesnya tidak pernah dipedulikan. Mampukah Farhan menemukan Mila dan membuat istrinya untuk kembali sekaligus memperbaiki rumah tangga yang selama ini terasa hambar dan merubah kebiasaannya dan lebih mementingkan meluangkan waktu untuk membahagiakan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maya ps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Melihat jam di tangannya membuat Farhan langsung membuka laptopnya untuk balas email yang sudah dikirim sama Erik, pekerjaan yang cukup banyak hari ini membuat dirinya fokus sama pekerjaan yang sudah dikirimkan asisten pribadinya orang kepercayaan sekaligus sahabatnya dari masa sekolah dulu.
"Semangat hari ini banyak sekali email yang masuk, semoga tidak selesai sampai malam kasihan Mila jika sendirian di apartemen lagi dan nungguin di ruang tamu lagi." ucap Farhan sambil periksa email yang sudah dibuka dan mulai dibaca dengan teliti.
"Apa mau saya bantu Pak Farhan?" tanya Dion melihat atasannya mulai sibuk sama pekerjaan nya.
"Boleh deh, nanti saya kirim ulang proposal yang masuk ke kamu dan periksa dengan benar iya." ucap Farhan melihat asistennya yang siap meringankan pekerjaan nya.
Langsung ganti email yang sudah ke buka dengan email yang akan dikerjakan Dion dan kirim ke email nya Dion, senang sekali punya dua asisten membuat pekerjaan nya lebih ringan dan sedikit yang dikerjakannya.
Melihat Farhan sudah mulai memindahkan email yang dikirim Erik membuat dirinya langsung duduk didepan Farhan dan mulai membuka laptop dan melihat email yang sudah masuk beberapa pekerjaan yang harus dikerjakan dirinya saat ini juga.
**
Keputusan final akhirnya diambil juga, sebelum memutuskan pergi membuat Mila langsung belanja baju, make-up, dan beberapa kebutuhan pribadinya sebelum mencari tempat tinggal yang baru.
"Sepertinya ini sudah banyak oke lah Mila sekarang hidup mandiri lebih tenang dan mau melihat apa Farhan akan mencari keberadaan aku yang tidak pulang ke apartemen, lebih baik kota yang dekat saja dari sini supaya tidak mudah dilacak sama Farhan lebih baik naik bus saja yang tidak ribet pemesanan tiketnya." ucap Mila sambil pegang koper dan paparbage isi kebutuhan pribadinya.
Jalan santai keluar dari Mall setelah mengambil uang tunai untuk kebutuhan sehari-hari supaya tidak mudah dilacak sama Farhan, Mila ingin menghindar dari Farhan supaya menjalankan hidupnya lebih tenang biar lah hidup sendiri sementara waktu dan jika takdir menentukan dirinya harus berpisah dari Farhan maka hatinya sudah ikhlas dan sudah terbiasa hidup tanpa Farhan dalam hidupnya.
**
Takut dengan ancaman Farhan akan mengusir dirinya dan kedua saudaranya jika masih berusaha merusak rumah tangganya bahkan membuat Mila sedih karena ucapannya semakin kasar dan dianggap seenaknya mengatur hidupnya Farhan.
"Gue setuju Kak kita tidak ajak bicara Mila sama sekali, anggap saja orang asing walaupun tinggal bareng dan jika dia kenapa-kenapa kita tidak usah peduli sama sekali kesal sekali gue sama perempuan kampung itu." ucap Ihsan tidak ingin peduli sama Mila adik ipar yang tidak diharapkan.
"Kalo dia kenapa-kenapa kita pasti diminta bantu kan, kalo itu sih masih mau deh walaupun jadi beban untuk kita toh kita bisa bayar orang untuk urus perempuan kampung itu, tapi kalo untuk sehari-hari mending anggap dia tidak ada dirumah tidak usah diajak bicara sama sekali, dari pada hidup kita yang jadi susah nantinya karena gue malas cari kerja ditempat lain yang pastinya jadi karyawan biasa dengan gaji kecil dan tidak punya mobil malas gue berjuang dari nol." ucap Raka tidak mau ribet cari pekerjaan diluar perusahaan milik Farhan, karena ditempat lain tidak bisa memilih pekerjaan sesuka hati.
"Nah bagus kalian setuju, sepertinya perempuan kampung itu lebih betah tinggal disana membuat kita damai hidupnya tanpa melihat dia disini lagi, tapi kalo dia ada disini kita abaikan saja dia." ucap Gendis senang karena kedua adiknya bisa diajak kompak untuk musuhi Mila ipar yang tidak diharapkan.
Semakin benci sama Mila karena wanita itu membuat sahabat baiknya merasa dihina dan direndahkan sama Farhan, karena masih mengejar cintanya dan berharap punya ipar yang bisa kompak sama dirinya.
**
Waktu terus berlalu membuat Farhan merasa lega akhirnya pekerjaan nya selesai juga, dari mengerjakan proyek yang dikirim Erik sampai melihat proyek pembangunan yang sudah dilakukan dibeberapa tempat membuat Farhan langsung jalan menuju mobilnya untuk siap-siap pulang ke apartemen.
"Untung lah hari ini pulang jam tujuh tidak terlalu malam, kasihan juga membuat Mila sendirian sampai jam segini tapi aneh sampai jam segini tidak kasih kabar apapun di chat apa lagi sibuk iya Mila." ucap Farhan merasa aneh tidak seperti biasanya Mila tidak kirim chat atau mengirimkan foto kegiatan hari ini sama sekali, membuat dirinya langsung melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang supaya sampai di apartemen dan melihat istrinya lagi ngapain di apartemen jam segini.