NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Siska Delvi

Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Tamu Tak di Undang dan Sepatu Mengkilap di Atas Lumpur

Pagi itu, Nadia berdiri di depan cermin di kamar mess. Demamnya sudah turun, menyisakan sedikit lesu dan hati yang terasa diaduk pakai garpu.

Cincin di jari manisnya terasa lebih berat dari biasanya. Setiap kali ia pandang, bayangan bibir Arif di dahinya semalam kembali menghantui. Hangat. Lembut. Berbahaya.

Ia pakai seragam kerjanya, memastikan tidak ada kerutan. Saat melangkah keluar, ia janji pada diri sendiri: Fokus pada kerja. Jaga jarak. Jangan ulangi kesalahan semalam.

Namun janji itu hancur berkeping-keping begitu ia masuk ruang administrasi.

Arif sudah ada di sana, berdiri dekat mesin fotokopi, pegang tumpukan dokumen. Pria itu pakai kemeja kerja rapi, tapi lengannya tetap digulung sampai siku, memperlihatkan lengan bawah yang berotot.

Saat dengar pintu terbuka, Arif menoleh. Tatapan mereka bertemu.

Nadia tahan napas, siap melihat senyum miring atau tatapan nakal yang biasa Arif berikan. Tapi tidak. Arif menatapnya dengan tatapan sepenuhnya profesional, datar, dan terukur.

"Pagi, Nona Nadia," sapa Arif, suaranya normal, seolah semalam tidak ada yang terjadi. "Demamnya sudah turun?"

"Sudah, Pak Arif. Terima kasih," jawab Nadia, suaranya sedikit kaku.

"Bagus. Kalau masih kurang sehat bilang saja. Saya tidak mau staf administrasi saya pingsan di depan komputer," ucap Arif, lalu kembali memandangi dokumen di tangannya.

Nadia hela napas lega bercampur kecewa. Bagus, batinnya. Ini yang kita inginkan. Kembali profesional.

Namun saat Nadia jalan melewati Arif menuju mejanya, tangan Arif yang pegang dokumen turun sedikit. Jari telunjuknya menyenggol punggung tangan Nadia selama sepersekian detik. Sengatan listrik itu kembali menjalar. Nadia hampir tersandung.

Arif tidak menoleh, tapi Nadia bisa lihat ujung bibir pria itu berkedut naik. Dasar, gumam Nadia dalam hati, pipinya memanas.

Siang harinya, pabrik sedang sibuk. Pesanan minyak sawit menumpuk, dan Nadia harus koordinasi dengan bagian timbangan.

Nadia berdiri di teras ruang administrasi, menatap ke arah gerbang utama yang terbuka lebar, menunggu truk tangki pengangkut minyak masuk. Udara siang sangat terik, aspal di halaman pabrik berkilauan.

Tiba-tiba, suara mesin yang berbeda terdengar. Bukan suara diesel truk yang kasar dan berisik, melainkan dengungan halus dari mesin mobil mewah.

Sebuah mobil SUV putih metalik, bersih mengkilap, perlahan masuk ke area pabrik. Ban mobil itu melewati genangan lumpur merah bekas hujan semalam, meninggalkan jejak yang sangat kontras dengan debu dan oli di sekitarnya.

Nadia mengerjap, tidak percaya.

Mobil itu berhenti tepat di depan teras administrasi. Pintu sopir terbuka, dan seorang pria turun.

Rizki.

Tunangannya itu pakai kemeja polo navy, celana krem, dan sepatu kulit yang mengkilap. Rambutnya disisir rapi, dan ia bawa tas jinjing kulit bermerek mahal. Ia tampak seperti baru turun dari majalah gaya hidup, bukan berdiri di tengah pabrik sawit yang bau dan berdebu.

"Rizki?" Nadia turun dari teras, jalan menghampiri dengan langkah ragu. "Kamu... kenapa ke sini?"

Rizki senyum lebar, buka lengannya untuk memeluk Nadia. Nadia balas pelukan itu dengan kaku, tubuhnya tegang. Ia bisa cium aroma parfum Rizki yang mengalahkan bau minyak sawit di sekitarnya.

"Aku kangen," jawab Rizki, melepas pelukan dan menatap wajah Nadia. "Lagipula, aku cemas dengar kabar kamu sakit kemarin. Aku tidak tenang kalau kamu di sini sendirian. Jadi aku ambil cuti dua hari, sekalian mau bawa kamu ke Padang Panjang, Ibu minta kamu pulang sebentar."

Jantung Nadia berdegup kencang. Rizki datang. Tunangannya yang sempurna, yang selalu tahu apa yang terbaik untuknya, datang ke tempat yang paling tidak ia inginkan.

"Riz, ini... ini area kerja. Kamu tidak bisa sembarangan masuk ke sini tanpa izin," bisik Nadia panik, menatap sekeliling. Beberapa pekerja pabrik melirik ke arah mereka.

"Santai saja, Nad. Aku sudah lapor di pos satpam," Rizki senyum percaya diri, lalu menatap sekeliling dengan tatapan yang sedikit merendahkan, meski ia berusaha sembunyikan. "Tempatnya... cukup ekstrem ya. Pantas saja kamu sakit. AC di sini pasti tidak memadai."

Sebelum Nadia bisa jawab, pintu ruang administrasi terbuka. Arif melangkah keluar.

Ia bawa papan tulis, tampak sedang jalan menuju area timbangan. Namun saat lihat Rizki dan Nadia, langkah Arif berhenti.

Suasana di teras itu tiba-tiba berubah. Udara terasa menegang.

Arif menatap Rizki dari ujung kepala hingga ujung kaki, memperhatikan sepatu kulit yang mengkilap itu, lalu beralih menatap Nadia yang tampak pucat dan panik.

"Ada masalah, Nona Nadia?" tanya Arif. Suaranya tenang, tapi ada nada tajam yang tersembunyi di baliknya.

Rizki menoleh, menatap Arif. Tatapan Rizki menyapu kemeja Arif yang sedikit kusut, sepatu boot yang berlumpur, dan rahangnya yang ditumbuhi brewok tipis. Rizki langsung berasumsi sesuatu.

"Oh, tidak ada masalah," jawab Rizki sopan, namun senyumnya tidak sampai ke mata. Ia melangkah maju, merangkul pinggang Nadia dengan posesif. "Saya Rizki, tunangannya Nadia. Saya baru sampai. Anda pasti salah satu manajer di sini?"

Arif menatap tangan Rizki yang merangkul pinggang Nadia. Tatapannya gelap, rahangnya mengeras sedikit. Lalu, ia alihkan pandangannya ke mata Rizki.

"Arif. Asisten Manager di pabrik ini," jawab Arif datar. Ia melangkah turun dari teras, mendekati mereka. "Dan Nadia bukan sekadar staf di sini. Dia yang pegang kendali atas laporan keuangan dan hitungan biaya produksi. Tanpa dia, minyak kita tidak akan bisa dikirim ke Jakarta tepat waktu."

Rizki terkejut dengar penegasan itu. Ia menatap Nadia, lalu kembali ke Arif.

"Oh. Saya tidak tahu. Terima kasih sudah menjaganya. Nadia ini... agak rapuh, jadi saya agak khawatir," kata Rizki.

Rapuh. Kata itu membuat Nadia ingin teriak.

Arif tersenyum miring, senyum yang sama yang selalu bikin lutut Nadia lemas. "Rapuh? Menarik. Semalam saya melihat dia sangat tangguh menghadapi tekanan di pabrik ini. Anda tidak perlu khawatir, Pak Rizki. Di sini, kami tidak perlakukan orang yang rapuh."

Nadia tahan napas. Arif sengaja memainkan kata-katanya. Rizki tidak sadar maksud di balik ucapan Arif, tapi Nadia tahu persis apa yang sedang dilakukan Arif. Arif sedang tandai wilayahnya.

"Syukurlah kalau begitu," jawab Rizki, sedikit tersinggung oleh nada Arif, tapi berusaha tetap sopan. "Nad, ayo kita ke mess. Aku sudah pesan makanan dari restoran di kota. Kita makan siang, lalu kamu istirahat. Besok pagi kita pulang."

Rizki menarik tangan Nadia, memaksanya untuk mengikuti.

Nadia menoleh ke belakang, menatap Arif. Pria itu berdiri diam, tangannya masukkan papan tulis ke dalam saku celananya. Tatapan mereka bertemu. Ada kecewa, ada tantangan, dan ada janji yang belum selesai.

"Permisi, Pak Arif," ucap Nadia pelan, suaranya terdengar seperti orang minta maaf.

Arif hanya angguk kecil. "Hati-hati di jalan, Nadia. Jangan lupa, laporan rugi laba sore ini harus selesai."

Saat mobil mewah Rizki menjauh, meninggalkan jejak lumpur di halaman pabrik, Nadia menatap tangannya yang digenggam oleh Rizki. Tangan yang halus, yang memberinya hidup yang aman dan bersih.

Tapi di dalam hatinya, Nadia tahu. Ia baru saja meninggalkan sesuatu yang nyata di belakangnya. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa seperti sedang dipenjara di dalam sangkar emas yang sepatunya mengkilap di atas lumpur.

Sepatu Rizki yang mengkilap itu tidak akan pernah cocok dengan lumpur Dharmasraya. Dan Nadia mulai sadar, mungkin dirinya juga tidak akan pernah cocok lagi dengan Rizki.

Bersambung

1
𝐀⃝🥀Weny
semoga kalian berjodoh🤲 tambah up lagi dong thor 😊
𝐀⃝🥀Weny: 😊😊😊😊😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!