Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.
Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.
Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.
Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.
Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.
Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wasiat mendiang Ayah
Bima menatap ibunya seolah tidak yakin telah mendengar kalimat itu dengan benar.
"Bu?"
"Kamu sudah mendengar apa yang Ibu katakan."
Bima menghembuskan napas panjang, lalu mengusap wajahnya.
"Tapi, Bu...."
"Tidak ada tapi-tapian, Nak!" Suara Bu Almira terdengar lebih tegas.
"Ibu sudah terlalu lama menunggu. Kamu sudah kembali ke Indonesia, tugasmu di Lebanon sudah selesai, dan sekarang kamu kembali menjalani pekerjaanmu di Jakarta. Lalu sampai kapan kamu akan terus hidup seperti ini?"
Bima mengerutkan keningnya.
"Memangnya hidup Bima kenapa, Bu? Bima bekerja, Bima mengurus Kaning, dan Bima berusaha menjadi ayah yang baik untuknya. Bukankah itu sudah cukup?"
"Belum, Nak."
Bu Almira menatap putranya dengan penuh kasih sekaligus kekhawatiran.
"Kamu memang ayah yang baik. Tapi Kaning juga membutuhkan sosok ibu. Seorang perempuan yang bisa mendampinginya tumbuh, menemaninya ketika sakit, mendengarkan cerita-ceritanya, dan memberikan kasih sayang yang berbeda dari kasih sayang seorang ayah."
Bima terdiam.
"Ibu tahu kamu sangat menyayangi Kaning. Ibu juga tahu kamu berusaha menebus waktu yang hilang selama bertugas. Tapi kamu pasti akan sibuk dengan pekerjaanmu. Tidak setiap saat kamu bisa berada di rumah untuk menemaninya."
Bu Almira menarik napas panjang.
"Dan sekarang, setiap hari Kaning selalu membicarakan Bu Latifah. Dia merindukan perempuan itu sampai berkali-kali meminta kita kembali ke Darussalam."
Bima menunduk sesaat.
"Ibu juga tahu betapa besar jasa Latifah untuk Kaning. Tetapi bukan itu saja yang ingin Ibu bicarakan."
Ia kembali mengangkat wajahnya.
"Dulu, sebelum kamu berangkat ke Lebanon, kamu pernah menolak perjodohan yang sudah dibicarakan oleh Ibu dan mendiang ayahmu. Sekarang Ibu ingin kamu mempertimbangkannya kembali."
Bima menghela napas panjang.
"Bu, kita sudah pernah membicarakan hal ini."
"Dan kamu selalu menolak untuk mendengarkan Ibu sampai selesai!"
"Ibu, Bima bukan anak kecil lagi. Bima tahu apa yang Bima butuhkan."
"Kalau begitu, dengarkan Ibu sebagai seorang ibu yang menginginkan kebahagiaan putranya!"
Suasana ruang keluarga mendadak hening. Bima terdiam ketika melihat mata ibunya mulai berkaca-kaca.
Bu Almira bukanlah perempuan yang mudah memaksakan kehendak. Namun, untuk persoalan ini, ia merasa harus bersikap tegas. Ada janji yang telah dibuat oleh mendiang suaminya, dan ia tidak ingin janji itu berakhir tanpa pernah diusahakan kembali.
"Bima," lanjutnya lebih pelan, "Ibu dan mendiang ayahmu sudah menjodohkan kamu dengan putri seorang kerabat dekat kami. Kamu mengenal keluarga mereka, meskipun kamu belum mengenal putrinya secara pribadi."
Bima mengusap tengkuknya.
"Bu, bagaimana Bima bisa menikah dengan perempuan yang bahkan tidak Bima kenal? Pernikahan bukan perkara sederhana. Bima tidak ingin menjadikan seseorang sebagai istri hanya karena tuntutan keluarga."
"Ibu tidak pernah mengatakan kamu harus langsung mencintainya, Nak. Ibu hanya meminta kamu memberikan kesempatan."
"Tapi, Bu..."
"Tidak ada tapi-tapian lagi!"
Bu Almira memotong ucapan putranya.
"Kali ini Ibu tidak ingin ada penolakan lagi sebelum kamu benar-benar mengenalnya. Setidaknya, temui dia terlebih dahulu. Bicaralah dengannya. Setelah itu, kamu boleh menyampaikan pendapatmu."
Bima menggeleng perlahan.
"Ibu tahu bagaimana keadaan Bima dulu. Ketika Alika meninggal setelah melahirkan Kaning, Bima bahkan tidak sanggup membayangkan hidup bersama perempuan lain. Bima baru saja kehilangan seseorang yang Bima cintai. Bima juga harus menerima kenyataan bahwa putriku tumbuh tanpa ibunya."
Suaranya melemah saat menyebut nama mendiang istrinya.
"Pada saat itu, Bima belum siap membangun rumah tangga lagi. Bima takut tidak bisa bersikap adil kepada perempuan yang kelak menjadi istrinya Bima. Bima takut hanya akan melukai perasaannya karena hati Bima belum siap."
Bu Almira menatap putranya dengan mata berkaca-kaca.
"Ibu mengerti, Nak. Ibu tidak pernah menyalahkanmu karena perasaan itu."
"Kalau begitu, kenapa sekarang Ibu kembali membicarakannya?"
"Karena waktu terus berjalan, Bima. Dan kamu tidak bisa terus bersembunyi di balik luka yang sama selamanya."
Bima terdiam.
Kalimat itu terasa menusuk bagian hatinya yang selama ini berusaha ia lindungi.
Ia tidak pernah melupakan istrinya. Perempuan itu adalah bagian dari masa lalu yang tidak akan pernah bisa dihapus. Namun, ia juga sadar bahwa hidup harus terus berjalan, terutama karena ada seorang anak kecil yang membutuhkan dirinya.
Meski demikian, ia belum yakin apakah dirinya benar-benar siap membuka hati untuk perempuan lain.
Bu Almira meraih tangan putranya.
"Masih ingat apa yang dikatakan ayahmu sebelum beliau meninggal?"
Bima terdiam cukup lama.
Tentu saja ia ingat. Kenangan itu kembali muncul dengan jelas dalam pikirannya.
Saat itu, istrinya baru saja meninggal dunia setelah melahirkan Kaning. Bima masih diliputi kesedihan yang mendalam. Ia bahkan belum mampu menerima kenyataan bahwa perempuan yang dicintainya telah pergi untuk selamanya.
Mendiang ayahnya, Pak Ibnu, pernah memanggilnya ke kamar. Dengan suara lemah, lelaki yang telah membesarkannya itu meminta Bima duduk di sisi tempat tidurnya.
"Bima, Nak. Ayah tahu kamu sedang berduka."
Bima menunduk.
"Iya, Yah."
"Dan Ayah tidak akan memintamu melupakan istrimu. Dia adalah bagian dari hidupmu. Tidak ada yang bisa menggantikan tempatnya begitu saja."
Bima menggenggam tangan ayahnya.
"Kalau begitu, jangan meminta Bima menikah lagi, Yah. Bima belum siap. Bima hanya ingin membesarkan Kaning dan menjalankan tugas Bima."
Pak Ibnu mengangguk pelan.
"Ayah mengerti. Ayah tidak meminta kamu menikah besok atau lusa. Ayah hanya ingin kamu tidak menutup pintu hatimu untuk selamanya."
Bima terdiam.
"Jika suatu hari nanti kamu sudah siap, Ayah ingin kamu mempertimbangkan putri kerabat kita. Ayah mengenal keluarganya dengan baik. Mereka orang-orang yang baik, dan Ayah percaya putri mereka dibesarkan dengan nilai-nilai yang baik pula."
"Tapi Bima bahkan belum mengenalnya, Yah."
"Karena itu, kenalilah dia ketika waktunya tiba. Jangan menerima atau menolak seseorang hanya berdasarkan bayanganmu sendiri."
Pak Ibnu menarik napas panjang sebelum kembali berbicara.
"Ayah hanya ingin kamu memiliki pendamping yang bisa menemani perjalanan hidupmu, Nak. Seseorang yang bukan hanya menyayangi kamu, tetapi juga bisa menyayangi Kaning dengan tulus."
Bima menunduk, menahan air mata.
"Ayah ingin kamu bahagia. Dan jika suatu hari Ayah sudah tidak ada, ingatlah bahwa kamu tidak harus menjalani semuanya sendirian."
Kalimat itu menjadi salah satu pesan terakhir yang selalu diingat Bima dari ayahnya.
Namun, saat itu ia belum sanggup menerimanya. Kesedihan, tanggung jawab sebagai seorang ayah, serta tugas militernya membuatnya memilih menunda segala pembicaraan tentang pernikahan.
Hingga akhirnya ia berangkat ke Lebanon, membawa pesan itu bersamanya tanpa pernah benar-benar menindaklanjutinya.
"Bima?"
Suara Bu Almira mengembalikan pria itu ke masa sekarang.
Bima berkedip, lalu menatap ibunya.
"Iya, Bu. Bima ingat."
"Kalau kamu masih mengingat pesan ayahmu, mengapa kamu terus menolak untuk memberikan kesempatan?"
Bima menarik napas panjang.
"Karena Bima masih belum tahu apakah Bima bisa menerima perempuan lain dalam kehidupan Bima."
Bu Almira mengangguk perlahan.
"Kalau begitu, jangan memutuskan sebelum bertemu dengannya."
Bima terdiam.
"Ibu tidak meminta kamu langsung mencintainya. Ibu hanya meminta kamu membuka pikiran dan mengenalnya. Jika setelah pertemuan itu kamu benar-benar merasa tidak cocok, kita bicarakan baik-baik. Tetapi jangan menolak hanya karena kamu belum pernah mengenalnya."
Pria itu mengusap wajahnya, kemudian menatap jam tangan.
"Ibu, Bima harus berangkat sekarang. Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti malam."
Bu Almira tidak langsung menjawab. Ia tahu putranya sedang berusaha menghindari pembicaraan yang membuatnya terpojok. Namun, setidaknya kali ini Bima tidak langsung mengatakan bahwa ia tidak akan pernah menikah lagi.
Sebelum putranya melangkah pergi, Bu Almira kembali memanggilnya.
"Bima."
Pria itu berhenti dan menoleh.
"Apa lagi, Bu?"
"Jangan lupa, Nak. Ibu melakukan semua ini bukan untuk memaksamu hidup bersama seseorang yang tidak kamu inginkan. Ibu hanya ingin kamu memberikan kesempatan kepada dirimu sendiri untuk bahagia lagi."
Bima menatap ibunya cukup lama. Kemudian ia mengangguk kecil.
"Bima mengerti."
Ia meraih tas kerjanya, lalu berjalan menuju pintu.
Namun, baru beberapa langkah, suara Bu Almira kembali terdengar.
"Dan satu lagi, Bima. Pikirkan juga Kaning. Dia membutuhkan keluarga yang utuh, seseorang yang bisa mendampinginya ketika kamu tidak ada."
Bima berhenti sejenak. Bayangan Kaning yang menangis memeluk Latifah di depan gerbang pesantren kembali melintas dalam pikirannya.
Ia teringat bagaimana putrinya berkali-kali meminta untuk kembali ke Darussalam. Ia juga teringat sosok Latifah yang dengan sabar mendampingi Kaning, mengajarinya mengaji, dan menenangkan setiap tangisnya. Entah mengapa, ketika ibunya membicarakan tentang calon istri, wajah perempuan muda itu sempat terlintas di dalam benaknya.
Bima segera menggeleng pelan, seolah ingin menyingkirkan pikiran yang tidak semestinya muncul.
"Bu Latifah adalah gurunya Kaning. Tidak ada hubungannya dengan perjodohan yang Ibu bicarakan." batinnya.
Ia mengembuskan napas, lalu kembali melangkah.
Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa pembicaraan pagi itu bukanlah sesuatu yang bisa ia hindari selamanya.
Sementara itu, Bu Almira memandangi punggung putranya hingga menghilang di balik pintu.
"Semoga kamu mengerti suatu hari nanti, Nak," bisiknya.
Ia menatap foto mendiang suaminya yang terpajang di atas meja.
"Suamiku, aku sudah berusaha menjaga wasiatmu. Sekarang semuanya kembali kepada Bima dan perempuan yang telah kita pilih untuknya. Semoga Allah melembutkan hati mereka."
Bima sudah mengenal Latifah sebagai perempuan yang berjasa bagi Kaning. Sementara Latifah mengenal Bima sebagai ayah yang begitu menyayangi putrinya.
Namun, keduanya belum mengetahui bahwa nama mereka telah lama disandingkan dalam sebuah rencana keluarga. Dan ketika rahasia itu akhirnya terbuka, bukan hanya Bima yang harus menghadapi keputusan besar.
Latifah pun harus menentukan apakah ia akan menerima pria yang telah dipilihkan orang tuanya, atau tetap bertahan pada harapan lama yang selama ini ia simpan untuk Ustaz Firman.
Sebab, terkadang takdir tidak datang ketika hati sudah siap. Takdir justru datang ketika seseorang masih sibuk mempertahankan apa yang selama ini diyakininya sebagai kebahagiaan.
Bersambung...
lanjut aja lah Thor.....
lanjut lah Thor ..mkn seru ni🥰🥰🥰