Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Arthur Bond, Rexana Nycekerh hidup bagai pajangan mahal di dalam sangkar emas. Demi menyelamatkan perusahan ayahnya yang terancam runtuh, Rex terpaksa menelan bulat-bulat dinginnya penghinaan dan tuduhan atas rahasia masa lalu yang enggan ia bocorkan. Namun, ketika kembali ke New York, takdir memainkan lelucon paling kejam.
Lexana, kakaknya sendiri, secara terang-terangan memamerkan kekasih barunya—Diedrick Glodereus Ashford.
Pria itu adalah pemilik masa lalu Rex, cinta pertamanya yang kini hadir kembali membawa dendam dan kepahitan.
Di tengah kepungan tuntutan keluarga yang tak berhati dan intrik kekuasaan, Rex harus berdiri sendirian di antara dua pria yang membencinya.
Akankah rahasia di balik perpisahan masa lalu mereka terkuak, atau justru Rex akan benar-benar hancur dalam permainan pembalasan dendam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Lampu kilat merah-putih dari deretan mobil mewah membelah kabut tipis fajar New York yang mulai memudar.
Di atas aspal jalanan menuju pinggiran kota, sebuah taksi kuning melaju sedang, terombang-ambing di antara raungan mesin bertenaga tinggi yang mengepungnya dari belakang.
Di dalam taksi, Rexana menyandarkan kepalanya yang berat ke kaca jendela.
Kelelahan fisik dan kehancuran batin setelah membongkar kebohongan keluarga Nycekerh membuat dadanya terasa hampa, bagai ruang kosong yang ditinggal mati oleh penghuninya.
Namun, ketenangan singkat itu hancur seketika saat derum mesin Ferrari hitam yang sangat dia kenali menggelegar nyaring dari sisi kanan.
Vrooom!
"Sir! Tolong percepat kendaraannya!" panggil Rexana panik, matanya membelalak menatap mobil sports Diedrick yang memotong jalur secara agresif, mencoba menghimpit taksi ke tepi trotoar.
Sopir taksi paruh baya itu mengintip kaca spion dengan raut wajah pucat dan tangan yang bergetar di atas kemudi.
"Nona, saya tidak bisa melaju lebih cepat dari ini! Mobil di belakang menyalakan lampu jauh dan terus memotong jalur. Jika saya menambah kecepatan, itu menyalahi aturan lalu lintas dan kita bisa terguling!"
"Tolong, Sir! Hanya sedikit lagi!" pintanya dengan suara yang nyaris pecah.
Namun kegilaan Diedrick tak lagi mengenal hukum atau keselamatan.
Pria itu menancap gas, meluncur mendahului taksi, lalu mendadak membanting stir ke kiri dan menginjak rem sedalam-dalamnya tepat di depan moncong taksi!
CIIIIIIEEEEEKKKKKK!
Decitan ban yang beradu keras dengan aspal terdengar memekakkan telinga.
Sopir taksi menginjak rem mendadak hingga tubuh Rexana terlempar ke depan, tertahan oleh sabuk pengaman sebelum taksi berhenti hanya beberapa sentimeter dari bemper belakang Ferrari hitam itu.
"Gila! Tuan itu benar-benar gila!" umpat sopir taksi terengah-engah.
Pintu Ferrari terbuka kasar.
Diedrick melangkah keluar tanpa memedulikan sudut bibirnya yang masih memar dan berdarah bekas hantaman Arthur.
Kemeja hitamnya kotor dan kusut, tatapan matanya liar dipenuhi keputusasaan murni. Pria itu melangkah lebar, menarik pintu belakang taksi hingga terbuka paksa.
"Keluar, Ballerina!" bentak Diedrick, suaranya parau dan bergetar di udara pagi yang dingin.
"Lepaskan aku, Diedrick! Pergi!" jerit Rexana, bertarung mencengkeram sabuk pengaman saat tangan tegap Diedrick menyambar pergelangan tangannya dan menariknya keluar dari dalam taksi.
BAM!
Diedrick menghempaskan pintu taksi, melempar beberapa lembar uang kertas ratusan dolar ke arah jendela sopir, lalu menyeret Rexana ke tepi pembatas jalan yang sepi.
"Kenapa kau lari, hah?!" gertak Diedrick, mencengkeram kedua bahu Rexana dengan tangan gemetar.
Matanya yang merah menatap lurus ke dalam wajah porselen wanita itu.
"Kau mencuri uangku, kau mengambil jam tanganku, dan kau meninggalkan pesan sampah seolah-olah kau adalah pelacur yang kubayar untuk satu malam?! Kau gila, Bellerina?!"
Sebuah derai tawa dingin dan menyayat hati meluncur dari bibir Rexana.
Air mata yang sejak tadi ditahannya tumpah membasahi pipinya yang pucat.
Dia menepis tangan Diedrick dengan sisa tenaganya, menatap pria di hadapannya dengan tatapan penuh rasa jijik dan kehancuran yang mendalam.
"Memangnya apa bedanya aku dengan wanita-wanitamu yang lain, Diedrick?!" teriak Rexana histeris, suaranya pecah ditelan angin jalanan.
"Kau membawa wanita berbeda ke pesta, kau memacari kakakku, kau meniduri puluhan wanita selama empat tahun ini! Kau memamerkan tubuh mereka di depan umum! Lalu untuk apa kau mencariku?! Tempatku hanya sebatas kamar mandi dan tubuh telanjangku di atas ranjangmu, kan?!"
Diedrick membeku seketika.
Dada bidangnya naik-turun menahan gemuruh perih yang mengoyak jantungnya.
Rasa hancur yang amat sangat terpancar murni dari sepasang mata elang pria Ashford itu.
"Demi Tuhan... itu tidak benar, Bellerina!" pekik Diedrick dengan suara tertahan yang sarat akan keputusasaan, memajukan tubuhnya dan menangkup wajah Rexana tanpa belas kasihan pada rasa sakitnya sendiri.
"Demi Tuhan, tidak ada wanita lain! Semua rumor itu, semua wanita yang kubawa... semuanya hanya panggung sandiwara agar beritanya sampai ke Swiss! Agar kau cemburu, agar kau kembali ke New York untuk mencaciku! Aku tidak pernah menyentuh mereka, Bellerina! Tidak pernah satu pun!"
"Dusta!" jerit Rexana menangis keras, meronta di dalam dekapan Diedrick.
"Kau mabuk semalam! Kau meracau dan menyebut namaku hanya karena pengaruh obat racun itu! Kau tidak pernah mencintaiku lagi!"
"Aku tidak mendustaimu!" bentak Diedrick liar, menundukkan kepalanya hingga hidung mereka bersentuhan, hembusan napas panasnya membakar kulit wajah Rexana yang basah.
"Obat itu sudah hilang dari darahku, tapi rasaku padamu tidak pernah berkurang sedikit pun! Kau merasakannya sendiri, Bellerina! Kau merasakan bagaimana tubuhku hanya menginginkan mu! Kau milikku... kau selalu menjadi milikku!"
"Tutup mulutmu, Diedrick!" histeris Rexana, dadanya terengah-engah oleh rasa malu, cinta, dan luka yang bercampur menjadi satu.
"Demi tuhan hubungan kita telah berakhir empat tahun lalu!"
Pertengkaran panas yang penuh ekspresi luka dan sisa gairah terlarang itu membakar udara pagi di tepi jalanan New York, hingga sebuah derum mesin lain yang melaju kesetanan memutus percakapan mereka.
Sebuah mobil sports perak meluncur menghantam trotoar hanya beberapa meter di belakang mereka.
Pintu mobil itu terbuka kencang.
Arthur Bond melangkah keluar dengan raut wajah meliuk dalam kemurkaan iblis.
Rahangnya mengetat, matanya merah memancar dendam yang gila, dan tangannya mengepal di samping tubuh.
"Jauhkan tangan kotormu dari istriku, Ashford!" gertak Arthur, suaranya menggema penuh ancaman saat dia melangkah mendekat.
Rexana tersentak kaget, melangkah mundur hingga punggungnya menabrak dada bidang Diedrick.
Diedrick secara refleks meletakkan satu tangannya di pinggang Rexana, menarik wanita itu ke belakang tubuhnya untuk melindunginya, sementara matanya menatap Arthur dengan dorongan membunuh yang dingin.
"Istri?" cemooh Diedrick dengan senyum miring yang beracun, membuang ludah berdarahnya ke aspal.
"Kau masih berani menyebutnya istri setelah kau menjualnya semalam demi selembar kertas kontrak?"
Arthur tertawa lepas, tawa kering yang sarat akan kedengkian murni.
Pria itu menunjuk wajah Rexana yang berlindung di balik tubuh Diedrick.
"Mau kau menidurinya seratus kalipun dalam semalam, mau dia mengerang menyebut namamu sampai suaranya habis... kenyataan hukum tidak akan pernah berubah, Diedrick!" gertak Arthur dengan napas memburu, menancapkan pandangannya pada Rexana.
"Dia adalah Rexana Bond! Dia masih sah sebagai istriku di mata hukum dan negara! Kau tidak lebih dari sekadar pria rendahan yang menikmati tubuh istriku!"
"Dia bukan barang milik siapa pun, bajingan!" potong Diedrick murka, melangkah satu pijakan maju dengan otot rahang yang mengeras kencang.
"Tanya pada wanita di belakangmu itu!" bentak Arthur menunjuk Rexana dengan telunjuk gemetar.
"Tanya padanya... apa dia berani melangkah pergi bersamamu tanpa tanda tanganku di surat cerai?! Aku yang memegang rantai hidupnya! Aku yang menentukan apakah dia bisa bebas atau membusuk di dalam penjara hukum atas tuduhan perselingkuhan!"
Atmosfer di tepi jalanan New York itu mendadak membeku.
love sekebon
happy graduation eh happy birthday mksdnya