Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.
Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.
Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.
Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.
Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 — Orang yang Ditakuti Para Pemain
Lelaki berjubah abu-abu itu mundur satu langkah.
Hanya satu langkah kecil, tetapi Gu Chen melihatnya dengan jelas. Sejak pertama kali bertemu, lelaki itu selalu bersikap seolah tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang mampu mengancamnya. Ia bahkan tidak mengedipkan mata ketika Gu Chen menghunus pisau ke arahnya.
Namun, sekarang tangannya gemetar.
Bukan karena takut kepada Gu Chen.
Melainkan karena lonceng hitam yang berada dalam genggaman pemuda itu.
“Letakkan benda itu,” ulangnya. Kali ini suaranya lebih rendah. “Kau tidak memahami apa yang sedang kau pegang.”
Gu Chen mengangkat lonceng itu di depan wajahnya. Permukaannya kasar, dipenuhi retakan tipis. Tidak ada ukiran yang terlihat selain satu simbol kecil di bagian bawah: lingkaran kosong yang dikelilingi sembilan garis.
“Aku sudah terlalu sering mendengar kalimat itu,” jawabnya. “Setiap orang yang menyembunyikan sesuatu selalu mengatakan bahwa aku tidak akan memahami kebenaran.”
Ia memiringkan kepala.
“Cobalah mengatakan sesuatu yang berbeda. Misalnya, jelaskan mengapa kau membawa benda ini ke desaku, mengapa kau mencoba menghapus ayahku dari ingatan orang-orang, dan mengapa kau ketakutan melihatnya berada di tanganku.”
Lelaki itu terdiam.
Di belakangnya, salah seorang pria bertopeng berlutut. Tubuhnya gemetar ketika melihat tulisan yang melayang di udara.
“Tuanku, peringatan itu berasal dari sistem pusat. Kita harus segera menghentikan prosesnya!”
“Diam!” bentak lelaki berjubah abu-abu.
Pria bertopeng tersebut langsung menundukkan kepala.
Gu Chen menangkap satu kata dari percakapan mereka.
Sistem pusat.
Jadi, mereka bukan sekadar kelompok pemburu yang menggunakan benda aneh. Mereka terhubung dengan sesuatu yang mengatur permainan itu sendiri.
Ia menyeringai.
“Menarik. Jadi, kalian punya atasan juga. Kukira orang-orang sepertimu terlalu angkuh untuk bekerja bagi orang lain.”
Lelaki berjubah abu-abu menatapnya tajam.
“Jangan salah mengartikan keadaan ini sebagai kemenangan. Kau hanya menyentuh sesuatu yang seharusnya tetap terkunci.”
“Kalau begitu, seharusnya kalian menyembunyikannya dengan lebih baik.”
“Kau tidak tahu apa yang akan terjadi jika lonceng itu berbunyi tiga kali.”
Gu Chen menghentikan gerakan tangannya.
Tiga kali.
Ia teringat suara lonceng dalam penglihatannya. Dentang pertama telah membawanya ke ruangan putih. Di sana, ia melihat anak laki-laki yang menyerupai dirinya dan seorang pria berjubah hitam di balik pintu.
Ia belum mengetahui apa arti penglihatan tersebut.
Namun, ia tahu satu hal: lelaki di hadapannya memahami sesuatu tentang lonceng itu.
“Berapa kali lonceng ini pernah dibunyikan?” tanya Gu Chen.
“Dua kali.”
“Siapa yang membunyikannya?”
Lelaki itu tidak menjawab.
Gu Chen mengangkat alis. “Baiklah. Aku akan mencoba menebak. Ayahku?”
Ekspresi lelaki itu berubah.
Jawaban yang cukup jelas.
Gu Chen menatap lonceng hitam di tangannya. “Jadi, ayahku membunyikannya dua kali, kemudian menyembunyikannya. Dan kalian datang ke desaku untuk mengambilnya.”
“Gu Yuan tidak menyembunyikannya,” kata lelaki itu akhirnya. “Ia mengubur keberadaannya dari dunia.”
“Bedanya?”
“Benda yang disembunyikan masih bisa ditemukan. Benda yang keberadaannya dihapus seharusnya tidak pernah bisa ditemukan kembali.”
Gu Chen mengerutkan kening.
“Namun, aku menemukannya.”
“Karena kau bukan lagi bagian dari penghapusan itu.”
Lelaki tersebut menarik napas panjang. “Dengarkan aku baik-baik. Lonceng itu bukan senjata. Ia adalah alat untuk memanggil kembali sesuatu yang telah dihapus dari sejarah. Orang, tempat, kejadian, bahkan identitas yang sudah tidak diakui dunia.”
Gu Chen teringat tulisan pada pintu hitam dalam penglihatannya.
ARSIP YANG DIHAPUS.
“Dan apa yang akan terjadi jika aku membunyikannya untuk ketiga kalinya?”
“Semua yang pernah dihapus oleh lonceng itu akan mulai kembali.”
“Bagus.”
“Bagus?” Lelaki itu menatapnya seolah Gu Chen baru saja menyatakan ingin menghancurkan langit. “Kau tidak mengerti! Ada sesuatu yang dikubur bersama sejarah. Sesuatu yang bahkan para pemain tidak berani membiarkannya kembali!”
Gu Chen tertawa pendek.
“Kalau para pemain takut, aku justru semakin ingin membangunkannya.”
“Bodoh!”
“Mungkin. Tapi setidaknya aku tidak menghabiskan hidupku menghapus orang lain demi mempertahankan kebohongan.”
Kalimat itu membuat suasana mendadak hening.
Lelaki berjubah abu-abu menatap Gu Chen cukup lama, lalu menggeleng pelan.
“Kau benar-benar mirip dengannya.”
“Dengan siapa?”
“Dengan orang yang membuat kami semua takut.”
Gu Chen hendak bertanya lebih jauh ketika lonceng di tangannya bergetar.
Satu kali.
Tidak ada suara yang terdengar, tetapi seluruh desa seolah tersentak. Orang-orang yang sebelumnya kebingungan tiba-tiba berhenti bergerak. Beberapa menatap rumah mereka, yang lain memandang anggota keluarga di samping mereka.
Seorang lelaki tua mendadak menangis.
“Anakku…”
Ia menatap seorang pemuda yang berdiri tak jauh darinya.
“Anakku, kau sudah kembali!”
Pemuda itu terkejut, lalu memeluknya.
“Ayah?”
Satu demi satu, penduduk desa mulai mengingat sesuatu yang sebelumnya hilang. Seorang ibu memanggil nama anaknya. Seorang perempuan berlari menuju rumah kosong sambil menyebut nama suaminya. Seorang pedagang jatuh berlutut, menangis ketika mengingat saudara yang telah lama dianggap tidak pernah ada.
Penghapusan itu sedang dibatalkan.
Lin Yue memandang pemandangan tersebut dengan takjub.
“Gu Chen… kau berhasil mengembalikan ingatan mereka.”
“Bukan aku yang melakukannya.”
Ia memandangi lonceng hitam.
“Benda ini yang melakukannya.”
Tulisan baru muncul di udara.
\[PEMULIHAN ARSIP: 3%\]
\[PERINGATAN: PROSES PEMULIHAN TIDAK DAPAT DIHENTIKAN DENGAN METODE BIASA.\]
\[DATA YANG DIKEMBALIKAN: 17 IDENTITAS.\]
Gu Chen membaca setiap baris dengan saksama.
Tujuh belas identitas.
Berarti ada tujuh belas orang yang keberadaannya telah dihapus dari desa itu. Mungkin lebih banyak lagi yang mengalami nasib serupa di tempat lain.
Ia menatap lelaki berjubah abu-abu.
“Berapa banyak orang yang telah kalian hapus?”
Lelaki itu mengepalkan tangan.
“Cukup banyak.”
“Angka.”
“Aku tidak menghitungnya.”
“Pembohong.”
Gu Chen melangkah mendekat. “Orang yang tidak menghitung korban biasanya bukan karena jumlahnya terlalu banyak. Melainkan karena ia tidak pernah menganggap mereka manusia.”
Lelaki itu tiba-tiba mengangkat tangannya.
Salah seorang pria bertopeng bergerak menyerang dari sisi kanan. Gu Chen melihat bayangan pedang datang, tetapi tubuhnya terlalu lelah untuk menghindar sepenuhnya. Ia memutar bahu. Ujung pedang menggores lengannya, menyisakan luka panjang.
Lin Yue melepaskan anak panah.
Anak panah itu menembus bahu pria bertopeng, memaksanya mundur.
“Kalau kau ingin mati, setidaknya jangan berdiri diam!” seru Lin Yue.
“Aku sedang berpikir!”
“Berpikirlah sambil bergerak!”
Gu Chen menyeringai. “Saran yang bagus.”
Ia menjatuhkan tubuhnya ke samping, meraih segenggam tanah, lalu melemparkannya ke wajah lawan yang mendekat. Gerakan itu tidak elegan, tidak pula terlihat seperti teknik bela diri seorang ahli.
Namun, ia berhasil membuat lawannya kehilangan pandangan selama sesaat.
Gu Chen menggunakan kesempatan tersebut untuk menghantam lutut pria itu dengan tendangan. Ketika lawannya terjatuh, ia merampas pedangnya dan mengarahkannya ke leher pria bertopeng tersebut.
“Jangan bergerak.”
Pria itu membeku.
Gu Chen menoleh kepada Lin Yue. “Kau bisa menangani dua orang lainnya?”
Lin Yue melirik tiga lawan yang tersisa, lalu kembali memandangnya.
“Kau bercanda?”
“Tidak. Aku sedang menguji kemampuanmu.”
“Kalau kita selamat, aku akan mengujimu dengan memanah pantatmu.”
“Ancaman yang sangat spesifik.”
Mereka bergerak bersamaan.
Lin Yue menggunakan pepohonan dan rumah-rumah di sekitar jalan sebagai perlindungan, menembakkan anak panah untuk memaksa lawan menjaga jarak. Gu Chen memanfaatkan kekacauan tersebut untuk menyerang pria bertopeng yang memegang pedang.
Ia bukan petarung hebat. Setiap benturan membuat lengannya kesemutan, dan napasnya semakin berat. Namun, ia memperhatikan kebiasaan lawan. Pria itu selalu menggeser kaki kiri sebelum melancarkan tebasan dari atas.
Pada serangan berikutnya, Gu Chen menunggu gerakan tersebut, lalu memiringkan tubuh. Pedang lawan menghantam tanah. Gu Chen menendang pergelangan tangannya dan berhasil membuat senjata itu terlepas.
Ia menghantamkan gagang pedang ke kepala lawannya.
Pria bertopeng tersebut ambruk.
Satu lawan tumbang.
Dua lainnya segera mundur ketika melihat rekan mereka jatuh. Mereka tidak terlihat takut kepada Gu Chen, tetapi jelas tidak ingin mendekat ke lonceng hitam.
Lelaki berjubah abu-abu justru mengamati pertarungan itu dengan ekspresi muram.
“Cukup.”
Suaranya tidak keras, tetapi semua orang langsung berhenti.
Ia mengangkat satu jari.
Ketiga pria bertopeng yang masih berdiri mendadak berlutut. Tubuh mereka kaku, seolah ada rantai tak terlihat yang menahan setiap gerakan.
Gu Chen menyadari bahwa lelaki tersebut dapat mengendalikan anak buahnya tanpa menyentuh mereka.
“Sekarang kita bicara,” kata lelaki itu. “Kau ingin mengetahui kebenaran tentang Gu Yuan. Aku bisa memberikannya.”
Gu Chen tidak menurunkan pedangnya.
“Aku lebih suka mendengarnya sebelum kau mencoba membunuhku.”
“Aku tidak berniat membunuhmu.”
“Orang-orangmu baru saja mencoba memotong kepalaku.”
“Mereka menjalankan perintah.”
“Dan kau yang memberi perintah.”
Lelaki itu menghela napas, lalu menatap lonceng di tangan Gu Chen.
“Gu Yuan pernah menjadi salah satu penjaga Papan Ketiga. Tugasnya adalah menjaga ingatan dunia agar tidak dimanipulasi sesuka hati oleh para pemain.”
“Aku sudah mengetahui itu.”
“Namun, kau belum mengetahui alasan ia mengkhianati mereka.”
Gu Chen menajamkan pandangan.
“Lanjutkan.”
Lelaki itu mengalihkan tatapan ke arah rumah Gu Chen.
“Dahulu, ada seorang anak yang keberadaannya dihapus dari sejarah. Anak itu seharusnya tidak pernah lahir, tetapi Gu Yuan menolak keputusan tersebut. Ia menggunakan lonceng untuk mengembalikan identitas anak itu dan menyembunyikannya di dunia fana.”
Jantung Gu Chen berdetak lebih cepat.
“Anak itu… aku?”
“Mungkin.”
“Jangan bermain-main denganku!”
“Aku tidak berbohong. Aku hanya tidak bisa memastikan apakah anak yang diselamatkan Gu Yuan dahulu adalah dirimu yang sekarang, atau seseorang yang menggunakan tubuh dan namamu.”
Gu Chen terdiam.
Bayangan di balik pintu hitam kembali terlintas dalam pikirannya. Pria berjubah hitam yang memiliki wajahnya. Anak kecil yang memperingatkannya agar tidak membuka pintu. Suara Gu Yuan yang melarangnya mempercayai anak itu.
Semua petunjuk tersebut saling terhubung, tetapi belum membentuk jawaban yang utuh.
“Siapa yang memutuskan bahwa anak itu tidak boleh dilahirkan?” tanyanya.
Lelaki berjubah abu-abu menatap langit.
“Pemain Pertama.”
Seketika, tulisan merah muncul di udara.
\[PERINGATAN: INFORMASI TERLARANG TERDETEKSI.\]
\[PEMAIN PERTAMA TELAH MENGAKTIFKAN PROTOKOL PEMBERSIHAN.\]
Lelaki itu mengumpat pelan.
“Dia mendengarkan percakapan kita.”
Awan di atas desa berputar membentuk pusaran. Di tengah langit, sebuah lingkaran hitam muncul. Tidak ada cahaya di dalamnya. Lingkaran itu tampak seperti lubang yang menembus dunia.
Penduduk desa mulai berteriak.
Gu Chen mendongak. “Apa lagi sekarang?”
“Pemain Pertama akan menghapus seluruh area ini untuk menutup informasi yang baru saja kuberikan.”
Gu Chen menatapnya tidak percaya.
“Kau baru saja mengatakan bahwa kau bisa memberiku kebenaran, lalu sekarang kau mengatakan seluruh desa akan dihapus?”
“Karena aku tidak menyangka dia akan bertindak secepat ini.”
“Hebat. Benar-benar hebat. Kalian semua tampaknya ahli dalam membuat masalah, lalu terkejut ketika masalah itu datang.”
Lelaki berjubah abu-abu tidak membalas ejekannya.
Ia justru berjalan mendekati Gu Chen dan mengulurkan tangan.
“Berikan lonceng itu kepadaku. Aku bisa menyembunyikan kalian.”
Gu Chen memandang tangan tersebut.
“Tidak.”
“Kalau kau menolak, semua orang di desa ini akan lenyap.”
“Kalau aku memberikannya kepadamu, apa yang akan terjadi?”
“Aku akan membawa lonceng itu pergi.”
“Lalu menghapus ingatan mereka lagi?”
Lelaki itu terdiam.
Gu Chen tertawa dingin.
“Terima kasih atas tawarannya. Aku akan memilih cara yang lebih buruk.”
Ia mengangkat lonceng hitam.
Lin Yue segera memahami maksudnya. “Gu Chen, jangan bilang kau ingin membunyikannya lagi!”
“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi.”
“Itu bukan jawaban yang menenangkan!”
“Memang bukan.”
Gu Chen memandang lonceng itu. Retakan pada permukaannya semakin melebar. Ia hanya perlu menggerakkan tangan dan membunyikannya sekali lagi.
Namun, ia teringat peringatan lelaki tersebut.
Jika lonceng berbunyi tiga kali, semua yang pernah dihapus akan kembali.
Ia belum mengetahui apa yang disembunyikan di balik aturan itu. Ia juga tidak tahu apakah pemulihan arsip akan membawa kembali orang-orang yang tak bersalah atau sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.
Tetapi lingkaran hitam di langit terus membesar.
Penduduk desa tidak memiliki banyak waktu.
Gu Chen memandang Lin Yue.
“Kalau sesuatu yang buruk muncul, jangan mencoba menjadi pahlawan.”
Lin Yue mendengus.
“Kau menyuruhku tidak menjadi pahlawan, padahal kau sendiri hendak melakukan sesuatu yang bahkan tidak kau pahami?”
“Benar.”
“Kau benar-benar orang paling menyebalkan yang pernah kutemui.”
“Aku menganggapnya pujian.”
Gu Chen menarik napas dalam-dalam.
Lalu ia membunyikan lonceng untuk kedua kalinya sejak kembali ke desa.
Dong!
Suara itu tidak menggema.
Ia justru menyerap seluruh suara di sekitarnya. Angin berhenti. Langit membeku. Lingkaran hitam di atas desa mendadak berhenti membesar.
Kemudian, sesuatu muncul di udara.
Bukan tulisan peringatan.
Bukan pula pesan dari sistem.
Melainkan ribuan nama.
Nama-nama itu melayang di atas Desa Qingyuan, tersusun dalam barisan panjang. Sebagian ditulis dengan tinta hitam, sebagian lain berwarna merah seperti darah. Di antara nama-nama tersebut, Gu Chen menemukan nama yang membuat seluruh tubuhnya membeku.
GU YUAN — PENJAGA PAPAN KETIGA.
Di bawahnya terdapat sebuah catatan.
STATUS: DIHAPUS DARI SEJARAH.
PENYEBAB: MENOLAK PERINTAH PEMAIN PERTAMA.
KEJADIAN TERAKHIR: MEMBUNUH SALINAN DIRINYA SENDIRI.
Gu Chen membaca baris terakhir berulang kali.
Membunuh salinan dirinya sendiri?
Apa yang sebenarnya terjadi pada malam ayahnya meninggal?
Sebelum ia sempat memahami catatan tersebut, satu nama lain muncul tepat di bawah nama Gu Yuan.
Nama yang selama ini tidak pernah tercatat dalam ingatan Gu Chen.
GU CHEN — STATUS: PEMAIN YANG DIHAPUS.
Namun, tulisan berikutnya membuat darahnya terasa membeku.
PENGHAPUSAN GAGAL.
ALASAN: TARGET TELAH MEMBUNUH PEMAIN YANG MEMILIKI HAK ATAS IDENTITASNYA.
Gu Chen menatap tulisan itu tanpa berkedip.
Ia tidak pernah membunuh pemain mana pun.
Setidaknya, ia tidak mengingatnya.
Dari balik lingkaran hitam di langit, terdengar suara seorang pria yang sangat tenang.
“Jadi, kau akhirnya membunyikannya lagi.”
Suara itu membuat lelaki berjubah abu-abu jatuh berlutut.
Lin Yue mundur selangkah.
Sementara Gu Chen menggenggam lonceng hitam dengan tangan gemetar.
Suara tersebut melanjutkan, seolah sedang berbicara kepada seorang kenalan lama.
“Selamat datang kembali, Gu Chen.”
Satu jeda.
“Sudah waktunya kau mengingat siapa yang kau bunuh sebelum kehidupanmu yang sekarang dimulai.”
Bersambung ke Bab 13.