Pengantin Pengganti Untuk Mafia.
Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.
Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTM — BAB 30
SEKUTU BARU
Pemakaman New York begitu nampak sepi dan hening. Angin berhembus pelan di antara deretan batu nisan yang berdiri tegak.
Vincenzo berdiri mematung di depan satu makam yang tertulis nama <
Beberapa anak buah berdiri menjaga jarak di belakangnya, tak berani mengganggu keheningan itu.
Seorang pria muda melangkah mendekat, berbisik pelan ke telinga tuannya. Vincenzo tak menoleh, namun tatapannya seketika berubah sedingin es.
"Biarkan saja," ucapnya pelan, namun tegas. "Aku ingin tahu bagaimana dia mencarinya."
Dari kejauhan, di balik kaca mobil yang sedikit terbuka, Sandra duduk memandang kakaknya dengan kacamata hitam menutupi tatapannya. Alisnya bertaut dalam kebingungan. Di sampingnya, Melly ikut menengok, penasaran namun berani bertanya hanya dengan suara yang tertahan.
"Nyonya... siapa yang dikunjungi Tuan Vincenzo? Kuburan siapakah itu?"
Sandra menggeleng pelan, tak mengalihkan pandangannya. "Aku juga tidak tahu. Dia datang ke sini sendirian, tanpa memberitahu siapa pun. Jolie Hadie... nama itu asing bagiku." Ia mengerutkan dahi semakin dalam. "Siapa wanita yang begitu dihormatinya hingga dia datang sendiri?"
.
.
.
Langit telah gelap ketika mobil hitam berhenti di halaman kediaman. Laura turun lebih dulu, menutup pintu dengan sedikit tenaga yang tak biasa. Wajahnya tak dapat menyembunyikan rasa kesal — perpisahan dengan Lily terasa seperti pisau yang masih tertinggal di dadanya.
Killian menyusul turun, berdiri sejenak menatap punggung wanita itu hingga langkah kakinya menghilang di balik pintu utama. Ia tak ikut masuk, melainkan berdiri diam, seakan menunggu sesuatu yang tak lama lagi tiba.
Tak lama kemudian, kendaraan lain melaju masuk. Vincenzo turun perlahan, pakaiannya masih rapi meski kelelahan tampak tersirat di wajahnya. Ia melirik sekilas ke arah menantunya.
"Ke ruangan ku," ucapnya singkat, lalu melangkah masuk lebih dulu.
Killian mengikuti tanpa menolak. Pintu ruangan kerja tertutup rapat di belakang mereka. Di dalamnya cahaya temaram menyala redup, menciptakan bayangan panjang di dinding yang dipenuhi rak buku. Vincenzo duduk di sofa, menuangkan dua gelas bir, lalu menyodorkan satu kepada pemuda yang berdiri tegak di hadapannya.
"Duduklah."
Killian menuruti perintah itu, kedua tangannya diletakkan di lutut. Mereka meneguk minuman itu dalam keheningan yang terasa berat.
"Bagaimana urusan di pelabuhan?" tanya Vincenzo akhirnya.
"Tidak ada yang perlu dikatakan, semuanya masih berjalan," jawab Killian datar. "Ada sedikit kendala dengan kelompok bandit, namun sudah diurus."
Vincenzo mengangguk pelan, menatap permukaan gelasnya.
"Bukan itu yang ingin kau bicarakan." kata Killian terus terang.
Mendengar itu Vincenzo menatapnya lekat, seakan melihat sesuatu yang lain di balik wajah pemuda itu. "Kau tumbuh dengan sangat cekatan," ucapnya pelan. "Membentuk mu waktu itu sangatlah mudah. Namun menghancurkan mu... tidak semudah yang kubayangkan."
Killian tersenyum tipis, tak menyentuh gelasnya. "Dan karena kau, aku menjadi seperti saat ini." Ia meneguk habis isinya dalam sekali telan.
"Musuh keluarga Marcano semakin banyak, Killian," lanjut Vincenzo, tak menjawab kalimat itu. "Jika nama ini runtuh, maka kita semua akan mati. Tidak ada yang selamat."
"Aku akan menjaganya tetap berdiri," jawab Killian mantap.
Vincenzo mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, tatapannya menajam. "Jika ingin mempertahankan sesuatu, dibutuhkan pengorbanan, Killian. Dan kau belum berkorban apa-apa. Suatu saat nanti... kau akan menyesalinya."
Killian diam menatapnya datar. "Aku sudah terbiasa kehilangan. Tidak ada yang baru dari semua itu."
***
Di ruang tamu yang lebih terang, Sandra duduk mengelilingi sekelompok wanita berpakaian indah dan berhias perhiasan berkilau. Percakapan mengalir di antara mereka — tentang kekuasaan, tentang siapa yang naik dan siapa yang turun, tentang siapa yang sebenarnya memegang kendali di balik tirai.
Salah seorang wanita berambut pirang menyeringai pelan ke arah Sandra.
"Sebenarnya, aku berniat mempersunting putriku untuk Killian Marcano," ucapnya dengan nada yang tak menyembunyikan rasa iri. "Sayang sekali kau lebih dulu menyusun rencana itu. Andai aku lebih cepat, mungkin kini putriku yang berdiri di sampingnya."
Sandra tersenyum tipis, senyum yang tak menyentuh matanya. "Kesempatan tidak menunggu siapa pun, Nyonya. Dia berpihak pada mereka yang berani meraihnya."
Wanita itu tertawa kecil, namun pandangannya tetap tajam. "Benar. Namun siapa yang tahu? Yang berdiri di atas takhta hari ini, belum tentu tetap di sana esok hari. Apalagi jika ada yang tidak setuju dengan cara pemerintahan itu."
Sandra hanya tersenyum lebih lebar, menyentuh permukaan cangkir teh di tangannya. "Ya. Kita lihat saja nanti."
Di tempat yang jauh dan sunyi, di sebuah ruangan yang dingin dan hampir kosong, Fiona meringkuk di sudut lantai. Matanya bengkak dan merah, napasnya masih tersengal sesal dari tangis yang tak kunjung usai. Pintu terbuka perlahan, langkah kaki terdengar mendekat — berat, tenang, dan tak tergesa.
“Aku tidak mau... Aku ingin pergi.” gumamnya gemetar.
Ia mendongak perlahan. Di sana, berdiri sosok pria yang sama — yang membelinya dengan harga dua ratus lima puluh ribu dolar, yang membuat semua orang terdiam seribu bahasa. Tato berbentuk salib terlihat samar di dadanya, dan matanya berwarna perak, menatapnya tanpa ekspresi yang dapat dibaca.
Pria itu duduk di kursi yang ditempatkan tak jauh darinya, bersandar tenang. Fiona masih tetap di lantai, tak berani bergerak, namun rasa takutnya bercampur rasa ingin tahu yang aneh. Tangan pria itu terulur perlahan, menyentuh dagunya, mengangkat wajah gadis itu agar menatap lurus ke arahnya.
"Siapa kau?" tanyanya pelan, suaranya masih bergetar.
Pria itu menyeringai tipis, senyum yang tak menyentuh matanya.
"Jika kau ingin membalas seseorang," ucapnya berat dan rendah, "hancurkanlah dari dalam. Aku bisa membantumu. Tapi tidak ada yang gratis di dunia ini."
Fiona menahan isaknya, menatap mata perak itu. Kehilangan keluarganya, kehilangan Bobby, kehormatan yang hampir dirampas — semuanya bercampur menjadi satu amarah yang membakar dadanya.
Ia mengangguk pelan, tekad yang mulai tumbuh di balik ketakutannya.
"Ap- apa yang harus kulakukan?" tanyanya lirih.
Pria itu tersenyum lebar kali ini, seakan mendengar jawaban yang paling ia inginkan.
"Jadilah Nyonya Vattel," ucapnya tegas. "Hanya dengan begitu aku dapat memberimu kekuatan untuk menghancurkan mereka yang telah menghancurkan mu."