NovelToon NovelToon
Hacker Cantik Incaran Mafia

Hacker Cantik Incaran Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Ibu Pengganti
Popularitas:19.7k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍

Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.

​Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.

Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.

​Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Layar raksasa di ruang komando bawah tanah Menara Adhitama kini tak ubahnya seperti papan catur digital yang mematikan. Titik-titik merah merepresentasikan para pembunuh bayaran kelas dunia yang baru saja mendarat, berkedip menyala di atas peta Terminal Kedatangan Internasional.

​Di depan konsol utama, Alana memimpin layaknya jenderal perang sejati. Lengan kemeja sutranya digulung sebatas siku, sebuah headset taktis terpasang di telinga kirinya.

Jemari lentiknya berdansa di atas keyboard dengan presisi yang brutal, mematikan kamera CCTV bandara secara spesifik dan memanipulasi jadwal kedatangan kargo untuk memisahkan para pembunuh itu dari warga sipil.

​"Don Marco di sini, Nyonya Adhitama," suara parau kapten distrik selatan terdengar dari saluran komunikasi terenkripsi.

"Tiga target asal Rusia yang menyamar sebagai eksekutif bisnis baru saja mengambil koper mereka. Tim saya sudah 'menyambut' mereka di area parkir VVIP B."

​"Pastikan beres, Marco. Aku sudah meretas sistem alarm mobil di blok itu untuk menutupi suara tembakan. Jangan sampai ada satu pun saksi mata," perintah Alana dingin, matanya tak berkedip menatap layar.

​"Area sudah disapu bersih, Nyonya. Mereka tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi."

​Di layar utama, tiga titik merah di area parkir berkedip sesaat, lalu padam untuk selamanya.

​Elvano berdiri tepat di belakang istrinya. Pria itu telah menyingkirkan jasnya sejak tadi, membiarkan kemeja putihnya yang pas badan mencetak jelas otot punggungnya.

Ia melingkarkan satu lengannya yang kekar di pinggang ramping Alana, sementara tangan kirinya memegang segelas bourbon. Dagunya bersandar ringan di bahu wanita itu, mengamati pembantaian virtual di layar dengan senyum puas yang memabukkan.

​"Kau baru saja membuat pembunuh bayaran Spetsnaz terlihat seperti turis nyasar yang dirampok di parkiran, Sayang," bisik Elvano di telinga Alana, suaranya serak dan bergetar oleh kebanggaan maskulin.

"Jika The High Table melihat ini, mereka pasti menyesal tidak menambahkan angka nol di harga kepalamu."

​Alana mendengus pelan, sedikit memiringkan kepalanya agar pipinya bersentuhan dengan rahang tegas Elvano.

"Satu miliar dolar terlalu murah untuk menebus rasa lelahku malam ini. Aku akan menagih sisanya langsung dari kantong mereka."

​"Mama," panggil Kael dari sudut ruangan.

​Bocah enam tahun itu duduk bersila di atas meja logam yang dingin, memangku tabletnya. Di sebelahnya, Kai asyik mengunyah permen karet sambil memegang sebuah joystick konsol game yang kabelnya diretas dan disambungkan langsung ke laptop Kael.

​"Ada anomali pergerakan," lapor Kael datar.

"Satu target dari sindikat Yakuza menyadari bahwa rekan-rekannya di terminal dua telah dieliminasi. Dia membuang senjatanya dan sedang mencoba melarikan diri melalui lorong conveyor belt bagasi kargo."

​Alana baru saja akan meraih keyboard-nya untuk mengunci pintu otomatis di area kargo, ketika Kai tiba-tiba menekan tombol kotak merah di joystick-nya berulang kali dengan semangat.

​"Tidak perlu repot-repot, Mam," ucap Kai santai, meniup balon permen karetnya hingga meletus dengan bunyi pop kecil.

"Aku baru saja meretas motor penggerak ban berjalan di ruang bagasi bawah tanah. Kecepatannya kunaikkan menjadi tiga ratus persen, dan aku mengatur jalurnya agar berputar seperti blender raksasa. Target sekarang sedang terpental-pental di antara tumpukan koper. Paman Jace sudah menunggu di ujung mesin untuk menjemputnya."

​Bastian, yang berdiri tak jauh dari sana sambil memegang tablet laporan logistik, perlahan menurunkan layarnya. Ia menatap kedua balita itu dengan ekspresi horor yang bercampur takjub.

​"Astaga, El," Bastian menelan ludah, menatap sepupunya.

"Tolong ingatkan aku untuk tidak pernah membuat anak-anakmu ini kesal. Mereka bisa mengubah bandara internasional menjadi wahana rumah hantu berdarah dari jarak dua puluh kilometer."

​Elvano hanya tertawa pelan, tawanya menggema dalam dan mengintimidasi. Pria itu mengecup pundak Alana sekilas sebelum menegakkan tubuhnya, kembali memancarkan wibawa sang don sejati.

​"Berapa sisa target yang belum dieksekusi, Sayang?" tanya Elvano.

​Alana menekan tombol rekapitulasi.

"Dari empat puluh tujuh pembunuh bayaran yang mendarat di kota ini dalam dua jam terakhir, empat puluh tujuh di antaranya telah dieksekusi oleh pasukan kita. Nol yang lolos. Daftar tamu sudah dibersihkan."

​Keheningan yang sarat akan kemenangan absolut memenuhi ruang komando bawah tanah tersebut. Pasangan penguasa mafia itu baru saja membalikkan invasi global senilai satu miliar dolar menjadi sebuah kuburan massal tanpa mereka perlu meninggalkan rumah.

​Namun, di dunia bawah tanah, kedamaian hanyalah ilusi sebelum badai berikutnya menghantam.

​Layar raksasa di depan Alana mendadak berkedip liar. Seluruh peta bandara dan titik merah menghilang, digantikan oleh layar hitam legam. Speaker di ruangan itu mengeluarkan bunyi dengung statis berfrekuensi tinggi yang membuat Kael dan Kai harus menutup telinga mereka.

​"Kak Bas, kita diretas dari luar?!" Alana berseru, jari-jarinya langsung bergerak mencoba memblokir intrusi tersebut.

​"Bukan peretasan!" teriak Bastian, matanya melotot menatap layar monitornya sendiri.

"Ini panggillan video analog satu arah! Seseorang menggunakan satelit militer yang sudah tidak aktif untuk menerobos saluran komunikasi kita secara paksa!"

​Layar hitam itu perlahan menampilkan sebuah ruangan bergaya klasik Eropa yang sangat temaram. Di tengah ruangan, enam sosok pria dan wanita duduk mengelilingi meja bundar kayu oak yang mewah.

Wajah mereka disembunyikan oleh bayangan tebal, namun aura kekuasaan murni yang membusuk menguar kuat bahkan hanya dari layar monitor.

​The High Table.

​Seorang pria di tengah, yang mengenakan setelan jas putih bersih yang kontras dengan kegelapan di sekitarnya, mencondongkan tubuhnya ke depan. Suaranya terdengar mekanis, disamarkan oleh alat pengubah suara tingkat militer.

​"Empat puluh tujuh prajurit terbaik dari berbagai benua tewas dalam waktu kurang dari seratus dua puluh menit," suara mekanis itu menggema lambat, memancarkan kedinginan absolut.

"Sebuah pertunjukan yang sangat mengesankan, dari ratu hacker Adhitama."

​Elvano melangkah maju, memosisikan dirinya tepat di depan Alana, menutupi tubuh istrinya dengan dominasi pelindung. Matanya menatap tajam ke arah sosok berjas putih di layar itu tanpa gentar sedikit pun.

​"Jika kalian menelepon hanya untuk memberikan pujian, sebaiknya kalian segera mengirim karangan bunga kematian untuk anjing-anjing suruhan kalian di bandara," desis Elvano, suaranya menggelegar, sarat akan tantangan mematikan.

​Sosok di layar itu terkekeh pelan—tawa kering yang tak bernyawa.

​"Sayembara satu miliar dolar itu rupanya hanya berhasil menyaring lalat mati. Kalian benar, Adhitama. Pasukan pembunuh bayaran standar tidak akan bisa menembus benteng kalian," pria itu mengetukkan tongkat peraknya ke lantai, menciptakan bunyi gema yang mengerikan.

"Oleh karena itu, Dewan telah sepakat. Mulai detik ini, sayembara terbuka kami cabut."

​Alana mengerutkan kening. Instingnya langsung berteriak waspada. Menarik sayembara bukan berarti mereka menyerah. Itu berarti mereka beralih ke rencana yang jauh lebih spesifik dan mematikan.

​"Sebagai gantinya," lanjut sosok berjas putih itu, nadanya kini merendah menjadi bisikan maut.

"Kami telah mengirimkan satu nama. Dia tidak butuh paspor, dia tidak butuh bandara, dan dia tidak akan pernah terdeteksi oleh sistem komputermu, Nona Alana. Karena dia adalah satu-satunya mimpi buruk yang mengajarimu cara menembak dalam kegelapan."

​Napas Alana seketika terhenti. Matanya membulat sempurna, darah seolah tersedot habis dari wajah cantiknya. Tangan kirinya tanpa sadar mencengkeram erat ujung meja konsol.

​Melihat reaksi istrinya, rahang Elvano mengeras. Ia menoleh cepat.

"Sayang? Siapa yang dia maksud?"

​Sebelum Alana bisa menjawab, layar monitor kembali menjadi hitam, dan sambungan terputus total.

​Alana masih membeku, menatap layar yang kini hanya memantulkan wajah pucatnya. Sisa-sisa keangkuhan dari kemenangannya barusan menguap tak berbekas, digantikan oleh sebuah memori kelam yang sudah ia kubur dalam-dalam selama bertahun-tahun.

"Alana, bernapaslah," tegur Bastian, yang menyadari kepanikan ekstrem istri dari sepupunya itu.

"Siapa orang ini? Masa lalu apa yang sebenarnya Raka sembunyikan dariku selama ini?"

​Alana perlahan menoleh, menatap Elvano dengan sorot mata yang menyiratkan ketakutan murni—sebuah emosi yang belum pernah Elvano lihat dari singa betinanya.

​"Dia... dia bukan pembunuh bayaran biasa, Elvano," bisik Alana dengan suara bergetar yang nyaris tak terdengar.

"Namanya Orion. Eksekutor tertinggi The High Table... dan pria yang membantai orang tua kami di depan mataku saat aku masih kecil."

​Alana menelan ludah dengan susah payah, mencengkeram lengan jas Elvano semakin erat, mencari sandaran kewarasan.

​"Kak Raka tidak mengirimku ke Eropa untuk sekadar menjauhkanku dari dunia bawah tanah, El. Dia menyelundupkanku ke sana dan menghapus seluruh identitasku karena ia tahu Orion tidak pernah berhenti memburu sisa garis keturunan keluarga kami," suara Alana pecah, menahan trauma bertahun-tahun.

"Selama di luar negeri, aku diam-diam mengasah kemampuan meretas yang aku warisi dari Papaku dan berlatih menggunakan senjata api, karena aku tahu... monster berdarah dingin itu, pada akhirnya akan datang untuk menyelesaikan pekerjaannya."

Bersambung...

1
riniasyifa
terima kasih semua yang udah meluangkan waktunya untuk tinggalkan jejak kalian di setiap bab😍 author doain semoga kalian semua selalu dalam lindungan Allah SWT dan di mudahkan rejekinya amin.
Munas Tuti
duuuhalahhh genius banget Al 💪💪💪
Munas Tuti
ternyata musuh masih mengintai.....kapan damainya ni mbak ?
riniasyifa: haha dunia mafia gak pernah damai kak🤭🤣
total 1 replies
Munas Tuti
beuuuuh...ada2 ajha jawaban papa El
Munas Tuti
pasangan serasi 👍👍👍
Munas Tuti
horeeee....akhirnya Al tunduk jg 😄😄
Munas Tuti
keren....keren...
Munas Tuti
peranf lagiii niii...
Munas Tuti
huuuuh ikutab capek mbak...sampe megap2 tegang banget, hebat banget siiiih bikin ceritanya 👍👍👍
riniasyifa: 🤭 terima kasih kak, senang rasanya karya ini ada yang suka, jadi tambah semangat buat lanjut nulisnya💪💪😍😍
total 1 replies
Erna Wati
keren abis raja dan ratu Aditama..👍
Munas Tuti
lanjuuut..
Munas Tuti
duuuuh pagi2 ambyar dehhh, kek judul acara tv 😄😄😄
riniasyifa: haha kok tiba-tiba ke ingat acara tv ambyar kak 🤣🤣
total 1 replies
Munas Tuti
hi..hi..hi...Al dan El digoreng klgnya, apa fak panas tuuuh..
Lucyana H
aku doakan semoga author selalu sehat biar bisa update tiap hari,bsk episode yg paling menegangkan.....💪😘😍👍🏼
riniasyifa: amin ya rabbal alami, doa yang sama buat kakaknya ya. insyaallah kita coba buat lebih greget lagi ya kak🤣👍
total 1 replies
Lucyana H
wih..bakal .seru nih......🥰😍👍😘😁
riniasyifa: lanjut baca kak 😍😍
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
Baru di awal sudah merinding disco bulu romaku thooorrr
PengGeng EN SifHa: kebawa arus cerita e thooorrr
total 2 replies
Munas Tuti
aduduuu El dah manggil sayang uuuy 😄😄
Munas Tuti
brangkaaat El...
Munas Tuti
weidiiih El segitu pd nya diaa 😄
Munas Tuti
akhirnya El akan sll mekindungi c kembar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!