Sepuluh tahun Erlyn membangun kehidupan sempurna bersama suami dan anaknya, menyembunyikan masa lalu kelam yang sudah ia kunci rapat-rapat.
Dulu, saat usia 19 tahun, ia terjebak pada Om Hendi — pria kaya yang mengurungnya, menyiksanya, dan menyimpan ratusan foto memalukan yang dipaksa diambil. Erlyn berhasil kabur, berpikir ia sudah aman.
Hingga suatu hari, pesan dan foto lama masuk ke ponselnya. Hendi kembali.
"Datang padaku, atau semua foto dikirim ke suamimu."
Sekarang Erlyn harus memilih:
kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan, atau membiarkan keluarganya hancur oleh kebenaran yang menyakitkan.
Satu rahasia. Dua pilihan. Tak ada yang tidak terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab12
MASA SEKARANG
Erlyn berusia 35 tahun | Om Hendi berusia 51 tahun
Kafe itu terletak di sudut jalan yang sepi, jauh dari keramaian pusat kota. Bangunannya tua, dindingnya berwarna krem, dan jendela-jendelanya tertutup tirai kain berwarna putih yang menyedot sebagian cahaya matahari yang berusaha masuk.
Saat Erlyn berdiri di depan pintunya, jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa suaranya terdengar jelas di telinganya sendiri. Napasnya tertahan di tenggorokan, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencengkeram dadanya erat-erat. Kakinya terasa berat, sepatu yang ia kenakan tiba-tiba terasa terlalu berat untuk melangkah maju satu sentimeter pun.
Dia berpikir untuk lari. Berpikir untuk berbalik arah, pulang ke rumah, memeluk Rara, dan menceritakan semuanya kepada Iqbal. Namun bayangan ratusan foto yang tersimpan di ponsel Hendi langsung terbayang di benaknya.
Wajah Rara yang akan ditatap dengan rasa ingin tahu dan cemoohan tetangga, wajah Iqbal yang penuh kekecewaan dan rasa sakit, dan kehidupan yang ia bangun dengan susah payah selama dua belas tahun, semuanya akan runtuh dalam satu malam. Menghilang seperti debu yang tertiup angin.
Dengan tangan yang gemetar, Erlyn mendorong pintu kafe itu terbuka. Bunyi lonceng kecil di atas pintu terdengar nyaring di ruangan yang hening, membuat bulu kuduknya merinding.
Langkahnya pelan, matanya menyapu setiap sudut ruangan itu, hingga akhirnya pandangannya terpaku di meja paling belakang, di bawah cahaya lampu gantung yang remang-remang.
Di sana, dia duduk.
Hendi tidak berubah banyak. Dia mengenakan kemeja berwarna gelap yang rapi, lengan bajunya digulung hingga ke siku, dan sepasang mata itu, mata yang sama yang dulu sering meneror mimpi-mimpinya setiap malam, kini menatap lurus ke arahnya. Senyum tipis terukir di bibirnya, namun sorot matanya tajam dan tidak ramah, seolah sedang meneliti setiap inci dirinya dari jauh.
Erlyn menelan ludah yang terasa pahit. Dia melangkah mendekat, setiap langkah terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca yang tajam.
Saat dia berdiri tepat di hadapan meja itu, Hendi mengangkat cangkir kopi di depannya, menyesap sedikit, lalu meletakkannya kembali perlahan di atas piringannya. Bunyi cangkir yang bertemu piring terdengar jelas di telinga Erlyn.
"Duduklah," katanya, suaranya rendah dan tenang, namun ada kekuatan otoritas yang membuat lutut Erlyn lemas.
Erlyn menarik kursi di hadapannya. Kain kursi itu terasa dingin di bawah sentuhannya. Dia duduk, menjaga jarak yang sejauh mungkin dari tepi meja, punggungnya kaku, kedua tangannya saling mencengkeram di pangkuannya di bawah meja agar gemetar tidak terlihat.
Dia tidak ingin terlihat lemah di depan pria ini. Tidak ingin terlihat seperti gadis ketakutan yang dulu dia kenal.
"Kau terlihat gugup, Erlyn," ucap Hendi, matanya tidak berkedip menatap wajahnya. "Mengapa? Bukankah kita sudah lama saling mengenal? Dua belas tahun lalu, kita pernah duduk seperti ini juga. Hanya saja saat itu, kau nggak berani menatap mataku lebih dari dua detik. Dan sekarang?" Dia menyeringai tipis. "Kau masih menunduk. Masih takut, ya?"
"Aku nggak takut," jawab Erlyn, suaranya terdengar lebih bergetar daripada yang dia duga. Dia segera memperbaiki posisi duduknya, menarik napas dalam-dalam.
"Aku hanya nggak nyaman. Katakan saja apa yang Om mau. Aku nggak punya banyak waktu. Anakku akan pulang dari sekolah sebentar lagi, dan suamiku nggak suka aku keluar terlalu lama tanpa memberi kabar."
Hendi tertawa pelan. Suara tawanya rendah dan terdengar sinis. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, tidak melepaskan pandangannya sedetik pun dari wajah Erlyn.
"Suamimu. Anakmu. Rumahmu yang nyaman. Semua itu terdengar sangat indah, bukan? Sangat sempurna. Seperti kisah bahagia yang di dalam buku cerita.
Tapi kau tahu apa yang paling lucu dari semua ini, Erlyn? Sempurna itu hanya di permukaan. Karena di bawahnya, ada rahasia besar yang kau sembunyikan rapat-rapat. Dan aku memegang kuncinya."
Erlyn merasakan panas naik ke pipinya. Dia mengangkat wajah perlahan, memberanikan diri menatap matanya sekilas, lalu segera menunduk kembali saat merasakan tatapan tajam itu menembus dirinya. "Kau nggak akan berani. Kalau kau menyebarkan foto-foto itu, kau juga bisa kena masalah. Itu pelecehan. Itu kejahatan."
Hendi menggeleng pelan. Dia merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponselnya, dan meletakkannya tepat di tengah meja di antara mereka berdua. Layarnya menyala, menampilkan sebuah aplikasi pesan dengan daftar nama dan nomor yang sangat panjang, termasuk nama Iqbal, nama kerabat jauhnya, dan bahkan nomor tetangga sebelah rumahnya.
"Kejahatan?" katanya pelan, namun tegas. "Siapa yang mau percaya? Foto-fotonya nyata. Kau tersenyum di dalamnya. Kau terlihat rela.
Siapa yang akan mendengarkan ceritamu tentang paksaan dan ancaman itu? Siapa yang akan melihatmu sebagai korban? Atau mereka justru akan berpikir kau menyembunyikan masa lalumu yang kotor dari suamimu yang baik hati?
Pikirkanlah dengan kepalamu yang jernih, Erlyn. Mana yang lebih merusak — kebenaran yang berbelit-belit, atau gambar yang bisa dilihat dalam sekejap mata?"
Dada Erlyn terasa sesak. Kata-kata itu menusuk tepat ke titik terlemahnya. Dia tahu Hendi benar. Di mata orang lain, foto-foto itu tidak akan terlihat seperti paksaan.
Mereka hanya akan melihat wanita yang dulu pernah berada di situasi itu, dan menghakiminya tanpa tahu cerita yang sebenarnya terjadi.
Rasa sakit yang dia pendam sendirian selama bertahun-tahun, semua paksaan dan ketakutan itu, semuanya akan terbuang sia-sia, dan dia justru akan dijadikan sasaran tuduhan dan kebingungan orang-orang yang dia cintai.
"Apa yang kau mau?" tanyanya pelan, air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya jatuh satu butuh ke pipinya. Dia segera menghapusnya dengan punggung tangan, menunduk agar Hendi tidak melihat betapa hancurnya dia saat ini. "Uang? Berapa yang kau butuhkan? Aku akan berusaha mengumpulkannya. Setelah aku memberikan, tinggalkan aku dan keluargaku."
Hendi diam sejenak, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Lalu dia tersenyum, senyum yang terasa lebih menakutkan daripada kemarahannya.
"Aku nggak butuh uang, Erlyn. Uang nggak pernah menjadi masalah bagiku. Apa yang kuminta jauh lebih sederhana. Kau kembali padaku. Bukan di sini, bukan sekarang. Tapi kau datang ke tempat yang akan kuberikan alamatnya.
Kau menemani aku. Kau melakukan apa yang kuminta, seperti dulu. Dan sebagai gantinya, foto-foto itu akan tetap aman di ponselku. Nggak akan ada yang akan melihatnya. Suamimu tetap nggak tahu apa-apa. Anakmu tumbuh tanpa dibayangi rasa malu."
Erlyn menatapnya dengan mata terbelalak. Pikirannya menolak untuk memproses apa yang baru saja dia dengar. Kembali? Kepada pria ini? Rasanya seperti mimpi buruk yang terulang lagi, dua belas tahun kemudian. Dia merasa seperti gadis sembilan belas tahun yang tidak berdaya itu, kembali berdiri di ambang pintu neraka yang sama persis.
"Itu nggak mungkin," katanya, suaranya bergetar namun tegas. "Aku nggak akan pernah melakukan itu. Aku bukan barangmu. Aku orang bebas. Aku punya kehidupan sendiri."
Hendi menghela napas panjang, seolah kecewa dengan jawabannya. Dia mengetukkan jarinya pelan ke layar ponselnya sekali, dua kali. Bunyi ketukan itu terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur waktunya.
"Pilihan ada di tanganmu, Erlyn. Besok sore jam empat. Alamat ada di kertas ini. Datang sendirian. Pintu akan terbuka untukmu." Dia meletakkan selembar kertas kecil yang terlipat rapi di atas meja, tepat di sebelah ponselnya.
"Jika kau nggak muncul... tepat pukul empat lewat lima belas menit, aku akan menekan tombol kirim. Dan semuanya berakhir. Kehidupanmu yang indah ini, keluarga kecilmu yang kau bangun dengan susah payah, semuanya akan berubah selamanya. Kau mengerti aku, kan?"
Dia tidak menunggu jawaban Erlyn. Dia berdiri, menyambar kunci mobilnya dari meja, dan menatap Erlyn terakhir kali sebelum berbalik pergi.
"Sampai jumpa, Erlyn. Aku harap kau memilih dengan bijak. Aku sangat merindukan kehadiranmu."
Langkah kakinya menjauh, pintu kafe terbuka dan tertutup kembali, dan Erlyn duduk sendirian di meja belakang itu. Ruangan itu tiba-tiba terasa terlalu panas, terlalu sempit, dan napasnya terasa berat sekali untuk ditarik.
Dia menatap kertas kecil yang tergeletak di atas meja itu seolah itu adalah bom yang siap meledak kapan saja. Tangannya gemetar hebat saat meraihnya, melipatnya, dan menyimpannya ke dalam saku jaketnya.
Dia tidak tahu berapa lama dia duduk di sana. Pelayan kafe mendekat dengan ragu, menanyakan apakah dia ingin memesan sesuatu lagi. Erlyn menggeleng pelan, berterima kasih dengan suara yang hampir tidak terdengar, lalu berjalan keluar.
Cahaya matahari sore menyilaukan matanya saat dia melangkah ke luar, dan dunia di luar sana tampak sama seperti biasanya, orang-orang berlalu-lalang, kendaraan bergerak, suara tawa terdengar dari kejauhan. Semua tampak normal. Padahal di dalam dirinya, ada sesuatu yang hancur berkeping-keping untuk kedua kalinya dalam hidupnya.
Langkah kakinya terasa berat berjalan pulang. Setiap langkah terasa seperti dia membawa beban yang tak kasat mata, beban yang harus dia pikul sendirian tanpa ada yang tahu.
Saat rumahnya mulai terlihat di kejauhan, rumah kecil dengan halaman yang rapi, di mana Rara dan Iqbal menunggunya, dia berhenti sejenak, menarik napas sedalam-dalamnya, dan berusaha menyusun senyum di wajahnya yang terasa kaku.
Dia harus kuat. Dia harus berpura-pura tidak ada apa-apa. Setidaknya untuk hari ini. Besok sore, dia harus membuat keputusan terberat dalam hidupnya.
Dari pada malah tau dari orang lain kan...
kuat2 ya kalian menghadapi orang kayak hendi 😖
kasih pencerahan biar otaknya gak mampet ngelanjutin service berkala untuk si hendi
woy jengkel banget gua sumpah 😩
..maaf thor esmosi lihat ini erlyn
jangan bilang habis ini ketemu terus CLBK/Blush//Blush/