NovelToon NovelToon
Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Penyesalan Suami
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.

Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.

Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Nadia pun mulai memahami bahwa tidak semua orang yang hadir dalam hidup seseorang datang dengan banyak kata-kata. Ada yang memilih menunjukkan kepedulian melalui tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten. Dan Fahri adalah salah satunya, tidak pernah memaksa untuk selalu ada di sisi Nadia, tetapi ketika Nadia benar-benar membutuhkan uluran tangan, ia hampir selalu hadir tanpa banyak bicara.

***

Setelah beberapa minggu usahanya mulai stabil, Nadia akhirnya menerima tawaran pemotretan untuk produk perlengkapan ibu dan anak. Awalnya ia ragu, tetapi pihak agensi justru tertarik melihat interaksi alami Nadia dan Kian.

Studio dipenuhi lampu dan berbagai properti. Kian memandang sekeliling dengan mata berbinar.

"Kita main ya, Nak. Nggak usah takut," bisik Nadia sambil membetulkan rambut putranya.

Fotografer tersenyum. "Bu Nadia, anggap saja sedang bermain sama Kian di rumah."

Pemotretan pun dimulai. Tak disangka, Kian sangat kooperatif. Ia tertawa saat Nadia menggelitik perutnya, memeluk ibunya dengan spontan, bahkan sesekali mencium pipi Nadia tanpa diminta.

"Bagus! Bagus sekali!" seru fotografer sambil terus memotret. Beberapa kru ikut tersenyum. "Anaknya natural banget."

"Ibunya juga ekspresinya hangat."

Saat sesi hampir selesai, Kian tiba-tiba mengambil bunga kecil dari properti lalu menyodorkannya pada Nadia. "Ini buat Ibu,"

Nadia terharu. Ia menerima bunga itu sambil mencium kening Kian. Klik! Fotografer langsung mengangkat kamera.

"Yes! Itu dia! Foto terbaik hari ini." Semua bertepuk tangan.

Seorang perwakilan agensi menghampiri Nadia. "Bu Nadia, hasilnya luar biasa. Kami justru lebih suka chemistry Ibu dan Kian daripada model profesional. Kalau Ibu berkenan, bulan depan ada dua proyek lagi."

Nadia menatap Kian yang sedang menikmati biskuit pemberian kru. "Terima kasih. Insyaallah saya bersedia."

Honor dari pemotretan itu cukup besar. Bagi sebagian orang mungkin biasa saja, tetapi bagi Nadia, uang itu berarti tabungan sekolah Kian, biaya operasional usahanya, dan sedikit ruang untuk bernapas setelah sekian lama berjuang sendiri.

***

Pagi itu, Karin duduk santai di ruang keluarga sambil menikmati secangkir kopi. Seperti biasa, ia membuka majalah gaya hidup yang rutin berlangganan setiap bulan. Awalnya ia hanya membolak-balik halaman tanpa minat. Namun, tangannya mendadak berhenti.

Satu halaman penuh menampilkan sosok seorang ibu muda yang sedang memeluk putranya dengan senyum hangat. Judulnya berbunyi, "Pesona Ibu dan Anak yang Menghangatkan Hati. Sosok Nadia dan Kian Jadi Favorit Kampanye Keluarga Tahun Ini."

Wajah Karin langsung menegang. "...Nadia?" Ia mendekatkan majalah itu ke wajahnya, memastikan bahwa ia tidak salah lihat.

Di halaman berikutnya terdapat beberapa foto lain. Nadia tampak anggun dengan riasan tipis, sementara Kian tertawa riang di pelukannya. Artikel singkat itu menceritakan bagaimana sosok ibu tunggal tersebut berhasil membangun usaha sambil membesarkan putranya.

Jari-jari Karin tanpa sadar meremas ujung majalah. "Ibu rumah tangga biasa... sekarang jadi model?" Ia membaca beberapa komentar netizen yang dimuat dalam artikel.

"Auranya menenangkan."

"Chemistry ibu dan anak ini benar-benar natural."

"Pantas banyak brand memilih Bu Nadia."

"Semoga sukses terus."

Semakin dibaca, dada Karin terasa sesak. "Dulu penampilannya biasa saja. Sekarang semua orang memujinya." Ada rasa iri yang perlahan tumbuh. Perempuan yang dulu hanya ia anggap sebagai mantan istri suaminya kini justru menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Karin menatap lama foto Nadia yang sedang tersenyum hangat sambil memeluk Kian. "Kenapa... hidupmu malah semakin baik setelah bercerai?" Ia menutup majalah itu perlahan, tetapi bayangan senyum Nadia terus terlintas di benaknya. Untuk pertama kalinya, Karin merasa terusik oleh kenyataan bahwa perempuan yang pernah ia pandang sebelah mata kini berhasil bangkit, bahkan mulai dikenal dan disayangi banyak orang.

"Eh... itu Nadia?" Kakak iparnya yang kebetulan lewat menghampiri, lalu tanpa sengaja melihat halaman yang terbuka. Ia mengambil majalah itu sejenak, memperhatikan foto-fotonya. "Hah, benar Nadia? Jadi yang ramai di media sosial itu memang dia? Sekarang dia jadi terkenal?"

Karin mendengus pelan. "Halah. Terkenal cuma karena jalur duka, ditinggal suami."

Kakak iparnya menoleh tajam. "Jalur duka?"

"Iya. Orang-orang kan sukanya mengasihani."

Kakak iparnya menutup majalah itu lalu menatap Karin tanpa senyum. "Kalau memang begitu, siapa yang bikin dia berada di jalur duka itu?" Kakak iparnya melanjutkan dengan nada datar, bukan berteriak, tetapi cukup menusuk. "Jalur duka karena dilakor, dan pelakornya kamu."

Wajah Karin langsung berubah. "Mbak!"

"Aku cuma bilang fakta. Kamu yang dulu memilih menjalin hubungan dengan suami orang. Sekarang jangan heran kalau banyak orang justru bersimpati pada Nadia."

Karin mengepalkan tangan. "Itu sudah lewat."

"Iya, sudah lewat. Tapi akibatnya masih dirasakan orang lain." Suasana mendadak hening. Kakak iparnya memang sekarang mulai renggang dengan Karin karena tidak lagi mendapatkan jatah bulanan.

Karin meletakkan majalah itu di atas meja dengan sedikit kesal. "Nggak ada yang istimewa dengan orang yang suka menjual kesedihan," katanya sinis. "Cepat atau lambat juga bakal tergantikan sama kisah sedih lain yang lebih viral."

Kakak iparnya mengangkat sebelah alis, tetapi membiarkan Karin melanjutkan.

"Lihat saja. Kemunculan Nadia di dunia hiburan nggak akan lama. Dia itu nggak punya prestasi."

Kakak iparnya tersenyum tipis. "Yakin?"

"Jelas. Kalau cuma mengandalkan cerita sedih, mungkin benar. Tapi yang aku lihat justru orang-orang menyukai cara dia memperlakukan anaknya. Itu bukan sesuatu yang bisa direkayasa." Karin mendengus. "Itu juga bisa dibuat-buat di depan kamera. Kalau dibuat-buat, biasanya nggak akan bertahan lama. Tapi kalau memang kepribadiannya begitu, orang akan bisa merasakannya." Karin memalingkan wajah, enggan membalas.

Kakak iparnya menatap sampul majalah sekali lagi. "Yang membuat orang bertahan di dunia ini bukan selalu karena paling cantik atau paling berbakat. Kadang karena mereka terasa tulus. Dan sejauh yang aku baca, orang-orang menyukai Nadia karena alasan itu."

Ucapan itu membuat Karin semakin kesal. Ia meraih majalah tersebut, lalu menutupnya dengan keras. "Dilihat saja nanti."

"Ya," jawab kakak iparnya tenang. "Waktu memang paling adil membuktikan siapa yang cuma lewat, dan siapa yang benar-benar bertahan."

Karin tak lagi menanggapi. Ia hanya menatap kembali foto Nadia di majalah. Entah mengapa, ucapan kakak iparnya terus terngiang di kepalanya, membuat rasa iri yang semula hanya kecil kini bercampur dengan rasa tidak nyaman.

Kakak iparnya mengembuskan napas pelan sambil menatap foto Nadia yang tersenyum bersama Kian. "Kalau tahu akhirnya bakal seperti ini, dulu mungkin aku nggak akan rela ganti adik ipar. Nadia itu... setidaknya bukan orang yang suka mengumbar janji-janji manis."

Karin menyandarkan tubuhnya ke sofa, lalu terkekeh pelan. "Lagipula buat apa Mbak membela Nadia sekarang?" Kakak iparnya terdiam. "Toh dulu Mbak juga ikut menjatuhkan dia."

1
falea sezi
knp jd bertele tele thor😒 kayak ikan terbang🤣
falea sezi
kenapa Fachri jd goblokk🤣🤣 niat bantuin. g sih
Iffanaya 😽
kk aku ikutan mewek...pls Thor bikin kian balik ke ibunya trs bongkar kebusukan karin Thor gk tega liat kian tertekan 😭😭
Muji Lestari
lanjutt thorrr
falea sezi
lanjut
falea sezi
makanya jd istri jangan bego wkt jd istri nabung yg banyak kuras harta sembunyikan klo suami selingkuh qm cerai g susah 😒
Iffanaya 😽
ditunggu lanjutannya kk 🫶
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!