Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.
Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sihir Dibawah Lampu Studio
"Tentu saja. Silakan duduk, saya akan merias Anda," ucap Yeza, mencoba menguasai rasa gugupnya dengan bersikap seprofesional mungkin.
Max terkekeh pelan mendengar panggilan formal itu, namun ia menurut dan kembali duduk dengan santai di depan meja rias besar. Begitu Max duduk, Yeza menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan detak jantungnya. Ia membuka koper kosmetik hitamnya, mengeluarkan kuas-kuas andalannya, dan mulai menganalisis struktur wajah pria di depannya.
Saat jemari Yeza mulai bekerja, semua rasa cemasnya mendadak menguap. Ruangan VIP itu seolah lenyap, menyisakan Yeza dan kanvas terbaik yang pernah ia miliki. Dengan cekatan dan sangat hati-hati, jemarinya menari di atas wajah Max. Ia mengaplikasikan base yang sangat tipis namun sempurna, menyamarkan sedikit rona lelah di bawah mata Max, dan menggunakan teknik bayangan yang jenius untuk mempertegas rahang serta tatapan mata elang sang aktor tanpa membuatnya terlihat berlebihan.
Waktu seakan berjalan cepat. Setelah sentuhan akhir pada alis Max, Yeza perlahan melangkah mundur. "Sudah selesai, Max."
Max membuka matanya yang sempat terpejam, lalu menatap pantulan dirinya di cermin. Untuk beberapa detik, aktor papan atas itu terdiam. Ia memiringkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, menelisik setiap detail riasan Yeza. Wajahnya terlihat luar biasa segar, sangat natural, namun memiliki aura ketegasan yang berkali-kali lipat lebih kuat dari biasanya. Riasan itu benar-benar menonjolkan karakter terbaik wajahnya tanpa terlihat seperti memakai topeng.
Seketika, Max langsung bertepuk tangan dengan raut wajah puas dan takjub.
"Luar biasa," puji Max sambil menatap Yeza lewat cermin dengan mata berbinar. "Ini bahkan lebih bagus dari ekspektasiku. Kamu benar-benar tahu apa yang kamu lakukan, Yeza."
Pujian langsung dari sang bintang membuat pipi Yeza merona merah. Sebelum ia sempat membalas, pintu ruangan diketuk, dan suara Bram terdengar memanggil Max karena sesi pemotretan akan segera dimulai.
Max berdiri dari kursinya, merapikan kaos oblongnya sejenak. Sebelum melangkah menuju pintu untuk berganti pakaian iklan dan memulai pemotretan, ia berbalik dan menatap Yeza dengan senyuman miring khasnya.
"Tunggu aku di sini, Yeza. Aku akan segera kembali," ucap Max lembut namun penuh penekanan, seolah memastikan gadis mungil itu tidak akan pergi ke mana-mana.
Pintu ruang VIP tertutup kembali, meninggalkan Yeza sendirian dengan detak jantung yang masih belum sepenuhnya normal. Di dalam ruangan yang mendadak sunyi itu, ia tersenyum sendiri, menatap kuas-kuas di tangannya dengan perasaan lega yang membuncah.
Sementara itu, di studio utama, suasana mendadak senyap begitu Maxemilian melangkah keluar dari ruang ganti dengan pakaian dari lini busana mewah yang akan diiklankannya hari ini.
Jefri, fotografer senior yang terkenal bertangan dingin dan perfeksionis, sudah bersiap di balik kameranya. Biasanya, Jefri adalah orang pertama yang akan mengkritik jika ada detail sekecil apa pun yang kurang pas pada penampilan sang model—terutama urusan riasan wajah yang sering kali terlihat terlalu tebal atau justru membuat wajah sang aktor tampak kusam di bawah sorotan lampu studio berkekuatan tinggi.
Namun, begitu Max berdiri di bawah arahan lampu lighting, Jefri tidak langsung menekan tombol rana. Ia justru menurunkan kameranya, memicingkan mata, dan melangkah mendekati Max.
"Tunggu, Max," ucap Jefri, membuat beberapa kru di set sempat menahan napas tegang.
Jefri mengitari Max, meneliti wajah sang aktor dari berbagai sisi dengan saksama. Alih-alih mengkerutkan kening, wajah fotografer senior itu perlahan berubah takjub.
"Siapa yang mendandanimu hari ini? Ini gila," cetus Jefri dengan nada suara yang tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. "Riasanmu terlihat jauh lebih segar dari biasanya, tapi sama sekali tidak kelihatan seperti memakai makeup. Garis rahang dan karakter matamu keluar semua tanpa perlu aku manipulasi lewat pencahayaan. Ini bersih sekali!"
Bram yang berdiri di pinggir lapangan set langsung tersenyum lebar, sementara Max hanya menaikkan satu alisnya, merasa sangat puas karena pilihannya terbukti tidak salah.
"MUA baru pilihan saya sendiri, Jef," jawab Max santai, dengan nada bangga yang terselip tipis.
"Sampaikan pujianku padanya! Riasan seperti ini yang membuat pekerjaan fotografer jadi seratus kali lebih mudah. Berterima kasihlah pada MUA-mu, Max, dia membuatmu terlihat sepuluh kali lebih karismatik hari ini," seru Jefri sambil kembali ke posisi di belakang kameranya dengan semangat baru. "Oke semuanya, siap! In three, two, one... action!"
Di tengah kilatan lampu studio yang mulai menyala bergantian, pikiran Max sempat melayang kembali ke ruang VIP 1. Ke sosok gadis mungil berambut sebahu yang saat ini sedang menunggunya dengan setia di sana. Max tersenyum miring di depan kamera—sebuah senyuman yang kali ini terasa jauh lebih hidup.