NovelToon NovelToon
Sang Dewa Cangkul Sakti

Sang Dewa Cangkul Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.

​Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.

​Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Pelajaran Dasar

Namun, sebelum satu patah kata pun sempat lolos dari celah bibir Yang Chan—

Bing Chan mengangkat tangannya dengan lembut. Anggun namun tegas. Wanita itu memberikan senyuman menenangkan yang seolah tahu isi kepala putranya.

"Kami memberimu waktu satu bulan," sahut ibunya tenang, memecah kepanikan yang mulai merayap di dada pemuda itu.

"Satu bulan untuk melatih dasar-dasarmu sebelum melangkah keluar dari desa ini," tambah Yang Wei dengan anggukan mantap.

Maka, dimulailah hari-hari penuh keringat yang mengubah seluruh pandangan Yang Chan tentang kedua orang tuanya.

Embun pagi di ujung daun hijau mendadak membeku. Terdengar retakan halus, krak, saat es kristal merayap menyelimuti permukaan daun tersebut.

Bing Chan berdiri di tengah halaman samping mereka yang sunyi. Sosoknya yang biasa terlihat kusam kini memancarkan keanggunan sedingin es utara.

Ia mengayunkan telapak tangannya di udara. Cahaya pagi membiaskan pantulan aneh, menciptakan puluhan cermin ilusi yang melayang indah mengitari halaman.

Di tengah kepungan cermin es, Yang Chan duduk bersila di tanah basah. Kelopak matanya terpejam rapat, menahan napasnya dengan teratur.

Uap putih tebal mulai menguar dari sela pori-pori kulitnya. Rasa hangat menjalar dari perut bagian bawah menuju seluruh nadinya.

Melalui pusaran [Jiwa Cermin Nirwana] di dalam jiwanya, ia mulai menyerap teknik dasar ibunya. Energi Qi netral ditarik masuk tanpa sisa.

Ia memutar dan mengubah aliran energi itu di dalam tubuh. Aliran dingin tersebut kini bermutasi menjadi energi pelindung yang pekat.

Bing Chan memperhatikan setiap perubahan aura putranya dengan pandangan jernih. Suaranya terdengar mengalir bagai air pegunungan yang menyejukkan.

"Qi di alam liar itu seperti kanvas kosong, Nak," tutur ibunya lembut. "Jalan pikiran kitalah yang menorehkan warnanya."

Wanita itu mengibaskan lengannya lagi, mempertebal ilusi cermin di sekeliling mereka hingga memantulkan siluet yang tak terhitung jumlahnya.

"Es untuk membekukan lawan, sedangkan Cermin Ilusi ada untuk menipu mata luar yang berusaha membaca langkahmu," jelas Bing Chan.

Yang Chan membuka matanya perlahan. Jemarinya bergerak lincah, membentuk sebuah segel tangan kecil yang rumit namun sangat presisi.

Kabut beku beraroma dingin langsung berhembus dari sela jarinya, menyapu rumput liar di depannya menjadi patung es kecil.

"Kanvas kosong... Aku mengerti, Ibu," gumam Yang Chan, merasakan kepuasan batin yang mendalam setelah memahami fondasi dasar tersebut.

Dari balik cermin es yang memudar, ia melihat pantulan bayangan mereka berdua berlipat ganda, menciptakan harmoni indah di tengah halaman.

Trak.

Hantaman keras memecah kesunyian malam di ruang tengah. Sebuah perkamen usang dibanting pelan ke atas meja kayu.

Tangan berkapalan Yang Wei menancapkan sebilah belati tumpul tepat di titik merah pada peta perkamen tersebut. Tatapannya berkilat tajam.

Persona petani sayur yang konyol telah menguap sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah aura dingin seorang pengatur strategi yang ulung.

Ia menggeser serpihan batu kecil di atas peta dengan gerakan presisi, seolah sedang menyusun formasi pasukan tempur yang siap mati.

Yang Chan menyipitkan matanya. Rahangnya sedikit mengeras melihat ketajaman analisis sang ayah.

Ia merasakan ketidaksesuaian nyata antara pekerjaan kasar ayahnya dengan wawasan sedetail ini.

"Di Kota Angin dan Akademi Qinglong, gelar jenius itu sangat murah, Nak," ucap Yang Wei dengan suara rendah yang bergaung.

Ia menunjuk salah satu jalur perlintasan utama di peta. "Yang bertahan hidup hanyalah mereka yang tahu kapan menyembunyikan taring."

Yang Chan menatap lurus ke arah belati yang tertancap kokoh. Nada bicaranya berubah dingin dan penuh rasa menyelidik.

"Untuk seorang petani desa ..." tutur Yang Chan perlahan, menjeda kalimatnya.

"Ayah ternyata banyak tahu tentang hal-hal seperti ini," lanjutnya, menuntut kejujuran.

Wajah Yang Wei sempat mematung sepersekian detik mendapati pertanyaan tajam itu. Otot wajahnya menegang kaku di bawah bayang-bayang temaram.

Namun, ketegangan itu segera mengendur. Ia tertawa bodoh sambil menggaruk bagian belakang kepalanya dengan gerakan canggung yang biasa.

"Ah, kau ini bicara apa," kilah Yang Wei. "Ayah hanya sering mengobrol dengan para pengawal kereta barang yang mampir."

Yang Chan mengembuskan napas pendek, tahu ia tidak akan mendapatkan jawaban malam ini. Pikirannya dipenuhi rasa penasaran mendalam.

Lampu minyak di atas meja berkedip ditiup angin dingin, membuat bayangan Yang Wei di dinding memanjang bagai raksasa yang berbahaya.

Matahari pagi di akhir bulan pelatihan menerobos masuk dengan hangat dari celah jendela kamar tidur.

Sinar emas menerangi tas punggung dari kulit tebal yang sudah terisi sangat penuh di atas ranjang kayu yang fana.

Yang Chan berdiri tegak di samping ranjang. Ia mengangkat telapak tangannya, memanggil Alat Serbaguna miliknya ke alam nyata.

Sebah bola logam hitam kecil muncul melayang di atas jemarinya sebelum ia selipkan dengan gerakan cepat ke balik bajunya.

Ia mendekati cermin kayu tua di sudut kamar untuk melihat penampilan terakhirnya sebelum berangkat pergi.

Tubuhnya sempat memancarkan letupan aura Pengumpulan Qi yang sangat kuat akibat tempaan keras selama satu bulan ini.

Namun, dengan satu tarikan napas panjang, ia segera menerapkan teknik Cermin Ilusi yang diajarkan ibunya secara sempurna.

Seketika, pancaran aura kuat di sekeliling tubuhnya meredup dengan cepat hingga benar-benar hilang tanpa menyisakan jejak energi.

Kini, ia tampak tidak berbeda dari pemuda desa biasa yang tidak memiliki kekuatan apa pun di mata orang luar.

Yang Chan menepuk kerah bajunya yang sedikit berdebu, lalu tersenyum santai menatap pantulan dirinya di cermin tersebut.

'Dasar-dasar bela diri dari ibu, wawasan dari ayah...' batin Yang Chan dengan senyum yang terus mengembang hangat.

"Akademi Qinglong, aku mohon supaya bisa bertahan di sana dengan aman tanpa masalah," gumamnya dengan nada santai dan percaya diri.

Suara pintu kamarnya berderit terbuka pelan membuat ia membalikkan tubuhnya dengan segera.

Di ambang pintu, siluet Bing Chan dan Yang Wei sudah berdiri dengan ekspresi tenang, menatap kepergian putra tunggal mereka.

Yang Chan mengangguk mantap, meraih tas kulitnya, lalu mengayunkan langkah kaki pertama yang berbalut sepatu jerami melewati ambang pintu.

1
ಠ⁠ω⁠ಠ
oke, kalau jurusnya pakai bahasa inggris keren juga ya /Sweat/, tapi aku kembalikan ke kalian. Apakah perlu aku revisi agar jadi bahasa indo saja, atau aku pertahankan perubahannya? /Slight/
ಠ⁠ω⁠ಠ: /Scare//Scare//Scare/
total 2 replies
Sulaeman Effendi
bagaimana selanjutnya ?
Sulaeman Effendi
kapan peningkatan kultifasi nya?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Sebenarnya aku lupa perhatiin aspek Kultivasinya /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
seorang pendekar yang bijak 👍
Sulaeman Effendi
tehnik yang tepat 👍😄
Sulaeman Effendi
Asyik tanpa risiko berhasil memuaskan 👍
Sulaeman Effendi
era baru menjelajahi hutan
Sulaeman Effendi
mulai terasa ada perkembangan pertemanan yg menggetarkan
Sulaeman Effendi
iya boy, hidup tenang, menyenangkan dan berhasil gemilang 👍💪😀
Sulaeman Effendi
awal untuk maju dengan sekolah boy
Sulaeman Effendi
sekolah apa kuliah boy
ಠ⁠ω⁠ಠ: Agak beda ini, nggak mirip sekolah, kuliah juga gak mirip /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy ?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Iya, sekolah. Tapi enggak fokus ke sekolahnya, lebih ke hal lain di sekolah/akademi /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy agar pintar dan sakti
Sulaeman Effendi
Tingkatkan terus Boy
M Mugni
ceritanya mantap 💪💪💪
Sulaeman Effendi
terus semangat Boy 💪
Sulaeman Effendi
tak disangka ternyata hebat
ಠ⁠ω⁠ಠ: Udah ada tanda-tandanya /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
waduh bagaimana selanjutnya???
Sulaeman Effendi
bangkitlah petani miskin tunjukkan taring mu
Sulaeman Effendi
mulai seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!