~~
Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29
****
Matahari siang membakar perbukitan Joglo dengan terik yang menyengat, menembus celah-celah daun jati dan memantulkan pendar menyilaukan di pendopo dalam. Keheningan rumah besar itu mendadak terusik oleh kedatangan kembali kereta kuda mewah berukir mas dari kota kadipaten.
Nyai Gayatri melangkah turun dengan keangkuhan yang mboten berkurang sedikit pun. Kebaya sutra mewahnya berkilau di bawah sinar matahari. Kedatangannya kali ini secara resmi adalah untuk menuntaskan sisa dokumen perdagangan kayu jati dan pasokan bahan bangunan antara keluarganya dan perbukitan Joglo. Namun, di balik lipatan kipas cendananya, tersimpan dendam kesumat yang masih membakar jiwanya usai pengusiran penuh penghinaan oleh Baskoro beberapa waktu lalu.
Di dalam ruang kerja pribadi yang megah dan beraroma kayu cendana, Raden Mas Baskoro duduk tegap di balik meja jati besarnya. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu mengenakan beskap gelap yang memancarkan wibawa dingin tak tersentuh.
"Semua urusan administrasi pasokan kayu untuk kadipaten sudah selesai kuperiksa," ujar Baskoro datar, suaranya bariton rendah tanpa nada ramah sedikit pun saat menyerahkan berkas di atas meja. "Kau bisa membawanya kembali ke kota, Gayatri."
Gayatri tidak segera menyambar kertas itu. Wanita kaya dari kota itu justru menyunggingkan senyum misterius. Ia melangkah perlahan mengitari meja kerja Baskoro, jemarinya yang dipenuhi cincin permata mengetuk-ngetuk permukaan kayu jati yang halus.
"Terima kasih, Baskoro," ucap Gayatri dengan nada suara yang sengaja diayunkan lembut. "Tapi... sebelum aku kembali ke kota, apakah kamu tidak ingin mendengar desas-desus yang sedang hangat dibicarakan para warga di desa bawah?"
Dahi tegap Baskoro berkerut halus. Sepasang manik matanya menyipit tajam. "Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan omong kosong warga desa, Gayatri."
"Bahkan jika desas-desus itu menyangkut kehormatan rahim permaisuri tercintamu?" bisik Gayatri, suaranya sarat akan racun kelicikan.
Brak!
Baskoro meletakkan cangkir kuningannya dengan sentakan kaku. Aura intimidasi langsung memenuhi ruangan. "Jaga ucapanmu, Gayatri! Jangan coba-coba mengusik Larasati lagi jika kau masih sayang pada bisnis keluargamu!"
"Aku tidak asal bicara, Baskoro!" potong Gayatri cepat, memasang raut wajah terkejut yang dibuat-buat. Dari balik lipatan kebaya mewahnya, Gayatri mengeluarkan selembar kertas lusuh berstempel khusus yang agak kusam, lalu meletakkannya tepat di depan dada Baskoro. "Aku menemukan ini dari salah seorang pengawal kadipaten yang mendapatkannya di tapal batas. Baca sendiri jika kamu tidak percaya!"
Baskoro menatap gulungan kertas itu dengan pandangan dingin. Namun, secara refleks, tangan besarnya terangkat mengambil kertas tersebut. Begitu gulungan dibuka, tulisan tangan yang kasar dan terburu-buru terpampang jelas di sana.
'Larasati, jiwaku... Ingatkah kamu pada malam-malam awal pernikahanmu? Saat juraganmu pergi meninggalkan rumah joglo, kita selalu bertemu di bawah naungan hutan sawo. Benih yang sekarang tumbuh di rahimmu... adalah bukti impian masa lalu kita, bukan milik pria tua itu.'
Di bagian bawah kertas tersebut, tertera nama terang: Bagus.
Darah Baskoro seketika berdesing panas. Buku-buku jarinya memutih saat ia mencengkeram erat kertas tersebut hingga remuk. Bayangan masa lalu—saat Larasati baru beberapa minggu menjadi istrinya dan ia sering meninggalkan rumah untuk urusan luar—seketika menghantam ingatan Baskoro laksana guntur.
Namun, Baskoro tidak langsung meledak. Jiwa dan kedewasaan pria tiga puluh lima tahun itu mencoba bertahan. Ia telah menyaksikan sendiri betapa tulusnya Larasati, betapa patuhnya istri remajanya, dan bagaimana Larasati menyerahkan seluruh jiwa raganya selama kehamilan delapan bulan ini.
"Ini palsu!" geram Baskoro, suaranya bergetar rendah menahan amarah yang membakar dada. Ia melempar kertas itu kembali ke meja. "Larasati adalah istriku yang sah! Dia adalah wanita suci yang patuh, yang tidak pernah mengkhianati guling tidurku! Aku tidak akan terhasut oleh kertas sampah buatanmu ini!"
Gayatri terkekeh pelan, tawa renyah yang sangat beracun. Ia melangkah mendekat, membongkokkan tubuhnya tepat di samping telinga Baskoro.
"Kamu yakin dia tidak pernah mengkhianatimu, Baskoro?" bisik Gayatri penuh provokasi. "Apakah kamu lupa betapa mudahnya ayah gadis itu menjualnya padamu demi pelunas utang? Wanita desa yang dijual demi harta... apakah kamu benar-benar percaya jiwanya tidak merindukan kekasih manusianya yang dulu? Kenapa Bagus begitu berani mendatangi tapal batas baratmu jika tidak ada janji manis yang ditanamkan Larasati di belakang punggungmu?"
"Cukup!" bentak Baskoro, berdiri dari kursinya hingga kursi jati di belakangnya terdorong keras.
"Pikirkan baik-baik, Baskoro..." lanjut Gayatri tanpa rasa takut, menyunggingkan senyum puas saat melihat otot-otot rahang Baskoro menegang kaku dan urat lehernya mencuat tegang. "Anak berusia delapan bulan di dalam rahim yang sedang membuncit itu... apakah kamu yakin seratus persen bahwa itu darah daging bangsawan Joglo? Ataukah selama ini kamu hanya memelihara anak dari pemuda miskin desa?"
Kata-kata Gayatri menghantam tepat di pusat trauma dan ego kelaki-lakian Baskoro yang paling rapuh.
Walau mulut Baskoro secara tegas menolak percaya dan matanya menatap benci ke arah Gayatri, binar bara cemburu buta yang dulu pernah membakar jiwanya kini kembali menyala—redup, namun teramat pekat dan mematikan. Dinding kepercayaan yang telah ia bangun berbulan-bulan mendadak berguncang hebat oleh bisikan racun yang begitu halus dan manipulatif.
Gayatri yang melihat perubahan di sepasang mata hitam Baskoro menyunggingkan senyum kemenangan yang teramat puas. Dendam sakit hatinya karena diusir waktu itu kini telah terbalaskan dengan menanamkan benih kehancuran di dalam kamar utama rumah joglo.
"Urusan kita sudah selesai, Raden Mas Baskoro yang terhormat," ucap Gayatri manis, merapikan kipas cendananya. "Aku pamit pulang ke kadipaten. Semoga tidur malammu tetap lenyap dalam kedamaian... bersama permaisuri sucimu."
Gayatri berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja dengan gerakan yang sangat anggun, meninggalkan Baskoro yang berdiri mematung sendirian.
Di dalam ruangan yang mendadak terasa mencekam dan dingin itu, Baskoro mengepalkan kedua tangannya hingga bergetar hebat. Kertas remuk berstempel itu masih berada di dalam genggamannya. Pandangannya menembus jendela kayu, tertuju ke arah selasar kamar utama tempat Larasati—istrinya yang berusia sembilan belas tahun dan sedang hamil tua—mungkin sedang beristirahat menahan lelah.
Bara cemburu, rasa ragu, dan ketakutan akan dikhianati kini kembali merayap pelan menyelimuti jiwa sang penguasa Joglo.
Bersambung
Huhuhu, Udha sejauh ini kalau bersama author....
gimana cerita author yang satu ini bagus engga yaaa ???
Kalau kalian ada kritik, masukan, saran atau mau ngasih ide buat cerita selanjutnya bolehhhh banget yaaa...
Author palah seneng banget, walaupun author engga balas komentar kalian satu satu tapi author tetep baca kok....
Terimakasih semuanya yang sudah mendukung author sampai sejauh ini...
Lopppp you sekebonnn ❤️🤍❤️❤️🤍❤️❤️🥰
eh kadang2 Baskoro 40 Larasati 17..
kadang balik lg Baskoro 35 Larasati kadang 19 kadang 17😄