NovelToon NovelToon
Gairah Cinta Terlarang

Gairah Cinta Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nopani Dwi Ari

"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."

Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.

Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.

Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.

Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.

Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.

Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.1 -Batas yang Sunyi

Pagi itu, aroma tumisan bawang putih dan wangi roti panggang memenuhi udara dapur keluarga Narendra. Alyssa bergerak cekatan menata sarapan di meja. Sesekali ia mengusap peluh di kening, meski kipas angin di sudut dapur berputar lambat. Baginya, rutinitas pagi sudah seperti hafalan doa: bangun lebih awal, membantu Bi Sri di dapur, lalu menyiapkan meja makan untuk keluarga besar suaminya.

“Non, hati-hati, airnya sudah mendidih,” suara Bi Sri memecah lamunannya.

Alyssa tersentak, buru-buru menurunkan panci kecil berisi air rebusan telur. “Astaga, iya Bi. Maaf, aku malah bengong.”

Bi Sri meliriknya lembut, seolah memahami isi kepalanya. “Jangan suka melamun, Non. Rezeki orang sudah diatur Gusti Allah. Jangan dipikir terlalu keras.”

Alyssa hanya tersenyum tipis. Kata-kata itu bukan hal baru, tapi hatinya tetap terasa berat. Sudah setahun ia menjadi istri Adrian Sakti Narendra. Sudah hampir satu tahun pula ia menunggu kabar baik yang tak kunjung datang: kehamilan. Sesuatu yang paling diinginkan dalam pernikahan, tetapi tak kunjung hadir dalam rumah tangganya.

Mertua perempuannya, Maya Ayu Anindya, tidak pernah menekan. Wanita itu justru sering menenangkan, mengatakan bahwa semua akan indah pada waktunya. Namun, berbeda dengan keluarga besar dari pihak ayah mertua. Ada satu sosok yang paling membuat dada Alyssa sesak: Indah Sofia, tante Adrian. Mulutnya tajam seperti pisau, selalu berhasil membuat Alyssa merasa rendah.

Alyssa menata mangkuk sup, piring roti, dan potongan buah ke meja makan besar yang dipenuhi kursi berukir. Belum sempat ia duduk, suara langkah kaki terdengar berderap dari arah ruang tamu.

“Wah, wangi sekali pagi ini,” ucap Tante Indah sambil menarik kursi. Senyum lebarnya tidak sampai ke mata. “Alyssa yang masak? Atau cuma bantu-bantu Bi Sri?”

Alyssa menunduk sopan. “Saya hanya membantu, Tante.”

Indah mengangguk-angguk, pura-pura kagum. “Ya, baguslah. Setidaknya kalau belum bisa kasih cucu, masih bisa masak untuk keluarga.”

Suasana meja langsung menegang. Maya melirik Alyssa sekilas, kemudian berkata, “Indah, jangan bicara sembarangan pagi-pagi begini.”

“Aku cuma ngomong apa adanya, Mbak Maya.” Indah menyendok sup dengan suara sendok beradu keras di mangkuk. “Sudah setahun, lho. Biasanya pasangan muda itu baru sebentar menikah saja sudah ada kabar gembira. Apa jangan-jangan …” ia melirik tajam ke arah Alyssa, “ada yang bermasalah?”

Alyssa menggenggam ujung taplak meja erat-erat. Senyum sopan masih ia paksakan di bibir, tapi hatinya bergetar hebat. Kata-kata itu seperti racun yang menelusup ke seluruh tubuh. Mereka tidak tahu saja, dalam setahun ini, intensitas Adrian menyentuhnya bahkan bisa dihitung dengan jari.

“Indah!” suara berat Bagaskara Narendra, ayah Adrian, membuat semua orang terdiam. Pria itu menatap adiknya dengan ketus. “Kau bicara seenaknya saja. Jangan campuri urusan rumah tangga anakku.”

Indah mendengus. “Aku hanya peduli, Mas. Kita ini keluarga besar. Orang luar saja bisa bertanya-tanya, masa kita diam saja? Nanti kalau kabar tak sedap sampai ke luar, yang malu siapa?”

Alyssa menunduk semakin dalam, merasa seluruh tubuhnya memanas karena menahan malu. Saat itulah Adrian muncul dari tangga. Kemeja putihnya sudah rapi, rambutnya masih sedikit basah karena baru selesai mandi.

“Ada apa ini?” tanyanya singkat. Tatapannya berpindah dari wajah ibunya, lalu ke tantenya, sebelum akhirnya berhenti pada istrinya yang masih menunduk.

“Tidak apa-apa, Mas,” Alyssa buru-buru menjawab dengan suara lirih.

Namun, Indah tak menyia-nyiakan kesempatan. “Aku cuma bilang, sudah setahun menikah kok belum ada tanda-tanda. Wajar, kan, kalau aku bertanya? Jangan sampai orang mengira…”

“Cukup, Tante.” Suara Adrian terdengar dingin, tapi tegas. “Ini urusan saya dan Alyssa. Tidak perlu dibicarakan di meja makan.”

Hening. Sesaat Alyssa menatap suaminya. Ada sedikit rasa hangat yang menyelusup karena Adrian membelanya. Namun, kehangatan itu cepat meredup saat melihat raut wajah Adrian yang tetap kaku dan datar. Seolah pria itu membela hanya karena terpaksa menjaga wibawa di depan keluarga, bukan karena benar-benar peduli pada perasaannya.

Sarapan pagi itu terasa hambar bagi Alyssa. Ia hanya menyuap beberapa sendok nasi, kemudian lebih banyak menunduk.

Usai sarapan, Alyssa kembali ke kamar yang terletak di lantai dua. Ia menutup pintu perlahan, lalu menyandarkan tubuh pada daun pintu. Napasnya terasa begitu berat. Di luar sana, hiruk-pikuk rumah masih terdengar samar. Namun di dalam kamar ini, hanya ada dirinya dan kesepian yang tak pernah pergi.

Ia duduk di tepi ranjang, jemarinya menyentuh perut rata yang masih kosong. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya luruh juga.

“Kenapa harus aku yang jadi bahan omongan?” bisiknya lirih.

Pernikahan ini sudah cukup berat untuknya. Ia tahu sejak awal Adrian menikahinya bukan karena cinta, melainkan demi memenuhi keinginan orang tua. Namun, Alyssa mencoba bertahan, berharap waktu dan pengabdiannya bisa mengubah segalanya. Setidaknya, jika ia bisa memberi Adrian seorang anak, mungkin cinta itu akan tumbuh perlahan.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Bulan berganti bulan, dan rahimnya masih sepi. Setiap kali tamu bulannya datang, hatinya kembali remuk.

Ketukan pelan di pintu membuatnya tersentak. “Alyssa?” suara Maya terdengar lembut. “Boleh Ibu masuk?”

Alyssa buru-buru menyeka air matanya, lalu membuka pintu. Maya masuk dengan senyum menenangkan, lalu menggenggam tangan menantunya erat. “Jangan dengarkan ucapan Tante Indah. Dia memang mulutnya tajam, tapi hatinya tidak sejahat itu. Ibu tahu kamu sudah berusaha, Nak.”

Alyssa mengangguk, meski hatinya tahu luka itu terlalu dalam untuk sekadar dianggap angin lalu.

Saat Maya meninggalkan kamar, Alyssa kembali terduduk di depan meja rias. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat, matanya sedikit bengkak.

“Apa aku memang tidak cukup untukmu, Adrian?” bisiknya lirih pada kesunyian.

Sementara itu, setelah keluar dari kamar menantunya, Maya berjalan menuju taman belakang rumah. Di sana, ia mendapati Indah sedang duduk santai dengan segelas teh hangat dan ponsel di tangan.

"Mbak, sini duduk. Aku baru lihat barang bagus," ujar Indah bersemangat, memperlihatkan katalog perhiasan di ponselnya. Berlian berkilau terpampang jelas di layar. "Bagus, kan?" tanyanya sambil tersenyum puas.

Maya hanya menanggapi dengan senyum tipis. Pandangannya jatuh lurus pada wajah adik iparnya itu. "Kapan kamu akan kembali ke Jogja, Dah?" tanyanya dengan nada teramat tenang.

Indah sontak melotot. "Mbak ngusir aku? Ini rumah Mas Bagas, lho! Aku adiknya, jadi aku juga berhak ada di sini."

"Bukan begitu maksudku." Maya menarik napas dalam, suaranya tetap terjaga meski ada ketegasan yang menusuk di baliknya. "Tapi kamu terlalu sering mencampuri urusan rumah tangga anakku. Lebih baik urus saja suami dan anakmu sendiri di sana, sebelum ada wanita lain yang menggantikan posisimu untuk mengurus mereka," ucap Maya tajam.

Sudah hampir sebulan Indah betah menumpang di Jakarta tanpa alasan yang jelas. Awalnya ia memang ikut suaminya, Anton, yang sedang dinas. Namun, setelah urusan dinas selesai, bukannya pulang, Indah malah terus menetap di kediaman Bagas.

"Mbak, kok bicaranya ketus begitu, sih!" protes Indah, wajahnya merengut kesal.

Belum sempat Indah melanjutkan protesnya, ponsel di genggaman Maya bergetar. Nama yang muncul di layar seketika membuat sudut bibir Maya terangkat tinggi. Maya langsung berbalik pergi, menghiraukan gerutuan Indah yang tertinggal di belakang.

Ia menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan dari putra bungsunya.

"Halo, Arden..."

Senyum Maya merekah sempurna. Entah kenapa, setiap kali menyebut nama putra bungsunya itu, ada binar bahagia yang tak bisa ia sembunyikan. Kehadiran Arden selalu membawa kehangatan yang berbeda di rumah ini. Dan sebentar lagi, kehangatan itu akan kembali menetap.

Bersambung ....

Selamat datang di lembaran baru kisah 'Gairah Cinta Terlarang'. Bersiaplah masuk ke dalam labirin pernikahan dingin Alyssa yang penuh air mata, dan bagaimana takdir membawanya menyeberangi batas etika bersama Arden. Terima kasih sudah mampir, jangan lupa support-nya dengan kasih like dan komen ya! Happy reading! ✨

Jangan di skippp!!!

1
jumirah slavina
siap 86 kapten
jumirah slavina
gak ada yang gak mungkin., Kamu aja juga selingkuh Al.,

udah'lh Al., lepasin aja., laki² seperti itu tidak pantas d'tunggu
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
jumirah slavina
makan tuh perempuan playing victim
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
🌺🌺
amit-amit😒
rini marlina sari
lanjut
jumirah slavina
abaikan bisikan syaitan ini Al
jumirah slavina
muak Aku... muak. Aku sm Kamu Ad....
🌺🌺: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
jumirah slavina
telat Al... telat... sudah kelelahan baru sadar., astagaaaaaaaa🤣🤣
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
jumirah slavina
Kak Ariiiiiii., ceekeek Adriiiiii.,
jumirah slavina
hheehh gak boleh !!!
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
jumirah slavina
mo ngapain kalian dalam kamar hotel wwooii
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
jumirah slavina
astagaaaaaaaa., macam jelangkung aja s' sArden., tetiba nongol 🤦🏻‍♀️🤣🤣🤣
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
jumirah slavina
gak usahhhhhh balikkkkk !!!
Aku muak sama Kamuuuu...!!!
jumirah slavina
pergi sonooooo... pergiiiiiii...
jumirah slavina
udah'lh Ad... pergi sono., muak Aku menengok'mu...
jumirah slavina
bohong Ma., dia mo ngajakin Alis menantu Mam selingkuh...


🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
jumirah slavina
dasar laki² menyebalkan Kamu Adriiii !!!
jumirah slavina: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰❤❤❤❤💞💞💞💞
total 8 replies
EpiWidayanti
stress si Adrian 😏
jumirah slavina: joom lah kita beramai²

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
jumirah slavina
bughhhhhhh... bughhhhhhh... Jumi memukul kepala Adri yang penuh kotoran

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 4 replies
jumirah slavina
ati² sArden., mengintip bisa bikin stress dan bintitan

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!