NovelToon NovelToon
Suami Yang Kau Dan Keluarga Mu Hina Adalah Pewaris Kaya

Suami Yang Kau Dan Keluarga Mu Hina Adalah Pewaris Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Demi menguji ketulusan, Aldi Pratama menyamar sebagai pria biasa selama dua tahun pernikahan. Namun, Kirana beserta keluarganya yang gila gengsi terus menghina dan merendahkannya. Batas sabar Aldi habis; ia mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris tunggal konglomerat raksasa Pratama Group, menceraikan Kirana, dan memiskinkan keluarganya.
Kejatuhan itu seketika menghancurkan hidup Kirana—ibunya meninggal karena syok, adiknya dipenjara, dan ia harus bertahan hidup sebagai pedagang sembako miskin. Di titik nadir inilah Kirana bertobat total dan belajar bersyukur. Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat program sosial. Meski dipisahkan jurang kasta yang permanen, Aldi diam-diam memberi perlindungan rahasia karena belum bisa melupakan Kirana sebagai cinta pertamanya, sementara Kirana menjalani takdirnya dengan keikhlasan dan penyesalan abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 28: Lembar Baru di Sudut Kota

Toko distributor sembako Koh Aliong sore itu tampak sangat sibuk. Truk-truk besar bergantian masuk memarkirkan kendaraan untuk membongkar muatan karung gula dan minyak goreng. Di balik meja kasir yang sederhana, Kirana dengan cekatan menghitung lembaran uang hasil penjualan hari itu menggunakan kalkulator tua, lalu mencatatnya dengan rapi di buku kas besar.

"Kirana, ini ada bonus sedikit buat kamu karena bulan ini laporan keuangan toko gak ada selisih satu rupiah pun," ucap Koh Aliong, meletakkan sebuah amplop putih kecil di atas meja Kirana dengan senyum yang tidak lagi sekasar enam bulan lalu.

Kirana mendongak, lalu menerima amplop itu dengan kedua tangannya sambil membungkuk hormat. "Terima kasih banyak, Koh. Semoga usaha Koh Aliong semakin berkah dan lancar."

"Ya, ya, sama-sama. Kamu sekarang kerjanya rajin sekali, gak pernah mengeluh, gak kayak awal-awal masuk dulu yang sering melamun dan menangis," puji Koh Aliong sambil menepuk bahu Kirana sebelum berjalan ke belakang gudang.

Begitu Koh Aliong pergi, Kirana membuka amplop tersebut.

Di dalamnya ada uang tunai sebesar lima ratus ribu rupiah.

Air mata Kirana perlahan menetes, namun kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata rasa syukur yang teramat dalam kepada Sang Pencipta. Uang ini berarti dia bisa membeli obat vitamin untuk adiknya di penjara dan menyisihkan sebagian untuk ditabung demi modal usaha kecil-kecilan nanti.

"Ya Allah, alhamdulillah... terima kasih atas rezeki hari ini," bisik Kirana, mendekap amplop itu di dadanya dengan senyum bahagia.

Kirana teringat bagaimana dulu dia sering menggerutu ketika Aldi mengajaknya makan di warung pinggir jalan, atau ketika Aldi hanya bisa memberikan nafkah bulanan sebesar lima juta rupiah dari gajinya sebagai manajer biasa. Dulu, uang jutaan rupiah terasa kurang di matanya karena hatinya selalu dipenuhi rasa iri terhadap kehidupan mewah orang lain di media sosial.

Namun sekarang, setelah merasakan kasarnya mencari uang sendiri di bawah makian orang, uang lima ratus ribu rupiah terasa begitu berharga dan mendatangkan kebahagiaan yang luar biasa di dalam hatinya.

Dia membersihkan meja kerjanya, mengambil tas kain sederhananya, lalu bersiap untuk pulang ke kamar kosnya. Kirana berjalan kaki menyusuri trotoar jalanan malam kota Jakarta yang mulai dipenuhi lampu-lampu kendaraan.

Langkah kakinya kini terasa ringan, bebas dari beban gengsi yang selama bertahun-tahun merantai pikirannya. Dia telah berdamai dengan takdirnya, menerima bahwa ini adalah jalan hidup yang harus dia tempuh untuk menebus segala kesalahan masalalu terhadap pria suci yang pernah menjadi suaminya.

.

.

.

.

.

.

Langkah kaki Kirana terhenti di depan sebuah kedai kopi lokal kecil di pinggir jalan raya protokol. Dia berniat membeli secangkir kopi susu hangat murah untuk menemaninya berjalan kaki menuju halte bus. Namun, perhatian Kirana mendadak tersedot oleh barisan mobil mewah berwarna hitam yang tiba-tiba berhenti di depan lobi gedung pencakar langit seberang jalan.

Gedung itu adalah salah satu hotel bintang lima paling elite di Jakarta. Malam itu, sedang diadakan acara Gala Dinner Business Summit yang dihadiri oleh para pengusaha papan atas dan pejabat negara.

Dari dalam mobil sedan Rolls-Royce yang berada di barisan paling depan, seorang pria melangkah keluar. Pria itu mengenakan setelan tuksedo hitam dengan potongan yang sangat sempurna, memperlihatkan postur tubuhnya yang tegap dan gagah. Rambutnya disisir rapi ke belakang, memancarkan aura ketampanan dan otoritas mutlak yang tak tertandingi.

Pria itu adalah Aldi Pratama.

Di sebelah Aldi, seorang wanita cantik bertubuh anggun dengan gaun malam berwarna putih mutiara melangkah turun.

Wanita itu adalah anak dari seorang taipan besar rekan bisnis Pratama Group yang terkenal cerdas dan berpendidikan tinggi. Wanita itu tersenyum manis sambil melingkarkan tangannya di lengan kekar Aldi dengan sangat serasi.

Kirana berdiri di seberang jalan, memegang cup kopi susunya dengan erat. Matanya menatap sosok Aldi yang kini berjalan masuk ke dalam lobi hotel mewah dikawal oleh belasan pengawal pribadi dan disorot oleh puluhan kamera wartawan yang melontarkan pertanyaan demi pertanyaan.

Dulu, melihat pemandangan seperti ini pasti akan membuat dada Kirana sesak oleh rasa cemburu, sakit hati, dan keinginan egois untuk berlari menerobos barikade demi memohon belas kasihan. Namun malam ini, perasaan itu sudah tidak ada lagi di dalam hati Kirana.

Kirana menatap Aldi dari kejauhan dengan pandangan mata yang sangat damai, tulus, dan penuh dengan keikhlasan. Air matanya menetes pelan melewati pipinya, namun dibarengi oleh senyuman manis di bibirnya.

"Mas Aldi..." ucap Kirana dengan suara berbisik, membiarkan suaranya hilang ditelan bisingnya suara klakson kendaraan di jalanan. "Kamu pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik daripada aku. Kamu pantas berada di puncak dunia itu, Mas. Maafkan aku yang dulu pernah menjadi duri di dalam hidupmu. Terima kasih karena dulu pernah mencintaiku dengan begitu tulus."

Kirana membalikkan badannya, memunggungi kemegahan hotel bintang lima dan sorotan lampu kilat kamera yang menyilaukan tersebut. Dia kembali melangkah dengan tegap di atas trotoar yang gelap, meminum kopi susunya perlahan, dan melanjutkan perjalanannya menuju halte bus umum.

Di dalam hatinya yang kini lapang, Kirana sadar bahwa kebahagiaan sejati bukanlah tentang seberapa mewah rumah yang ditinggali atau seberapa kaya pria yang mendampinginya, melainkan tentang seberapa mampu hatinya mengucap syukur atas apa yang dia miliki saat ini. Aldi Pratama telah bahagia di takhtanya, dan Kirana kini telah menemukan kedamaian jiwanya sendiri di sudut kota yang sederhana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!